
Ponsel terus berdering di kantung celana Ammar. Dan lelaki itu hanya diam saja menatap senja. Ammar tidak menggubris semua panggilan masuk kedalam hapenya.
Mahendra, Alex, Bima dan Denis tidak gentar, mereka terus menghubungi lelaki itu. Tapi Ammar tetap tidak mau menjawab. Ia masih sulit membahas bagaimana suasana hatinya sekarang. Beberapa kali juga Aurora bergeliat di lengan nya untuk mengajak main. Namun, Ammar tetap saja membisu.
"Masuk yuk, Bang. Bentar lagi kayaknya mau hujan." ucap Gana yang duduk di sebelahnya. Sudah satu jam Gana menemani suaminya yang maunya hanya beku seperti batu.
"Kamu aja duluan. Abang masih mau di sini." ucapnya datar sambil memeluk dada karena tersapu hawa dingin. Padahal Ammar sudah di pakaikan jaket tebal dan syal di leher, setelah di mandikan Gana memakai air hangat.
"Tuh 'kan, Abang, kedinginan. Masuk aja yuk, Bang." lantas Gana menggenggam tangan Ammar.
Ammar melepas genggaman tangan itu dan menggeleng. "Adek aja duluan."
Gana mendesahkan napas berat. Kepalanya kembali pening. Ngomong-ngomong saat ini mereka sedang berada di saung belakang rumah. Ammar masih menatap langit orange tanpa mau banyak berkata.
Ia kembali serius memandang ke atas. Mencari-cari bayangan kedua kakeknya yang berpulang dalam hari yang sama, hanya berselang jam.
Bayu Artanegara menyusul sang Kakak untuk kembali ke sisi Allah SWT. Dan Ammar tidak mempunyai kesempatan untuk berada di sisa-sia akhir hayat mereka.
Mama Alika dan Papa Bilmar sama-sama terpukul. Sampai saat ini pun, mereka masih belum mau ditemui oleh awak media.
"Sudah seminggu Abang seperti ini. Hanya diam, dan sesekali menangis. Terus kalau di ajak bicara enggak fokus. Ada apa sih, Bang? Abang tuh jangan selalu bilang enggak apa-apa terus, Adek tau ada yang lagi Abang fikirin, iya 'kan? Kita tuh suami istri, Bang. Sudah setempat tidur, sudah menyatu! Apa sih yang masih Abang sembunyiin?"
Samar-samar pandangan mata Ammar mulai beralih dari langit. Ia menoleh, menatap Gana yang sedang menatapnya. Menilik bola mata Gana seraya ingin membenarkan, apakah sudah saatnya ia berkata jujur?
Tapi, sepertinya.
Tidak!
Ia tidak mau menyerah sekarang. Semua kesakitan ini adalah konsekuensi yang harus ia terima. Bukan, tidak cinta dengan keluarganya, tapi dengan kembalinya sekarang ke Jakarta lalu menguak semuanya. Tentu tidak akan mengembalikan kedua kakeknya yang sudah berpulang.
Tidak akan mengembalikan kekecewaan sang Mama, yang beberapa hari lalu berteriak di sambungan telepon untuk meminta Ammar kembali pulang ke Jakarta.
"Kamu memang anak durhaka, Dek! Mama enggak ridho sama kamu!"
Setiap mengingat kemurkaan Mama. Ammar kembali gusar. Ia lemah tidak berdaya. Sebeginikah sulitnya untuk hidup bersama istri, mendapatkan kebebasan dan berkumpul dengan keluarganya kembali?
Sesusah ini kah?
"Enggak ada, Dek. Abang hanya lagi ingat sama orang tua Abang."
Gana mengelus punggung suaminya. "Ya udah kalau gitu kita ke makamnya aja, Bang. Kalau Abang risau begini, itu artinya Ibu sama Bapak butuh doa dari kita."
Ngilu sekali hatinya seperti sedang ditusuk-tusuk oleh ujung pisau, saat mendengar ucapan sang istri. Kebohongannya kepada Gana sudah amat melebar. Tentang masa lalu, orang tua dan jatidiri mereka berdua. Apalagi saat ini Gana masih belum mengingat apapun.
Bisa kah wanita itu menerimanya?
Menerima apa yang sudah ia lakukan sekarang? Gana yang sekarang bukanlah Gana yang dulu. Gana yang sekarang pasti takut, jika tahu Ammar adalah mantan mafia, dan sedang menjadi incaran balas dendam beberapa bandit lainnya.
Ammar takut, Gana tidak bisa menerima dan terpengaruh dengan keluarga Hadnan yang pasti akan murka dan memaksa mereka untuk tetap bercerai.
Serta, lelaki itu masih gelisah dengan bayang-bayang jeruji besi yang masih belum terlepas dari masa lalunya.
"Ayo, Dek. Kita masuk." ajak Ammar untuk kembali ke dalam rumah. Lagi-lagi ia tidak fokus untuk di ajak bicara. Apa yang Gana ucap, yang Gana rayu, yang Gana pinta. Lelaki ini hanya akan menanggapinya dengan kebisuan dan kedataran.
Gana berkali-kali menghela napas. Ia ingin sekali membelah kepala Ammar untuk mencari sesuatu yang menjadi buah fikir lelaki itu.
Mengapa suaminya bisa berubah seperti ini disaat dirinya baru melahirkan. Di saat-saat ia butuh perhatian, sentuhan yang lebih dari Ammar.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Gana melemapar-lemparkan bantal ke arah Ammar dengan wajah kesal. Ammar tetap mencoba mendekat untuk menenangkan Gana yang masih merajuk. Sudah empat bulan ini, wanita itu selalu marah-marah. Ia benci melihat Ammar. Karena berkat lelaki itu, Gana kembali hamil anak ketiga.
"Pergi!!" usir Gana kepada Ammar yang masih memakai seragam kerja, sehabis pulang dari pabrik. Bukan teh hangat atau air putih yang biasanya ia terima, melainkan lemparan bantal dan makian dari Gana.
"Maafin Abang, sayang. Perasaan tadi pagi yang Abang dengar tuh kamu minta rujak kangkung. Bukan rujak mangga"
Ammar terus mengutuk dirinya. Bisa-bisanya ia salah beli. Entah kemana pergi otaknya tadi, benar-benar lelaki itu. Terus saja menguras emosi sang istri.
"Pergi!" Gana tetap berteriak.
"Ya udah, Abang minta maaf ya." Ammar pelan-pelan mendekati Gana, saat wanita itu sudah kehabisan stok bantal yang akan ia lempar ke tubuh Ammar. Gana mendengus napas kasar dengan perut yang sudah terlihat membola. Ia memicing tidak suka.
Semenjak hamil anak ketiga. Gana memang sering uring-uringan. Mood nya kacau. Di satu sisi ia tidak mau hamil lagi dalam waktu dekat. Aidan yang baru jalan enam bulan terpaksa harus minum sufor, karena air asi Gana kembali surut.
__ADS_1
Bukan menentang untuk mempunyai anak lagi, tapi waktunya saja yang kurang tepat. Dan Ammar yang tidak bisa menjaga hasratnya. Gana alergi dengan suntik KB, ingin memakai IUD harus ke Dokter Speasialis Kandungan, dan tentunya ia harus pergi ke kota. Maka yang bisa ia lakukan hanya mengkonsumsi pil-pil KB saja. Dan di saat dirinya lupa meminum, di situlah Ammar beraksi.
Jadilah anak ketiga. Dengan kehamilan ke empat. Jika saja Kakaknya Rora tidak gugur, pasukan Ammar dan Gana pasti akan bertambah banyak.
"Danan dek. Ndak boyeh yah." Rora meraih crayon miliknya yang hendak dimasukan Aidan ke dalam mulutnya. Dua anak tersebut sedang bermain di atas karpet di ruang tamu. Aurora sedang menggambar di buku gambar dan Adian menemaninya.
Aidan bergumam dengan sedikit teriakan. Karena krayon tersebut di ambil Kakaknya. "Sstt. Tiem yah. Mama cama Papa agih beyantem." Aurora meletakan satu jarinya di bibir Aidan, agar sang adik menurut untuk diam.
Bayi enam bulan itu, menarik ujung rambut kakaknya dan dimasukan lagi ke dalam mulut.
"Nam ... Nam." gumam Aidan, menikmati helaian rambut Kakaknya.
"Ah danan dong. Cakit nih." Aurora meringis. Berusaha melepas kepalan tangan Adiknya yang sudah tumbuh gigi sebanyak empat buah.
Merasa haus karena ingin susu. Aidan lepas rambut-rambut Aurora yang sejak tadi ia kepal kuat. Bayi enak bulan yang sudah bisa duduk itu lalu merangkak ke arah pintu kamar orang tuanya.
Tangan mungil si tampan menghentak-hentak pintu bagian bawah. "Ba ... Ba ... Ma." Aidan seraya memanggil-mangil Mama dan Papanya yang masih saja berisik di dalam.
"Dedek mauh ata cih?" tanya Kakaknya mengelus rambut adiknya yang terlihat masih jarang.
Aidan tetap saja menghentak-hentak pintu. Anak itu mulai tidak sabar dan akhirnya menangis. Aurora tetap berusaha menenangkan sang adik, sampai di mana pipinya di cakar Aidan.
"Huwaaaaaaaa ...." dan keduanya menangis di depan pintu.
Gana yang berhasil di raih Ammar untuk di dudukan di bibir ranjang dalam rajukan, bergegas bangkit, tak kala ia dengan suara tangisan dari kedua anaknya di luar.
"Ya Allah, Sayangnya Mama. Kenapa, Nak?" Gana menyeka air mata yang membuat wajahnya basah saat menyalurkan kekesalan kepada suaminya.
Wanita hamil itu membungkuk, lebih dulu menggendong Aidan lalu menggandeng Rora untuk bangkit berdiri. Di bawanya kedua anak tersebut untuk duduk di atas sofa. Karena di meja terdapat botol susu Aidan yang masih ada, tinggal setengah.
"Kok nangis, Nak? Kenapa?" tanya Ammar yang ikut mengekor langkah Gana. Ia ingin meraih Aurora, tapi Gana tidak memberi celah.
Ia masih kesal dengan lelaki itu. Selama empat bulan kehamilan, Gana tidak mau di jamah. Hanya wajah masam yang bisa ia berikan. Gana mengalami mual dan muntah hebat saat usia dua bulan kehamilan. Bayangkan saja dalam waktu bersamaan itu, ia harus mengurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
"Sini, Kak. Sama Papa." Ammar melambaikan tangan ke arah Rora. Ia tengah duduk di single sofa. Baru saja Rora ingin beranjak, tapi lebih dulu tangannya di cekal. Gana menyergah nya.
"Di sini aja sama Mama!" perintah Gana galak. Rora jadi berhenti menangis. Ia memilih tidak mendekati Papanya. Dari pada ia dimarahi karena tidak menurut dan cengeng, lebih baik ia cari aman. Baiknya anak ini, walau sudah dicakar oleh Aidan, tapi Rora tetap mencium-cium kepala Aidan yang masih sibuk menyusu.
"Abang tuh selalu mau enaknya sendiri! Enggak pernah ngertiin perasaan aku!" air mata Gana kembali tumpah.
"Harus ngertiin gimana lagi? Kan Abang selalu nurutin kemauan Adek. Adek mau nya apa, selalu Abang iya-in. Tapi kalau kamu marah soal kehamilan ini. Ya, Abang harus gimana? Mungkin udah waktunya kamu hamil lagi."
Ammar menyandar di sandaran kursi sambil mengusap wajah gusar. Sudah letih bekerja, dan sekarang istrinya merajuk tidak henti. Seakan kepalanya mau pecah.
"Mama danan nanis dong. Cup-cup." anak perempuan delapan belas bulan itu menyeka air mata Mamanya yang terus membasahi Pipi. Gana terus terisak sambil menyusui Aidan. Aidan yang sedang menyusu sambil memandang wajah Gana, lantas memegang wajah Mamanya.
Hati Ammar terenyuh, melihat istri kesayangannya terus saja menangis. "Ya udah kalau gitu, kita ke Jakarta minggu depan. Abang akan hubungi Pak Mahendra agar kita bisa menginap di rumahnya."
Memang ini yang Gana inginkan sejak melahirkan Aidan. Wanita itu ingin refreshing serta membawa buah hatinya untuk jalan-jalan. Gana ingin membelikan ini dan itu untuk anak dan suaminya. Tapi Ammar selalu saja mengundur-undur untuk memenuhi kemauannya. Wanita itu jadi uring-uringan. Sudah keinginannya tidak pernah dipenuhi, sekarang ia pun hamil.
Kilat binar di mata Gana kembali tampak. "Beneran, Bang?" senyum nya kembali muncul. Ammar yang senang karena Gana sudah menghentikan tangis, lantas mengangguk.
"Iya, demi Adek. Biar enggak marah-marah mulu." kekeh nya walau dalam balutan gelisah. Lelaki itu takut tertangkap orang-orang Frady, setibanya di Jakarta.
Baru saja Gana ingin mengucap kata terimakasih. Rora menyelak. "Takata itu ata cih, Mah?" tanya si cantik kepada Mamanya. Ammar tersenyum mengelus-elus rambut panjang terurai milik Aurora.
"Jakarta, Nak. Nanti kita jalan-jalan ya." jawab Gana sambil mengecup pipi Aurora.
"Yey yey yey ... talan-talan." seru anak itu kegirangan.
"Makasih ya, Abang." ucap Gana.
"Iya, Dek." akhirnya Gana bisa melihat dunia lepas, setelah hampir tiga tahun lebih terkurung di pulau ini.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Ammar mengendap-endap pergi ke pekarangan rumah untuk menelepon Mama di Jakarta, sesaat dirinya sudah memastikan kalau istri dan anak-anaknya sudah terlelap.
Waktu saat ini sudah menunjukan pukul sepuluh malam waktu Indonesia tengah. Dan di Jakarta baru pukul sembilan malam waktu Indonesia barat. Sang Mama yang selama enam bulan ini tidak mau mengangkat teleponnya, pasti belum tidur.
Mama Alika terpaksa membeku kepada Ammar. Agar anak lelakinya itu mau segera pulang. Dan Ammar tetap bebal sampai sekarang. Ia rindu wanita itu. Dengan ia pergi ke Jakarta. Ia bisa bersembunyi-bunyi untuk menemui Mamanya di sana.
Kontak Mama di gawainya sudah di tekan, kemudian benda pipih berwarna hitam itu ia letakan di telinga, hanya ada suara nada sambung seperti biasa.
__ADS_1
Dan di saat Ammar sudah mengulang beberapa kali panggilan tersebut yang akhirnya mau menyerah. Bola matanya menatap langit dengan senyuman, saat tahu kalau nada sambung itu sudah berganti dengan helaan napas seseorang di sana.
"Assalammualaikum, Mama." ucap Ammar. Ia merasa Mama pasti akan bahagia, jika tahu dirinya akan pulang ke Jakarta untuk sementara.
Hening. Bisu. Hanya angin saja yang terdengar dan helaan napas yang naik turun.
"Mah? Mama? Masih marah sama Adek, Mah?" ucapnya lagi dengan nada memelas. Seraya memaksa agar pujaan hatinya mau menjawab rengekannya.
Di seberang sana, Maura membisu dengan bola mata melotot tajam menatap dinding. Karena ponsel Mamanya terus bergetar di dekatnya, ia berinsiatif mengangkat walau dengan nama penelepon 'Jeung Dina'. Sudah dua hari ini ia menginap dirumah Mama dan Papanya.
"Mah? Mama kok diam aja sih, Mah? Sariawan ya, Mah?" Ammar berdecak tawa.
Air bening bergerumun di pelupuk mata Maura. Ia sampai menggeleng samar seakan tidak percaya. Suara adik yang ia rindukan, kini kembali ia dengar. Adik yang ia anggap sudah mati didepan publik, tapi tetap hidup di dalam sanubari hatinya.
"Tega-teganya kamu membohongi kami, Ammar!!"
DEG.
Nada lugas yang ia dengar dan ia yakini bukanlah suara Mamanya. Membuat deru napas Ammar memburu dan Jantungnya bergejolak kronis.
"Kaaa-kakak." Ammar memekik namun tertahan. Tangannya sampai bergetar memegangi ponsel. Ia kaget setengah mati, mengapa perempuan ini yang mengangkat. Perempuan yang ingin sekali ia peluk untuk menumpahkan tangis, maaf dan siap untuk di maki-maki.
"Teganya kamu, Ammar! TEGANYA KAMU!!" hentak Maura didalam kesendiriannya.
"Kak ...." Ammar lirih. Isak nya muncul.
"PULANG, AMMAR! PULANG!" Maura terus mencecar.
Di sini Ammar hening. Ia menunduk melihat tanah. Isak nya masih ada, dan Maura sangat hafal jika adiknya sudah menangis seperti itu pasti batinnya amat tersiksa. Lelaki itu sudah tidak bisa berpura-pura kuat jika Maura yang sudah berbicara. Ia pasti akan hancur lebur.
Ammar adalah adik lelaki penakut kesayangan Kakaknya di masa kecil.
Hiks ... Hiks.
Pantang lah lelaki untuk menangis. Tapi saat ini, quote tersebut hanya angin lalu. Ammar terus saja terisak, menumpahkan beban yang selama ini ia pikul.
"Kamu tertekan, Ammar! Ayo pulang! Kamu dimana? Bersama siapa? Mengapa bersembunyi? Ayo pulang, Dek. Papa sakit."
DEG.
Dadanya kembali sakit. Jantungnya seolah diperas. Lelaki yang ia rindukan sedang terbaring lemah di sana, dan ia tidak tahu.
"Saa-sakit, Kak? Gimana keadaan Papa sekarang?" tanya Ammar gelisah.
"Jawab dulu pertanyaan Kakak barusan!" Maura kembali menyentak dengan nada emosi tapi penuh syukur. Ia tidak henti-henti memuja Allah, karena ternyata Adiknya masih selamat.
"Kak, tolong. Papa sakit apa?" isak Ammar semakin berat.
"Jawab dulu pertanyaan ku!"
Ammar menghela napas panjang. Sudahlah, tidak ada pilihan lain. Selain mengaku, ia sudah tertangkap basah.
"Aku di Makassar, Kak. Bersama istri dan anak-anakku."
"APA??" Ammar sampai menjauhkan ponsel saat Kakaknya berteriak nyaring.
"Kamu menikah lagi Ammar? Sudah punya anak? Siii--sii-siapa wanitanya? Lalu kenapa pergi? Kenapa bersembunyi?"
"GANAYA, Kak." dengan lantang Ammar mengaku.
Iris mata Maura kembali melebar dengan pelototan tajam. Adik ipar yang sudah dianggap mati oleh keluarga besar ternyata masih hidup.
"Jangan bercanda kamu, Dek! Gana kan sudah meninggal."
"Aku tidak bercanda, Kak. Kami berdua masih hidup." isak nya menghilang, tergantikan dengan nada bariton dari kerongkongannya. Seakan menjelaskan bahwa lelaki ini sedang tidak main-main.
"PULANG MALAM INI JUGA!" teriak Maura.
๐บ๐บ๐บ๐บbersambung๐บ๐บ๐บ๐บ
Pulang ya, Bang๐บ
__ADS_1