Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Malam Ini, Ba'da Isya


__ADS_3

Seakan dunia mendadak berhenti berputar pada porosnya, mana kala Mama langsung ditembak dengan pertanyaan yang ia sendiri bingung untuk menjawabnya.


Haruskah dirinya jujur? Atau kukuh dalam bersandiwara.


Hatinya pilu, melihat lelaki yang sudah ia nikahi dua puluh delapan tahun lamanya, harus di bohongi secara mentah-mentah seperti ini. Karena hanya ingin melindungi anak, ia tega merubah dirinya menjadi istri yang durhaka.


"Mama lagi teleponan sama siapa?" melihat Mama tidak langsung menjawab, Papa kembali mengulang pertanyaan.


"Iiii---ini, Pah. Teman Mama ... Ann---anaknya mau lahiran." jawab Mama sedikit tersendat. "Mama lagi coba bimbing, Pah."


Seakan tahu kalau suaminya sudah lama mendengarkan pembicaraan dirinya dengan Gana di sambungan telepon. Maka lebih baik ia jujur.


"Bener?"


Dan kumat lah lelaki tua ini dalam sifatnya yang posesif. Huh.


"Iya, Pah. Bener." jantung Mama berdegup tidak karuan. Di tambah lagi dengan wajah Papa yang sulit percaya.


Walau ia tidak menyebutkan nama Gana, tapi setidaknya rasa takut akan ketahuan terus saja menyisir kalbunya.


Papa menatap Mama amat lama. Seraya menegaskan bola matanya untuk mencari kebenaran di mata Mama, tapi sayangnya tidak ia temukan. Membuat Papa menjadi curiga, karena sikap Mama yang begitu aneh dan gugup.


Ya, mama memang gugup. Sudah panik karena memikirkan Gana yang mau melahirkan nun jauh di sana, dan sekarang suaminya yang seakan tengah curiga.


"Coba sini ponselnya. Papa mau lihat."


DEG.


Ingin rasanya Mama langsung bersujud di kaki suaminya untuk mengaku kalau dirinya salah, karena sudah berbohong. Mau tidak mau Mama menyerahkan ponselnya agar Papa tidak marah. Sejatinya ia hafal watak suaminya yang tidak suka menunggu, bertele-tele atau banyak alasan.


Papa mengecek riwayat panggilan telepon yang masuk beberapa detik lalu.


"Jeung Dina?" tanya Papa. Untung saja ia menamakan Ammar dengan nama samaran. Kalau tidak, sudah habis dirinya jadi perkedel tahu.


Mama meneguk salivanya yang sudah berkumpul di ujung mulut, lantas mengangguk.


"Iya, Pah. Teman Mama, Jeung Dina namanya."


Papa menyerengitkan dahi. "Jeung Dina tuh yang mana? Perasaan enggak ada temen Mama yang namanya Dina."


Oalah, hapal sekali lelaki ini. Jangankan teman-teman Mama, bedak yang Mama pakai saja jika berbeda, papa pasti tau.


Dan.


Drrt drrt drrt.


Seketika bola mata Mama melebar mana kala Ammar dengan nama Jeung Dina kembali menelpon.


"Astagfirullah Adek. Jangan dulu telepon, Nak." batin Mama. "Aku pasti habis di tangan Bilmar." wanita itu mengigit bibir bawahnya. Ia takut jadi rempeyek ikan tongkol setelah ini.


"Nih telepon lagi ... Papa yang angkat ya?" baru ingin menyergah untuk mengatakan jangan, keduanya langsung menoleh ke arah pintu saat kepala Ginka menyembul dari balik pintu.


"Kakek ... Nenek." seru si cucu ke lima.


Papa menatap senang kehadiran cucunya. "Nih, Mah." Papa tidak jadi mengangkat telepon itu. Lantas memberikannya kepada Mama.


"Ya Allah ... Alhamdulillah cucuku jadi penyelemat Om-nya." desah Mama mengucap syukur dalam hati.


"Kalau sudah teleponan sama temen kamu. Langsung ke bawah, jangan diam di kamar terus." titah Papa saat sudah menggendong Ginka di ambang pintu.


"Iya sayang." jawab Mama.


Wanita itu kembali menghubungi sang Anak yang sejak tadi menjadi buah fikirnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Bidan Nia sudah sampai sejak lima belas menit yang lalu. Wanita itu sedang menilik bagian dalam Gana untuk memeriksa sudah pembukaan berapa sekarang.


Dari balik sarung yang basah karena air ketuban yang terus merembes sedikit demi sedikit dari pusat inti, dan rasa mules yang semakin menyiksa, Gana selalu menurunkan kaki dan meluruskannya. Membuat Ibu Bidan terus berseru dan memaksa Gana untuk melebarkan kedua pahanya.


"Di lebarin dulu ya. Daeng tolong bantu saya buat pegangin pahanya." titah Bidan Nia sedikit dengan nada gemas. Ia masih fokus memasukan jarinya ke dalam pusat inti gana. Asisten Bidan Nia yaitu Maya, sedang menyorotkan senter ke arah dalam.


Ammar yang sejak tadi berada di sisi sebelah Gana lantas beringsut untuk memegangi paha istrinya.


"Dek rileks, atur napas kayak tadi." Ammar menitah Gana untuk mengingat bimbingan napas yang Mama Alika berikan. Gana yang masih menahan sakit pun menurut. Ia mencoba mengatur napas seperti semula. Tapi nyatanya sulit. Wanita itu tidak kuat.


"Masih pembukaan dua. Portio nya masih tebal. Tapi karena kontraksinya sering, akan saya infus."

__ADS_1


"Lakukan saja Bu Bidan." jawab Ammar mewakili Gana. Lelaki itu pun panik, mengapa proses lahiran yang sekarang lebih mencekam dan membuatnya tegang. Padahal sebelumnya, Rora tidak seperti ini. Melihat Gana kesakitan, rasanya Ammar ingin menggantikan posisi istrinya. Biar saja dirinya yang sakit, Jangan Gana.


Jari-jemari tangan Gana meremas seprai.


"Ya Allah ... Abang!" Gana berseru. Kontraksi kembali muncul, sesaat cairan yang sudah masuk ke dalam darahnya lewat selang infus yang botolnya di kaitkan dalam paku di dinding, langsung memberikan efek.


Gana kembali mengerang. Mulutnya menganga karena menahan sakit. Peluh bergerumun di sekitar leher. Cairan infus tersebut berfungi untuk mendorong agar kontraksi terus terjadi agar pembukaan cepat turun sampai Gana siap untuk mengejan.


"Bu ..." Ammar menatap Bidan Nia dan Maya. Seakan meminta pertolongan untuk istrinya.


"Ada kah obat yang lain? Saya enggak tega lihat istri saya begini, Bu." imbuh Ammar dengan nada memelas.


"Walaupun obatnya mahal enggak apa-apa, saya akan beli, Bu."


"Enggak apa-apa, Daeng. Memang begini rasanya. Daeng kan sudah tahu kalau melahirkan seperti ini."


"Tapi anak pertama enggak begini, Bu." jawab Ammar.


"Daeng tenang aja. Aman kok."


"Abang, sakittttttt!!" Gana meronta lagi.


"Ayo Daeng tarik napasnya. Lalu keluarkan perlahan lewat mulut. Begitu terus berulang-ulang." titah Bidan Nia.


Tidak ada yang bisa Gana lakukan selain menurut. Ammar kembali mendekati Gana. Mengelus kepala istrinya untuk menguatkan.


"Adek bisa ... Adek sanggup ... Adek kuat ... Adek hebat!" seru Ammar berkali-kali. Ammar mengusap perut istrinya. "Dedek cepat keluar ya, Nak. Kasian Mama."


"EUHH!!" Gana kembali merancau. Si dedek bayi seakan mengerti usapan lembut dari Papanya.


"Sabar sayang." bisik Ammar terus menerus. Menggenggam jari-jemari Gana yang sudah basah karena keringat.


Ia terus berusaha untuk membuat Gana melupakan rasa sakitnya sementara, walau nyatanya sulit. Ia tidak perduli dengan Rora yang sudah menangis sejak tadi. Ia biarkan anak itu yang ikut membelai-belai Mamanya.


"Nah bagus, ayo tarik lagi napasnya lalu hembuskan perlahan. Jangan habiskan tenaga sekarang. Pembukaan sepuluh masih lama, Daeng harus cukup tenaga untuk mengejan. Kalau tidak, Daeng harus di operasi." perintah Bidan Nia panjang kali lebar.


Mendengar kata operasi sungguhlah tidak mungkin. Mereka harus menyebrang laut dengan perahu. Dan Gana tidak mau. Mau tidak mau, Gana harus rileks. Mencoba menahan rasa sakit dan tidak banyak mengerang. Ia harus menyimpan energinya saat mengejan nanti.


Di saat-saat genting seperti ini. Rora kembali berulah, ia menghentikan tangis dan berucap kepada Papanya.


"Papa ... Yoya pupp." si cantik memegangi bokongnya.


Bau naga langsung tersebar. Semua kebauan dengan aromanya. Ammar menggeleng malu, dan para Bidan hanya tertawa.


"Bang, tolong cebokin dulu, Rora."


Ammar bergegas membawa anak itu ke dalam kamar mandi. "Bisa-bisanya kamu pupp di saat kayak begini, Nak." desah Ammar sesaat dirinya sudah sampai di bilik kamar mandi.


Rora hanya tertawa memeluk perut Papanya. Tangisannya reda saat Gana mulai stabil. Batin antara Ibu dan Anak memang sangatlah kuat. Layaknya Ammar kepada Mama Alika.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Karena pembukaan masih jauh. Bidan Nia meminta izin untuk pergi ke beberapa blok dari rumah mereka, yang juga sedang ia bantu untuk proses persalinan. Bidan Nia akan datang sekitar empat jam lagi.


Karena persalinan Gana kali ini adalah multi atau yang biasa disebut dengan persalinan kedua maka membutuhkan satu centimeter pada pembukaan dalam per tiga puluh menitnya. Kira-kira pembukaan sepuluh akan terjadi sekitar enam jam lagi, namun wanita itu akan lebih dulu stay sebelum pembukaan sepuluh terjadi.


Selama menunggu pembukaan. Gana boleh berjalan-jalan kemana saja untuk merangsang agar pembukaan lebih cepat lagi. Saat ini, Ammar membawa Gana ke kebun dibelakang rumah. Di sekitaran tanaman-tanaman cabai, tomat, terong yang sedang ia tanam.


Gana memejam mata dengan hembusan napas yang mulai halus. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Ammar. Dengan posisi mereka yang sama-sama berdiri. Lelaki itu mendekapnya penuh cinta dan sayang. Ammar tidak berhenti mengusap-usap punggung Gana naik turun sambil bersenandung Asmaul Husna.


"Ya Allah ... Ya Rahman ... Ya Rahim ... Ya Malik ... Ya kudus ... Ya Sallam ..."


Ammar ingin berusaha untuk membuat jiwa dan raga Gana tenang. Siapapun yang mendengar senandung Asmaul Husna, hatinya pasti bahagia.


Seakan perlakuan yang Ammar berikan berhasil membuat Gana akhirnya bisa rileks sebentar. Kontraksi terasa mengendur walau setiap beberapa menit akan kembali muncul dan Gana akan mengeluh lagi, tapi memang tidak seheboh seperti beberapa menit lalu.


Walau saat ini sudah pukul satu siang waktu indonesia tengah, sinar matahari tidak begitu terik. Karena sekarang mereka terhimpit di tengah-tengah pepohonan rindang yang memberi ringisan angin segar penyeka panas.


"Abang ..." serunya pelan. Kepalanya masih bersandar di ceruk leher suaminya.


"Hemm?" Ammar mengecup ubun-ubun istrinya.


"Kok yang sekarang sakit banget ya, Bang?"


"Sabar sayang." walau sabar tidak bisa membuat sakit hilang dan hati tenang, namun hanya itu yang mampu Ammar ucapkan.


"Anak kita cukup dua aja ya, Bang. Adek enggak mau hamil lagi."

__ADS_1


Gana sepertinya trauma. Ammar serasa bersalah. "Iya sayang, dua aja udah cukup."


"Tuh, Bang. Mules lagi. Euhhhhhh!!" Gana mengerang. Ia remat tepi kaos bagian leher belakang Ammar. Sampai tidak sadar kalau buku-buku jarinya sudah mencakar kulit leher sang suami.


"Aahh sakit, Bang! Adek enggak kuat!" keluhnya.


"Sabar sayang. Tahan ya, demi anak kita."


Ammar tetap memeluk Gana. Berkali-kali membetulkan sarung istrinya yang seakan mau melorot. Tidak masalah kulit lehernya sudah perih karena di cakar-cakar. Yang penting Gana-nya nyaman.


Dan yang paling penting, lelaki bisa tahu bagaimana perjuangan istri dalam melahirkan, jangan hanya mau bikinnya saja. Haha. Ups!


"Adek bisa enggak ya, Bang. Lahirin si dedek?" tiba-tiba semangat Gana memudar. Belum mengejan saja dirinya sudah sakit, bagaimana saat di ujung-ujung melahirkan.


"Apa Adek mampu, Bang? Uuuuuhhh!" kontraksi kembali muncul. Gana sampai menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan.


"Bisa, Dek. Adek tuh kuat. Makanya tenang, jangan mikir macam-macam dulu." tangan Ammar memegang bibir Gana, agar wanita itu tidak mengigit. Bisa berdarah tanpa sadar. Gana mengangguk dengan hembusan napas kasar. Ammar bisa merasakan detak jantung Gana yang berirama cepat.


Ammar terus fokus memberikan siraman rohani kepada Gana. Ia memang di titah oleh Bidan untuk memberikan semangat dan mau bersabar menghadapi Gana yang seperti ini.


"Abangggggg!" isak nya panjang.


Gana mengeratkan lagi pelukan itu. Ammar kembali bersenandung Asmaul Husna sambil sesekali melirik ke dalam rumah. Mengawasi Rora yang akhirnya bisa anteng bermain dengan para bonekanya di depan televisi. Terlihat juga botol susu yang sudah menggelinding dan piring plastik berisi nasi dan telur yang sudah berhamburan di lantai. Tidak masalah fikirnya, yang penting Rora tidak berisik. Menganggu keromantisan berbalut pedih yang saat ini Ammar dan Gana rasakan.


Berpelukan di tengah-tengah kebun dan ilalang. Sungguh penyambutan luar biasa untuk bayi kedua mereka.


"Ayo tarik napasnya dalam-dalam, lalu hembuskan sayang ..." Ammar kembali membimbing.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Kepala Gana bersandar di dada Ammar. Ia terus menarik napas untuk mengejan. Pembukaan sudah sepuluh, terasa bagian kepala bayi sudah masuk ke panggul.


"Ayo ngejan, Bu!" perintah Bidan Nia. "Sekali tarikan napas dan kencang ya. Bokongnya jangan di angkat, bibir nya jangan di gigit. Ayo ngejan!!!" Bidan Nia mengambil komando.


Ammar terus membisikan doa-doa di telinga Gana. Menguatkan wanita itu untuk bisa mengejan dengan kekuatan penuh. Terlihat kedua paha Gana bergetar, jari-jemari kaki merekah. Tangan kanan Gana mencengkram kain seprai sedangkan tangan kirinya meremas kain lengan baju suaminya.


Dan saat perutnya kembali kontraksi, Bidan Nia dengan cepat menggunting bibir pusat inti Gana.


Srrt.


"EUHHHHHHHHHH ...." Gana mengejan panjang sampai otot-otot hijau menyembul dari pelipis dan kulit lehernya.


Dan.


Byrr.


Air ketuban bersamaan darah begitu saja mengalir mengiringi bayi mereka yang keluar saat bidan berhasil menariknya dari dalam.


Eya Eya Eya Eya.


Eya Eya Eya Eya.


Eya Eya Eya Eya.


"Alhamdulillah Ya Allah ..." seru mereka bersamaan. Bidan langsung mengangkat bayi ke udara dan memperlihatkan kepada Gana dan Ammar.


Gana langsung merebahkan kepalanya di dada Ammar. Napasnya terengah-engah. Pun sama dengan Ammar. Ia mengunci dada istrinya dan mengecup pipi Gana berkali-kali.


"Selamat ya Pak, Bu. Bayinya laki-laki."


Kilat binar bahagia mengembang di wajah pasangan suami istri tersebut. Ammar dan Gana menitikan air mata saat bayi itu berhasil di lahirkan ke dunia.


"Normal dan lengkap ya. Ganteng lagi." ucap Bu Bidan. Bayi segera di bersihkan oleh Maya dan Bidan Nia kembali fokus ke pusat inti Gana untuk menjahit Honey.


Ammar kembali melabuhkan kecupan dan sekarang di kening Gana. Sambil mengucapkan banyak terima kasih kepada istrinya. Karena sudah mau mengandung sembilan bulan. Mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, menahan kontraksi yang begitu menyakitkan selama sepuluh jam dan akhirnya berhasil mengantar anak laki-laki mereka ke dunia.


"Terima kasih istriku ... terima kasih banyak."


Gana mengangguk dengan senyuman yang disertai ringisan, karena luka yang sedang dijahit begitu terasa. Ammar mengelap wajah Gana yang sudah basah karena peluh dan air mata. Sungguh memori kelahiran anak kedua mereka, tidak akan Ammar lupakan. Proses yang amat panjang dan menyakitkan. Menunggu sepuluh jam untuk lahir.


Akhirnya malam ini, ba'da Isya lahir lah seorang bayi laki-laki di selat Makassar yang bernama MAGALA AIDAN ARTANEGARA dengan sehat dan normal tanpa kurang satu apapun. Semoga menjadi anak soleh dan berbakti kepada Agama, Orang tua dan negara.


Aamiin.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Like dan Komen ya guyss.

__ADS_1


Selamat Mama Gana, Papa Ammar dan Kakak Aurora atas kedatangan Dedek Aidanโค๏ธโค๏ธ



__ADS_2