
Semalaman Ammar, Gana dan seluruh keluarga tidak bisa tidur nyenyak atau bisa dikatakan tidak tidur sama sekali. Papa Bilmar meminta kepada semua keluarga untuk shalat Malam. Agar kedatangan Ammar pagi ini ke kepolisian dalam rangka penyidikan bisa berjalan dengan lancar.
Ammar dipanggil sebagai tersangka dalam kasus penembakan brutal yang ia lakukan kepada Farhan tiga tahun lalu. Pun Denis dan Bima yang juga di panggil sebagai saksi. Frady langsung melaporkan kepada pihak berwajib agar bisa menangkap Ammar dan menindak lanjuti kasus yang menimpa anak dan menantunya.
Sejatinya Farina dan Farhan belum tahu kalau akhirnya Frady memutuskan untuk memenjarakan Ammar. Lelaki tua itu syok ketika kedua anaknya menceritakan kembalinya Ammar dan Gana dan mereka sudah sama-sama memaafkan. Farina hanya tidak mau, jika Ammar sudah di ketahui kembali, anak buah Papanya akan terus mengejar.
Tapi menurut Frady, maaf saja tidak cukup. Karena Ammar sudah menghilangkan cucu pertamanya, membuat Farhan cacat berbulan-bulan dan Farina depresi. Frady seolah buta, kalau dalam masalah ini bukan hanya Ammar saja yang salah, melainkan Farina dan Farhan juga.
Karena semalaman tidak bisa memejam mata. Akhirnya setelah shalat subuh, Gana bisa terlelap dan saat ini belum terbangun. Sudah pukul 09:00, Ammar sudah siap dengan kemeja polos berwarna cream. Terlihat ia duduk dibibir ranjang, menilik istrinya yang sedang memberi dengkuran halus.
"Aku berangkat ya, Sayang." ucap Ammar pelan, seraya meminta izin. Ia kecup punggung tangan sang istri. Kelopak mata Gana terlihat bengkak dengan ritme dada yang sudah tidak separah seperti semalam, sampai saat ini Gana masih di pantau Mama Alika tentang asma nya yang kambuh.
Lantas beringsut untuk mencium kening istrinya lama. "Doakan aku." ucapnya lagi. Tubuh Gana terasa hangat, Ammar khawatir meninggalkan bumil dalam keadaan gegana seperti ini.
Berlalu lah Ammar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga untuk menghampiri para keluarga yang sudah berkumpul di ruang tamu. Telapak kakinya terasa lemas, tapi ia sadar. Dirinya harus kuat. Jika ia tidak berbesar hati, lalu siapa lagi yang bisa menenangkan istri dan keluarganya. Ini lah buah salah yang harus ia hadapi.
Papa Bilmar, Papa Galih, Gifali dan pengacara akan mengantar Ammar ke pihak kepolisian. Sedangkan para Mama, Maura dan Gana hanya boleh di rumah saja. Papa Galih dan Mama Difa histeris saat dikabarkan dengan masalah ini. Maka pagi-pagi begini mereka sudah datang.
"Sudah siap, Nak?" tanya Papa Galih. Semuanya beranjak bangkit dari sofa.
Ammar mengangguk. "Sudah, Pah."
"Gana nya masih tidur?" tanya Mama Difa.
"Masih, Mah. Ammar titip Gana ya, Mah, Kak." Ammar menatap kedua Mama dan Maura. Ia mendekat mencium tangan mereka bergantian.
Tidak ada air mata yang mencuat dari para wanita ini, karena Papa Bilmar melarang. Biar Ammar merasa kepergiaannya bukanlah sebuah kekalahan. Papa Bilmar dan Papa Galih akan berusaha membebaskan anak dan menantu mereka.
Di ruang televisi, terlihat Aurora tengah cekakak-cekikik bersama Aidan. Pagi ini Ammar sendiri yang memandikan kedua anaknya.
"Mau pamitan dulu?" tanya Papa Galih, ia membuyarkan lamunan Ammar saat melihat kedua anak-anaknya asik bermain.
Ammar mendengus napas berat. Lelaki itu menggelengkan kepala. "Enggak usah, Pah. Nanti aja pas pulang nya. Takutnya Rora rewel minta ikut."
Papa Galih mengangguk tanda faham. Ammar kembali mendongak ke arah pintu kamarnya di lantai dua. Hatinya sedikit merana ketika pergi saat Gana masih terlelap. Wanita itu pasti meronta lagi dalam tangis sesaat tahu dirinya tidak dibangunkan. Bukan hanya Gana yang sesak, Ammar pun sama. Berkali-kali ia menekan oksigen untuk masuk kedalam dada agar bisa sedikit lega, walau hal itu tidak memberikan pengaruh banyak.
Jika Ammar menurut dan bersikap kooperatif kepada panggilan polisi. Walau sebagai tersangka ia masih bisa menjadi tersangka wajib lapor sampai semua BAP nya lengkap dan dilimpahkan ke Kejaksaan. Jika BAP sudah lengkap dan tidak ada pencabutan tuntutan, kasus ini tidak akan bisa ditutup. Akan terus bergulir sampai putusan hakim.
Mama Alika memeluk dan mencium anaknya. "Doa Mama selalu menyertai, Adek."
"Makasih ya, Mah." Ammar tetap tenang walau dadanya masih saja bergemuruh hebat. Seakan ia sudah tahu, seapapun keluarganya membela. Ia akan tetap masuk ke dalam penjara. Karena memang ia yang melakukan tindakan penembakan dan di sana ada beberapa saksi. Sedangkan untuk melaporkan balik kasus Gana yang dulu, Ammar tidak mempunyai bukti.
Baru ingin melangkah meninggalkan ruang tamu. Semua menoleh saat teriakan nyaring menggema dari anak tangga.
__ADS_1
"ABANG!" istrinya yang memanggil.
Buru-buru Ammar berlari untuk menghampiri Gana, ia ingin memastikan Gana baik-baik saja saat menuruni tangga. Tidak mau karena wanita itu tergesah-gesah dan akhirnya jatuh terpeleset.
"Abang mau kemana?" wanita bersarung dengan rambut acak-acakan bertanya dengan nada sedih. Mereka sudah berhasil menuruni anak tangga, walau Gana terus memegangi lengannya agar tidak meninggalkan dirinya sendirian.
"Abang mau ke kantor polisi dulu. Nanti Abang pulang lagi." jawab Ammar dengan senyuman.
"Adek ikut ya, Bang. Mau nemenin Abang."
Ammar tidak tega melihat Gana memohon seperti ini. Wajah wanita itu pucat dan meratap nya nanar. Ammar menoleh ke arah Papa-papanya.
"Gana tetap dirumah sama Mama, Maura dan anak-anak." Papa Galih yang memutuskan.
Gana menyergah, ia mendekati Papanya. "Tapi, Pah. Di sini Gana enggak tenang. Gana mau antar, Abang."
"Apa yang Papamu bilang itu benar. Gana tetap di sini sampai Ammar pulang. Karena di sana pasti akan banyak media yang meliput. Masalah dan kembalinya Ammar saja akan membuat geger. Apalagi ditambah keberadaan Gana. Akan semakin runyam." Gana menoleh saat Papa Bilmar yang berucap.
Wanita itu menunduk sedih. Dan tidak bisa membantah. Ia tidak mungkin menentang pilihan orang tuanyam Ammar mendekatinya lagi dan memeluk sang istri.
"Tenang, Dek. Jangan panik. Abang enggak akan kenapa-napa." air mata Ammar akhirnya luruh saat Gana terisak dalam dadanya. Mengelus lembut punggung Gana untuk menenangkan, padahal saat ini jantungnya masih saja berdebar kencang. Ia yang perlu di kuatkan.
"Ayo kita pergi sekarang. Jangan sampai telat." ucap Gifali.
"Abang berangkat dulu ya."
Dalam kesegukannya Gana mengangguk. Ia melepas kepergian Ammar dengan berjuta rasa takut.
Dan berangkatlah Ammar memenuhi panggilan polisi pagi ini. Ia berangkat sebagai lelaki yang bertanggung jawab, berjiwa besar dan demi ketenangan keluarganya.
"Abang!" Gana kembali terisak. Saat melihat dua mobil mewah memutar di pekarangan rumah menuju gerbang. Kereta besi yang membawa suaminya untuk menuntaskan perkara.
"Sabar, Nak. Sabar. Suamimu pasti bebas." Para Mama terus menenangkan Gana. Lantas membawanya masuk untuk kembali ke kamar. Sedangkan Maura masih melamun dengan wajah lesu. Ia yang menjaga Aurora dan Aidan yang sedang bermain.
"Ya Allah, lindungi Adikku." doa Maura. Ia elus kedua keponakannya. Merasa tidak kuat jika kedua anak ini akhirnya akan kehilangan Papanya dalam waktu yang cukup lama.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Farina bergegas kerumah Papanya sesaat ia menonton acara berita di televisi. Di sana memberitakan kalau Maldava Ammar Artanegara kembali muncul setelah diberitakan menghilang dan mati dan saat ini sedang mendatangi kepolisian untuk menjalani penyidikan. Media belum bisa menguak secara dalam kasus apa yang saat ini tengah Ammar hadapi.
Wanita itu yakin, Papanya lah yang melaporkan. Farhan pun sudah sampai dirumah Papa, karena Farina yang memberitahukannya dengan derai air mata di sambungan telepon.
Gila saja fikirnya, Frady tetap ingkar janji. Padahal tadi malam, lelaki tua itu sudah mengatakan kalau tidak akan mengusut masalah ini kepada polisi.
__ADS_1
"Papa keterlaluan! Untuk apa Papa laporkan Ammar ke polisi. Papa kan sudah janji kepada kami! Lagi pula, semua ini terjadi karena awal dari kesalahan kami!" sentak Farina. Wanita itu sampai beringsut dari duduknya dan menghentak meja.
"Sayang jangan begini. Tidak boleh memaki-maki orang tua." Farhan mencoba membawa Farina untuk duduk lagi di kursi dengan tenang, dihadapan Papa yang tersekat dengan meja kerja. Lelaki tua itu duduk menunggungi mereka, menatap lemari buku.
"Biar, Pih. Biar Papa tau. Kalau tindakannya sudah salah."
Papa tetap diam, asik menikmati asap rokok yang ia hembuskan ke udara dari balik cerutunya.
"Papa!" Farina kembali memanggil dengan nada kencang di saat Frady tidak menanggapi emosinya sejak tadi.
"Rina mohon, Pah. Tolong cabut gugatan Papa! Masih ada waktu, Pah! Farina memohon dengan sangat. Kita ingin hidup normal tanpa masalah. Tanpa adanya dendam lagi. Di sini bukan hanya kami yang menderita. Ammar dan istrinya pun sama. Kami yang salah, Pah. Bukan Ammar! Farina lah dan Farhan yang harusnya mendekam di penjara!"
DEG.
Mendengar ucapan itu sontak jantung Frady seakan si hujam pisau. Lelaki itu lantas membalikan tubuh bersama kursinya. Ia meletakan cerutu di meja dan menatap lekat putri semata wayangnya yang sudah basah karena air mata.
"Farina mohon, Pah." pinta Farina lagi. Ia amat memelas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana penyesalan yang akan ia jalani. Gana sudah amnesia dan kini, Ammar mendekam di penjara.
"Iya, Pah. Farhan juga meminta kebesaran hati Papa. Tolong cabut gugatan Papa. Mari kita kembali ke jalan yang benar, Pah. Mumpung masih ada waktu."
Frady berdecih. "Jika Papa sudah memutuskan. Tidak ada yang bisa mengubahnya! Papa seperti ini karena ingin melindungi kalian. Membalaskan dendam untuk cucuku, anak kalian. Masih untung Ammar hanya di penjara tidak langsung Papa bunuh!"
Manik mata Farina semakin melebar. Membola hebat dengan ucapan Papa yang tidak terlihat tanda-tanda akan mengabulkan permintaanya. Walau Farina sudah menangis dan mengiba-iba seperti ini.
Farina menyeka air matanya kasar. Lalu menghela napas panjang. Ia menatap Papanya lamat-lamat.
"Baik kalau ini mau Papa. Setelah keluar dari rumah ini, Farina akan langsung datang ke kantor polisi. Untuk melaporkan diri sendiri atas kasus pembunuhan yang Rina lakukan terhadap Gana tiga tahun yang lalu! Rina yang membayar orang untuk mencelakai Gana. Dengan begitu Farina dan Ammar akan sama-sama membusuk di penjara. Meninggalkan orang tua, suami dan anak. Farina siap, Pah!"
Frady bangkit berdiri dengan tatapan menyalang tajam ke arah putrinya. Tangannya yang sudah setengah tremor ia kayuh kan untuk mendarat kasar di pipi putrinya.
PAK.
"Pah!" seru Farhan. "Setelah menikah, Farina adalah tanggung jawab Farhan. Aku tidak ridho Papa memukul istriku." ucap Farhan tidak terima. Ia menarik Farina untuk menjauh dari tepi meja. Ia peluk wanita itu yang menangis sambil memegangi pipi.
"Ayo, Pih, antar Mami sekarang." pinta Farina. Ia memaksa Farhan untuk melenggang langkah membawanya pergi dari ruang kerja Papanya.
Frady menunduk ke bawah. Menatap meja kaca yang berwarna gelap. Menatap bayangannya yang sudah tua renta. Lelaki itu menarik napas sambil memegangi dadanya.
"Farina, tunggu!"
๐บ๐บ๐บ๐บbersambung๐บ๐บ๐บ๐บ
Bonuss ya guyss.
__ADS_1