Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Yakin Mau Berhenti?


__ADS_3

Sudah dua jam rapat berlangsung, tetapi Ganaya hanya sibuk dengan gawainya, memperhatikan status-status teman-temannya di story Instagram. Kepalanya tidak bisa berfikir jernih tentang pekerjaan sekarang, entah mengapa bayangan Ammar terus berputar-putar di kepalanya.


"Kenapa jadi mikirin Ammar terus, sih?" gumamnya. Buku-buku jarinya terus saja menggeser layar gawai ke atas dan bawah atau ke kanan dan kiri.


Sampai kedua matanya statis, memperhatikan lekat, sebuah quotes romantis buatan Tere Liye di beranda Instagramnya.


'Tidak semua orang beruntung, bisa menikah dengan cinta sejatinya. Tapi semua orang bisa beruntung, menjadikan orang yang dinikahi sebagai cinta sejatinya'


DEG.


"Pas banget nih buat aku." lirihnya sendu. Lantas Gana menscreenshoot kata-kata mutiara tersebut.


"Apa aku bisa menjadikan Ammar, sebagai cinta sejati, kelak?" tanyanya dalam hati. Tapi kemudian, perasaan melow itu berganti dengan decakan.


"Ih apaan sih, kok mikirnya gitu? Perasaan kemarin aku pengin banget minta cerai dari Ammar, kenapa sekarang malah begini?" Gana membatin.


Rencananya seketika buyar. Wajah Ammar yang tampan dengan balutan koko sudah sangat membius dirinya. Apalagi subuh tadi, Ammar kembali mengajak Gana untuk shalat berjamaah. Dan parahnya, Gana memeluk Ammar lagi ketika sedang tertidur.


"Uuuhh." desah Gana. Ia begitu frustasi memikirkannya, sampai menghentakkan kakinya ke atas lantai. Sontak Asisten dan para staf yang sedang memperhatikan manajer sedang presentasi didepan layar proyektor, seketika menoleh ke arah Gana. Membuat Presdirnya menjadi kalang kabut tidak enak hati karena ketahuan tidak menyimak.


"Maa--af." Gana memberikan senyuman kaku kepada mereka semua. Dirinya hampir mengelupas karena malu. "Kamu pimpin saja sampai selesai, saya ada urusan." bisik Gana kepada Hani.


Hani hanya bisa mengangguk dan mengiyakan saja. Gana segera beranjak bangkit dari kursi dan meninggalkan ruang rapat. Ia kembali ke ruangan kerjanya untuk menenangkan diri.


Hati dan jiwanya terus saja berputar-putar memikirkan Ammar. Di tatap layar gawai, dan membuka aplikasi whatsapp. Berharap Ammar akan mengirimkan pesan pengingat makan siang seperti biasa. Biasanya ia hanya akan membacanya saja, atau membalas dengan icon jempol.


"Online ..." gumamnya ketika melihat status chat Ammar. Padahal kemarin wajahnya masih jutek jika melihat pesan masuk dari suaminya, tapi kenapa sekarang wajahnya lebih berbinar? Dan sekarang, ia malah sedang menanti.


Pesan Ammar memang tidak pernah ia hapus. Maka Gana bisa mengetahui jam berapa saja Ammar akan mengirimkan pesan kepadanya. Ia men scroll layar, dan mengamati waktu pada pesan yang dikirim oleh suaminya setiap siang.


"Sudah jam 11:50, biasanya dia akan mengirim pesan. Tapi ini sudah 11:55, kok belum wa?" Gana mendesahkan napas, ketika status wa Ammar berubah menjadi offline.

__ADS_1


"Dia enggak ingetin aku makan siang?" raut Gana mulai kecewa.


"Apa aku wa duluan?" jari-jemarinya sudah siap mengetik pesan. Tapi urung.


"Ih aku nih kenapa sih? Aneh banget. Padahal suka kesal kalau dia kirim pesan, kenapa sekarang malah aku yang mau kepoin dia?"


Gana meletakan gawainya secara asal di meja. Ia mendongakkan kepala ke sandaran kursi kerjanya. Memejam mata dan menarik napas. Lalu kembali menatap gawai.


"Tapi aku 'kan istrinya, wajar dong kalau aku ingin tau dia sedang apa?"


Istrinya? Kemana Gana yang kemarin selalu merengek minta cerai? Sepertinya wanita itu melupakannya begitu saja.


Gana meraih gawai dan membuka aplikasi wa untuk mengirim pesan kepada Ammar. Namun baru saja ia ingin mengetik. Sudah terdahului dengan pesan masuk dari suaminya.


[Kamu sedang apa? Sudah istirahat? Jangan lupa makan ya sayang]


Garis senyum Gana mengembang drastis. Bola matanya terlihat berbinar. Aneh, pekiknya.


Sesenang itu? Kok, bisa?


Di seberang sana, Ammar yang sedari tadi tengah gegana di dalam mobil, baru saja sampai di pelataran kantor Farhan, langsung saja ceria.


Akhirnya dari sekian bulan purnama, Gana membalas pesannya. Ammar tidak menyangka sama sekali. Membuat Ammar yang tadinya masih gugup dan mundur maju, ingin menceritakan niatnya kepada Farhan langsung mendadak berubah menjadi kokoh empat lima.


***


"Berhenti? Tobat?" seru Farhan. Lelaki itu memekik dengan gelengan kepala. Lalu berkelakar hebat. Ia merasa Ammar sedang bercanda.


"Aku serius, Han." suara tegas Ammar menghancurkan kekehan Farhan. Ia masih duduk tegap di seberang meja kerja Farhan.


Lelaki itu menatap bola mata Ammar, mencari-cari ketidakseriusan, tapi sayangnya tidak ia temukan. Manik mata Ammar menyalak tajam, dengan keputusan yang sudah telak.

__ADS_1


"Aku ingin menikmati hidup seperti dulu. Bisa bernapas lega dan bebas tanpa dosa, aku ingin Gana mencintaiku. Aku ingin terus mendoakannya, maka untuk itu. Aku ingin menutup semua usaha haram ini."


"Haram?" Farhan tertawa lebar dengan hati yang yang tersedak.


"Sudah enam tahun, kamu baru sadar? Berapa banyak uang yang sudah kamu dapatkan dari pekerjaan yang kamu bilang haram ini? EG bisa berkembang pesat, kamu di takuti oleh beberapa sekelompok mafia, namamu terkenal di kaca industri, itu semua dari mana? Kalau bukan dari hasil usaha yang kamu bilang haram tadi."


Ammar mendesah napas berat. Ia diam, seperti sedang berfikir, dan tak salah jika ia mengiyakan ucapan Farhan. Karena apa yang di utarakan oleh lelaki itu, memang benar adanya.


"Rumah pelacurann? Transfer organ? Distribusi alat peledak? Narkoba? Semua itu memang haram. Tapi uang yang dihasilkan sangat menggemaskan dibanding keuntungan mu di EG!"


"Yakin kamu mau berhenti? Selama enam tahun, kamu hidup dalam pujian orang tua serta keluargamu, mereka menganggap kamu berhasil. Dan segampang itu kamu menenggelamkan pujian mereka?"


"Pesanan kita sudah terkontrak sampai setahun kedepan. Kamu yakin mau memutuskan tali kontrak kerja dengan mereka begitu saja? Jangan gila kamu, Ammar!"


"Mereka juga mafia berdarah dingin sama seperti kita. Kamu mau hidup kita terancam? Berapa banyak konsumen yang sudah memesan barang dan barangnya sedang kita olah. Jika distribusi kita stop, itu sama saja kita menyerahkan nyawa kepada mereka! Berapa banyak modal yang akan hangus nantinya?"


Ammar hanya bisa menundukkan kepala. Setan-setan di sekelilingnya mulai mempengaruhi Ammar, membisikkan kalau perkataan Farhan sangatlah benar.


Farhan menghela napas kasar, lantas memijat pangkal hidung yang terasa mendadak pening. Ia menatap Ammar agar membuka suaranya.


"Perkara masalah Gana itu adalah hal yang mudah. Kamu nya aja yang terlalu cinta! Cinta akan datang dengan sendirinya, tidak perlu kamu ambil pusing. Kalau jodoh enggak akan lari kemana, buktinya lihat. Sekarang kamu tetap menikah 'kan?"


"Apalagi yang menjadi penghambatnya? Kamu patah hati, karena Gana masih mengingat mantannya? Ya, slow aja lagi. Namanya juga habis putus, wajarlah kalau sampai sekarang masih belum move on. Kamu tiduri saja, Gana. Paksa dia, setelah itu aku yakin dia akan tunduk sama kamu."


Ammar menggeleng. "Gana aku nikahi untuk jadi istri, bukan jadi pemuas nafsuku seperti hewan!"


Farhan kembali tertawa. Ia tahu sahabatnya ini sedang di mabuk cinta. Pasti susah untuk menyadarkannya, Farhan harus bisa mundur selangkah untuk loncat dua puluh langkah.


***


Galau nih dedek Ammar.

__ADS_1


Like dan Komennya jangan lupa yaw🌺



__ADS_2