Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Ular Kobra


__ADS_3

"Kenapa, Dek? Kok cemberut gitu?" Rora kembali menoleh kepada Dava yang masih setia berdiri di hadapannya, menunggu untuk berbalik di sapa atau berkata hal basa-basi.


Rora yang rasa cemburunya tak bisa di tahan, menggeleng sendu, ia mulai mengangkat langkah untuk melewati bahu Dava, pergi dari lorong untuk kembali ke kamar perawatan.


"Kakak ada salah?" tanya anak lelaki bertubuh tinggi, memakai kaca mata, berambut hitam klimis, yang ikut mengekor langkahnya.


"Nggak kok," balas Rora menunduk, menatap lantai yang perlahan ia langkahi.


"Kenapa nggak ajak aku untuk melihat, Adikmu?"


"Ya udah Kakak sendiri aja sana." inginnya Rora ke tempat adiknya lagi, terutama ingin melihat Falan, mencuri-curi pandang. Tetapi, jika mengingat sikap anak lelaki itu barusan, membuat Rora sedih dan jadi malas.


"Masa gitu sih, Ra," elak Dava, ia cekal lengan Rora untuk ia bawa putar balik ke arah ruang Nicu. "Kakak mau di antar sama kamu."


Karena di paksa, akhirnya Rora iyakan saja. Melangkah lah keduanya, kembali ke ruangan Nicu. Dan saat sudah sampai, para adik-adiknya sudah berada di luar. Pun dengan Taya dan Falan. Rora tilik ada cokelat di tangan Taya yang sedang diperebutkan Adela dan Alda.


"Pasti dari Falan," gumam Rora. Falan terlihat sedang mengobrol dengan Aidan soal mainan. Mereka hanya tersenyum saat mendapati Dava datang menjenguk.


"Kakak mau?" Taya menawarkan cokelat kepada Rora yang akan mendorong pintu ruang Nicu.


"Nggak, sayang." Rora menggeleng teduh. Mungkin karena rasa kesal kepada Falan, Rora gandeng Dava yang membuat anak lelaki itu membulatkan mata suka, untuk di bawa masuk ke dalam ruang Nicu. Jika saja mereka bukan cucu-cucu yang punya Rumah Sakit, mana mungkin seenak jidad nya bisa masuk secara bebas di area ruang steril walau pakaian mereka saat masuk sudah di timpa dengan jas steril.


"Anak-anak kremesan lagi yang masuk. Lalu lalang mulu kayak lagi masuk ke wc," gumam Andin, salah satu perawat Nicu, ketika menatap kedatangan Rora dan Dava yang sudah memakai baju steril kebesaran.


"Jangan gede-gede, Ndin! Kalau mereka dengar, kita bisa berabe. Lo harus ingat, mereka bisa beli harga diri, lo!" Fita tertawa, mengingatkan Andin kalau anak-anak ayam yang sedang malas ia hadapi adalah cucu mahkota pemilik rumah sakit.


Andin mencebik malas, ia memang perawat yang di kenal jutek dan ketus. Tapi, karena di tuntut keadaan, ia harus bisa memberikan wajah ceria yang sebenarnya palsu ketika para cucu-cucu Nenek Alika bolak-balik sedari tadi. Hutangnya masih banyak ke bang emok, kalau di pecat sekarang dia pasti akan gantung diri.


"Duh cantik banget ... kayak kamu." Rora yang tengah tersenyum menatap Qila, merasa nama yang Qila emban memang betul adanya karena mampu menentramkan hati yang melihatnya, mendongak ke arah Dava saat lelaki yang lebih tua lima tahun darinya tersenyum penuh goda.


"Cantikan Adek, Kak."


"Cantikan kamu." Dava tetap bertahan untuk memuji, tapi, pujian itu tidak terlalu membuat hati Rora bermekaran, ia anggap biasa saja.


"Oh, iya, Kakak lupa bilang. Di mobil ada dress buat kamu. Kemarin di Milan, aku minta Ibu untuk beliin." Dava memang baru pulang berlibur bersama keluarga dari Milan.


"Makasih, ya, Kak, karena sering memberiku baju. Maaf aku belum bisa balas apa-apa."


"Sama-sama, Aurora. Nggak perlu kok." senyum tulus mengalir dari mimik Dava yang manis.


Kembali mereka tilik Aqila yang kini tengah mengerjap mata, menggeliatkan lidah ke pipi yang rasanya tengah haus ingin susu.

__ADS_1


"Ibu Suster!" Rora memanggil dari kejauhan.


"Tuh kan berisik!" Andin bergumam pelan sembari bangkit dari duduk, karena ia yang khusus memonitor bayi Aqila. Fita kembali tertawa. "Jangan judes, Ndin. Ingat, mereka bisa bayar harga diri, lo."


Andin memiringkan sudut bibir lagi, berjalan tegap ke arah Rora dan Dava yang menunggu kedatangannya di box bayi Aqila.


"Kenapa, sayang?" Andin bentangkan senyum hangat kepada Rora. "Kayaknya dedek haus, Sus. Itu lidahnya keluar-luar."


Andin tilik Qila yang memang ingin menagih susu, lekas ia ambil botol susu yang memang sudah ia letakan di sudut box agar sigap saat Aqila membutuhkan.


"Kalian keluar dulu, ya. Biarin Adeknya tenang menyusu."


"Kok kita di usir?" interupsi Dava dengan raut tak suka. Pun Rora yang keberatan.


"Ndin!" seru pelan Fita seakan mengingatkan.


Andin menahan gemas kepada Rora dan Dava yang tetap betah untuk kukuh berdiri di sini. Kembali ia berikan senyum menawan. "Ya udah nggak apa-apa tunggu di sini aja sampai magrib."


"Nggak akan sampai Magrib kok, itu terlalu lama," elak Rora polos.


Andin tertawa palsu. "Canda kok, sayang." Rora yang percaya saja kalau Andin tertawa tulus, ikut tersenyum dan menilik lekat Aqila saat mengedot kuat dengan bibirnya di dot botol.


"Nanti, ya, tunggu Dokter dulu. Kalau napas Adek mulai teratur. Nggak lama lagi juga bakal seruangan sama, Mama."


"Alhamdulillah," ucap Rora dan Dava beriringan. Dava letakan tangan kirinya di atas pundak Rora yang membuat Rora seakan tak nyaman tapi untuk mengelak rasanya tidak enak, jadi ia biarkan Dava dengan keinginannya.


"Kamu mau burger, nggak?"


Saat Rora ingin menggeleng, lekas Dava selak. "Oh iya lupa, kamu kan sukanya kentang."


Dari raut Rora seakan inginnya, Falan yang menawarkan makanan itu padanya, bukan hanya membawakan satu cokelat untuk Ataya seorang.


🌾🌾🌾🌾


"Udah, Dek. Nggak usah di pikirin si kepala kambing. Dia kalau ngmong emang suka nggak ada akhlak. Anaknya aja banyak, pake ngegerutuin orang," tukas Papa Bilmar kepada Ammar yang tengah duduk bersisihan dengannya di sofa tepatnya di kamar sebelah perawatan Gana.


Ammar masih belum bisa mendekap Gana karena terhalang Papa Galih yang ingin terus berduaan dengan putrinya. Di tambah lagi para bidadari mafia juga tengah datang menjenguk, menguatkan Gana yang terus menangis, memikirkan keadaan Aqila yang masih berada di ruang Nicu belum bisa ia temui karena keadaan Gana yang masih belum mampu bergerak lebih.


"Kayaknya ular kobra nya Ammar kudu di kuncir, Om. Biar bisa nya nggak terus melimpah ruah," timpal Farhan kepada Papa.


Papa terbahak. "Kalau liat kamu lagi tertawa persis banget kayak Bapakmu."

__ADS_1


Farhan berbangga diri. "Kami lucu, ya, Om?"


"Bapakmu, iya. Kamu nya, enggak." Mahendra dan Alex terpingkal, mereka pun ikut serta di sini untuk menemani Ammar yang tengah lara karena seakan di pisahkan oleh Papa Galih dengan sang istri.


Farhan yang mencebik masam pura-pura hanya bisa mendesah sembari menenggak pocari sad.


"Jangan salahkan diri, Dek. Yang namanya momongan itu ketentuan Allah. Mau sebanyak apapun kalau memang jadi dan lahir. Ya berarti kalian sanggup. Si Galih tuh lebay aja, dia juga kan anaknya banyak. Pernah hore-hore juga waktu Kakakmu melahirkan anak kembar banyak. Agak egois tuh si kepala sapi."


"Tadi katanya kepala kambing, Om. Yang bener yang mana?" tanya Mahendra mengingatkan.


"Namanya juga udah pikun, Ndra. Wajarin aja," timpal Alex.


Papa Bilmar melotot horor dengan cebikan bibir tak suka. "Enak aja pikun! Gini-gini saya masih kuat ajak lari Mamanya Ammar."


Ketiga sahabat Ammar itu membulatkan mata tak percaya. "Emang masih bisa berdiri, Om? Bukannya umur-umur segini udah letoy?" Farhan menguntit lebih dalam.


"Sembarangan telinga kamu! Gini-gini saya jawaranya, Ammar bisa hebat begini karena turunan saya."


"Pusar dong, Om. Masa telinga," Mahendra membetulkan.


"Mulut!" sentak Alex kepada Ayahnya Dava.


Ketika tengah patah hati dengan ucapan dan sikap dari Papa mertua, ada rasa senang sedikit walau hanya setitik karena guyonan para sahabat dan Ayahnya, membuat Ammar bisa terkekeh pelan walau tak bernapsu untuk menimpali, membuat Papanya menjadi bulan-bulanan Mahendra, Farhan dan Alex.


"Coba nanti Papa ngomong deh sama Papa mertuamu. Kalau sekarang-sekarang, nggak akan mempan. Dia lagi panas, kayak kompor."


"Om takut, ya?" ledek Alex.


"Enak aja takut. Berani-berani aja sih. Cuman waktunya emang lagi nggak oke. Papa tunggu dia tenang dulu. Ajak ngopi, makan sama ajak-"


"Nonton bokeppp, Om. Pasti happy."


Dan Farhan lekas berlari menjauh di saat Papa akan melempar sendal ke arahnya. "Kalau turunan udah suka mesumm emang susah buat di ubah. Nino-nino ... ngapa lu punya anak kayak begitu!" dan di alam baka, Nino dan Dion, sahabat Papa Bilmar sejak SMA, yang menjadi saksi bagaimana Papa menyembah-nyembah kaki Mama Alika untuk mau menjadi pacarnya akan tertawa, karena sebenarnya Papa lah yang menjadi juara di antara mereka.


"Malah kata Papa dulu, Om hobby nonton yang agak bencong-bencong gitu," tukas Farhan mengada-ada.


"Dasar anak durhaka. Bapak udah koid masih aja di fitnah!" Papa Bilmar yang gemas, lekas mendekat ke arah Farhan dan menjewer telinganya.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Komennya banyakin guys❣️

__ADS_1


__ADS_2