Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Jika Ammar punya Gana, Maka Kamu punya Aku!


__ADS_3

Terlihat Farhan tengah menunduk, menekan kepala di kedua lutut, memeluk kedua kakinya di bawah tempat tidur. Lelaki itu kehilangan semangat hidup. Fikiran nya terus berpusat kepada Ammar.


Seminggu ini dirinya itu murung, hanya ingin diam tidak mau melakukan apa-apa. Terbuka 'kah mata hatinya?


Sepeninggal Ammar, membuat hidupnya kelabu. Dari sini ia tahu, kalau Ammar bukan hanya sekedar sahabat tapi juga saudara.


Dulu ia sangat berambisi untuk menghempaskan Ammar, memperalat sahabatnya itu untuk kesenangannya. Tapi ternyata, dalam ujung hatinya. Ia menyayangi Ammar.


Farhan mengutuk perbuatannya, menyesali apa yang sudah terjadi. Ingin kembali meraih Ammar, tapi dirinya enggan. Ia merasa sudah tidak pantas. Mengingat-ingat bagaimana kejahatannya kepada Ammar dan Gana yang masih ditutupi oleh Semesta. Bagaimana murkanya Gana, yang sudah jelas-jelas menginginkan dirinya untuk enyah dari hidup Ammar.


Farhan yang sejak tadi menundukkan kepala lalu mendongak. Menoleh ke arah ponsel yang tergeletak disebelahnya. Ia tatap ponsel itu dan mencari kontak Ammar. Berharap Ammar sudah tidak lagi memblokirnya.


Namun hatinya kembali patah. Ammar memutuskan kontak tanpa terlebih dulu berucap kata.


Farhan hanya ingin meminta maaf, tapi urung. Ia malu sekaligus kecewa. Hatinya semakin runtuh, tak kala Ammar menghanguskan semua usaha mereka tanpa meminta pendapat.


"Jika kamu mau bertaubat, mengapa kamu tinggalkan aku, Ammar?" suaranya serak. Ia menunduk lagi, menekan kepalanya di pusaran kedua lutut. Gawai kembali terjatuh ke atas lantai, bersamaan dengan itu pintu kamarnya terbuka.


Krek.


Ceklek.


Saklar lampu ditekan oleh sesosok yang baru datang. Membuat kamar yang sejak tadi menggelap langsung berubah warna menjadi terang.


Langkah derap flatshoes menghampirinya. Wanita bertubuh tinggi dengan bobot badan sangat berisi karena sedang mengandung, seraya membungkuk didepan Farhan.


"Mandi dulu yuk, sebentar lagi kita kan mau kontrol."


Farhan mendongak. Ia menatap Farina. Mengelus dan mencium bayi yang masih bersarang dalam tubuh wanita dihadapannya.


"Demi dia kamu harus sehat." ucap Farina.


"Maaf kalau selama ini aku selalu menolak kehadiran kalian." ucapnya pelan.

__ADS_1


"Rumahmu memang kami, Han."


Farhan mengangguk. Awalnya Farhan hanya bermain-main. Ia banyak mencoba banyak wanita, ia fikir Farina sama seperti wanita yang bisa dipakai lalu dibuang. Ternyata tidak, Farina mencintai Farhan. Terus mengejar lelaki itu, walau selalu ditolak.


"Ayo kita menikah, Rin. Tapi, aku sudah tidak seperti dulu lagi. Aku tidak lagi kaya." Farhan kembali menunduk.


Farina menghela napas panjang. Sorot matanya berubah dingin dengan rahang yang mengetat.


"Akan aku balas kan dendamu padanya ... Jika Ammar punya istrinya. Kamu pun punya aku. Ada aku yang bisa membela kamu. Ammar tidak boleh begitu saja pergi meninggalkan kamu, Han. Membuat kamu murung, terpuruk dan harus kontrol ke Dr Jiwa." Farina membatin.


"Kita akan menikah, kalau anak ini sudah lahir. Jangan fikirkan kekayaan. Aku masih punya banyak uang." ucap Farina.


"Tapi Ayahmu pasti tidak merestui. Aku bukan lagi mafia seperti dirinya. Perusahaan ku saja sudah mau bangkrut. Selama ini aku hanya bisa hidup dengan cara memperdaya Ammar."


"Mempunyai banyak uang dan perlindungan dari para bodyguard juga sumbangsih tenaganya yang aku permainkan. Apakah kamu mau tetap menikah denganku? Membesarkan anak kita? Pergi jauh dari sini, memulai hidup sederhana? Aku masih punya tabungan, aku ingin memulai bisnis dengan kemampuanku sendiri."


Farina terdiam. Rasanya membungkuk letih. Maka ia melangkah untuk duduk di bibir ranjang, membuat Farhan beranjak dan duduk di sebelahnya. Jika bukan karena cinta, dan janin yang sudah berkembang memasuki usia tujuh bulan dalam perutnya, Farina pasti sudah meninggalkan Farhan begitu saja.


Selama ini Ammar tidak tahu kalau Farhan bermain-main dengan anak dari salah satu mafia kejam. Sampai kelewat batas dan mengakibatkan Farina hamil.


Farina tersenyum tipis, ia mengelus lembut punggung tangan Farhan.


"Apa sekarang kamu sudah mencintaiku?" tanya Farina. Wanita itu menatap lekat bola mata Farhan.


Farhan mengangguk. "Sudah, saat pertama kali anakku bergerak didalam. Saat itu pula aku jatuh cinta pada kalian."


"Tiga bulan lalu berarti?" tanya Farina.


Farhan mengangguk lemah. "Maaf ..." lirihnya. Memang masih ada sudut kecewa di hati Farina, ketika Farhan menolak untuk bertanggung jawab. Karana sesuai dengan misi hidupnya, ia tidak mau menikah. Tidak mau pusing mengurus rumah tangga.


Berkaca dari pernikahan Ammar yang ia tahu, Ammar tidak bahagia dengan Gana. Maka dari itu, Farhan urung untuk menikah atau mencintai wanita. Ia tidak mau terpuruk. Tapi alam mengubah paradigmanya, ketika Farina datang memasuki hidupnya.


"Apapun yang terjadi kita akan menikah. Kamu tidak perlu takut."

__ADS_1


"Sekalipun aku akan miskin?"


Lagi-lagi Farina menarik napas, dadanya terasa sesak. Seraya menghirup oksigen dari udara lalu menekan ke dalam dada, menghembuskan pelan untuk menghempas kecemasan. Mengusap perutnya naik-turun, merasakan bayi mereka yang tengah bergerak-gerak.


Farina mengangguk dan mencium pipi Farhan. "Iya."


Farhan menatap Farina dengan senyuman. Mendekap wanita itu penuh cinta. Dengan kasih sayang yang baru merekah di diameter hatinya. Ia merasa amat bahagia, karena disaat Ammar meninggalkannya, ada Farina yang tetap mau di sisinya.


Berbeda hal dengan Farina. Wanita itu memasang memasang wajah kesal. Bukan kesal kepada Farhan. Tapi kepada Ammar.


"Farhan yang telah memberimu semangat selama ini, menjadi temanmu ketika semua membully-mu, menemanimu kala hidupmu terpuruk. Walaupun Farhan bersalah, tak sepantasnya kamu berbuat seenaknya seperti ini, Ammar!"


"Meninggalkannya begitu saja seperti barang yang sudah tidak berguna. Malah kembali kepada orang-orang yang sudah lama menjadi musuhmu! Kamu harus membayar rasa sakit dan kecewanya Farhan! Aku akan membalaskan rasa sakit hati Farhan kepada mu!" Farina membatin.


Berenanglah Farina dalam kesalah fahaman. Seapapun wanita di dunia ini, ketika lelaki yang ia cintai memang bersalah, mereka pasti akan terus membela. Dan itulah yang Farina lakukan saat ini. Ia tidak rela, Ammar kembali menyatu dengan Alex dan Mahendra. Tanpa ia tahu lebih detail, jika Alex dan Mahendra sudah bukan lagi musuh. Tapi teman taubat untuk mencapai jannah.


Farhan menangis saat itu, ketika ia mendapat foto dari anak buahnya, tengah melihat Ammar, Gana, Alex dan Mahendra tengah bergelak tawa. Farhan down. Seakan di curangi, ia tidak tahu kalau Alex masih hidup.


Bagaimana Gana berkomplot dengan mereka? Lelaki itu tidak faham. Farhan yang selalu berani, kini kekuatan yang selalu menyerupai iblis berubah menciut. Farhan tidak lebih seperti seekor kupu-kupu yang bisa saja menghilang karena terpaan angin.


Dan Farina benci. Sedih hatinya melihat wajah Farhan tidak secerah dulu. Serta satu hal yang membuat ia makin murka.Perihal Ganaya.


Ia baru tahu, kalau istri Ammar adalah Ganaya. Teman sebangkunya dulu di masa SMA. Teman yang selalu mendapatkan lelaki yang ia inginkan.


Berkali-kali Farina menangis, karena lelaki yang ia suka lebih memilih Gana. Karena sakit hati, Farina memilih menjauh. Tak segan-segan ia meminta pindah kelas saat itu.


Dan Gana mencoba untuk terus mendekat, menanyakan apa kesalahannya. Tapi Farina enggan untuk menjawab. Farina memilih sendiri tanpa harus berteman lagi dengan Gana saat itu.


"Dan kamu kembali membuatku hancur, Gana!" Farina memekik dalam batinnya. "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, di atas penderitaan Farhan! Aku berjanji demi anak yang saat ini sedangku kandung!"


Jika Ammar punya Gana, maka Farhan punya Farina. Perjuangan dua wanita untuk melindungi para lelaki yang mereka cintai. Bagaimana kan perasaan Gana ketika melihat lagi Farina dikemudian hari?


****

__ADS_1


Farhan dan Farina.



__ADS_2