
Guys, aku mau inpohhh cerita baru ku sudah terbit. Tentang Rora-Dava-Falan. Bisa baca dulu Blurb dan Bab 1 nya siapa tau suka❤️
...🌾🌾🌾...
Di saat Aurora sudah mantap memutuskan untuk turun ranjang, menggantikan posisi Adiknya yang sudah berpulang, bisa merajut rumah tangga dengan lelaki yang ia sukai sedari kecil, bayangan mantan suami yang dulu pernah membuatnya trauma berkepanjangan. Kini, kembali hadir. Lelaki itu datang untuk menutup luka dan menawarkan cinta kedua.
"Tolong pergi, Mas! Jangan ganggu hidupku lagi. Ampuni aku dengan kesalahanku yang dulu. Aku dan Yudha ingin bahagia," pinta Aurora memelas dengan semburat ketakutan.
"Jangan takut padaku, aku hanya ingin kita rujuk. Berkumpul denganmu dan Anak kita," balas Yudhistira. Ia tersenyum, lantas mengelus anak laki-laki berusia dua tahun setengah yang tengah dalam gendongan mantan istrinya tersebut.
"Ah, ndak! Ayah akuh itu, Ayah Falan," Yudha menepisnya tangan Yudhistira.
Siapakah yang akan Rora pilih?
...🌾🌾🌾...
"Berikan hamba terus kemudahan untuk menjalani ujian hidup darimu, Ya Allah ...." terlihat kedua telapak tangan yang bersih dan halus, terbuka, menengadah ke atas dengan air bening yang terus mengalir dari sudut mata. Meminta belas kasih untuk diampuni dari segala dosa-dosa yang pernah ia buat seumur hidup.
Sesekali wanita itu memekik, karena mukena di bagian kepala tertarik ke belakang, ada anak lelakinya yang sedari bergeliat manja di belakang punggungnya.
"Berikan hamba kepercayaan diri untuk terus menapak jalan yang begitu----" doanya terhenti, ia jadi tidak fokus. Karena kini anak itu tengah menjawil-jawil pipinya yang basah, merengek ingin susu. "Ibun cucu," pinta Yudha.
Rora mencium sang anak. "Belum kenyang memang? Baru setengah jam lalu menyusu?"
"Aus agih, Bun," cicitnya.
Melihat anaknya sudah merengek seperti ini, mau tidak mau, Aurora menyudahi shalat sunah Duha nya. Ia melepas mukena dan menggendong sang Anak. Aurora berjalan ke meja yang berada di kamar mewahnya, di sana tersusun rapih susu kaleng mahal untuk Yudha. Di sebelah meja juga ada dispenser dan kulkas.
"Mauh yang cokat atah!" pinta anak itu.
"Yah, yang cokelatnya habis, Nak," balas Bundanya lembut saat membuka kaleng susu dengan rasa cokelat. "Vanila aja, ya. Habis ini kita ke minimarket deh beli susu yang rasa cokelat---"
"Enggak boleh!" Rora dan Yudha lantas menoleh ke arah sumber suara yang menerobos percakapan mereka. Ada Aidan yang sudah rapih dengan jas kantor ingin berangkat kerja.
"Om ...." Yudha mengulurkan tangan ke arahnya, dan lelaki itu meraih dan menggendongnya.
"Kakak keluar sebentar, Dek. Enggak akan lama 'kok," ucap Rora.
"Apapun alasannya Kakak tetap di rumah, enggak boleh keluar. Biar nanti Art saja yang membelinya," balas Aidan.
Malvinia Aurora Artanegara, wanita dua puluh delapan tahun. Seorang janda yang memiliki satu anak lelaki berusia dua tahun setengah itu, hanya bisa menghela napas dan mengangguk.
Ia hanya bisa menurut, kalau dirinya dianggap masih belum mampu menatap dunia kembali setelah halilintar, badai dan topan menerjang diri, membuatnya terperosok ke dalam jurang kenestapaan.
"Om, nanih titah tatih ndak jayan-jayannya?" tanya Yudha.
"Lusa, ya, sama Ariel."
__ADS_1
"Yes!" Yudha memeluk leher Omnya, Adik Bundanya yang ke dua.
Saat ini, Aurora, Aidan dan Yudha tinggal bersama di rumah orang tua mereka, sedangkan ke tiga adiknya yang lain sudah pisah rumah. Ada yang tinggal bersama suami, ada yang menetap di apartemen pribadi, dan ada pula yang tinggal di luar pulau. Aurora sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara.
"Susunya sudah, Kak?"
Aurora mengangguk. Ia memberikan susu tersebut kepada Aidan. "Jangan turun, di kamar aja. Ada Falan di bawah," ujar Aidan kepada Rora. Secuil pun tidak Aidan berikan celah agar Rora dan Falan bisa bertemu, sejak tragedi yang menjadi sumber neraka bagi keluarga besar mereka.
Manik mata Yudha membola. "Atah Ayah, Om?" tanyanya senang.
Aidan mengangguk datar. "Ya."
Sesuai perkiraan, anak itu antusias. Ia bergegas turun dari gendongan Aidan sambil menggenggam botol susunya. Lantas berlari keluar kamar untuk menemui Falan.
"Ayah ...," seru Yudha kepada Falan. Suara anak itu terdengar melengking dari kamar Rora.
"Jangan seperti itu kepada Falan, Dek. Bagaimanapun dia itu Adik ipar mu. Suaminya Taya," Rora menasihati.
Maizana Attaya, Adik mereka yang sudah berpulang ke pangkuan Allah sejak dua tahun lalu karena penyakit leukimia. Taya meninggalkan Falan dengan satu orang anak laki-laki berusia lima tahun, Ariel namanya.
Aidan berdecih. "Aku masih malas sama dia. Sama saja brengseknya seperti mantan suami Kakak!"
"Dek," ucapnya memelas seraya menyudahi dendam yang masih membara di hati Adiknya.
"Kedua lelaki itu sudah merusak Kakak-Adikku!" air bening memupuk di kelopak mata Aidan. Terlihat kekecewaan amat besar yang tampak dari raut Presiden Direktur tersebut.
"Aku akan menikah. Aku akan lega. Kalau Kakak sudah mendapatkan lelaki yang benar-benar baik dan pantas," balasnya. Ia elus lengan sang Kakak yang masih memeluknya erat.
"Kakak adalah segalanya. Pengganti Mama dan Papa kelak. Maka, Kakak harus bahagia."
Rora mengangguk saja. Ia seka air mata sang Adik yang menetes sama seperti dirinya.
"Ya udah, aku berangkat ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa, kabari Adek, Kak," pintanya.
"Iya, Dek." Aidan mencium punggung tangan Kakaknya.
...🌾🌾🌾...
"Eyden ...." berulang kali Falan menyerukan nama adik iparnya, namun Aidan tidak menggubris. Lelaki itu tetap melangkah menuju mobil, di sana terlihat kedua asisten setianya sudah menunggu di badan kereta besinya.
"Dek!" akhirnya Falan mencekal lengan Aidan. Dan Aidan menepisnya, memberikan tatapan dingin. "Apa?" tanyanya dengan wajah tidak bersahabat.
Falan tetap mengulas senyum, walau ia tahu lawan bicaranya tengah memandangnya sinis. "Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu,"
"Orang tuaku akan mendatangi Mama dan Papa minggu depan."
Aidan menautkan alis bingung. "Maksudmu, apa?"
__ADS_1
"Aku akan membawa Mama dan Papa untuk melamar, Rora. Aku ingin menikahinya,"
DEG.
Raut Aidan seketika memerah, menahan kesal. Seperti ada yang mencabik wajahnya dengan samurai.
"Brengsekk!"
Bug.
Tinjuan panas dari kepalan tangannya mendarat sempurna di tulang pipi Falan. Namun, yang dipukul hanya diam, ia menerima perlakukan Kakak ipar yang selama ini sudah menganggapnya tidak ada di muka bumi.
"Jangan harap kamu! Kakakku tidak akan aku izinkan untuk menikah denganmu!" Aidan menunjuk-nunjuk bola mata Falan. Kedua asisten Aidan bergegas ingin membantu Falan yang tersungkur untuk berdiri tapi dicegah oleh Presdir nya. "Jika kalian membantunya, akan aku patahkan kaki kalian!" ancam Aidan.
"Sudah, enggak apa-apa." Falan menitah mereka untuk tidak membantu.
Aidan berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Falan yang masih setengah bergoler di lantai halaman.
"Jangan mimpi, Falan! Kakakku akan menikah dengan orang yang tepat. Membawamu masuk kembali ke dalam keluarga kami, sama saja seperti membawa asap neraka! Kamu harus ingat, bagaimana hancurnya Kakak-Adikku dulu,"
"Itu hanya salah paham, Dek. Demi Allah aku dan Rora tidak sebejat itu!"
"Kakakku memang tidak, tapi kamu lah bangsat nya!" sergah Aidan. Lelaki itu semakin berapi untuk melemparkan bogeman mentah. Ingin memukul Falan, seperti dua tahun yang lalu. Saat ia menghujani pukulan, sampai lelaki itu masuk ICU.
Dan.
"Adek!" pekik Aurora. Ia melangkah blingsatan dengan rambut yang terurai tersapu dengan angin. Ia tidak sengaja melongo dari balkon kamar dan menemukan sang adik bertengkar dengan Falan di pelataran halaman rumah.
"Kakak ngapain keluar!" sentak Aidan.
"Rora ...." ada rasa rindu memupuk di bola mata Falan. Walau bukan rindu karena cinta, karena sejatinya nama almarhumah istrinya masih saja melekat di hatinya. Ia ingin meminang Rora karena hanya soal anak.
"Jangan, Dek. Lepas. Kamu enggak sopan kayak begini," Rora memegang tangan Aidan untuk mau melepas kerah baju Falan yang ia tarik kasar, seraya mencekik lelaki itu.
"Aku sudah lama tidak menaruh rasa hormat padanya!" Aidan melepas, dan Falan terbatuk-batuk. Ia beranjak berdiri lalu menggandeng paksa Kakaknya untuk kembali masuk ke dalam. "Aku bilang Kakak jangan keluar!" sentak Aidan.
Rora hanya diam saja, mendengarkan makian dari Adiknya di sepanjang langkah mereka. Wanita yang baru sembuh dari psikis yang sempat terganggu itu kembali menoleh ke belakang melihat lelaki yang ia sukai sejak kecil tengah menatapnya balik.
Tapi, yang ia temukan di sana bukan lah Falan. Melainkan bayangan mantan suaminya yang baru ia cintai setelah ikrar talak terucap.
"Mas Dava ...," lirih nya.
...🌾🌾🌾...
Dan maaf cerita ini hanya ada di Aplikasi hijau K B M. Sepuluh episode akan aku gratiskan. episode di cerita ini pun tidak banyak. Sekitar kurang lebih 50 ribu, Insya Allah sudah bisa baca sampai tamat. kalau ada yang nggak ngerti bisa DM aku ke IG @megadischa
__ADS_1