
"Okelah baik. Karena aku sayang padamu. Dan sudah menganggap mu sebagai saudara sendiri. Aku hanya bisa mendukung jika kamu bisa berbahagia dengan cara meninggalkan usaha ini. Tapi dengan catatan, tunggulah sampai kontrak kerja kita dengan beberapa konsumen selesai."
Ammar hening. Tentu meninggalkan sesuatu yang sangat menghasilkan, dan sudah bertahun-tahun dijalani. Akan sulit ia lepas, tapi bagaimana lagi. Ia lebih mencintai Gana dari pada semua itu. Terlebih lagi, mata hatinya setengah terbuka, kalau ia sudah salah melangkah.
Farhan berusaha untuk membuat hati Ammar sedikit lega. Ia masih mempunyai waktu untuk terus mendoktrin Ammar, dan rencana paling terberatnya jika Ammar tetap berpendirian untuk menutup usaha ini.
"Aku akan membunuh istrimu!" Farhan membatin. Hanya itu yang bisa ia lakukan, ia masih membutuhkan Ammar, sampai dimana ia bisa menendang Ammar, jika waktunya sudah tepat. Farhan tahu, kunci kelemahan Ammar adalah Ganaya.
"Jangan kamu limpahkan semuanya sendirian kepadaku, Ammar. Awalnya kan kita menjalaninya berdua, menikmati hasil juga berdua maka kita harus menutupnya secara berdua. Selama menuju penutupan usaha. Aku tidak akan menerima orderan lagi, hanya satu tahun, bagaimana?"
"Satu tahun? Selama itu, Han?"
Farhan berdecih. "Semua usaha ini bisa berkembang 'kan awalnya dari kamu? Makanya kita butuh waktu lama untuk membungkam semua ini. Apa kamu tidak ingat?"
"Pertama, diskotik yang tadinya hanya satu sekarang sudah beranak pinak menjadi dua puluh. Sudah tidak terhitung lagi jumlah wanita yang kita jadikan wanita simpanan para pengusaha dan pejabat atau pemuas laki-laki hidung belang. Dana yang masuk saja miliaran setiap bulannya."
"Kedua, transfer organ, yang tadinya hanya sekitar negara kita sekarang sudah sampai ke beberapa negara. Malah, Mr. Zine sudah mengirimkan dana. Ia butuh lima puluh ginjal."
"Ketiga, alat peledak ilegal. Kita diperjualkan kepada Mafia-mafia kelas kakap dari dalam maupun luar negeri, apa kamu mau menjadi santapan mereka, jika begitu saja kabur tanpa jejak? Dan yang keempat---"
"STOP, HAN! STOP!!" seru Ammar sambil menutup telinga karena tidak mau mendengar lagi serangkaian ucapan dari Farhan. Ia tergelak dalam sentakan. Dosanya memang begitu banyak dan besar.
Farhan terkekeh. "Kenapa baru bilang STOP sekarang? Setelah banyak nyawa yang sudah kita bunuh? Memutilasii banyak organ?Memperjualbelikan tubuh wanita? Merusak hidup orang dengan obat-obat terlarang? KENAPA BARU SEKARANG??" nada Farhan terdengar naik satu oktaf. Ia terus menyuduti Ammar dengan semua kesalahannya selama ini.
Rahang Ammar mengencang, lagi-lagi jantungnya berdegup cepat. Ia tidak kuat menahannya, akhirnya ia hembuskan napas kasar ke udara berulang-ulang dengan pejaman mata.
"Aku mau berhenti, Han. Berhenti!" lirih Ammar. Lelaki itu kemudian menunduk, Kedua tangannya terus memegangi kepala lalu berubah menjadi cekalan kuat di rambutnya.
Farhan memegang bahu Ammar. "Ada saatnya, kita pasti akan berhenti."
Tangan Ammar terkulai kebawah, bahunya merosot. Ia menggelosor kan tubuhnya di sandaran kursi dengan lemah.
"Kita harus berhenti, Han. Aku juga ingin kamu hidup kembali normal. Menikah sepertiku." rintih Ammar. Oh, Tuhan. Tulus sekali hati Ammar kepada sahabatnya yang mempunyai hati selakhnat Dajal.
Farhan memiringkan sudut bibirnya. "Untuk apa menikah? Jika ingin wanita, aku bisa menidurii mereka kapan pun aku mau, tinggal pilih dan bayar. Lantas kamu? Sudah menikah, tapi tetap tidak bisa menerima kenikmatan, istri ada tapi tidak bisa di sentuh. Haha. Sungguh malang nasib kamu, Ammar."
__ADS_1
Ammar menyerengit dahi. "Kamu tau dari mana, Han?"
"Aku hanya menebak, benar 'kan perkataanku?" ucap Farhan dengan kekehan kecil.
Ammar terdiam. Sesakit itu memang rasanya. Istri ada, tapi tidak bisa memberikan kepuasan batin padanya. Tapi ia sudah mengerti keadaan Gana. Dan Ia tidak mau menjelekkan wanita itu. Aib istri, harus tetap ia simpan. Begitulah nasihat dari sang Papa.
"Fikirkan lagi untuk mundur, kamu masih muda, Ammar. Usaha kita sudah sejauh dan selama ini, yakin mau kamu tinggalkan?"
"Tapi aku sudah tidak mau memberi nafkah haram lagi kepada orang tua ku, terutama untuk istriku, Han." ucap Ammar dengan nada memelas.
"Yakin? Jika kamu melepas usaha ini. Akan banyak mafia yang menggantikan posisi kita. Dan bagi musuh-musuh EG, mereka akan berani lagi untuk mengusik dan menggeser tender kamu, seperti yang pernah Mahendra lakukan."
Sesaat Ammar mengingat tentang keberhasilan Mahendra yang sekarang sedang di puncak. Ammar merasa tersaingi. Apalagi masalah di masa lalu belum terselesaikan dengan baik. Kasus tentang Alex saja belum ia usut. Ammar benar-benar murka kepada lelaki itu.
Entah 'kah bagaimana reaksi Ammar, jika mengetahui Mahendra sudah bergabung dengan Hadnan Group.
"Mereka tidak akan menakuti mu lagi, Ammar. Kamu tidak akan mempunyai kekuatan lebih, mereka tidak akan segan lagi terhadapmu, karena sebentar lagi kamu bukan lah siapa-siapa."
"Mereka yang pernah kamu hancurkan bisnisnya, kamu bakar perusahaannya atau sengaja kamu renggut keuntungannya, bisa membalas kamu dengan mudah tanpa rasa takut, mungkin bukan hanya kamu yang dihancurkan, tapi juga ... Istrimu, bagaimana?"
Jantung Ammar langsung berdentam kuat. Dadanya terasa diperas. Ia tidak mau istrinya tersangkut paut dengan masalah ini. Apalagi sebelum menikah ia sudah merasakan banyak dijahili dengan tangan jahil dari seseorang, yang anehnya tidak bisa ia ungkap sampai sekarang.
Salahnya, Ammar selalu menceritakan apa yang di rasa kepada Farhan. Lelaki itu bilang, berjanji akan menghusut. Nyatanya, Farhan hanya membiarkan saja. Ia senang jika Ammar terus berendam dalam sandera-an banyak mafia.
Ammar hening lama. Kedua matanya berpendar kesana kemari, sembari berfikir. Lelaki itu bingung, pilihan apa yang harus ia pilih sekarang? Ia bimbang.
Tentu jika mundur sekarang sebelum menyelesaikan semua usaha itu, ia akan merasa seperti pengecut dan terlebih lagi mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan sang istri.
Tapi jika tidak berhenti, bagaimana dengan tobatnya? Bagaimana ia bisa meraih hati Gana, jika ia tidak bersimpuh kepada Allah?
Farhan beranjak bangkit lalu memutar meja. Ia melangkah sampai ke belakang kursi Ammar. Memegang kedua pangkal bahu sahabatnya.
"Berikan waktu selama satu tahun ini untuk meraup uang sebanyak-banyaknya. Menyelesaikan proyek kita yang sudah berjalan, sambil menutup beberapa usaha yang bisa kita tutup. Perduli setan tentang uang Haram! Dari pada kita mati jadi incaran mereka karena di nilai tidak bertanggung jawab. Toh, kita bisa tobat 'kan setelahnya?"
Oh, gampang sekali menyebut kata Tobat?
__ADS_1
Ammar menarik napas. Tentu jika masalah uang, ia tidak akan panik jika melepas usaha haram ini. Karena total kekayaan EG masih sanggup menghidupi tujuh turunan keluarga Artanegara.
Ia menjadi seperti ini, karena hanya ingin membalas sakit hatinya kepada orang-orang yang pernah membulli nya di masa lalu, tetapi dirinya malah kebablasan.
Dadanya mendadak sesak, kepalanya berat dan hatinya masih gegana. Layaknya kapal yang terombang-ambing karena pengaruh ombak di lautan.
Sepertinya iman Ammar belum kuat. Jin-jin dalam tubuhnya bergelak tawa. Membisikkan kata-kata yang bisa membuat ia tetap stay dalam lingkar usaha haram ini.
Dan
Ammar mengangguk, lantas menurut untuk menjalani usaha ini sampai batas waktu satu tahun. "Hanya satu tahun, Han. Aku tidak mau lebih." jawabnya pasrah.
Farhan mengangguk penuh kemenangan.
"Oh, iya. Apa kamu tidak pernah berfikir, bagaimana kalau istri dan keluarga besar mu tau apa yang kamu kerjakan? Pernah menerka, bagaimana murka nya mereka Ammar? Terutama istrimu, mungkin saja ia akan meminta cerai."
"Apa? Cerai?" Ammar tersentak. Lantas menggeleng cepat. "Tidak boleh, Han! Aku harus berhenti sebelum Gana mengetahui semuanya.
"Apapun yang terjadi, Gana tidak boleh meninggalkanku! Aku mencintainya. Ganaya adalah hidupku, Han!"
Farhan mengelus bahu sahabatnya. Tanpa Ammar melihat, Farhan menyunggingkan senyum dramatis penuh intrik. "Aku akan membantumu."
"Mungkin aku bisa menegapkan hatimu yang masih bimbang ini dengan caraku sendiri nanti." ujar Farhan dalam hatinya, sorot matanya seperti tengah terbayang kepada sosok Ganaya.
Ammar menimpa punggung tangan Farhan yang masih menekan pangkal bahunya. "Makasih banyak, Han. Sudah mau menemaniku, membantuku dan menjadi sahabat yang setia untukku. Jasamu sungguh luar biasa."
Farhan mengangguk dengan senyum yang merekah. "Sama-sama, sahabatku."
***
Tenang gengs, Gana sendiri yang nantinya akan menolong suaminya. Haha. Clue dari aku, biar kalian bisa bobo nyenyak🌾🌾.
Kalau enggak sibuk, Insya Allah aku akan update lagi ya🌺🌺
__ADS_1