Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kesalahan Yang Sama


__ADS_3

Five G melongo lama. Menilik pipi Gana yang gembil dan buncit di perut. Kelima anak itu menatap Gana dan Ammar secara bergantian dan menuntut.


"Tante beneran enggak ingat kita?" tanya Bisma. Ia merangkak naik ke atas kasur dan duduk disebelah Tantenya. "Ini aku, Bisma. Enggak ingat?" cecar si tampan.


Semua adik-adiknya hanya diam. Menunggu apa jawaban dari Gana. "Bang ..." Gana seraya meminta untuk di bantu.


Ammar tersenyum kepada para keponakannya. "Tante mengalami amnesia setelah---"


"Meninggal?" selak Geisha dengan kedua mata membola hebat.


"Mana ada sih kalau sudah meninggal hidup lagi?" decak Dipta.


"Jadi selama ini Tante sama Om nya kemana?" kini Ginka yang menerobos.


"Nah ini cerdas pertanyaannya." ucap Dipta, lantas mengecup pipi Ginka. "Ihh! Kakak nih cium-cium terus ah!" decak Ginka sambil mengelap pipinya.


"Pokoknya Tante enggak ingat apa-apa. Jadi harap di maklumi ya." Ammar kembali berucap singkat. Susah menjelaskan skema perjalanan hidupnya dengan Gana secara detail kepada bocah-bocah ini.


"Sayang, ini keponakan kita. Anak-anaknya Kak Gifa dan Kak Maura." Ammar memperkenalkan Five G kepada Gana satu persatu.


Gana mengangguk. "Oh pantas. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng." lalu beralih menatap Five G.


"Kalian ini kembar ya? Wajahnya mirip semua." tanya Gana.


Mereka semua mengangguk.


"Aku, Adek Geisha dan Adek Dipta lahir dalam waktu bersamaan. Kata Bunda dan Ayah, yang duluan keluar aku."


Gana mengangguk-angguk dan ber oh panjang. "Ketika kita pergi, mereka bertiga baru kelas enam SD, Sayang." timpal Ammar.


"Kalau Adek Ginka dan Adek Ghea. Lahir empat tahun kemudian setelah kami." Bisma sebagai wakil dari Five G terus menjelaskan.


"Duh sekali ngelahirin langsung kembar semua. Hebat banget Ayah sama Bunda kalian." puji Gana.


Walau Gana tidak mengingat mereka, tapi di dalam hatinya. Merasa teduh menatap anak-anak kembar ini.


Gana membentangkan tangan. "Sini peluk Tante."


Tanpa menunggu lama. Mereka semua bergegas untuk menerjang Gana. Memeluk namun sudah tidak menangis. Kelima anak itu bahagia melihat Om dan Tantenya kembali.


Begitupun tadi ketika sesampainya di rumah, melihat ada Aurora dan Aidan. Rora sampai menjerit-jerit karena habis-habisan di goda oleh Pradipta. Anak itu memang suka dan gemas menciumi anak batita.


"Untung Om hidup lagi. Jadi bisa 'kan beliin aku barang-barang kayak dulu. Kebetulan di aplikasi Shopiah lagi ada sale buat sepatu cewek. Beliin ya, Om." kini, Geisha sudah bergelayutan di lengan Ammar.


"Nih anak ya. Dari dulu enggak pernah berubah." Ammar mengunci Geisha dalan pelukannya yang erat. Anak perempuan itu pura-pura kesakitan. "Terus, Om. Peluk aja sampai retak." kekeh Dipta.

__ADS_1


Gelak tawa mereka memuncar di dalam kamar.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Sepertinya Rora sudah akrab dengan kedua Kakeknya. Sejak tadi ia terus naik di punggung Kakek Bilmar, dan bersorak senang seperti sedang bermain kuda-kudaan di pohon nangka.


"Hey, Mas. Gantian dong. Saya capek nih jadi kadal buntung terus."


"Jadi ular dong, masa kadal." Papa Galih tertawa. Ia menutup majalah yang sedang ia baca lalu diletakan di atas meja. Beringsut ke arah Geisha yang sedang menunggangi Papa Bilmar.


"Kok belenti, tek? Ayo dong agih!" titah si gendut. Aurora menarik-narik rambut Papa Bilmar sampai kepala lelaki itu mendongak ke belakang.


Papa Galih mulai membungkuk seperti posisi Papa Bilmar. Ia menghentak punggungnya sendiri. "Pindah kesini, Nak. Di situ enggak enak. Udah keras, tulang semua enggak ada dagingnya." ucap Papa Galih dengan tawa.


Aurora yang polos seakan faham langsung turun dan berpindah. Ia naik ke punggung Papa Galih.


Papa Bilmar mendengus. "Cobain aja setengah jam, merayap di sekeliling rumah sambil bawa Rora. Kalau kamu bisa, setelah ini kamu aja terus yang jadi kuda-kudanya. Haha."


Papa Galih mencebik. "Kirain Mas mau beliin saya makanan atau apa gitu. Kalau saya berhasil manggul Rora."


"Itu sih gampang! Mau makanan apa sih? Sekalipun itu dari Pluto, akan saya belikan buat, Mas." jawabnya bangga. Lalu perlahan bangkit berdiri sambil mengusap pinggang. Lelaki itu meringis. "Sejam aja. Udah ringsek nih pinggang, uh!"


"Haha. Syukurin. Ngomong doang sih bisanya." Papa Galih berdecih.


"Puto itu apa, tek?" Aurora memeluk leher Kakeknya dari belakang.


Sontak Papa langsung menjauhkan wajah saat bibir Geisha yang sedang berucap tepat di pipinya.


"Ya Allah, Nak. Kok bibir kamu kayak bau minyak angin gitu 'sih?"


Papa Bilmar tertawa. "Dari tadi dia ciumin saya terus. Mungkin minyak wangi saya nempel di bibirnya. Wangi kan? Wangi---"


"BUSUK!" selak Papa Galih. Tidak tahu saja kalau lelaki itu tidak suka aroma minyak angin.


"Napa cih, tek?" tanya Rora sambil tertawa-tawa. Anak itu tetap memajukan bibirnya untuk bercuap-cuap.


"Sudah sana keliling. Dan nikmati sensasi dari rasa minyak angin saya." kelakar Papa Bilmar.


"Rora mandi dulu ya, Nak. Minta di mandiin sama Nenek." pinta Papa Galih. Ia benar-benar tidak tahan, kenapa begini cucunya.


"Ndak mauh ah. Ayo main agih, Atek! Tuh, tuh, kecana!" tunjuk Rora ke arah kolam renang.


Papa Bilmar tertawa-tawa di atas sofa sambil memeluk perutnya. "Ayo sana!" usir nya. Papa Galih menggeleng samar, ia merasa perutnya mual dan ingin muntah.


"Kalau aja Rora bukan cucu Kakek. Udah Kakek telen kamu, biar di makan sama usus lima puluh jarinya Kakek!" kerutuk Papa.

__ADS_1


"Bah! Kamu Jin? Punya usus lima puluh? Ada juga sembilan." dan si Kakek tampan kembali menyulut emosi besannya.


"Lagi pelajaran biologi kamu kemana? Nongkrong di jambann?" decak Papa Galih menimpali. "Mana ada sih usus lima puluh!"


"Haha. tambann itu atah, Tek?" si kepo terus saja menerobos. "Tempat makan, Nak." Papa Galih berdalih. "Yoya mauh tamban, Tek." seloroh anak itu.


"Oh kamu salah, Mas. Saat pelajaran itu saya lagi nonton di bioskop sama Neneknya Rora." ujar Bilmar Artanegara bangga.


"Mungkin dulu mata Mamanya Ammar ketutupan pipa kali ya. Heran aja kok mau sama kamu, Mas. Jaman SMA udah pacar-pacaran aja. Kencing aja pasti masih bengkok. Haha." ledek Papa Galih. Buru-buru lelaki itu merangkak cepat membawa Rora. Tidak tahu saja Papa Bila, kalau besannya juga sama seperti dia. Terjerat cinta di masa SMA dengan sang istri.


"Enak aja bengkok! Baru di lahirin juga udah lurus!"


Amarah yang beberapa jam lalu menyibak di hati mereka kini sudah beralih hangat dan memudar. Kembali terjalin jalinan kasih sayang antar sesama.


Keluarga tetaplah keluarga. Tidak akan berubah sampai kapanpun. Baik buruknya kelakuan keluarga kita, ia tetaplah bagian kita. Karena sejatinya keluarga adalah tempat ternyaman untuk berpulang.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Di ruang tamu sudah berkumpul Mahendra, Alex, Bima dan Denis. Para lelaki itu datang kerumah orang tua Ammar, setelah Ammar memberitahukan bahwa ia sudah diterima kembali oleh dua keluarga besarnya.


Sekaligus Mahendra membawakan koper milik mereka yang masih dirumah. Mahendra sempat syok dan takut saat tidak mendapati Gana dan Aidan dirumah, sesaat Ammar pergi bersama Rora. Dan terkaannya benar kalau Gana pasti membuntuti Ammar.


Terlihat mereka berempat sedang serius berdiskusi, membahas langkah apa yang harus Ammar ambil untuk melawan Frady. Namun, sebelum mereka berempat datang, Ammar dan kedua Papa sudah berembuk.


"Jadinya bagaimana, Mar?" tanya Mahendra.


Ammar tidak menjawab. Ia masih fokus menatap Gana yang sedang berpeluk dengan Gemma dan Gelfa di sofa ruang tivi. Lelaki itu tersenyum, melihat senyum bahagia terpancar dari wajah istrinya.


Berkumpul lagi dengan keluarga besar, kembali ia rasakan. Rasa bersalah kepada istri, mama dan Papa serta mertuanya sudah berangsur menghilang. Seakan bisul merah sudah pecah. Lega hatinya, tenang jiwanya sekarang.


"Mar?" Mahendra kembali memanggil.


"Marimar?" kini Alex yang memanggil.


"Dasar beleks!" Ammar berdecak. Lelaki itu kembali beralih kepada mereka. Ammar melempar satu bantal sofa ke arah Alex dan Mahendra. Dan apesnya wajah Bima yang tersentak. Denis terkekeh tidak habis-habis.


Hanya suara dari bapak-bapak yang akhirnya menggema dirumah ini. Ammar menghela napas panjang sebelum akhirnya mencuatkan keputusannya.


"Sesuai kemauan kedua Papaku. Aku akan go public. Kembali menjadi Ammar yang dulu. Kembali mengelola Eco Group. Begitupun Gana, kami akan kembali ke dunia masa. Aku akan menghubungi Farhan terlebih dulu untuk meminta maaf. Aku yakin dia akan memaafkan aku, karena kami mempunyai kesalahan yang sama."


Keputusan sudah Ammar buat. Dan semua orang merestuinya. Ia yakin Farhan pasti mau berdamai. Karena ia tahu sekali, di sisi lain Farhan. Lelaki itu mempunyai hati yang lembut tanpa banyak orang yang tahu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบbersambung๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Like dan Komennya ya, sebelum nanti kangen lama sama Abang. Beberapa part lagi tamat ya guyss๐ŸŒพ๐ŸŒพ

__ADS_1



__ADS_2