Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Jelaskan Kepadaku!


__ADS_3

Melihat raut wajah sang Bodyguard terasa berat dan cemas kalau Gana berbohong. Buru-buru Gana mengeluarkan Aji Pamungkasnya.


"Enggak apa-apa ya, Pak. Saya juga udah bilang kok sama suami." Gana seolah memberikan kode dengan layar gawainya kalau ia baru saja melepas satu pesan kepada Ammar. Walau nyatanya tidak demikian.


Akhirnya Bodyguard dan sopir mengangguk. Walau di hati mereka rasanya masih saja tidak percaya. Gana mengelus dadanya pelan, ia terlihat lega karena misinya tidak gagal hari ini. Ia harus tetap mendatangi orang yang saat ini ingin sekali ia datangi.


Melihat mobil yang ditumpangi istri Presdirnya menjauhi arah balik menuju EG. Salah satu bodyguard di mobil belakang, menghubungi ketua bodyguard mereka yang saat ini berada di mobil Gana.


"Ikuti saja, hanya mampir sebentar." ucap si Ketua.


Mungkin dibelakang mereka pun panik, mengapa haluan perjalanan menjadi berubah. Sesuai dengan arahan Gana. Akhirnya mobil mereka sebentar lagi akan sampai di tempat yang akan di tuju.


Kening sopir dan bodyguard mengerut. Ketika Gana meminta masuk ke sebuah perusahaan yang mereka ketahui adalah musuh perusahaan Predirnya, musuh terbesar Ammar.


"Ibu yakin kesini? Bukannya tadi mau ke kantor Adik, Ibu?" tanya si Bodyguard. Ia menoleh ke belakang menatap Ganaya.


Gana kembali gugup. Sepertinya ia tahu, kalau para bodyguard mulai curiga. Mereka mengetahui kantor siapa yang sekarang mereka tatap. Namun sebisa mungkin Gana bersikap tenang agar tidak terlihat panik.


"Iya. Ini kantor adik saya."


Kening lelaki itu kembali mengerut marut. Benar 'kah?


Bola matanya kembali menyorot bangunan perusahaan yang sangat tinggi menjulang, hampir mencakar langit. Seraya sedang mengingat-ingat bahwa perusahaan ini tidak lah asing, dan terkaannya adalah benar. Perusahaan ini milik musuh mereka.


"Saya sama Yuni turun dulu ya. Kalian tunggu saja di sini, saya tidak akan lama."


"Tapi, Bu. Ibu harus tetap di kawal." sergah Bodyguard.


Manik mata Gana berpendar kesana kemari untuk mencari alasan. Dan sepertinya ide itu datang dengan cepat. Ia tidak bisa menolak, pastinya akan membuat dirinya semakin di curigai. "Baiklah, hanya kamu dan Yuni."

__ADS_1


Bodyguard mengangguk, segera memberikan aba-aba kepada temannya yang masih ada di mobil belakang untuk tetap menunggu didalam mobil selama mereka masuk kedalam.


Mereka bertiga bergegas turun dari dalam mobil. Gana memang pernah datang kesini sebanyak dua kali, walau sudah lama sekali. Pihak resepsionis pun sepertinya sudah tahu dan menaruh rasa hormat.


"Bapak ada 'kan?" Gana sedikit berbisik. Tidak ingin mengucap nama yang ia maksud. Dirinya takut bodyguard itu mengenali dan pastinya hafal.


Seakan tau siapa yang dimaksud, resepsionis pun menjawab. "Ada, Bu. Saya telepon kan dulu ya."


"Oh enggak usah, Mba. Bapak udah tau kok kalau saya mau ketemu." Gana kembali berdalih. Ia memilih berlalu dengan ucapan terimakasih sebagai pengiring langkahnya kepada resepsionis yang masih mematung dengan suara tertahan. Gana tidak bisa dicegah. Langkah kakinya sudah masuk kedalam lift.


Beberapa menit kemudian.


Ting.


Pintu lift terbuka.


"Kalian tunggu sebentar di sini ya. Saya ada pembicaraan pribadi dengan Adik saya di dalam. Urusan keluarga. Saya enggak lama 'kok." Gana langsung to the poin, agar Yuni dan Bodyguard tersebut percaya dan menghentikan langkah mereka untuk mengekor dirinya.


"Baik, Bu." ucap mereka bersamaan. Untunglah di sudut pojok ada sofa nyaman yang bisa dipakai mereka untuk duduk.


Setelah memastikan mereka duduk. Gana mengetuk pintu yang tertutup rapat dihadapannya secara singkat, tidak sabar menunggu si empunya menjawab. Gana langsung menekan handel pintu ruangan tersebut.


Krek.


Lelaki berjas rapih yang sedang menunduk ke bawah, tengah menatap beberapa berkas yang sedang ia periksa, langsung mendongak ketika mendengar pintu ruangannya dibuka. Lelaki itu terkesiap, lantas berdiri kaget dan menyapa Gana dengan tatapan takjub.


"Ibu Gana? Masya Allah ... Ibu sudah bisa berjalan kembali?" tanyanya.


"Seperti yang Pak Mahendra lihat, saya sudah sembuh. Maaf kalau kedatangan saya ke sini terlalu mendadak, dan membuat waktu Bapak jadi tersita." jawab Gana dengan senyuman bersahabat.

__ADS_1


Mahendra melangkah memutari meja. Berjalan menghampiri Gana untuk mempersilahkan duduk.


"Silahkan, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mahendra. Gana sudah memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Mahendra yang hanya disekat dengan meja kaca berwarna gelap.


"Kita saling panggil nama aja. Biar lebih bersahabat." Gana memerintah untuk berbicara dalam bahasa informal.


Mahendra tersenyum dan mengangguk. "Baiklah."


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tentunya tentang suamiku." lagi-lagi tanpa basa-basi.


DEG.


Mahendra mengerjapkan mata beberapa kali. Ia fikir setelah dua bulan berlalu pasca pertemuan mencengangkan antara dirinya, Mulan, Ammar dan Gana sudah terlewat begitu saja. Mahendra merasa Gana tidak akan mencari-cari tau tentang Ammar kepadanya. Nyatanya Mahendra salah terka, Gana memang menunggu waktu sampai ia pulih berjalan lagi untuk mulai menyelediki suaminya.


Sejatinya, selama ini Gana berbohong kepada Ammar. Kalau dirinya sudah menitah Gifali untuk memutus kontrak kerja dengan Mahendra. Wanita itu berubah fikiran, ia tidak tega melakukan hal itu karena mengingat Mulan dan Dava. Dan tentunya sang Kakak akan melemparkan banyak pertanyaan, mengapa tiba-tiba memutuskan jalinan kerja dengan Mahendra. Gana tidak mau, Gifali mengendus sesuatu yang tidak baik. Apalagi jika tahu, semua hal itu adalah permintaan Ammar.


Entah mengapa, dalam pandangan Gana. Mahendra dan Mulan adalah orang yang tetap bisa ia percayai. Sekaligus mempunyai hati yang baik dan tulus untuknya dan Ammar. Serta tentang penuntasan batin Gana yang masih janggal dengan ucapan Mahendra kala itu.


Mengapa bisa lelaki ini menyimpulkan kalau Farhan adalah musuh dalam selimut untuk suaminya?


"Bagian mana yang ingin kamu ketahui, Gana?"


"Jelaskan kepadaku tentang Farhan!"


****


Siap-siap si cantik akan jadi detektif sebentar lagi. Chayo Ganaya.


__ADS_1


__ADS_2