Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Peluk Aku Aja.


__ADS_3

Pak.


Pak.


Ammar bergeliat kaget. Mengerjapkan kelopak matanya kilat. Lelaki itu mendadak terbangun karena merasa ada hentakan telapak tangan di dadanya.


Pak.


Pak.


Ammar menoleh dan menautkan alis melihat keadaan istrinya yang masih memejam mata tapi seperti meronta-ronta dengan kedua tangan terbentang.


Mimpi buruk lagi?


Ammar beringsut mendekat, memegangi tangan Gana sambil menepuk-nepuk pipi istrinya dengan tekanan kecil. Peluh sudah banjir diwajah Gana. Dadanya terlihat bergerak naik turun, seperti sedang berlari maraton di tengah lapangan panas.


"Jangan bunuh aku dan suamiku!"


DEG.


Gana mengigau, melepaskan sesaknya. Ammar semakin panik. Tubuh Gana semakin kaku.


"Sayang ..." lelaki itu berusaha menyadarkan istrinya seperti tiga malam kemarin. Gana terus bermimpi buruk jika malam hari. Setelah kejadian dengan Asyifa di restauran tiga hari lalu, memang membuat psikis Gana sedikit terganggu. Walau ia tidak mengeluh, tapi Gana lebih banyak diam, melamun dan kadang suka menangis sendiri.


Rancauan Gana selalu sama dalam tiga malam ini. 'Jangan bunuh aku dan suamiku', dengan jelas Ammar bisa menangkapnya dan menyimpan di memory. Tapi, sialnya, ketika Gana sudah terbangun dari mimpi. Wanita itu lupa bermimpi apa.


"Bangun, Gana! Bangun!" Ammar menghentak kedua bahu Gana. Dan akhirnya wanita itu terlonjak dengan napas terengah-engah.


"Ammar ..." seru nya lirih.


Ammar mengangguk. Meraih sehelai tissue di atas nakas untuk mengusap wajah istrinya yang sudah basah.


"Aku kenapa?" tanyanya.


"Kamu mimpi buruk lagi. Kamu mimpi apa sih? Kok, mengigau nya begitu?"


Gana menatap manik mata Ammar dalam-dalam, ia sedang berusaha mengingat apa yang terjadi dalam tidurnya. Dan kembali seperti biasa, Gana hanya menggeleng.


"Aku enggak tau ... lupa ... gak ngerti ..." ucapnya polos sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah 'kah gatal karena peluh atau tidak.


"Seruan kamu tuh nyeremin, Gana. Kamu bilang 'Jangan bunuh aku dan suamiku', kamu tuh lagi kenapa? Siap yang kamu takutin? Sampai kebawa mimpi terus kayak begini?" tanya Ammar lembut.


"FARHAN!" ucap Gana lantang.


Ammar berdecih dengan tawa pelan. "Bagus, Gana. Mencari perkara di pertengahan malam."


Gana mencubit lengan Ammar, karena lelaki itu malah menggodanya. "Aku benar-benar takut, Ammar ..." lirihnya.


"Farhan? Mau bunuh kita? Ngaco kamu ah ..." Ammar menggeleng-gelengkan kepala.


"Kan kamu tanya, siapa yang aku takutin, ya aku jawab apa adanya ... Farhan." Gana tidak gentar.


Buru-buru Ammar mengalihkan perbincangan yang akan bermuara dengan kegaduhan. "Aku ambilin minum dulu ya." Ammar bergegas bangkit tapi Gana menahan.


Ammar menurunkan tatapannya ke lengannya ketika dicekal oleh Gana.


Gana menggeleng. "Gak usah ambilin minum, aku lagi enggak haus. Peluk aku aja ..."


Ammar menautkan alis bingung. Aneh sekali selama menikah baru kali ini minta di peluk.

__ADS_1


Oh mungkin lagi takut. Batinnya.


Tuh, kan, Ammar mendadak tidak peka.


Ammar tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk membenamkan Gana di dadanya. Gana memeluk erat, melingkarkan tangan di perut Ammar. Meletakan kepalanya di ceruk lelaki itu. Ammar mengusap lembut lengan istrinya naik turun. Merasakan haluan napas Gana disekitar piyama yang terletak dibagian dada.


"Jangan takut ya, aku di sini. Enggak akan ada yang bisa jahatin kamu." ucap Ammar.


Gana hanya diam, tidak mengangguk. Entah kenapa batinnya semakin kuat, jika ia merasa nyawanya sedang di incar.


"Ammar ...?"


"Hemm." jawab Ammar dengan deheman.


"Semisal aku mati di tangan Farhan, apa yang ingin kamu lakukan padanya?"


DEG.


Hah?


Ya ampun, Farhan lagi. Kenapa selalu lelaki itu yang dibahas. Gerutu Ammar.


"Kok ngomongnya serem gitu sih, ya gak mungkin lah dia bunuh kamu, ngaco kamu tuh."


"Kalau semisal kemungkinan itu terjadi, apa yang kamu lakukan?"


Ammar tahu Gana bercanda.


"Ya aku akan membunuhnya! Karena berani menyakitimu ..."


Perbincangan apa ini? Bunuh-membunuh? Sejatinya, Ammar tidak takut dalam membahas nyawa yang harus mati dan dibayar nyawa yang lain. Tetapi membayangi Gana di bunuh oleh Farhan, sungguh memilukan hati dan tidak masuk akal.


"Beneran?" tanya Gana.


Ammar mengangguk.


"Kalau aku lama sembuhnya, gimana?"


Ammar menggeleng. "Enggak lah kamu bentar lagi sembuh, aku akan usahakan kesembuhan mu bagaimana pun caranya---" ucapan Ammar terhenti ketika ia merasa tangan Gana yang sedari tadi melingkar di perut kini sudah berada melingkar di lehernya. Ada isak yang terdengar namun masih pelan.


Nyes.


Oh, benar. Gana menangis. Ammar merasa permukaan lehernya basah. "Terima kasih." ucap Gana amat lirih.


"Enggak usah berterima kasih. Sudah kewajiban ku sebagai suami." Ammar mengecup pusaran rambut Gana yang basah karena keringat.


Gana mengangguk. Terus menumpahkan deburan air mata. Menangisi malam sehabis mimpi buruk. Rasanya begitu menenangkan. Dan, baru kali ini ia memeluk dada Ammar sebagai suami. Bukan karena terpaksa seperti biasa.


***


Mama Difa masih menatap riang senyuman Gana di kolam renang bersama menantunya dari ambang pintu. Ammar mengajak Gana untuk menyentuh air lepas dengan menggerakkan kedua kakinya pelan-pelan.


"Gana nya berenang?" suara Papa Galih membuat Mama menoleh. Suaminya sudah rapih dengan kemeja batik menghampiri dirinya.


Mama menggeleng. "Enggak, Pah. Gana hanya dipinggir kolam, ada Ammar yang menjaga, tuh---" tunjuk Mama.


Papa melongo kan kepalanya dari balik pintu. Lelaki itu ikut tersenyum, ketika melihat Gana juga sedang tertawa renyah karena sedang di goda suaminya.


"Gana udah cinta belum ya sama Ammar?" tanya Papa.

__ADS_1


"Sudahlah pasti, liat aja tuh senyumnya. Manis gitu sama suaminya, kan nikahnya juga udah tujuh bulan lebih."


Papa mengangguk, membenarkan. Namun tidak dengan menantunya yang belum peka.


"Kamu enggak tanya apa sudah ada tanda-tanda hamil?"


Mama Difa menatap nanar ke arah anaknya. "Katanya minggu kemarin baru selesai haid."


Papa mendesah kecewa. "Di langkah lagi sama adik-adiknya."


"Jangan samain rezeki semua anak, Pah. Semua udah ada porsinya. Mungkin Gana menurun ke kita, dulu kan kita lama punya anaknya."


Papa Galih mengangguk. "Iya, sih. Kita doakan saja terus, dan kamu motivasi ke anakmu. Mungkin dia kurang goyang kali di ranjang ..." ucapnya tertawa.


Mama Difa melepas pukulan pelan di lengan suaminya.


"Kaya kamu kan kalo goyang, wuh ... emejing." Papa Galih terus saja menggoda.


Papa menjauh seiring tangan istrinya yang mau mencubitnya lagi karena gemas.


"Udah ayo kita berangkat, nanti keburu telat!" dengkus Mama Difa. Ia melangkah ke dalam kamar untuk mengambil tas. Karena sebentar lagi dirinya dan suami akan pergi kondangan. Papa Galih di minta menjadi saksi dalam ijab kabul pernikahan anak temannya.


Baru saja ingin naik ke dalam mobil. Pandangan Mama dan Papa teralihkan keluar gerbang. Mereka melihat seorang lelaki bertubuh kekar turun dari dalam mobil lalu dihadang oleh penjaga diluar.


"Siapa pagi-pagi begini bertamu?" tanya Papa Galih.


"Mungkin temannya Ammar atau Gana, Pah."


Lantas mereka berdua masuk kedalam mobil menuju gerbang. Melihat mobil Tuan besar mereka akan keluar, gerbang otomatis terbuka.


Melihat wajah tamu yang terlihat kecewa kembali masuk ke dalam mobil. Papa melambaikan tangan ke arah penjaga. Penjaga menghampiri.


"Siapa, Pak?" tanya Papa.


"Katanya teman Ibu Gana. Relasinya. Tapi sesuai perintah Pak Ammar, tidak boleh ada yang datang bertamu. Maka tidak saya perkenankan masuk, Pak." jawabnya.


Mama Difa menatap lurus mobil yang penumpangnya juga sedang menatapnya.


"Kasian tuh, Pah. Ada anak kecil."


Mama Difa menunjuk Dava yang sedang duduk di pangkuan Mulan.


Mahendra dan Mulan masih stay di dalam mobil mereka. Mereka seperti sedang menilik siapa yang ada di dalam mobil. Walau Mulan sudah berkata meminta pulang dari sini, karena merasa kesal suaminya ditolak oleh penjaga.


Papa Galih turun dari dalam mobil melangkah sedikit menghampiri mobil Mahendra yang berhadapan beberapa jarak dari mobilnya.


Mahendra pun ikut turun lalu memberikan senyum sopan kepada Papa Galih.


"Assalammualaikum ..." sapa Papa Galih. Karena disapa oleh orang tua yang sudah sedikit beruban, Mahendra membungkuk untuk mencium tangan Papa Galih. Tidak tahu saja Mahendra, lelaki yang ia cium tangannya adalah pemilik HG.


"Waalaikumsallam, Pak."


"Benar temannya anak saya?" tanya Papa to the point.


Mahendra mengangguk, tak lepas senyum mengembang di bibirnya.


"Saya Mahendra, Pak. Perusahaan saya bekerja sama dengan Hadnan Group. Kemarin info dari Bapak Gifali, kalau Ibu Gana mengalami kecelakaan, makanya saya kemari bermaksud untuk menjenguk."


****

__ADS_1


Maaf ya guyss baru muncul hehe๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


like dan komennya ya๐Ÿค—


__ADS_2