
Sudah dua minggu berlalu, pasca kejadian menyakitkan yang terjadi di antara dua keluarga besar, gara-gara perihal Ammar. Yang membuat Mama Difa mengalami stroke dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, juga Mama Alika yang masih berbaring di Rumah Sakit, karena ritme jantungnya masih belum stabil.
Namun semua keluarga akhirnya bisa bernapas lega, karena kedua wanita tangguh itu sudah melewati masa-masa kritisnya.
Setelah malam itu, Gana kabur dari Rumah Sakit untuk kembali pulang ke pelukan Ammar. Esoknya, Gemma dan beberapa tukang pukul datang kerumah mereka untuk menjemput Gana.
Mau tidak mau Ammar sebagai pelindung Gana, harus melawan mereka. Kesabaran Ammar luntur dengan caci dan maki yang terus Gemma cuatkan secara menggebu-gebu.
Membuat amarah Ammar meninggi, lantas melawan dan menghajar Gemma sampai babak belur, tak tanggung-tanggung Ammar sampai menyodorkan pistol kepada mereka semua.
Akhirnya Gemma dan orang suruhannya berlalu dari rumah tanpa bisa membawa Gana. Ammar merasa tidak salah, ia pantas melindungi miliknya. Gana adalah istrinya, tentu Ammar mempunyai hak penuh atas Ganaya.
Dan Gana pun tidak berkenan ikut dengan Gemma, ia memilih suami dibandingkan keluarganya. Pernikahan mereka bulan depan akan menginjak setahun, tentu pengorbanan Gana akan sia-sia, jika melepaskan mahligai rumah tangganya begitu saja.
Gana sudah menjatuhkan pilihan, ia tetap tinggal dirumah ini bersama suaminya. Melanjutkan pernikahan ini sampai ajal datang menjemput.
"Pilih saja suamimu. Papa tidak akan mengakui lagi kamu sebagai anak!"
Ucapan Papa Galih setelah Gemma habis dipukuli Ammar kepada Gana. Gana yang datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Mama di usir secara mentah-mentah dan diberondong dengan ribuan ucapan yang tidak mengenakan.
Gemma dan Gelfa mencacinya. Gana pulang dengan perasaan sakit. Ia tahu dirinya salah, karena sudah menyakiti hati Papa. Tapi ia tahu, sikapnya sudah pantas.
Karena setelah menikah pahala yang di cari oleh wanita ada di bawah kaki suami. Ia sangat mencintai Ammar. Tidak ingin berpisah dengan lelaki itu. Ia tahu, lambat laun Papa dan keluarganya pasti akan menerima mereka.
Begitupun dengan keluarga Ammar. Telak-telak Papa meminta Ammar untuk mundur dari kursi Presdir Eco Group. Papa belum bisa memaafkan Ammar, walau Mama sudah membujuknya, tetap saja keputusan lelaki itu tidak bisa diganggu gugat.
Papa menunjuk Gifali untuk menggantikan posisi Ammar. Awalnya Ammar terpukul, tapi akhirnya ia legowo. Lelaki itu juga berfikir lebih baik dirinya keluar dari EG, karena dirinya sudah tidak pantas. Ammar malu menatap keluarga besar Artanegara. Sudah berlaku keji selama ini hanya untuk di puja.
Tapi dengan masalah ini, Ammar bisa menilai bagaimana ketulusan cinta istri kepadanya. Gana tetap menopang dirinya dari belakang. Menyemangati lelaki itu, bahwa hijrah memang lah sulit.
Bima dan Denis tetap bekerja di EG. Mereka berdua sedih dengan nasib yang menimpa Ammar sekarang. Awalnya mereka bersikeras untuk keluar dari EG. Mereka berdua ingin tetap bekerja dengan Ammar, tidak digaji pun tidak apa katanya.
Tapi Ammar menolak, Ammar bilang, bekerja dulu di sana. Jika bisnisnya sudah berkembang, Ammar akan kembali memperkerjakan mereka.
Dengan berat hati mereka mengikuti semua permintaan Ammar, dan berkata jika ada sesuatu. Tolong hubungi mereka, Bima dan Denis siap membantu kapan saja.
Setelah Gana dan Ammar di boikot oleh keluarga. Gana mencairkan uang mahar nya sebesar lima miliyar untuk diberikan kepada sang suami. Sebagai tambahan modal, agar Ammar bisa merintis bisnis dari bawah, bisnis yang halal tanpa lagi diringi dengan dosa.
"Uangku kan masih banyak. Di luar negeri saja aku masih punya deposito."
Kala itu Ammar tertawa, ketika Gana memberikan uang yang ia cairkan dari bank. Uang mahar dan tabungan pribadinya untuk membantu suami. Dan Gana tetap memaksa Ammar untuk memakainya dulu.
"Apa perlu pakai dasi segala? Aku kan sudah tidak jadi Presdir lagi." tanya Ammar dengan senyuman receh nya.
Gana yang saat ini sedang berhadapan dengannya, tengah memasangkan dasi di kerah kemeja langsung ikut terkekeh.
"Kamu tetap sama seperti dulu. Presdir di hatiku." jawab Gana tersenyum.
Ammar ikut tersenyum, dirinya merasa di puja sampai ke awang-awang. Lantas memiringkan wajahnya untuk menyatukan bibir mereka. Ammar melummat bibir Gana sekilas.
"Kamu sudah selesai haid nya?" ucap Ammar kala perpagutan bibir mereka putus.
Gana memiringkan sudut bibir, wanita itu mencebik. "Sudah dari enam hari yang lalu, tapi kamu enggak colek-colek aku ..."
Ammar tertawa. "Maaf ya, kemarin-kemarin 'tuh perasaan aku masih kacau." ia mengelus-elus lembut pipi istrinya.
Gana mengangguk dan mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.
"Aku ngerti kok." lantas mengecup pangkal hidung suaminya yang bangir.
"Melihat kamu yang udah seger lagi kayak gini aja aku senang banget." imbuhnya lagi.
"Kamu udah cinta sama aku?" Ammar memperlihatkan raut bahagia ketika sedang bertanya.
Gana memutar bola matanya jenga. Tapi, warna wajahnya sudah merah muda seperti jambu air. Wanita itu malu dan gengsi untuk berucap lantang.
"Apa harus ditanya lagi?"
"Hemm ..." Ammar mengangguk. Ia butuh pengakuan.
Bola mata Gana berpendar-pendar dengan raut muka malas, ia ingin mempermainkan hari Ammar dulu agar lelaki itu merasa Gana belum mencintainya. Tak lama wanita itu tersenyum puas. Dan memeluk Ammar lagi, sambil bertutur.
"Aku cinta banget sama kamu, sayang." bisiknya malu-malu, pelan tapi nadanya begitu sexy.
Birahi Ammar seketika naik. Palung pagoda pastilesnya menyembul dibalik celana.
"Ihh!" Gana menghentak dada suaminya. Ia rasakan junior Ammar bergerak-gerak mengenai kulit pahanya dari bawah. Ammar terkekeh.
"Makanya jangan mancing-mancing. Pakai segala bisik-bisik pelan, kayak lagi di wc umum aja takut ada yang dengar."
Gana mendengus.
"Mau sekarang?" goda Ammar. Ia meremas kedua bokong istrinya.
Gana melotot. "Nanti malem aja! Sekarang kan kamu udah ada janji sama Mahendra dan Alex."
Wajah tampan itu mengangguk. Ia menurut apa kata suaminya. "Ya udah kamu sarapan dulu sebelum berangkat. Aku udah buatin nasi goreng babat kesukaan kamu."
Bola mata Ammar berbinar. Mencium lagi pipi istrinya serta dirangkulnya menuju meja makan.
"Bisa banget manjain perut suami, makasih ya sayang." Ammar memuji-muji istrinya.
Pagi ini, Ammar akan bertandang ke perusahaan Mahendra. Di sana juga ada Alex, karena mulai bulan lalu Alex di minta untuk mengawasi anak cabang perusahaan Mahendra. Kedatangan Ammar ke sana juga ingin membahas tentang bisnis yang akan mereka dirikan bersama.
🌺🌺🌺
Lampu kamar sudah di matikan. Suasana begitu senyap dan sepi. Sampai bunyi jangkrik di taman saja, menerobos masuk ke ventilasi jendela kamar Gana dan Ammar.
Tepat sehabis makan malam, sesudah shalat isya. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam kamar, untuk mengunci tubuh masing-masing di dalam selimut.
Gana sudah tampil cantik dengan baju tidur tipis yang sejak dulu sudah Ammar belikan dan hanya tergeletak di dalam lemari, tanpa pernah ia sentuh.
Malam ini, Gana akan menyerahkan kehormatannya untuk sang suami.
"Euh." Gana merintih. Wanita itu terus mendesahh, karena Ammar sedang mencumbu titik-titik sensitifnya.
"Rileks sayang ..." bisik Ammar.
Tentu saja, membuat libido Gana semakin membuncah. Lelaki itu merasa istrinya sedikit tegang. Karena Gana terus saja berpusat dengan kata sakit.
Wanita cerdik itu selama seminggu ini selalu rutin membaca artikel-artikel tentang malam pertama atau proses senggama yang akan membuat pusat intinya kehilangan selaput dara keperawanan.
Gana mengangguk dalam pejaman mata. Ia makin terjerembab dalam kenikmatan sentuhan yang Ammar berikan. Entah sejak kapan, baju tipis kurang benang itu sudah melorot sampai ke dasar pinggang. Ammar yang sudah bertelanjang dada hanya memakai boxer, terus mencicipi permukaan kulit Gana yang mulus dan wangi.
"Kamu pakai farfum berapa botol?" ledek Ammar. "Rasa strowberry, jadi pengin gigit."
"Ahh ..." Gana mengerang, lantas memukul lengan suaminya. "Ya, jangan beneran dong, kalau putus gimana??"
Ammar mengusap bagian yang ia gigit.
"Amit-amit jangan sampai lah! Ini tuh asupan gizi buat Aurora nantinya."
Sontak mendengar ucapan itu, Gana refleks membuka kelopak matanya. Iris nya membeliak menatap Ammar dengan sorotan mata menuntut.
"Siapa itu Aurora?"
"Insya Allah nama calon anak kita nanti. Aku pengin anak perempuan. Siapa tau lebih cantik dari si Geisha." Ammar terkekeh. Candaan itu langsung di aamiin kan oleh Gana dengan semburat wajah bahagia.
Dan di sela-sela mereka sedang memadu kasih sambil bercanda, ada suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok.
"Pak ... Bu. Ada tamu yang datang." seru Bik Ningsih.
"Tamu? Siapa ya?" mereka saling bersitatap dalam pancaran bingung.
Ammar memilih bangkit dari atas tubuh Gana. Memakai kembali pakaiannya.
__ADS_1
"Ya Allah, baru aja mulai. Gagal lagi aja." decak Ammar.
"Terjeda, bukan gagal. Udah kamu ke luar sana, lihat dulu siapa yang datang. Aku mau ganti baju." ucap Gana.
Ammar mengangguk. Setelah berpakaian lengkap, ia beranjak dari bibir ranjang dan membuka pintu kamar.
"Tamunya siapa, Bik? Tamu saya atau Ibu?"
Raut wajah Bik Ningsih terlihat tegang. Seperti sedang menahan sesuatu yang sulit ia keluarkan.
"Maaf Pak, Bibik lupa nanyain. Kalau dari wajahnya Bibik belum pernah lihat." Bik Ningsih meneguk salivanya dalam-dalam. Wajar saja, saat ini ia sedang berdusta.
Ammar begitu saja percaya. Ia mengerutkan alis lama, seraya menerawang jauh. Memikirkan siapa yang saat ini datang kerumahnya. Jika Bik Ningsih saja tidak tahu, itu artinya yang datang bukanlah pihak dari keluarga.
"Tolong siapkan minum ya, Bik."
"Baik, Pak." Bik Ningsih berlalu dengan wajah gugup menuju dapur.
TAP.
Langkah Ammar terhenti seiring dengan jantungnya yang kembali berdetak ribuan kali lebih cepat.
Manakala ia dapati lelaki lahnat ini telah tiba di rumahnya berserta seorang wanita.
"Ammar ..." seru Farhan senang.
Lelaki itu beranjak bangkit dari sofa dan menghampiri Ammar yang baru saja tiba di ruang tamu. Dengan rasa bersalah, Farhan langsung memeluk Ammar erat. Menumpahkan rindu yang hampir sebulan ini tidak melihat, menegur atau bertukar suara lewat ponsel.
"Mau apa kamu kesini lagi, Han?" Ammar refleks mendorong Farhan dari tubuhnya. Wajah Ammar dingin dan tersibak raut garangnya.
Farina memandang kesal Ammar yang tidak menyambut baik kedatangan lelaki yang baru menikahinya dua minggu lalu.
"Kenapa, Mar? Apa aku sudah tidak pantas bersahabat denganmu seperti dulu? Aku sudah tidak mempermasalahkan tentang usaha terlarang itu, aku hanya ingin bertaubat sepertimu. Tapi aku ingin, kita tetap bersama seperti dulu."
Rahang Ammar mengetat, tatapannya begitu kesal namun tertahan. Rongga dada Ammar tiba-tiba saja terasa sempit. Melihat Farhan sekarang, sama saja mengingat luka menganga yang sampai saat ini masih tergulung-gulung seperti benang kusut.
"Untuk apa kamu kembali, Han? Hanya ingin mentertawakan ku, karena rencana kejimu sudah berhasil sekarang? Membawaku aku kealam jurang kehancuran? Menghancurkan keluargaku dan keluarga Gana?" Ammar mengeluarkan emosinya. Ia menarik kerah baju Farhan dan mendorongnya ke dinding.
"Apa maksud kamu, Mar? Aku tidak faham." Farhan memang tidak tahu menahu tentang apa yang sudah terjadi dengan Ammar dan keluarganya. Ia tidak tahu kalau istrinya lah dalang dari semua ini.
Ammar berdecih. "Seharusnya sejak dulu aku mendengarkan ucapan Gana untuk menjauhimu sebelum terlambat! Kamu tidak lebih dari seorang penghianat, Han! Kurang apa aku selama ini padamu?"
"Apa yang aku dapat, kamu juga menikmatinya! Sekarang hanya karena rasa sakit hati, kamu biarkan aku merana. Di usir dari keluarga besar, hampir bercerai dengan istriku!!"
"Hanya karena otakmu yang kotor, tega menyebarkan foto-foto kejahatanku kepada semua keluarga ku. Mama ku hampir mati, dan Ibu mertuaku stroke! Bersyukurlah jika sampai saat ini kamu masih bisa bernapas lega, karena aku tidak MEMBUNUHMU!"
BUG.
Setelah Ammar berteriak, ia mendaratkan satu bogeman panas di tulang pipi Farhan, menggantikan rasa sakit dan kecewanya yang selama ini hanya bisa ia tahan.
Farina beringsut dengan kecemasan, sambil membawa beban berat ia mencoba melerai Ammar.
"Rin pergi!" Farhan menitah Farina untuk menjauh. "Tapi ..." desah Farina takut.
"Tolong menjauh, ingat anak kita." ucap Farhan padanya.
Ammar berdecih lagi. Lelaki itu bergelak tawa skeptis.
"Banyak sekali kebohongan yang selama ini kamu tuai dibelakangku, Han! Katanya aku ini suadaramu, bahkan saat kamu menebar benih dengan wanita itu, aku tidak tahu, ck! Aku memang hanya bonekamu, Han! Mainan mu!"
Farhan menggeleng. "Enggak, Mar. Bukan seperti itu. Aku bisa menjelaskan semua ini."
Ammar berseru nyaring. "Ahhh tidak perlu! Saat ini aku sudah tidak mau lagi mengenal atau melihat wajahmu, Han! Pergilah, dan segera bertaubat! Semoga Allah mau memaafkan kita dengan dosa-dosa yang sudah membuatku hancur seperti ini!"
"Kamu salah faham, Mar. Aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun. Aku tidak pernah menyebarkan foto-foto yang kamu curigai. Aku sayang padamu, Mar. Aku Tidak akan setega itu."
Kasih Farhan kepada Ammar sebenarnya sangat tulus. Namun keserakahan seakan menutup mata hatinya. Jika hanya membunuh Gana, ia masih sanggup. Tapi jika melenyapkan Ammar, membuat lelaki itu terbuang dari para keluarga dengan menyerbarkan foto-foto itu. Ia tidak akan melakukannya.
"Aku tidak sekejam itu padamu----"
"Heh, dasar brengsekk! Ngapain kamu injak rumahku!!" Gana berteriak ketika langkah kakinya sudah sampai di ruang tamu.
"Kurang ajar! Lelaki bajingann! Sialann! Aku bunuh kamu!" Gana terus merancau dan memukul-mukul tubuh Farhan yang cekikan dilehernya sudah Ammar lepas. Kesal hati Gana karena melihat wajah lelaki biadabb ini lagi. Lelaki yang sudah sering ia sumpahi agar masuk ke dalam neraka.
"Heh! Lepas!!" suara dari belakang dan tarikan agar Gana menjauh dari Farhan, membuat Gana menoleh.
DEG.
Seakan jantung Gana ingin terlempar jauh ke luar angkasa. Bola matanya terbelalak. Gana tertohok, ketika menatap wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Bantal terlepas dari tangannya.
"Faaa---farinn---farina?" desah Gana terbata-bata. Gana menilik tubuh Farina dari atas ke bawah. Benarkah ini Farina? Teman SMA nya?
Farhan dan Ammar melongo hebat. Seakan bertanya, apakah betul para istri mereka saling mengenal?
"Kamu benar Farina 'kan? Teman sebangkuku di SMA dulu?" raut Gana masih memperlihatkan ketidakpercayaan.
Ia tilik lagi wanita hamil itu, yang sangat berbeda dari jaman dulu. Tidak cupu dan kaku. Sekarang Farina lebih elegan, mempesona dan auranya semakin terpancar karena sedang mengandung.
"Senang sekali, kamu masih mengingatku Gana." ucap Farina polos dengan tatapan persahabatan, walau seringainya palsu.
"Apa hubunganmu dengan lelaki keparat itu?" tanya Gana dengan nada kembali dingin dan datar, ia menunjuk ke arah Farhan dengan tatapan murka.
Tidak rela Farhan diperlakukan seperti itu, Farina pun mengerang. Ia rubah tatapan itu, menjadi tatapan geram seperti setan.
"Jangan hina dan tunjuk-tunjuk suamiku seperti itu!" seru Farina nyaring, ia menepis tangan Gana yang langsung terayun kebawah.
"Apa? Suami?" Gana terperangah. Ia berdecih aneh, ingin tertawa namun tepatnya ingin menangis. Menangisi kebodohan Farina yang mau dinikahi oleh lelaki seperti Farhan.
"Dasar wanita bodohh! Dari dulu kamu memang tidak bisa memilih lelaki, Rin! Dia ini lelaki jahat! Pembunuh! Perusak! Parasit! Ia bisa hidup enak karena selama ini sudah banyak membodohi suamiku! Mau-maunya kamu menikah dengan laki-laki lahnat seperti dia!"
Dada Farina semakin sesak. Ia tatap wajah Gana dengan sembulan api kemarahan. Dirinya tidak suka di hina.
"Diam brengsekk!" Farina dengan sadar menampar pipi Gana sebanyak dua kali. Ia menumpahkan rasa kecewa yang selama bertahun-tahun bercokol di hati. Ia masih menaruh dendam dengan masa-masa mereka di bangku SMA.
Gana melotot tajam ketika pipinya terasa panas. Wanita itu puas sekali menampar dirinya.
"Kurang ajarr!!" tangan Gana mengatung begitu saja, karena tubuhnya lebih dulu ditarik oleh Ammar. Begitupun Farina yang ditarik juga oleh Farhan.
"Berani-beraninya kamu tampar aku, Rina! Aku mencoba menyadarkan mu agar hidupmu tidak rusak jika bersama dia, malah begini balasanmu!" Gana terus menggeliat, ia ingin tetap maju untuk menjambak rambut Farina.
"Jangan sok suci kamu, Gana! Jangan terlalu membela suamimu, dia juga lelaki jahat! Tidak tau balas budi! Membuang Farhan begitu saja seperti sampah!"
Farina bergantian menatap Ammar.
"Tidak ingatkah dulu? Siapa yang membantu kamu, Ammar? Di saat semua orang menjauhimu? Membullymu? Hanya suamiku yang mau mendekat dan bersahabat denganmu!"
Bagai diterpa badai, Ammar sedikit menunduk karena sentakan Farina yang memanglah benar. Ia teringat bagaimana Farhan memapahnya ketika ia tak sanggup berdiri dari banyak serangan musuh.
Gana tertawa puas, namun dengan seringai penuh napsu ingin melumatt habis tubuh Farina. Ia takut Ammar kembali masuk dalam buaian Farhan.
"Heh! Jangan naif kamu! Lelaki bajinganmu itu, pura-pura baik selama ini, hanya karena ia menginginkan keuntungan dari suamiku!"
DEG.
Kini Farhan yang tertampar. Ucapan Gana sangat menusuk di hati, dan tentunya ucapan Gana memang membawa kebenaran.
"Suamimu itu iri, dengki, jahat! Tidak lebih dari sebuah parasit! Hanya Ingin mengeruk keuntungan dari jerih payah suamiku! Tanyakan padanya, apa dia bisa hidup tanpa otak dari suamiku? Tanpa kekuasaan dari suamiku?"
Kini Gana beralih menatap Farhan.
"Kemarin kamu sudah berbuat jahat layaknya iblis, sekarang kamu datang untuk apa? Mau berakting sebagai seorang Malaikat? Ingin mencoba membantu kami untuk bangkit dari keterpurukan? Atau berubah menjadi lelaki yang tiba-tiba soleh dengan dalih ingin taubat? Cih!" Gana mengeluarkan riak ludah nya ke lantai. Rasa sakit di hatinya memang sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Puas kamu sudah membuat aku dan suami ku terbuang dari keluarga besar kami?" Gana berseru kencang. Sampai seluruh art, termasuk Yuni keluar dari kamar. Mereka ingin mendekat ke ruang tamu. Ketiganya kaget sekali, mengapa majikannya sampai marah besar seperti itu.
Farhan menggeleng cepat. "Ini semua fitnah, Gana. Aku tidak pernah melakukan apa yang kalian tuduhkan, demi Tuhan." nada itu terdengar amat memelas.
__ADS_1
Gana berdecak jijik. "Jangan sebut Tuhan! Karena kamu tidak pantas mendapatkan pengampunan! Tempatmu itu di neraka, Farhan!" Gana semakin tidak sadar dengan gelak emosinya. Ia terus menumpahkan rasa benci dan kesal. Mengadili Farhan seakan ia adalah Rabb-Nya.
Farina kembali menyalak tajam. Wanita hamil itu beringsut menjambak rambut Gana, karena cekalan tangan Farhan di lengannya lolos begitu saja. Ia tidak suka Farhan di caci.
"Jangan Farina!" teriak Ammar. Tapi Farina tetap menarik rambut Gana untuk melepas kesal, sampai Gana mendorong Farina, dimana tubuh wanita hamil itu terhuyung mengenai punggung sofa.
"Ahhh ..." Farina berteriak. Mengaduh sakit. Farhan bergegas mendekat.
"Apa yang sakit, Rin?" tanya suaminya khawatir. Wajah Farina mendadak basah karena peluh, guncangan sakit diperutnya terus berbuih. "Perutku sakit, Han."
Walau Gana sekilas cemas. Tapi buru-buru ia menutup raut itu. Malah ia mengusir Farina dan Farhan dari rumahnya sekarang.
"PERGI KALIAN! JANGAN PERNAH INJAK LAGI RUMAHKU!!" seru Gana kencang. Ia tidak peduli jika dianggap sebagai orang yang tidak beradab dan kejam.
"Sayang, jangan begini." Gana menoleh ketika Ammar berucap sendu seperti itu. "Jangan terpengaruh dengan mereka, Ammar!" Gana mendelikan matanya tajam.
Farhan langsung menggendong istrinya yang masih meringkuk sakit untuk dibawa pergi, Ammar yang tanpa sadar ingin mengikuti langsung dicekal oleh Gana.
"Kalau kamu ikut keluar bersama mereka, Jangan pernah injak lagi rumah ini, Ammar!" Gana menunjuk bola mata suaminya dalam-dalam.
"Aku takut, terjadi apa-apa dengan kandungan Farina. Buuukaan ... maksudku, aku takut kalau ia sampai menuntut kamu." buru-buru Ammar memperbaiki ucapannya, karena melihat Gana yang semakin melototkan bola matanya.
"Halahh! Rengekan buaya! Suami-istri sama saja!" Gana mendengus kesal sambil mengusap peluh di sekitar dahinya, berlalu ke kamar meninggalkan suaminya yang masih terpelongo tidak percaya.
Gana memang lebih dari wonder woman. Begitupun para art yang memandang takut. Terutama Bik Ningsih.
🌺🌺🌺
Pagi kembali tiba, Gana fikir dirinya akan keramas bersama Ammar, saling membasuh badan di dalam bath up. Nyatanya malam pertama yang tertunda tadi malam, memang tertunda lagi.
Karena kedatangan Farhan dan Farina membuat Ammar dan Gana membeku semalaman. Gairah yang awalnya menggebu, langsung hilang ditelan bumi. Mereka berpikir keras, menerka ucapan Farhan dan mimik lelaki itu ketika bersikeras, bahwa bukan dia yang menyebarkan foto-foto itu.
Lalu siapa?
Gana dan Ammar menjadi gegana. Apakah ada penghianat lain? Tidak mungkin 'kan Bima dan Denis? Otak Gana dan Ammar jadi traveling kemana-mana.
"Aku berangkat ya sayang." ucap Ammar, ia mengecup kening Gana sebelum masuk kedalam mobil.
Gana meraih punggung tangan Ammar untuk dicium. "Kamu benar 'kan mau tinjau lokasi? Bukan mau bertemu Farhan?" pertanyaan ini sudah Gana tanyakan sampai dua puluh kali, sejak mereka sarapan di meja makan.
"Masya Allah, enggak percaya banget sama suami. Aku mati deh di jalan, kalau bohong!" Ammar jadi tidak tahan.
"Ih, apa sih! Kok ngomongnya gitu, emang kamu mau mati sekarang?"
"Ya enggak lah! Habisnya kamu sih, enggak percaya banget. Kamu bisa telepon Mahendra buat pastiin."
Gana menghela napas dan mengangguk. "Ya udah aku percaya."
Dan berangkatlah Ammar dengan kereta besinya menuju daerah industri. Lelaki itu sudah janjian dengan Mahendra dan Alex, untuk meninjau lokasi pembangunan yang akan mereka dirikan bersama. Sekaligus Ammar akan menceritakan keributan tadi malam kepada mereka.
Gana kembali masuk ke dalam, ia melangkah lagi menuju meja makan. Karena sarapannya belum habis. Baru saja ingin memasukan garpu berisi bihun kedalam mulut, ia mendengar mesin cuci dibelakang terus berbunyi.
"Bik? Bik Ningsih?" ia panggil art yang tugasnya memang khusus mengerjakan cucian jika pagi-pagi. Sedangkan Yuni dan Bik Ratih sedang keluar berbelanja.
"Bik?" seru Gana.
Merasa seruannya tidak di gubris, Gana beranjak bangkit dari kursi. Ia melangkah ke ruang laundry. Melangkah biasa tanpa mengendap-endap. Namun yang sedang serius dengan gawai, tidak memperhatikan kedatangan Gana.
"Iya, Bu. Tenang aja. Nanti saya masukin lagi obat yang bikin tubuh Ibu Gana gatal-gatal kayak waktu itu. Lima tetes langsung, Bu? Oh, oke-oke siap, Bu Farina. Tugas akan saya jalankan sebaik mungkin ... Oh, iya, sip, Bu. Saya jamin habis ini Ibu Gana akan gatal-gatal sampai sesak, syukur-syukur kalau langsung mati."
Begitulah percakapan Bik Ningsih dan Farina yang berdurasi hanya sepuluh menit. Pembantu dajall itu menurut saja apa yang harus ia kerjakan.
Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Bik Ningsih yang masih senyam-senyum sambil memegang gawai karena ia akan dikirimkan uang lagi, langsung mendadak bisu ketika sudah berbalik badan.
"Apa tadi? Lima tetes? Ingin membunuh saya??? Jangan harap kamu, Bik!" Gana menatap wajah art itu dengan tatapan horor. Wanita cerdas itu sudah merekam Bik Ningsih dengan rekaman video dari gawai di tangannya.
"Iii----bu?" wanita itu kaget setengah mati.
"Kenapa? Kaget?" Gana tertawa. "Dasar wanita lahnatt! Ternyata kamu adalah orang-orang suruhan Farina dan Farhan, Bik!" kecam Gana. Ingin menampar, tapi ia masih menghargai kalau Bik Ningsih sudah berumur.
"Lepas jilbabmu, Bik! Berkedok solehah hanya untuk menyamar menjadi penjahat! Benar-benar turunan setan!!" Gana memekik.
Bik Ningsih langsung beringsut mencium kaki Gana. "Ampun, Bu. Ampun. Ampuni saya." Bik Ningsih terisak. Entah dia mengaku salah, atau hanya drama.
Gana menghentak kakinya. "Sekarang kita lihat siapa yang akan mati? Kamu, saya atau majikan keparatt kamu itu! Akan saya berikan rekaman ini kepada polisi!"
Gana memilih berlalu. Walau Bik Ningsih terus mengejar dan meminta belas kasih.
"JANGAN KABUR! Karena percuma saja pergi. Saya akan meminta Polisi untuk mencari Bibik sampai ke lubang semut! Saya pastikan Bibik dan Farina akan membusuk dipenjara!"
Gana masuk kedalam pintu kemudi, dan mulai menjalankan deru mesin mobilnya. Ia meninggalkan wanita lahnat yang selama ini sudah menjadi duri di rumah tangganya bersama Ammar.
"Bu, Saya ketahuan sama Ibu Gana. Ibu merekam pembicaraan kita. Dan sekarang sedang bergegas ke kantor polisi."
"APA??"
Suara nyaring membuat Bik Ningsih menjauhkan ponsel dari telinganya, ketika mendengar Farina teriak di seberang sana. Bisa mati dirinya, hancur hidupnya, ia tidak mau mendekam dipenjara sebelum melahirkan.
Baru saja kemarin malam Farhan mencurigainya, kalau dialah pelaku penyebaran foto-foto tersebut. Farhan bilang, jika itu terbukti perbuatan Farina. Farhan tidak akan segan-segan menceraikan Farina.
Farina bisa mengenal Ningsih, karena sekilas pernah diceritakan oleh Farhan, saat dirinya masih jahat. Namun selama Farhan ditinggal Ammar, dan berangsur sadar dengan dosa. Ia memutus kontak dengan Ningsih. Farina yang terus bergejolak dengan dendam kepada Gana, kembali memanfaatkan Ningsih untuk membalaskan dendamnya.
Apalagi tadi malam, kata Dokter hampir saja ia kehilangan janinnya. Farina murka dan ingin membalas Gana tanpa ampun.
"Sialann kamu Farina! Pantas saja hatiku susah untuk mempercayai kalian! Lihat saja. Setelah bukti ini aku serahkan ke polisi, bukan hanya kamu yang akan aku jebloskan ke penjara, tapi juga suamimu!!" Gana menghentak stir kemudi dengan hati yang berapi-api.
Karena jalan menuju kantor polisi, melewati jalan yang cukup sepi, banyak diiringi dengan pepohonan yang rindang dan ceruk jurang yang cukup dalam di isi pula dengan sungai panjang yang cukup deras.
BUG.
Badan mobil Gana di bagian belakang, tiba-tiba ditabrak oleh mobil tidak dikenal. Gana menatap spion dan mulai mengendurkan stir nya, ia sedang menilik orang gila siapa yang berani-beraninya merusak mobilnya dengan sengaja.
BUG.
Mobil jeep hitam dibelakang, kembali menghantam mobil Gana. Gana terus mengemudi, dengan hati yang tiba-tiba gelisah. Wanita itu meringis takut. Sialnya, tidak ada lagi mobil yang lewat selain mereka.
"Siapa mereka?" Gana berteriak. Jari-jemari Gana mulai dingin. Seakan oksigen disekitarnya mulai mengempis.
Ia mencoba menghubungi Ammar. Tetapi suaminya tidak mengangkat. Mobil Gana terus ditabrak sampai oleng.
Farina bergegas cepat meminta bantuan anak Papanya untuk membunuh Gana sekarang juga. Ia tidak mau masuk penjara. Bayangan indah ketika menimang calon anaknya nanti dengan Farhan, tidak mau begitu saja pupus dan hancur.
Dan.
BUG.
Mobil Gana kembali dihantam dengan hentakan keras. Gana hanya bisa menyerukan nama Allah, Ammar, dan Mama-Papanya.
Jantungnya memburu cepat. Dadanya tiba-tiba sesak karena sedari tadi menahan takut. Peluh bercucuran, Gana kehilangan keseimbangan.
"Ya Allah jika aku harus mati sekarang, tolong ampuni aku. Lindungi dan jaga Suami, Mama Papa, Kakak dan Adik-adiku." ucapnya. Tubuhnya bergoyang-goyang didalam mobil seiring hantaman dari belakang yang tidak mau berhenti.
BUG.
Badan mobil bagian belakang sudah bonyok dan hancur. Ada juga bunyi letusan pistol agar Gana menghentikan kemudinya. Tapi Gana tetap melaju, sampai dimana wanita itu berteriak ketika mobilnya melesat masuk ke dalam jurang.
Duarrrrr.
Mobil yang Gana tumpangi, meledak ketika sudah sampai di dasar jurang. Mobil terbakar. Percikan api sampai melesat ke udara lepas. Asap hitam mulai menggema di udara.
"Sasaran sudah tewas, Bu."
"Bagus!"
🌺🌺🌺🌺
4100 kata guys, untuk buat cerita ini. Bisa di buat empat part. Begitu sayangnya aku sama kalian ... maka dari itu Like dan Komennya jangan lupa ya. Banyakinnnnn❤️❤️
__ADS_1
Wajah dedek pasti kek gini nanti😢