
Ammar beberapa kali menatap Anak lelakinya yang berubah sendu setelah kepulangan mereka dari rumah Nurul, dari kaca spion mobil.
Aidan merasa kecewa, karena Abi menolak bantuan yang Papanya akan berikan.
"Saya sangat berterimakasih sekali kepada Bapak dan Ibu atas kebaikannya dan perhatiannya kepada Sofwan dan Nurul. Tapi, untuk masalah beasiswa. Bukan saya menolak karena saya sok kaya.
Tetapi, karena saya masih mampu untuk bertanggung jawab atas mereka berdua. Masih banyak orang-orang yang di bawah kami untuk diberikan bantuan, yang hidupnya lebih susah dan lebih memperihatinkan. Saya juga sangat bersyukur atas kebaikan Bapak menawarkan untuk saya bekerja di perusahaan.
Tetapi maaf, Pak, bukan saya menolak karena gaji yang saya terima sudah besar. Melainkan saya sudah nyaman di tempat kerja yang sekarang, saya mengais rezeki di perusahaan itu dari semenjak saya bujangan. Saya sudah terlanjur setia dengan perusahaan dan bos saya. Untuk Umi nya anak-anak beberapa bulan lagi akan resign dari pabrik. Insya Allah akan buka warung kecil-kecilan di rumah. Bisa mempunyai banyak waktu untuk menemani Sofwan dan Nurul."
Ammar dan Gana hanya bisa mengiyakan jawaban dari Abi. Pandangan Abi cukup luas sekali. Ia adalah lelaki setia, yang tidak melulu karena uang. Lelaki itu amanah, ia sudah sangat di percaya oleh Bos nya. Seapapun gaji yang diberikan perusahaan itu, Abi akan menerimanya dan sebisa mungkin mengelola pengeluaran dengan baik.
Kesederhanaan yang ia punya, mampu membuat keluarga ini tidak pernah memiliki hutang. Bisa tidur dengan nyenyak dan makan enak walau hanya dengan sambal terasi dan tempe, tanpa memikirkan hutang dengan bunganya. Hisab di Akhirat pun tidak sebanyak seperti orang kaya yang hartanya sangat banyak. Karena apapun yang kita punya di dunia ini, akan Allah pertanyakan sudahkah di gunakan untuk berbelanja memenuhi bekal Akhirat?
Maka dari itu, Abi dan Umi memilih hidup sederhana saja. Agar hisab nya tidak berat.
"Eyden," panggil Ammar.
Anak lelaki itu terhenyak dari lamunan, sambil mengelus Adel yang tengah tidur di pangkuannya, ia menjawab, "Iya, Pah?"
"Jangan sedih, Nak. Nurul pasti bisa sukses," ucap Ammar. Di dalam mobil, yang masih on mengerjap mata hanya mereka berdua. Ke empat wanita kesayangan mereka sudah terlelap dalam perjalanan. Aidan sampai membekap mulut Adel yang menganga dan berisik karena mendengkur.
"Eyden hanya ingin Nurul seperti anak-anak yang lain, Pah. Tidak minder," balasnya.
"Temani saja terus. Kalau butuh sesuatu, tinggal bantu. Asal caranya jangan seperti kemarin!" ancam Ammar.
Aidan tersenyum manis, menatap Papanya yang masih mengemudi. "Iya, Pah. Eyden janji. Makasih karena Papa sudah mau membantu Nurul dan Kak Sofwan."
Ammar mengangguk. Ia ulurkan salah satu tangan ke belakang dan mengusap pipi anaknya. "Sama-sama, Nak. Papa pengin Eyden bisa seperti mereka berdua. Bisa hafal Al-Quran. Karena setelah Mama dan Papa ada di dalam tanah, kami hanya bergantung dengan amal dan doa-doa dari kalian semua."
"Insya Allah, Pah. Eyden akan berusaha. Berusaha untuk memberi Surga untuk Mama dan Papa," jawabnya mantap.
Ammar seka air bening yang ingin turun dari bola matanya. Ia teringat kepada Papa Bilmar dan Mama Alika, saat dirinya tidak mampu menjadi penghafal Al-Quran yang sering mereka idam-idamkan.
__ADS_1
"Maafkan Adek, Mah, Pah." Ammar teringat akan dosa-dosanya di masa lampau.
...🌾🌾🌾...
Hari ini, Ammar dan Gana akan ngabuburit memakai motor besar. Harley Davidson. Aurora dijemput oleh keluarga Mahendra, ingin dibawa ke restoran jepang untuk berbuka puasa bersama. Begitupun dengan Taya, Falan meminta Mami dan Papinya untuk mengajak anak itu berbuka di rumah mereka. Sedangkan Aidan, ia dibawa oleh Gemma. Tinggallah Adela dan Alda, dua batita yang berisik menemani perjalanan ngabuburit mereka.
Awalnya Ammar ingin memakai mobil saja untuk berkeliling ibu Kota. Tapi, wanita hamil yang akan menginjak tiga bulan itu menyergah.
"Pakai motor aja, Bang. Suasananya tuh beda, langsung kena angin. Adem. Adel sama Alda kan belum ngerasain naik motor."
Berkat ucapan itu, Ammar menurut saja. Dirinya pun setuju, hitung-hitung motor besarnya tidak karatan karena tidak pernah dipakai.
Adela duduk di depan, dengan helm berukuran mungil bertengger di kepalanya. Tidak lupa kaca mata hitamnya yang Gana belikan dengan harga belasan juta. Serta jaket jeans berwarna pink, menutup dress tidak berlengan. Begitupun Alda. Rambut jarangnya tertutup dengan topi bayi, asli rajutan dari penenun ternama di Jogjakarta. Ia juga memakai jaket yang samaan dengan sang Kakak.
Untuk Ammar dan Gana, jangan ditanya lagi. Mereka begitu modis, serasi dan senada. Gana memilih memakai celana bahan dan jaket kulit. Agar ia bisa duduk dengan nyaman dan terhindar dari angin yang mungkin akan sangat dingin di jalanan.
"Ngeng ... ngeng ...," seru Alda senang. "Adek senang, ya?" tanya Gana.
"Ya, neng ...," balas nya. Ia antusias sekali melihat sekelilingnya dengan mata telanjangg tanpa sekat. Berulang kali ia berteriak dan menunjuk para kendaraan lain yang melaju bersebalahan dengannya.
"Wah legit nih, minta di potong," goda Gana dengan kekehan. Ammar terkekeh. "Si Honey dulu di babat!"
"Hanih apa tuh, Pah?" tanya Adel. Ammar berbisik. "Pacar Papa, Nak,"
Adela yang tidak paham, hanya mengangguk-angguk saja. Dan Gana melepas cubitan di perut Ammar. "Jangan pegang-pegang perut. Abang geli!" Ammar bergeliat di badan motor.
"Makanya bibirnya di jaga! Honey, honey!" dengkus Gana bete.
Ammar tertawa. Ia menurunkan tangannya dari stang motor. Ia genggam tangan istrinya. "Kita mau buka puasa di mana?"
"Hem ... di mana, ya?" tanyanya balik. "Di hotel aja?" Ammar memberikan opsi.
Gana menggeleng. "Bosan, Bang. Yang lain lah ...."
__ADS_1
"Adek mau makan apa, Nak?" Ammar mencoba bertanya kepada Adela. Dan sebelum si keriting menjawab, tiba-tiba rintik hujan turun, mulai menghujam mereka.
"Duh, ujan!" seru Adel. Posisinya kendaraan besar mereka berada di pertengahan, yang mana sejak di perjalanan. Keluarga ini menjadi sorotan para pejalan kaki atau pengendara lainnya karena suara motor yang khas dan juga pemiliknya yang kece bak artis tanah air.
"Minggil ... minggil. Ujan nih, akuh mauh lewat!" seru anak itu kepada kendaraan yang mengapit mereka karena laju kendaraan jadi tertatah-tatah.
"Acah, Mahhhhhhh!" Alda tidak mau kalah. Kupluk yang di pakai mulai basah.
"Duh, Bang gimana nih? Kejebak macet begini lagi," ucap Gana. Ia mengusap rintik air hujan yang membasahi wajahnya.
Ammar menyesal karena ia tidak membawa jas hujan. "Sabar, Dek. Kita neduh aja di warung kaki lima, gak apa-apa kan?"
"Tuh, Bang. Ada kios bakso sama es kelapa." Gana menunjuk ke arah depan, di pinggir jalan yang tidak jauh dari mereka. Kasihan suaminya jika telat buka puasa.
"Yah akuh bacah nih, Pah," ujar Adel.
Ammar yang panik karena dirinya juga basah, menurunkan tatapan ke bawah, ia tatap anaknya dan tertawa.
"Basah enggak apa-apa, Nak. Kan cuman air bukan batu. Enggak sakit ... lagian hujan itu pembawa berkah. Tuh lihat rambut Adek jadi lurus," ucap Ammar yang di akhiri tawa.
Tidak dengan Adela dan Gana. Kedua wanita itu malah merengut.
"PAPA!!" seru mereka.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Mungkin setelah beberapa episode. Aku akan hiatus kan dulu, ya. Mau aku tamat kan kalau cerita ini di pangkas kayaknya ga asik. Dua anak belum berojol, aduh🙈🙈🤪.
Aku mau fokus ke Rora dan Dava. Jujur, nih ceritanya amat membakar adrenalin ku melebihi cerita orang tuanya. Tadi pas nyinggung Rora dan dava di sini aja, tanganku bergetar😂😢. Kok bisa aku tega banget sama Rora, Dava dan Falan. Mempora-porandakan hati mereka. Tapi, aku selalu ingin menyampaikan sesuatu. Bangkai tidak akan pernah bisa tertutup-tutupi. A7 harus tahu siapa Ayahnya di masa lalu dan bisa dijadikan pelajaran hidup sampai ke anak cucu. Akan terkuak di kisah mereka.
Kalau ada yang mau ikut baca silahkan DM aku di IG @megadischa. Bagi yang udah ikut, aku ucapkan makasih banyak❤️❤️
Oh iya ada cerita Geisha juga yang aku post tiap week end. Boleh baca kalau mental kalian kuat.
__ADS_1
Selamat menjalankan Ibadah puasa yang tinggal beberapa hari ini, ya, guys. Sehat selalu🌾🌾. Maaf kalo ceritanya ada Typo, ngetiknya sambil masak soalnya, tengah malem, hihihi. Enggak aku edit lgi✌️