Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Terima Kasih Karena Selalu Ada.


__ADS_3

"Sayang ..." baru saja ingin menyergap Gana. Ia langsung terlonjak karena rengkuhan tangannya hanya menyapu angin. Ammar menoleh ke belakang. Sang istri sudah pergi di gandeng ke lima keponakannya ke dalam.


Sejak mereka bersitatap, Gana sudah mendaratkan lima kali tepukan di bahu suaminya yang sejak tadi melamun menatapnya. Five G merasa aneh dengan Om nya yang terus saja mematung. Maka dari itu mereka langsung membawa Tantenya.


"Om aneh." Geisha menoleh dan menjulurkan lidahnya kepada Ammar. Anak itu memang selalu meledek Om nya dari dulu.


Kilat cinta makin membara. Ammar tidak berhenti mengedip kan matanya kala menatap wajah istrinya yang kian hari semakin cantik. Apalagi, wanita itu kini hadir menyusulnya. Hal kecil, tapi sangat bermakna bagi Ammar. Senyum Gana sudah secerah dulu, makin membuat dada Ammar merasa gegap gempita.


Gana mendekati kedua mertua dan kakek suaminya. Memberikan salam dan mencium tangan mereka satu persatu.


"Kamu sehat, Nak?" tanya Mama.


"Sehat, Mah."


"Kok datangnya sendiri-sendiri? Enggak lagi bertengkar, kan?" tanya Papa.


Gana menggeleng dengan senyuman. "Enggak, Pah. Kita baik-baik aja. Tadi Gana masih ada rapat."


"Syukurlah kalau begitu." Kakek Bayu menyelak.


"Tante bawa apa ini, kok banyak banget?"


Gana menurunkan tatapannya ke bawah, dimana semua keponakannya tengah melingkari dirinya dan merogoh kantung bungkusan yang ia bawa ditangan kanan dan kirinya.


"Ayo kita ke meja makan." ajak Mama Alika.


Ia membawa menantu dan para cucunya kesana. Ammar melangkah mendekat membawa Papa dan Kakeknya ikut mengekor dibelakang mereka.


Senyum bahagia terus mengalir, inginnya menangis dan memeluk dada Papanya yang bahu nya sedang ia rangkul. Tapi rasanya tak pantas sebagai lelaki jika langsung tersedu. Ammar hanya bisa menyimpan rasa harunya di dalam hati.


"Wah pizza!!" seru semua keponakannya. Mereka berlima menarik tak sabar kotak pizza tersebut.


"Waw ini kesukaan aku." teriak Pradipta ketika melihat topping pada pizza yang baru ia tatap isinya.


Papa Bilmar terkekeh. "Kamu mah apa juga dibilang kesukaan. Roti gak pakai meses juga bilangnya kesukaan."


Pradipta tertawa dan lain pun sama. "Nih, Kek ..." Pradipta menyodorkan potongan pizza kedalam mulut Kakeknya. Dan disaat Kakeknya ingin membuka mulut.


"Tapi boong." ucap Dipta dengan tawa renyah. Ia memasukan pizza itu kedalam mulutnya. Anak itu berlari ketika Kakeknya akan mengejar.


Semua tertawa melihat Papa Bilmar dengan Pradipta sedang bermain kejar-kejaran. Pradipta memang sangat jahil dibanding saudaranya lain. Mungkin sifatnya menurun dari Kakeknya.

__ADS_1


Gana yang ikut tertawa langsung terdiam, ketika mendapati Ammar yang masih menatapnya dalam senyuman. Keduanya saling bertatap dengan posisi yang terhalang meja.


"Hemm ..." Mama Alika berdehem seraya menggoda mereka berdua. Hanya wanita itu yang sadar ketika menantu dan anaknya saling memberi tatapan mesra. Karena Kakek Bayu dan Four G masih sibuk membukakan bungkusan makanan lain yang dibawa oleh Gana.


Gana menunduk malu. Ia salah tingkah.


****


Gana bergeliat. Ingin merentangkan tangan namun seperti terhalang sesuatu. Ia membuka mata cepat dan mendapati ketiga keponakan perempuannya sudah melintang tidak jelas dengan posisi tidur di pusaran kasur.


Ia Terkesiap, karena dirinya ketiduran.


Gana langsung beranjak duduk sambil mengangkat kepala Ginka untuk diletakan di atas bantal. Di liriknya jam dinding yang masih terpasang baik di kamar suaminya yang dalam beberapa bulan ini sudah lelaki itu tinggalkan.


"Jam delapan." Gana kembali terperanjat. Matanya semakin membola. "Aduh, mana belum mandi."


Gana ingin beranjak bangkit dari kasur tapi ia urungkan. Gana menatap dan membelai tubuh ketiga keponakannya yang sudah terlelap dengan dengkuran napas halus. "Cantik-cantik banget kesayangan ante." lantas mengecup wajah para keponakannya satu persatu.


Wanita itu rindu, karena sudah tiga bulan ini tidak bertemu. Begitupun dengan Geisha, Ginka dan Ghea. Ia tidak mendapati lagi Gana dirumah Kakek dan neneknya karena sudah di boyong pergi ke rumah baru oleh Om nya.


Maka setelah menyantap pizza, ketiga anak perempuan itu membawa Gana ke kamar untuk mengepang rambut mereka. Kepangan Gana memang indah, dan ketiga keponakannya itu sangat menyukainya.


Gana beranjak bangkit meninggalkan kasur. Ia melangkah menuju sofa, membuka tas besar untuk merogoh piyama tidur yang akan ia kenakan malam ini. Kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam, di sudut kiri seperti ada sesuatu yang membuat dirinya menghentikan langkah.


"Sungguh besar cintamu padaku, Ammar." jari-jemari Gana kini mengusap wajah suaminya di foto. Dirinya saja sampai lupa ada foto seperti ini, tapi Ammar? Malah menyimpannya sebagai memory.


"Berbelas tahun menunggu cinta dariku. Maaf ya, karena sudah menunggu lama. Dan terimakasih karena selalu ada." Gana menghela napas dengan tatapan sendu.


***


Setelah habis mandi dan memakai cream muka di wajahnya. Gana bergegas keluar dari kamar. Ingin mencari suaminya yang tidak kunjung datang ke kamar. Baru saja langkah kakinya sampai di bawah anak tangga. Sayup-sayup ia dengar perbincangan antara Mama mertuanya dengan Ammar yang sedang duduk di sofa menatap sinar terang dari layar televisi.


"Bagaimana Gana, Nak? Apakah dia sudah mencintaimu?"


Ammar mengangguk mantap. "Sudah, Mah."


JAG.


Bukan hati Ammar yang teriris. Melainkan hati Gana yang sedang terluka sekarang. Ia sedih, dan mengutuk dirinya. Mengapa Ammar bisa sebaik itu? Ketika ia sudah menelantarkan suaminya selama tiga bulan ini.


"Syukurlah alhamdulillah. Adek di layani dengan baik 'kan?"

__ADS_1


"Iya dong, Mah. Gana tuh istri yang sempurna. Dia itu kayak Mama. Selalu mengurus Adek dirumah."


DEG.


Gana meremat kain piyama di dadanya. Sesak sekali di sanjung penuh cinta dengan ucapan yang tidak sesuai kenyatannya.


"Bahkan aku sudah tidak lagi menyiapkan pakaian dan sarapannya." Gana membatin. Dadanya semakin sesak. "Aku sangat berdosa!" Gana menahan isak tangis yang akan muncul sebentar lagi.


"Alhamdulillah, Mama fikir Gana akan sulit mencintaimu, Nak."


Ammar hanya tersenyum dengan anggukan kepala. Walau kenyataannya saliva sudah ia telan berkali-kali karena terus berbohong. Menarik tubuh Mamanya untuk dibenamkan di dadanya.


Mengunci tubuh wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya di dunia ini. "Mama enggak usah mikir yang macam-macam ya. Adek sama Gana baik-baik aja." Ammar tidak mau membuat sebongkah fikiran di kepala orang tuanya.


Oh ... baik sekali Ammar. Melihat Ammar dengan segala ketulusan hatinya, membuat Gana ingin sekali memeluk lelaki itu. Walau belum ada cinta yang benar-benar terpatri saat ini, tapi bolehkah ia bersujud di kaki suaminya, untuk meminta maaf?


"Apa belum ada tanda-tanda hamil?"


Gana yang masih menunduk lemas langsung mendongak. Ia lebih memilih menatap punggung Ammar. Ingin mendengar apa jawaban suaminya. Ada raut sedih kah?


"Doain ya, Mah. Ammar sama Gana menang enggak terlalu menuntut cepat. Sedikasihnya aja sama Allah."


Hanya itu yang bisa Ammar jawab kepada Ibunda. Bagaimana Gana akan hamil, jika istrinya itu belum bisa menyerahkan tubuhnya.


Gana semakin tidak kuat. Ia terus berenang dalam penyesalan. Suaminya itu terus saja menjaga aib dan kesalahannya selama ini.


Gana langsung berbalik. Ia melangkah kembali menuju kamar dengan hati yang terasa ditampar bolak-balik. Sakit, tapi tidak berdarah.


***


"Belum tidur sayang?" Gana yang masih terduduk dibibir ranjang langsung mendongak.


Ia menoleh ke arah Ammar yang baru saja masuk kedalam kamar lalu menutup pintu. Lelaki itu kaget ketika mendapati istrinya yang masih terjaga. Diliriknya para keponakannya masih mendominasi ranjang.


"Enggak bisa tidur ya, karena ad----"


Gana bangkit lalu beringsut dan menerjang Ammar. Suara lelaki itu begitu saja mengatung di udara, kedua matanya terbelalak, sepertinya iris matanya ingin rontok seketika. Jantungnya seraya ingin mencelos jatuh dan berserak di lantai.


Ia kaget tidak percaya. Ada sebuah kecupan hangat dibibir nya yang kini sedang Gana layangkan. Gana mengerucutkan bibirnya dan hanya menempel di bibir Ammar.


****

__ADS_1


Like dan Komennya ya guyss🌺🌺



__ADS_2