Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Tujuh Bulan Pernikahan.


__ADS_3

Seperti halnya membaca buku. Beberapa bab mungkin sedih, beberapa bab lagi terlihat menyenangkan dan beberapa bab lagi setelahnya membuat kita terhenyak karena sudah masuk ke dalam cerita.


Tapi jika kita memutuskan untuk berhenti membaca, atau membuka lembaran selanjutnya, kita tidak akan tahu makna apa yang ada dibalik cerita.


Cobaan sakit yang di berikan oleh Sang Maha Kuasa, sering kita dengar, sebagai makna untuk penggugur dosa. Suatu tali penghubung agar bisa mendekatkan kita lebih intim kepada Illahi.


Mungkin, Semesta tengah menegur kita dengan beberapa kesalahan yang kita buat.


Seperti halnya Gana dan Ammar. Seusai melewati kejadian dua bulan lalu yang cukup mengenaskan dan mempora-porakan batin.


Di awal mereka sama-sama terpuruk dan hancur. Ammar terus menyalahkan diri karena ia merasa semua ini adalah kesalahannya. Begitupun Gana, ia syok berat. Ketika mendapati tubuhnya cacat.


Dari paha sampai kaki terlihat banyak bekas jahitan dan keloid. Tidak mulus dan bening seperti dulu. Belum lagi ditambah karena kakinya tidak bisa dipakai melangkah atau berjalan. Hanya hidup yang dibantu dengan uluran tangan suami dan para keluarga saja.


Dua bulan lalu, mereka berdua masih belum ikhlas dengan ujian hidup seperti itu.


Musibah tidak selalu membawa lara tapi juga bisa membawa keberkahan. Kejadian yang menimpa Gana, membuat ia tidak bisa lepas dari Ammar.


Benih-benih rasa suka mulai hadir di hatinya. Walau belum lebar, tapi setidaknya sudah ada titik kecil melingkar untuk menyematkan nama suami di jiwanya.


Berkat dorongan semangat yang begitu luar biasa di gancangkan oleh kedua keluarga besar. Membuat wanita itu akhirnya menerima dengan ikhlas.


Dan ia yakini hal ini merupakan sebuah teguran dari Allah, karena Gana sudah membiarkan Ammar untuk terus berjuang mencintainya seorang diri.


"Cari sampai dapat pelaku yang membuat menantuku seperti itu!" ucap Papa Bilmar dua bulan lalu kepada orang suruhannya. Yang keparatt nya lebih cepat di tundukan oleh Farhan.


Semenjak kejadian itu pun, penjagaan kepada Gana sangat ketat. Ada empat bodyguard yang menjaga rumah mereka. Ammar takut penjahat yang sedang di lacak oleh keluarga besar mereka akan kembali mencelakai Gana.


Walau Ammar sempat berdusta kepada Papa Bilmar, bahwa kejadian ini memang pure kecelakaan saja. Ammar takut jika penjahat ditemukan, rahasianya sebagai intaian mafia akan terbongkar.


"Kembalikan saja Kakakku kepada kami, jika kamu sebagai suami tidak becus menjaganya!" ultimatum Gemma kepada Ammar kala itu.


Gemma kecewa dan sedih, ketika melihat Gana tidak bisa berjalan. Semenjak kejadian itu, sikap Gemma kepada Ammar makin menjadi dingin dan semakin tidak suka.


"Dari awal aku memang kurang setuju kamu menikahi Kakakku!" setelah ucapan itu terlontar. Gemma dan Ammar berkelahi tepat didepan ranjang pasien Gana. Beruntunglah ada Farhan dan Gifali sebagai penengah.


Setelah menolong, Farhan kembali jahat. Lelaki itu memfitnah mafia lain untuk dijadikan kambing hitam. Ammar menjadi salah terka dan berhasil membunuh orang itu yang tidak salah apapun.


Padahal selama Gana di Rumah Sakit, pada saat wanita itu menjalani perawatan, Farhan berkali-kali mencoba membunuh Gana.


Mulai dengan cara membekap wajah Gana dengan bantal ketika kamar sedang sepi, membayar orang suruhan untuk menjadi perawat gadungan untuk menyuntikan cairan mematikan lewat selang infus dan berusaha meracuni makanan Gana, dan semua itu gagal.


Farhan masih terus berniat mencelakai Gana ketika sesampainya wanita itu dirumah. Tapi sayang, lelaki itu undur diri sementara karena merasa celahnya begitu sempit. Rumah di jaga ketat dan terlebih lagi orang tua Gana selalu mengekor kemana anaknya berada.


"Sayang, udah belum? Kok lama?" tanya Ammar di depan pintu kamar mandi.


"Tunggu sebentar lagi." jawab Gana dari dalam. Wanita itu sedang buang air besar.


"Ya." Ammar kembali melangkah menuju meja kerjanya.


Meja kerja yang sengaja ia pindahkan ke dalam kamar dari ruang kerjanya. Dulu, Ammar akan masuk kedalam kamar sekitar pukul sebelas malam. Sehabis makan, ia akan memilih ke ruang kerja untuk meneliti berbagai laporan, statistik saham di bursa modal dan tentu main game di komputer.

__ADS_1


Tapi, semenjak Gana sakit. Ia lebih memilih melakukan aktivitas itu di kamar. Takut-takut Gana butuh sesuatu. Seperti tadi misalnya, Ammar menggendong Gana untuk masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu pun selalu terbangun jika tengah malam jika Gana merengek ingin pipis, minum atau hal lainnya.


Karena selama Ammar berkerja dari pagi sampai sore. Mama Difa dan Papa Galih lah yang menjaga Ganaya di rumah. Kedua orang tua itu tidak mau berjauhan dengan sang anak. Mereka memutuskan untuk tinggal di sini sampai Gana bisa berjalan lagi.


Perusahaan HG pun diambil alih sementara oleh Gemma dan Gifali sampai kondisi Gana membaik.


"Say ..." bibir Gana tertahan, ketika ingin memanggil suaminya dengan sebutan sayang. Gana memang masih mundur maju untuk menerka perasaannya kepada Ammar.


"Ammar ... aku sudah selesai." Gana memilih memanggil seperti biasa. Ammar bergegas bangkit dari kursinya lalu melangkah menuju kamar mandi. Pintu ia buka dan mendekat ke arah kloset.


"Sudah selesai?"


"Sudah." lantas Ammar menggendong Gana di dadanya. Untung saja tubuh Gana mungil, Ammar jadi tidak susah payah untuk menggendongnya selama dua bulan ini.


Gana di dudukan di bibir ranjang. Seperti setiap malam berkesudahan, Ammar akan membalurkan salep khusus yang dipakai setiap malam di permukaan luka istrinya.


Ammar melepaskan celana panjang piyama Gana. Dua bulan lalu, ketika pertama kali tiba dirumah. Gana menolak untuk diobati luka oleh suaminya. Ia malu kalau harus bertelanjang didepan Ammar. Tapi Ammar tetap memaksa. Dan sikap lembut Ammar lama-lama menyihir hati Gana. Malah sekarang, Gana lebih memilih di mandikan saat pagi dan sore oleh suaminya.


Ammar selalu mengusahakan untuk tiba di rumah sebelum jam empat sore, agar ia bisa memandikan Gana. Kadang mereka mandi berdua dan saling membersihkan tubuh.


Tapi, selama Gana sakit. Ammar tidak menunjukan jika ia sedang ingin menjamahi tubuh Gana atau meminta haknya dengan jalan lain seperti biasa.


"Ammar ..."


"Ya?" jawabnya. Ammar masih fokus menatap luka yang sedang ia oleskan salep.


"Mengapa dalam dua bulan ini, kamu tidak meminta hak mu?" hal itu lah yang sejak kemarin ingin Gana tanyakan, namun ia merasa waktunya tidak tepat.


Drastis, Ammar mendongak. Menatap manik mata Gana yang terasa meneduhkan.


Ammar menggeleng cepat. Ia tidak suka Gana berbicara seperti itu. Ammar bangkit dari jongkoknya lalu duduk disebelah Gana. Mengusap luka di wajah istrinya lantas melummat bibir Gana. Tidak terlalu lama, tapi panas dan sexy. Walau sekilas, mampu membuat Gana terbuai.


"Kamu bidadari aku. Masa iya aku jijik." ucap Ammar disaat perpagutan bibir itu terlepas.


"Hanya saja aku merasa tidak pantas untuk memintanya, ketika keadaanmu masih seperti ini."


Gana menatap manik mata hazel milik Ammar, berusaha mencari kebohongan namun Alhamdulillah nya, tidak ia temukan. Kedua mata Ammar begitu murni memancarkan cinta dalam bentuk pengertian kepada Gana.


"Jangan berfikir macam-macam. Aku tidak pernah berfikir keji seperti itu." tukas Ammar kembali.


Gana memutus kontak matanya. Ia menunduk. "Aku sudah menjadi istri durhaka untukmu. Sangat berdosa, karena belum mau memberikan kehormatan yang seharusnya sudah menjadi hak-mu. Allah sedang menghukum aku!" buliran air bening mendadak menggenang di pelupuk mata wanita itu.


"Lakukan saja, Ammar. Aku siap." Gana memohon, ia menggenggam kedua tangan Ammar.


Ammar mengoles senyum. Ia mengecup kening Gana. "Nanti kalau kamu sudah benar-benar mencintai aku. Biar kita bisa sama-sama menikmatinya. Aku tidak mau ada rasa menyesal di hatimu, karena belum ingin."


Gana terdiam. Dadanya berdenyut. Seakan ingin mengatakan kalau dirinya mulai suka walau belum ke fase mencinta.


Akhirnya Gana memilih untuk bungkam dan mengangguk lemah. Air matanya tidak jadi turun.


"Masih banyak waktu untuk belajar mencintai aku. Aku yakin kamu pasti bakalan bucin banget ke aku." goda Ammar.

__ADS_1


Gana hanya memiringkan sudut bibirnya. "Apa sih bucin? Buncit kali ..." Gana menunjuk ke arah perut Ammar.


Ammar terkekeh. Tangannya menjawil pucuk hidung istrinya. "Sembarangan! Tubuh aku tuh ideal, sayang. Gini-gini, dulu tuh banyak yang suka sama aku."


Gana tertawa. "Asyifa?"


Seketika senyum Ammar redup ketika mendengar nama wanita itu disebut kembali.


"Apa mungkin kejadian yang menimpaku juga karena salahku kepadanya, Ammar?"


Ammar menghela napas panjang, lantas menggeleng. "Sudah jangan sebut namanya."


"Aku ingin meminta maaf, Ammar."


"Tidak perlu!" sergah Ammar.


"Tapi, dia mencintaimu---"


"LALU?" suara Ammar sudah berubah tegas.


"Mungkin dia belum terima dengan sikap dan perlakuan ku yang seolah merebutmu darinya." jawab Gana dengan nada memelas.


"Jika dia akan memaafkan mu dengan satu syarat, apakah kamu akan mengiyakannya?"


"Syarat?" Gana mengulangi.


Ammar mengangguk. "Kan kamu sudah tau dia masih mencintai aku, dan kamu meminta maaf. Bisa saja ia merengek sebagai istri kedua? Bagaimana, apa kamu ijinkan?"


Karena rasa suka sudah mulai terpatri. Tentu perkataan itu membuat Gana jengkel setengah mati.


"Kamu milikku, Ammar. Suamiku selamanya!" Gana berdecak sebal. Dan Ammar tidak peka dengan kalimat itu. Ia hanya tertawa dan mengganggap Gana hanya sedang menjaga miliknya walau belum memiliki rasa kepada benda tersebut.


"Makanya jangan sebut-sebut dia lagi. Yang aku tau, dia juga sedang dekat dengan lelaki lain. Doakan saja semoga cepat menikah, dan mungkin rasa cintanya kepadaku sudah pupus." desas-desus gosip Asyifa sudah memiliki kekasih memang terdengar samar di telinga Ammar. Ya, semoga saja hal itu menjadi kenyataan.


Gana mengusap dadanya pelan. Wanita itu merasa lega. "Syukur lah, aku tenang sekarang."


Ammar kembali berjongkok untuk memakaikan Gana celana, dan membaringkan tubuh istrinya setelah itu di pusaran kasur. Menaikan selimut sampai ke pertengahan dada.


Mengecupnya lagi. "Tidur ya, aku mau lanjut kerja. Kalau ada apa-apa, panggil aku."


Gana mengangguk dan melepas kepergian Ammar untuk kembali ke meja kerjanya. Ia menatap lelaki itu lama dan kemudian tersenyum sambil memegangi bibir yang baru saja dikecup Ammar.


"Mengapa rasanya berbeda ya malam ini? Bukannya kami sudah sering berciuman?" Gana membatin. Wajahnya memerah menahan malu.


Dan di setiap musibah pasti ada makna 'kan?Semoga saja Gana bisa terus mendalami rasa yang mulai berbuih di hatinya.


Bisa mencintai Ammar walau masih tertatah.


***


Like dan Komennya ya.

__ADS_1


Duh, Kakak Gana udah mulai cair nih hatinya gengss.



__ADS_2