
"Adek udah ngerasain mules belum?" tanya Ammar.
"Belum, Bang." Gana menggeleng. Ammar mengangguk, lantas mengelus perut Gana yang masih polos tanpa tertutup sehelai kain. Mereka baru saja menyelesaikan ritual cinta. Mereguk kenikmatan yang tiada tara. Napas Gana saja masih berantakan. Peluh membanjiri wajah, leher sampai ke dada.
Udara di kamar terasa panas, rumah gelap. Tidak ada cahaya, karena aliran listrik kembali mati. Hanya bermodalkan lampu petromax tempel yang digantung di dinding kayu rumah mereka.
Ammar dan Gana kembali berpakaian. Agar Gana tidak kepanasan, Ammar yang sudah selesai menggunakan baju lalu bangkit dari kasur untuk membuka jendela kamar agar angin dari luar bisa masuk sebentar. Angin malam memang tidak bagus apalagi saat ini sudah pukul 22:00 Wita. Tapi mau bagaimana lagi, mereka kepanasan.
"Benerin selimutnya Rora, Bang." selimut anaknya terlihat melorot. Buru-buru Ammar menaikan selimut Rora sampai ke dada. Rora tidur di tempat tidur terpisah antara Gana dan Ammar. Yang Ammar buat sendiri dari kayu. Semua sisi tempat tidur sudah terjaga dengan baik, jadi Rora tidak akan jatuh.
"Adek mau minum?"
"Iya, Bang." jawab Gana. Wanita hamil itu kembali berbaring di ranjang setelah selesai memakai sarung.
Ammar pun berlalu ke meja makan untuk mengisi gelas dengan air putih dari teko.
Srrt ... srrt
Dengan gerakan cepat Ammar menoleh ke arah pintu belakang rumah. Seperti mendengar suara langkah seseorang di kebunnya.
Ammar melangkah perlahan-lahan mendekati pintu. Jantungnya seketika berdegup cepat. Yang ia takutkan bukanlah setan atau makhluk halus, melainkan manusia yang mencoba berbuat jahat.
Dan.
Krek.
Pintu belakang Ammar buka lebar.
"HEY! SIAPA ITU??!" teriak Ammar. Saat bola matanya tak sengaja menangkap siluet hitam menerjang ke ilalang-ilalang yang mengelilingi saung.
Merasa tidak beres, bukannya langsung mengunci pintu, Ammar malah semakin tertantang. Ia meraih pentungan besi yang sengaja ia letakan di dapur. Membawanya untuk menemani menangkap siluet hitam tersebut, yang ia rasa adalah seorang maling.
"Ayo keluar kamu! Saya tau kamu maling!" teriak Ammar. Saat ini lelaki itu sedang berada di pertengahan kebun yang gelap. Jika Ammar terus menantang, dirinya pasti akan mati sekarang.
Ammar mengganggap mereka adalah pencuri yang harus di basmi.
"AYO KELUAR! KALIAN MAU APA?" Ammar semakin menantang.
Dan sudah lima menit berkoar-koar. Sedikit melangkah kesana kemari untuk menyisir sekitar kebun. Ammar tidak menemukan siapapun.
"Brengsekk! Bisa sekali kabur." decak Ammar kesal. Tidak ada pilihan baginya untuk kembali masuk ke dalam rumah dan menguncinya rapat-rapat. Jiwa mafianya masih saja melekat. Lelaki itu memang sudah banyak menghabiskan nyawa. Maka untuk hal seperti menangkap pencuri, ia tidak akan takut.
__ADS_1
Karena terlalu lama menunggu Ammar. Gana sampai ketiduran. Ammar masuk kedalam kamar dengan membawa segelas air yang terlebih dulu ia letakan di atas meja rias. Ia berjalan ke arah jendela yang baru saja di buka namun langsung Ammar tutup kembali. Takut-takut siluet hitam itu akan muncul di jendela.
Setelah sudah dan di rasa aman. Ammar merangkak naik ke atas kasur yang tidak berdipan. Ia usap keringat yang masih menempel di sekitar dahi istrinya lalu di kecup. "Minum dulu, Dek." titahnya.
Gana mengerjap mata berat dan akhirnya mengiyakan titahan suaminya. Ia menerima gelas berisi air yang Ammar sodorkan, dan menenggak isinya sampai habis.
"Kok Abang kayak engos-ngosan gitu?" tanya Gana sambil mengusap sisa-sisa kebasahan di bibirnya.
Jantung Ammar masih saja berdegup tidak karuan mengingat tadi ia hampir saja menangkap pencuri yang mau menyelinap di area rumahnya.
"Enggak apa-apa. Udah sekarang tidur ya." Ammar mencoba meredam rasa cemasnya.
Gana mengangguk dan kembali tidur. Ia memeluk dada Ammar seperti biasa. Dan saat ini, giliran Ammar yang tidak bisa tidur. Ia mau berjaga sampai pagi. Tidak mau sampai siluet hitam itu menerjang rumahnya.
"Siapa mereka? Pencuri? Atau---?" seketika bola mata Ammar membeliak. Dadanya kembali bergelak kencang. Ia takut apa yang sekarang ada didalam kepalanya menjadi kenyataan.
"Astagfirullah, Ya Allah." desahnya takut. Ia dekap Gana kuat-kuat dan beralih menatap Rora. "Lindungi kami ..." lirihnya. Seakan dapat membaca siapa siluet hitam tersebut.
🌺🌺🌺🌺
Ammar tidak bisa tidur sampai pagi. Dan setelah pagi datang, ia masih juga tidak bisa memejamkan mata. Isi hatinya bercabang, menerka-nerka siapakah siluet hitam tersebut. Pasalnya hampir tiga tahun tinggal di rumah ini, Ammar tidak pernah mendapatkan kejadian seperti semalam.
"Papa ... Pa ... Papaaaaaaaaaa!" Rora terlihat berdiri-diri di dekat etalase warung bagian dalam.
"Yang lembut dong manggilnya, Nak. Papa ..." Ammar seraya mengajari Rora agar tidak memanggilnya dengan nada kencang.
Dua sosok yang saling memunggungi tapi seakan tengah berbicara satu sama lain. Si anak pintar itu mengikuti ucapan Papanya.
"Papaaaaaaaaaaa ..." malah semakin kencang. Ammar terkekeh. Ia masih mendongakkan kepala ke atas, mengalungkan kopi-kopi sachet agar berjejer di tali tambang yang membentang di warung.
"Yang lembut dong, sayang. Papa ..." Ammar mengulangi lagi dengan mencontohkan nada suaranya yang syahdu.
Tanpa Ammar tahu, Rora sudah berhasil menyobek plastik tepung terigu dan memainkan isinya di atas lantai. Wajah dan tubuhnya habis belepotan terigu.
"Papa ..." akhirnya Rora bisa memanggilnya dengan nada lembut.
Ammar tersenyum senang.
"Terus sekarang coba panggil Mama. Mama ..."
"Mamaaaaaaaa ..." Rora kembali mengulang kencang.
__ADS_1
"Loh kok gitu. Tadi udah bisa tuh manggil Papa lembut. Kayak tadi, Nak." kini Ammar sedang membereskan rokok-rokok di etalase kecil yang berada di atas etalase besar menghadap kedepan jalanan.
"Mama ... Ayo coba ulangin, Nak." Ammar tidak gentar untuk mengajari sang anak.
Rora terlihat tertawa-tawa sendiri. Memainkan tepung terigu yang sudah berserak. Ia peperkan ke seluruh permukaan kulit tangan, kaki dan rambutnya yang pendek sebahu seperti Gana.
"Daeng beli kopi." Maili, tiba-tiba nongol. Membuat Ammar kaget setengah hidup. Eh?
Melihat Ammar mengusap dada, Maili tertawa. "Seduh ya, Daeng. Kopi item."
"Udah sarapan belum? Masa pagi-pagi minum kopi?" tanya Ammar.
"Aku enggak suka sarapan, Daeng. Sukanya nyemil. Daeng Gana sudah buat gorengan belum?" Gana memang suka membuat gorengan pisang, nangka, bakwan atau tempe yang ia letakan di warung. Dan aneka ragam gorengan buatannya memang terkenal enak. Di warung pun, Gana selalu menyiapkan air panas di termos, agar bisa menyeduh kopi, teh atau popmie. Warung milik Gana ini memang komplit.
Ammar menggeleng sambil menyobek kopi sachetan yang menjuntai kebawah. "Libur dulu. Mau persiapan lahiran."
"Oh, iya. Lancar lah, Daeng."
"Aamiin. Makasih Mail."
Ammar membuka kopi dari bungkusnya untuk dimasukan ke dalam gelas plastik yang kemudian ia siram dengan air panas. Seumur hidup, tidak pernah ia membuatkan kopi seperti ini untuk orang kain bahkan untuk dirinya sendiri. Ammar selalu di layani seperti sultan jika di rumah. Warga di sini tidak akan menyangka, jika Ammar dan Ganaya adalah orang yang sangat terpandang di Jakarta. Di takuti dan di segani.
"Makasih ya, Daeng." ucap Mail yang kemudian berlalu sambil membawa segelas kopi dari warungnya.
Baru saja ingin memutar tubuh untuk meletakan uang di etalase belakang. Ammar langsung berteriak karena kaget mendapati Rora yang tiba-tiba anteng, ternyata sedang bermain terigu. Malah sekarang tangannya sedang ingin membuka plastik minyak kiloan.
"Astagfirullah anak Papa bener-bener deh!" Ammar mengambil paksa minyak kiloan itu dari tangan Rora.
Bukannya merajuk atau menangis. Anak itu malah tertawa. "Papaaaaaaaaaa." serunya dengan nada kencang. Kembali lagi seperti awal, seakan Papanya tuli tidak bisa mendengar.
"Aduuuh Mamamu pasti marah nih." Ammar mengambil tissue untuk mengelap wajah Rora yang sudah putih karena buliran tepung yang menempel. Pasalnya anak itu sudah mandi dan wangi.
Sedang sibuk membersihkan Rora, seketika Ammar menoleh ke dalam rumah saat mendengar ada bunyi piring yang jatuh lebih dari dua kali.
Prang
Prang
"Ya Allah, Gana ..."
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Like dan komen ya guysss.