Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Dasar Anak Kecil!


__ADS_3

"Apa hubunganmu dengannya, Ammar?" Gana mengulang pertanyaannya sampai dua kali.


Kini, Ammar yang mengangguk dengan helaan napas berat untuk mengingat beberapa waktu lalu, ketika ia memaksa Mutiara untuk menceritakan siapa lelaki yang tidak sengaja Ammar lihat sedang ada di restauran bersamanya di sebuah pusat perbelanjaan.


"Mutiara adalah teman kecilku. Kita satu sekolah dari bangku sekolah dasar sampai SMP. Dia adalah gadis baik, berasal dari keluarga terpandang dan cukup kaya."


"Namun, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan maut. Hartanya habis di bawa lari oleh para Tante dan Om nya. Membuat Mutiara, mau tidak mau harus tinggal di pesantren secara gratis."


"Ia ditemukan oleh seorang Ustadzah yang berbaik hati dan mau menampungnya. Sampai dimana ada sebuah keluarga yang mau membawanya sebagai keluarga, menjadikan gadis yatim piatu itu sebagai anak perempuan mereka."


Ammar menghela napasnya kembali. Karena ia tahu, kalimat ini yang akan mengguncang hati Ganaya.


"Dan keluarga Adri lah yang merawatnya selama ini, akhirnya mereka dijodohkan dengan berbagai ancaman orang tua, dan Akhirnya Adri menurut. Selama tujuh tahun pernikahan, Adri sama sekali tidak mencintai Mutiara."


"Astagfirullahalladzim ... kasian sekali Mutiara." desah Ganaya. "Dan kasian juga untuk---"


"Untuk siapa?" selak Ammar.


Ganaya menggeleng. Ia memilih mengeratkan pelukannya di dada Ammar. Dan lelaki itu terus menenangkan Gana dengan usapan lembut dengan tangannya. Walau Ammar tahu, Gana pasti ingin menyebut nama Adri barusan. Adri memang salah sudah melukai istri dan membohongi Gana.


Tetapi lelaki itu juga kasian, karena ia masih belum bisa mencintai Mutiara walau mereka setempat tidur. Tapi juga tidak bisa bersama dengan Ganaya, walau ia mencintainya.


"Jadi selama ini kamu tau? Tapi tidak berniat untuk memberitahuku?"


Ammar tertawa dan menggeleng. "Aku baru tau semua yang terjadi dengan Mutiara, ketika ia baru jujur untuk menceritakan semuanya saat aku desak siapa Adri."


"Awalnya ia mengelak, tidak mau memberitahukan siapa lelaki yang tengah bersama dia dan dua anak di meja restauran. Karena aku sangat faham, dan hafal bahwa laki-laki itu adalah Adri."


"Berkali-kali. Aku ingin menemuinya, untuk mencari tau. Tapi Mutiara selalu bungkam dan menolak. Sampai aku sendiri yang mencari tau dengan beberapa orang suruhanku."


Ganaya fokus mendengarkan penjelasan yang Ammar berikan. Keputusannya memang sudah paling tepat untuk meninggalkan Adri. Wanita sebaik Mutiara, tidak boleh disakiti. Biarlah dirinya yang sakit, yang penting tidak menyakiti sesama hati wanita dan merusak kebahagiaan anak-anak mereka.


"Makasih Ammar, kamu sudah mau berjuang sebegini nya buat aku."


"Udah tugas aku." Ammar mengulum senyum penuh cinta.


Ganaya melepas dekapan itu. Mengusap kebasahan di wajahnya dengan tissue. "Aku pulang ya." ucapnya.


Ammar menggeleng. "Aku masih rindu."


Lantas lelaki itu menggandeng tangan Gana untuk dibawa duduk di atas sofa seperti tadi.

__ADS_1


"Kita kan bisa teleponan dan chat."


Ammar tetap menggeleng.


"Kita harus punya banyak waktu untuk istirahat sebelum kita menikah. Aku ingin, besok kamu tidak usah masuk kantor lagi ya. Di rumah aja."


Bukan perkara sulit untuk menolak. Ammar pun setuju, ia memberikan respon dengan anggukan kepala.


"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya." Ganaya menoleh ke sudut sofa untuk meraih tas, lalu ia sampirkan dilengan kirinya. Baru ingin beranjak berdiri, Ammar kembali menarik tubuh wanita itu untuk duduk lagi disebelahnya.


"Ammar ... please." Gana memohon.


Amar tidak perduli. Hatinya masih saja tidak tenang perihal kejadian barusan dan tentu masih terbayang dengan ucapan Bima perihal kedatangan Gana ke Rumah Sakit. Ia memeluk perut Gana seperti anak kecil. Membuat wanita itu terkekeh dan geli.


Ammar meletakan kepalanya di ceruk leher Gana, kembali menghirup aroma wangi di sekitar permukaan leher yang begitu putih, bersih dan mulus kepemilikan wanita itu. Sungguh membuat Ammar ingin memakan Gana saat ini.


Seperti ada yang bergetar, tapi Ammar memintanya untuk besabar. "Nanti ya Harley ... jatahmu seminggu lagi." tawanya dalam hati.


"Gana ..."


"Hemm?"


"Aku tidak suka dibohongi." pungkasnya lagi.


Gana mengangguk dengan iringan napas yang di hembuskan pelan.


"Aku akan jujur." jawabnya mantap.


"Ayo jujur." cicit Ammar dengan nada amat manja. Lelaki itu masih saja menempel seperti cicak di dada Gana. Hanya Gana yang membuat Ammar tidak pernah jadi kesal dan marah.


Ganaya mulai menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya ke Rumah Sakit tadi siang. Semua ia jelaskan dengan detail dan terperinci. Terasa sekali kepala Ammar mengangguk-angguk. Sesekali Ganaya menurunkan jari-jari Ammar yang sibuk memainkan dagunya. Diturunkan ke bawah, dan setelah itu, jari-jari Ammar kembali memainkan pucuk dagu Ganaya. Ammar gemas.


Dan beberapa menit kemudian disela-sela Gana menjelaskan. Wanita itu tiba-tiba mengerutkan kening, ia mendengar suara dengkuran napas halus yang menyerbak sampai ke gendang telinganya. Gana menurunkan tatapannya dan betul. Lelaki tampan itu tertidur. Sepertinya Ammar baru pulas.


"Dikira sedang mendongeng kali ya!" ujar Gana. Ia gemas, sampai mencubit punggung tangan Ammar yang masih bertengger di perutnya.


Hati Ammar begitu lega, ketika ia tahu Ganaya sudah menyelesaikan hubungannya dengan Adri. Sampai-sampai ia tertidur tidak tau situasi.


"Dasar, anak kecil!"


***

__ADS_1


Pagi ini Ammar kembali di jemput oleh para ajudannya. Dua mobil beriringan untuk membawa kemanapun ia mau. Ia memang tidak pergi ke EG. Karena sudah mulai cuti sesuai kemauan Gana.


Saat ini lelaki itu hanya memakai kaos, topi dan celana jeans. Berdandan sangat kasual. Ia akan pergi bertemu Farhan untuk membahas tentang perkembangan pembuatan granat beserta tembakau yang akan mereka ekspor ke luar negeri.


Setelah itu, ia juga akan melihat kembali bagaimana persiapan rumah yang Ammar beli untuk tempat tinggal setelah menikah. Rumah yang Ammar beli untuk maharnya kepada Gana. Dan wanita itu masih tutup telinga, ia bilang surprise aja. Ia percayakan mahar-mahar yang akan Ammar berikan untuknya.


Setelah mencium tangan Mama dan Papanya, ia bergegas beranjak pergi.


"Sama premannya lagi ya?" tanya Papa kepada Mama. Lelaki yang baru memiliki lima cucu itu sedikit mendongakkan kepala ke arah pintu luar. Dan ia mendapatkan Bima dan Denis di sana.


"Asistennya, Pah. Kok preman sih." Istrinya tertawa sambil mencubit pipi suaminya pelan karena gemas. Papa bangkit untuk melangkah menuju pintu utama dan memperhatikan dua mobil mewah itu keluar dari gerbang rumahnya.


"Itu loh yang badannya pada kekar-kekar, botak, mana berkumis lagi." Papa menunjuk ke arah luar.


Mama menggelengkan kepala, kembali melambaikan tangan. "Ayo sini, pagi-pagi udah bawel aja."


"Ngapain dia pakai bodyguard segala. Papa mau tanya tapi suka lupa."


"Jangankan nanyain hal kayak gitu, abis lepas gigi palsu aja bingung kan di taro dimana?" timpal Mama.


Papa memiringkan sudut bibirnya. "Dulu, Papa waktu masih muda enggak gitu-gitu amat. Kaya mafia aja, harus dijagain."


Mama mendelikan mata. "Ucapan itu doa, Papa. Ammar anak kita yang sangat soleh. Sayang sama orang tua, kakak, dan keponakannya. Masa jadi Mafia sih! Ini kadang bibir keriput kudu disambelin." Mama menjawil bibir suaminya.


"Soleh gimana? Shalat subuh aja dibangunin, cuma hah hoh hah doang terus tidur lagi." sahut Papa. "Kadang pengin Papa mandiin aja pakai air akuarium, biar gak malas shalatnya." Papa merungut.


Mama terdiam lama. Seperti sedang berfikir. Ucapan suaminya memang ada benarnya. Bahkan ketika sedang di rumah pada hari jumat saja. Anak lelaki itu tidak shalat jumat. Alasannya sedang pusing. Dan percuma saja, Mama cerewet kala itu. Ammar lebih memilih mengunci pintu kamarnya.


"Coba nanti kita ajak Ammar bicara, Pah. Nasehati lagi tentang shalat." Papa mengangguk dan kembali melanjutkan sarapannya.


Ammar lupa ada Allah yang maha tahu, apa saja yang ia kerjakan. Bisa mendustakan orang banyak tapi tidak dengan Allah.


Allah bisa menggetarkan hati orang tuanya untuk dijadikan perantara agar Ammar bisa di sadarkan dan cepat mendapatkan hidayah. Namun setan-setan didalam dirinya lebih kuat. Bukannya sadar, Ammar semakin terjerumus.


Apa jadinya jika mereka tahu, kalau selama ini Ammar menafkahi mereka dengan uang haram secara tidak langsung.


***


Like dan komennya buat Ammar biar cepat insyaf ya🌺🌺.


__ADS_1


__ADS_2