
Terlihat Taya tengah memeluk perut Aurora yang sudah terlelap di sebelahnya. Begitupun Aidan memeluk Adela. Dan Mama Alika berbaring miring di tepi ranjang menghadap ke cucu bungsunya, Alda. Seraya melindungi para ke lima cucunya agar tidak ada yang jatuh ke lantai.
Dan apes nya, Papa tidur di bawah. Di atas kasur lipat. Sedari tadi tangannya terulur ke atas, menoel-noel punggung Mama.
"Mah, turun. Sini, bobo samping Papa." bisik Papa.
Mama yang setengah pulas, hanya menggeleng tidak mau. Papa mendengus kesal. Dan kesalnya kepada Ammar. Bisa-bisanya anak lelaki itu menganggu ibadah malam jumat nya kali ini.
"Padahal Mama lagi capek dan kelihatannya akan pulas banget. Bisa di sergap tanpa perlawanan. Eh, suasana enggak mendukung." cucu-cucunya tidak mau tidur di kamar tamu tanpa Neneknya.
Di saat Papa sedang menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Ia beranjak bangkit dari baringnya sesaat mendengar bel rumah berbunyi.
"Ini pasti si Ammar!" dengkus Papa. Ia bergegas menuju pintu utama dengan tatapan garang, sekilas ia menilik jam di dinding, yang sudah menunjukan pukul hampir sepuluh malam.
"Bik, enggak usah. Biar saya saja yang buka." titah Papa, saat art ingin membukakan pintu.
"Baik, Pak." art pun berlalu dan kembali ke kamar.
"Keterlaluan sekali memang anak ini. Harus di kasih pelajaran!" sebelum mendekat ke arah pintu, Papa lebih dulu ke ruang televisi. Di sana ia meraih raket nyamuk listrik.
"Biar lurus bulu kakinya, diselepet sama ini." gumam Papa menatap raket yang sudah ia jinjing. Melangkah lah lagi Papa menuju pintu. Papa bagai lebah yang siap menyengat Ammar.
Dan.
Krek.
Senyum manis Ammar dan Gana mengembang seperti gula. Terutama Ammar yang seakan tidak mempunyai dosa. Buru-buru lelaki itu menyodorkan dua bungkus martabak keju dan kacang kepada Papa, karena ia tahu apa yang sedang Papanya pegang. Pasti ingin menghajarnya.
Dan.
Volaaaaaaa.
Papa tergiur. Mencium aroma wangi makanan malam-malam begini membuat perutnya bergejolak. Padahal Papa sudah kenyang. Ammar sangat hapal kesukaan Papa. Tidak hanya martabak yang ia bawa, bubur kacang hijau yang mangkal di jalan pun, ia sikat.
"Maaf, ya, Pah. Kami baru datang. Ketiduran, Pah." ucap Gana. Ia mencium tangan Papa mertuanya. Pun sama dengan Ammar. Melihat reaksi Papanya yang senang, Ammar bisa bernapas lega.
"Alhamdulillah, lolos dari terjangan beruang laut." Ammar membatin senang.
"Anak-anak udah tidur, Pah?" tanya Gana. Ia melangkah masuk beriringan bersama Papa yang sibuk menilik bungkusan yang langsung ia terima sambil melangkah. Sedangkan raket listrik tadi ia berikan kepada Ammar.
"Sudah, Nak. Ada di kamar bersama Mamamu."
"Gana duluan ke kamar, ya, Pah."
"Ya, sana." Papa masih sibuk membuka bungkus makanan yang sekarang ia letakan di meja makan.
__ADS_1
"Adek!"
Ammar fikir ia akan selamat. Dirinya yang sejak tadi mengekor langkah Gana untuk menaiki anak tangga, mematung bisu. Dan Gana hanya meledek, mentertawakan suaminya. Ia tetap melaju menuju kamar mertuanya.
Ammar berbalik ke arah Papa, menatap sayang, si cinta dalam hidupnya.
"Sini, kamu!" seru Papa setelah memasukan potongan martabak kacang ke dalam mulut.
"Apa, Sayang?" goda Ammar menahan takut. Setelah langkahnya sudah mendekat.
"Buka mulut mu!" titah Papa.
Ammar kembali menghela napas lega dan tersenyum karena ternyata ia tidak jadi di marahi oleh Papa, saat ia tahu kalau Papa akan memasukan potongan martabak ke dalam mulutnya.
"Makan, ya!" dan ternyata Papa memasukan beberapa potongan martabak kedalam mulut Ammar sampai penuh dan tidak bisa di kunyah. Ammar melebarkan pupil matanya. Meminta belas kasih dan ampunan kepada Papa.
"Enak 'kan?" Papa bertolak pinggang.
Ammar menggeleng dengan wajah memelas. Ia tidak bisa bicara karena mulutnya penuh. Dan percakapan antara Anak dan Papa yang begitu membagongkan mulai tercipta.
"Bisa-bisanya kamu berjam-jam, enak-enak belah hutan! Sementara di sini, Papa tidur enggak bisa peluk Mamamu!" Papa berdecak sebal. "Ingat waktu, dongggggg!" Papa menjewer telinga Ammar. Dan Anak lelakinya mengeluh sakit dengan suara yang tidak terdengar.
"Udah tau Papa enggak boleh makan beginian kalau malam-malam. Malah di beliin! Mau bikin Papa diabetes, kamu??" Ammar semakin meringis, manakala Papa semakin merekatkan jeweran nya dengan tangan kiri dan tangan kanan Papa kembali memasukan potongan martabak ke dalam mulutnya.
Ammm.
Sekuat mungkin Ammar berusaha mengunyah martabak yang ada di dalam mulutnya sampai habis. Buru-buru melangkah ke kulkas untuk meneguk air dingin dari dalam botol.
"Tuh 'kan jorok! Minum dari botol, enggak pakai gelas!" Papa kembali marah dari meja makan. Ammar tetap minum karena tenggorokannya seraya terganjal dan tidak bisa bernapas.
"Aaahhhh ... lega!" Ammar bergumam senang. Ia kembali mendekati Papa sambil mengelap bibirnya yang basah dengan tepi kaos.
"Tega banget, Papa. Mau bikin anak mati?" tanya Ammar merungut.
"Anak durhaka kayak begini, kudu di rajam burungnya!" jawab Papa.
Ammar mendelik, menautkan alis dan segera menjauh dari Papa. Ia takut Harley miliknya diselepet karet bungkus martabak.
"Jangan dong, Pah. Ini aset. Papa kayak enggak pernah nikah aja." Ammar membela diri.
Papa memutar bola matanya jengah. "Aku dulu, pas mau enak-enak sama Mamamu. Enggak pernah ribetin Papaku!" Ammar mendengus.
Padahal Ammar tahu sekali, Papa nya satu sama seperti dirinya dulu. Dulu, Ammar dan Maura pernah dibiarkan tinggal sendirian bersama art di rumah, sedangkan Papa memaksa Mama menginap di hotel untuk honeymoon.
"Iya, Pah. Adek minta maaf." Ammar mengalah.
__ADS_1
Orang tua memang akan kembali lagi seperti bayi. Emosi yang turun naik, gampang sedih, senang dan selau ingin di perhatikan. Maka, kita sebagai anak harus mengerti kondisi tersebut. Bisa lebih dewasa dalam menyikapi perasaan orang tua agar tidak terjadi kesalafahaman. Lebih baik mengalah dari pada berdosa karena melawan, walau sejatinya kita tidak salah.
"Anakmu tuh masih ada yang harus di susui. Mikirnya kesitu dong, Dek. Boleh berduaan, terserah mau di mana. Mau di hutan kek, di laut kek, di jalanan, kek. Tapi ingat waktu! Kalau anakmu sudah besar-besar, baru deh honeymoon berapa kali juga, enggak masalah. Mau dititipin di sini boleh aja. Asal enggak rewel dan udah bisa cebok sendiri."
Sudah empat kali Adela pup dan Papa yang membersihkannya. Adela buang air besar di kala Mama Alika sedang repot, maka Mama akan meminta bantuan Papa.
"Dulu waktu kamu masih eek belepetan di lantai, apa pernah Papa titipin sama orang? Sekalipun kepada keluarga? Enggak 'kan?"
Ammar menggeleng dan berkelakar. "Adek enggak ingat, Pah. Kan masih kecil."
"Emang anak enggak ada akhlak. Orang tua ngomong, main dijawab aja!"
"Kan tadi Papa yang nanya. Ya udah Adek jawab."
Papa melototkan mata. "Ya engga usah di jawab! Papa 'kan enggak suruh kamu jawab!"
"Tapi 'kan Papa nanya. Pernah enggak titipin Adek pas lagi eek di rumah orang." Ammar tetap saja berguyon. Membuat jenggot Papa yang keriting terasa terbakar. Haha.
"Dasar anak bagong!" sebelum Papa benar-benar memukul bahu Ammar.
Ammar bergegas kabur dari pandangan Papa. "Kalau Adek anak bagong, berarti Papa juga orang tua bagong ... Buahahaha." tawa Ammar menggema nyaring ke setiap sudut rumah. Membuat Papa terus mengejarnya sampai kemana pun Ammar ingin menghindar.
Ayo, Kek. Kejar si bagong! Haha.
...🌾🌾🌾...
Bola mata Gana terlihat masih segar. Ia sedang menyusui Alda sambil menyandar di punggung ranjang. Rora, Aidan, Adel sudah berbaring di sebelahnya. Gana masih menunggui Ammar kembali pergi ke kamar Mama dan Papa untuk mengambil Taya.
Demi Papa yang ingin memeluk Mama seperti biasanya saat tidur. Ammar menggendong satu persatu anaknya untuk di pindahkan dari kamar orang tuanya ke kamarnya yang dulu.
Adela sempat terbangun dan ia kaget seperti melihat hantu saat menatap Papanya yang sudah pulang. Ammar menimang-nimang Adel agar anak itu kembali tidur nyenyak, dan tidak berisik.
Kini, mereka bertujuh akan tidur dalam satu ranjang. Sepertinya Ammar yang akan mengalah, ia pasti memilih untuk tidur di sofa.
Di dalam kamar Mama dan Papa.
"Ayo, Pah. Tidur!" titah Ammar. Ia sudah menggendong Taya. Papa yang sejak tadi berdiri di tepi ranjang melihati Ammar bolak-balik memindahkan kelima anaknya, lantas mengangguk dan merangkak naik ke atas ranjang, berbaring miring memeluk istrinya dari belakang.
"Ayo, Sayang. Sini peluk, Papa." Papa memaksa Mama untuk berbalik badan menghadap dirinya, walau wanita tua itu sudah terbang ke alam mimpi dan tidak mendengar titahan nya. Tetap saja Papa memaksa, meletakan tangan Mama di perutnya dan tidur di dadanya.
Di ambang pintu sebelum menutupnya, Ammar yang sedang menggendong Taya, menatap bahagia Mama dan Papa. Ada genangan air bening yang mengembun di pelupuk matanya. Kelembutan yang Papa berikan kepada Mama, atau sebaliknya sungguh menggetarkan hati Ammar.
"Semoga sampai tua, aku dan Gana bisa seperti Mama dan Papa. Aamiin."
Karena sepanjang masa, orang tua adalah guru terbaik untuk anak-anak tercinta dan generasi penerusnya.
__ADS_1
...🌾🌾🌾...