
"Tapi aku tetap enggak suka sama dia." cicit Gana sendu. "Aku takut kamu di khianati sama dia, Ammar!"
Memang ucapan seperti ini sudah Gana ucapkan berkali-kali. Dan Ammar hanya bisa tersenyum saja. Sampai terkadang jika lelaki itu sedang emosi karena entah hal apa, ia ingin sekali memarahi Gana karena terus curiga kepada Farhan. Lelaki yang selalu ia dewa-dewa kan.
"Kamu jangan negatif terus ke dia, sayang. Ya udah nih hape nya aku masukin lagi."
Ah, memang jalan terbaik. Dengan begini, istrinya tidak akan marah-marah lagi. Jauh di lubuk hati Gana, ia memang tidak suka dengan lelaki itu. Bagaimanapun Farhan bersikap ramah padanya, tetap saja naluri sebagai istrinya bermain. Ia bisa menangkap kalau Farhan hanya memanfaatkan suaminya saja.
"Kamu tau kan waktu itu dia sentuh tangan aku?" Gana kembali memulai.
Ammar mengangguk, seiring langkah mereka yang sudah bersisihan untuk masuk ke dalam blok selanjutnya dengan rak panjang yang berjajar, terisi dengan banyak pot-pot bunga di setiap kotaknya.
Kala itu Ammar juga cemburu kepada Farhan, kesal dan tidak suka. Tapi ia masih mewajari karena percaya, Farhan hanya refleks saja untuk membantu.
"Kan waktu itu, dia hanya refleks mengusap tangan kamu yang basah karena siraman kuah tomyam pakai tissue."
Ah, bodoh. Masih saja membela.
Pertama kali Farhan mengajak Ammar dan Gana untuk makan bersama di sebuah restauran jepang. Awalnya Farhan ingin menarik hati Gana, tapi melihat Gana selalu memberikan wajah yang tidak bersahabat, membuat Farhan berubah, dari suka menjadi benci. Apalagi ia tahu, perubahan Ammar yang seperti ini salah satunya karena Ganaya.
"Kamu selalu aja belain dia!" Gana melepas lingkaran tangan Ammar di pinggangnya.
Ammar menggeleng samar meredam emosinya agar tidak tumpah. Ia tetap melingkarkan tangan kanannya di pinggang Gana.
"Kita udah jauh-jauh kesini, rugi sayang kalau kamu masih bawa-bawa orang lain. Ini tuh harinya kamu. Bisa main-main sama bunga-bunga kesukaan, bisa belanja bunga dan berwisata. Ngapain mikirin orang terus?"
Ah, ya, betul. Lagi-lagi Ammar bisa merayu Gana yang sekilas merajuk.
Gana hening sesaat. Ia mencerna ucapan suaminya yang memang masuk akal. Untuk apa sih, memikirkan Farhan terus? Hanya merusak mood nya saja.
Gana mengangguk. Dan mereka kembali melangkah menikmati pemandangan.
***
Dua puluh menit kemudian. Terlihat Gana masih membandingkan antara bunga anyelir satu dengan yang lainnya. Ia sedang bingung memilih. Padahal dari segi bunga dan warna sama saja. Ya begitu lah wanita, jika belum membandingkan pilihan, rasanya belum afdol.
__ADS_1
"Bagusan yang mana ya, Am---?" suara Gana mengatung. Lalu melipat bibir dengan raut kesal.
Gana segera bangkit berdiri dari jongkok nya. Gana mendesahkan napas berat, ketika sang suami meninggalkannya entah sejak kapan, ke posisi luar blok. Lelaki itu sedang melakukan perbincangan, yang entah dengan siapa.
Gana menghentak kaki karena sebal. Lalu melangkah menuju Ammar. Gana menarik-narik lengan baju suaminya dengan wajah dongkol.
Ammar menoleh. "Bentar ya sayang, ini klien ... bukan Farhan." bisik Ammar, ia menjauhkan ponsel itu dari bibirnya.
Gana mengerutkan dahi dan berseru. "Bohong!"
"Gana, please." bukan mematikan sambungan telepon. Ammar malah melanjutkan kembali perbincangannya dan melangkah sedikit menjauh dari Gana.
Gana menarik napas kasar. Ia memicingkan mata tidak suka. "Katanya hari ini, hari aku! Kenapa masih kerja!!" seruan itu membuat Ammar menoleh dan hanya memberikan kode kiss dari posisinya. Lalu berucap tanpa mengeluarkan suara.
"Sebentar, pilih aja dulu bunganya nanti aku belikan." bisik Ammar dengan gawai yang masih mematung di telinga nya.
"Maaf, Pak. Tadi sampai mana ya?"
Terkutuk lah bagi yang saat ini sedang menelpon suaminya. Walau itu klien penting, tetap saja Gana tidak suka.
"Kalau enggak di ganggu sama asisten, di ganggu sama klien!" Gana geram. Wanita itu menghentak kaki nya lagi karena gemas kepada Ammar. Tapi sebelum tubuhnya benar-benar memutar. Gana kembali menoleh ketika suaminya memanggil.
"Ya?" raut wajah Gana tiba-tiba riang. Ia tahu Ammar sudah menyudahi pembicaraan itu.
"Jangan jauh-jauh!" Ammar menggoyangkan satu jarinya kepada Gana, lelaki itu kembali melanjutkan pembicaraan di layar gawai.
"Ishhh!" Gana merungut. Bibir bawahnya maju seperti itik.
Wanita itu kembali memutar langkah, dan disaat langkahnya sudah tegap meninggalkan Ammar. Dua bola matanya seketika melotot. Pemandangan apa ini? Batinnya meronta. Bukan karena ia masih mencintai lelaki yang saat ini sedang ia tatap, hanya saja Gana tidak mau melihatnya lagi. Gana muak dengan segala kebohongan yang pernah di gores kan oleh lelaki itu kepadanya.
Terlihat Adri seperti sedang bermain petak umpet dengan anak perempuannya dari jarak lurus beberapa meter dari posisi Gana. Ternyata lelaki itu membawa keluarganya berlibur di waktu yang sama. Jika sudah begini, Gana hanya bisa menyesal kenapa harus menyuruh suaminya untuk membuka sewaan kepada khalayak ramai.
Gana menatap kesal lelaki lahnat itu. Lelaki yang selama ini berkedok mencintainya dengan tulus, membina hubungan, ingin menikahinya dan terlebih lagi, ingin memperkosanya.
Rahang Gana mengencang. Ia benci sekali dengan Adri. Adri yang sudah membuat dirinya berdosa karena menjalani pernikahan tidak sehat dengan Ammar. Tapi, Gana langsung mengelus dada sambil mengucap syukur. "Terima kasih karena sudah menghilangkan dia di hatiku, Ya Allah."
__ADS_1
Setelah itu Gana memiringkan senyumnya. Seperti ada ide yang tersemat tiba-tiba di kepalanya. Gana membalikan badan dan menyerukan nama sang suami dengan kencang.
"SAYANG ..."
Refleks Adri menoleh ke arah suara yang sangat ia hafal.
"Gana?" desah Adri, lelaki itu tersentak mendapati wanita yang ia cintai sedang berada di dekatnya.
Ada senyum yang ingin ia kembangkan ketika melihat Gana, rasa rindu sepertinya terobati. Tapi senyuman Adri langsung tertahan dan terkikis. Ia kaget ketika melihat Ganaya yang sedang melangkah, menghampiri Ammar yang masih berdiri memunggunginya dengan satu tangan terangkat memegangi gawai di telinga.
Gana memeluk tubuh suaminya dari belakang. Melabuhkan kecupan di leher Ammar. Tentu saja sikap Gana membuat Ammar bergetar. Ia menoleh sedikit untuk menatap wajah istrinya yang kini sudah menyembul hangat dari tengkuknya.
Gana terus memancing Ammar. Ia ingin berciuman di sini dengan suaminya di depan mata mantan pacarnya.
Gana sungguh sexy, Ammar tidak akan kuat membiarkan wanita itu yang terus saja membelai-belai dadanya dari belakang. Ammar membalikan tubuh dengan tangan yang masih menggenggam gawai lalu terjulur ke bawah.
Gana berjinjit untuk melabuhkan ciuman di bibir Ammar. Karena dari sudut matanya ia dapat menangkap jelas kalau Adri sedang menatap dirinya bersama sang suami.
Karena sudah dipancing. Ammar menangkup wajah Gana dan ******* habis bibir wanita itu. Mumpung sepi fikir nya, lagi pula ditengah-tengah blok. Tidak ada yang melihat, padahal ia tidak tahu jika Gana sedang memanasi Adri yang masih mematung tidak percaya.
"Gana, apakah benar kamu sudah mencintainya?" batin Adri. Ia sampai mengepalkan kedua tangannya, karena merasa hancur.
Ammar kembali tersulut hasrat. Ia mencium Gana dan Gana membalasnya. Lebih dalam, lebih panas dan lebih segala-galanya. Ammar sampai bertanya dalam hati.
Apa yang membuat istrinya berbeda dan menjadi liar. Karena selama ini ketika mereka sedang berciuman, Gana lebih suka berdiam diri tanpa mau membalas.
Berbeda dengan sekarang. Sang istri yang lebih buas mencium bibirnya. Membelit lidah dan menginvasi rongga mulut Ammar. Kedua tangan Gana mengusap-usap lembut punggung suaminya. Membuat Ammar semakin blingsatan.
"Euh, sayang." suara desahan lolos dari Ammar. Ia melepas perpagutan bibir itu, kemudian menurunkan kepalanya di permukaan leher Gana. Menyesap, mengecup sampai mereka berdiri dengan posisi amat lekat. Gana membiarkan Ammar sampai meremas bongkahan sintal di dadanya.
Gana menoleh ke arah Adri dan tersenyum puas. Wajah Adri sudah memerah seperti sedang menahan kobaran api yang tengah menjalar ke seluruh tubuh. Ia sudah tidak tahan melihat Gana bermesraan begitu panasnya dengan Ammar, lelaki itu kemudian berteriak dengan kencang.
"GANAYAAAAAAAAA!!
***
__ADS_1
Sok-sok an si Adri mah, awas ditembak sama Ammarš¬
Doain aku enggak sibuk-sibuk amat hari ini ya, biar bisa up lagi nanti siang, sore atau malam. hehe. Like dan komennya jangan lupa ya.