Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Lamaran Malam Ini.


__ADS_3

"Ammar? Adiknya Kak Maura 'kan?" seru Gelfa sambil mengedikkan pangkal bahunya.


Semua keluarga besar Hadnan, tercengang hebat. Setelah mendengar pengakuan Ganaya yang mendadak. Gemma menggelengkan kepalanya samar, menatap sang Kakak dengan tatapan tidak percaya.


Begitupun Gifali yang sekarang ada di sini. Dua lelaki itu diminta pulang cepat dari kantor untuk bergegas pulang ke rumah orang tuanya. Karena sang Adik ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.


Mendengar seruan itu, Ganaya mengangguk mantap. Ia memandang wajah Papa yang diapit oleh Gemma dan Gifali, yang masih menatapnya dengan ribuan pertanyaan yang sulit untuk dikeluarkan.


"Selama ini, kami saling mempunyai rasa. Tapi kami tidak pernah jujur. Hanya memendam saja ... merasa kami adalah keluarga dan umurnya lebih muda. Maka dari itu Gana lebih memilih Adri." susah sekali mengucap nya. Ganaya kembali berenang dalam kesalahan, yaitu membohongi keluarga besarnya.


"Kok, bisa?" selak Gemma.


"Jadi maksud kamu, Ammar selama ini menyukaimu, Gana?" sambung Gifali.


Ganaya mengangguk. Lelaki berdasi itu mendesahkan napas berat, rasanya seperti tercekik. Ia sampai melonggarkan kaitan dasinya karena sulit sekali untuk percaya. Ammar? Adik iparnya? Sejak kapan?


"Pantas saja pernikahannya dengan Asyifa di batalkan. Apakah Bunda tau hal ini, kalau adiknya menyukai adikku?" Gifali membatin dan teringat kepada istrinya. Ia merasa Maura akan tercengang, namun kenyataannya dirinya lah yang lebih terperanjat.


"Kamu seperti ini, bukan karena masalah Adri kan?" Papa kembali membuka suara.


"Jika Gana bilang tidak. Sepertinya itu bohong, Pah." wanita itu menjeda ucapannya. Ada air mata yang ingin ia teteskan, namun usapan sang Mama dipunggung nya. Membuat ia bertahan untuk menahan.


Tidak lagi


Tidak mau


Tidak boleh


Dirinya harus legowo. Harus menerima dan harus kuat, kalau permasalahannya dengan Adri sudah kelar sampai di sini. Hanya ada Ammar, ya ... lelaki yang akan menikahinya.


"Restui Gana dan Ammar, Mah, Pah." ucap Gana, ia lebih dulu menoleh ke samping dan menatap sendu wajah Mamanya lalu beralih ke wajah sang Papa. "Doakan Gana dengan lelaki pilihan Gana."


Mama Difa memberi kode mata kepada suaminya. Untuk memberi restu. Tentu kebahagiaan sang anak adalah segala-galanya. Mama Difa berharap, Ammar bisa menyembuhkan luka putri tercintanya.


Papa Galih yang sedang merenung lama, akhirnya mengangguk.


"Papa dan Mama mengizinkan ... bagaimana dengan Kakak dan Adek?" Papa menoleh ke arah Gifali lalu bergantian kepada Gemma dan Gelfa.


"Kakak setuju saja, jika Ganaya juga menyukainya. Sejatinya, Ammar adalah lelaki baik, penyayang keluarga, dan amat bertanggung jawab. Pesanku, lupakan Adri jika sudah bersamanya, Gana." ucap Gifali.


"Gelfa setuju. Yang penting Kakak bisa bahagia, dan merasakan indahnya mahligai rumah tangga." jawab Gelfa sambil menggenggam tangan Kakaknya.

__ADS_1


"Kakak menikah secepat ini dengan Ammar, bukan karena tersendat dengan hubunganku dan Fara 'kan?" Gemma menatap datar wajah sang Kakak.


Seperti tidak ada ekspresi setuju darinya. Karena diam-diam, selama ini Gemma mencurigai tentang bisnis sampingan Ammar. Walau semua itu masih menjadi terkaannya saja, masih kelabu belum bisa memberikan suatu kebenaran.


Namun ia hanya diam, karena tidak ingin menimbulkan masalah di antara keluarga dengan tuduhan-tuduhan tersebut.


Lidah Ganaya tercekat. Rasanya air ludah sudah banyak mengumpul di kerongkongan. Bolehkah jika ia jawab 'betul' kepada Adiknya itu?


Ganaya dengan senyum mengembang tinggi dengan mantap, kepalanya menggeleng. "Tidak."


Gemma kembali hening lama. Sampai Papa kembali menghentak halus bahunya. "Bagaimana, Dek?"


"Ya sudah, aku juga setuju. Apapun yang menjadi keputusan Kakak, aku hormati."


Mama Difa tersenyum dan bisa bernapas lega. Tidak ada lagi masalah dalam keluarganya. Anak-anaknya akan menikah sesuai waktu yang memang sudah ditetapkan.


"Rencananya kapan Ammar akan datang kesini dengan orang tuanya?" tanya Mama.


"Malam ini, Mah, Pah, Kak, Dek ..."


Sama halnya dengan keluarga Artanegara yang berseru histeris di seberang sana, begitu pun keluarga besar Hadnan di sini.


Ammar dan Ganaya berhasil membuat dua keluarga tersebut tersentak hebat.


***


Keluarga Hadnan juga kembali kaget, ketika mengetahui didepan gerbang sudah banyak yang menjaga. Beberapa orang-orang bersenjata milik Ammar telah berdiri tegap di sana.


Ammar dengan gerakan cepat, langsung mendatangkan pihak wedding organizer termahal untuk membuat dekorasi lamaran dengan Ganaya agar berkesan. Memilih katering terenak, serta Mua, Hair Stylist, dan perancang busana, untuk calon istrinya serta keluarga besarnya.


Gelfani dan Mama Difa menatap takjub, ketika banyak orang yang datang kerumah mereka untuk menyiapkan prosesnya.


"Hebat banget Ammar ya, Mah. Tinggal tunjuk, semua jadi." ucap Gelfa.


Wanita dengan perut buncit itu fokus menatap pelaminan dekor yang tidak terlalu luas, tapi sangat elegan, mahal dan antik. Ada insial G & A yang dikelilingi dengan rumpaian bunga-bunga mawar kesukaan Gana.


Di sisi-sisi kolam renang. Ada pondokan katering sudah berjajar terbentang luas. Cukup banyak, menu lengkap dan rasa enak. Semua yang Ammar siapkan untuk malam ini, sangat spektakuler. Ia ingin terlihat berbeda dari Adri. Tentulah, sang Mafia tidak ingin disamakan atau di saingi.


Mama Difa mengangguk. "Semoga Ammar bisa menjadi suami yang baik untuk Kakakmu, Nak."


"Aamiin, Mah." jawab wanita hamil itu dengan riang gembira. Siapa sangka, Kakaknya akan menikah dengan seorang jutawan, pengusaha terkenal dan tentu mafia kelas berat yang akan diburu oleh polisi.

__ADS_1


"Permisi ..."


Mama Difa dan Gelfa yang sejak tadi sedang memperhatikan para pekerja yang sedang mendekor rumahnya, lantas menoleh.


"Siapa dulu yang mau di make up? Ibu Ganaya sudah selesai soalnya ..." tanya asisten perias.


"Mama saya aja dulu. Dibuat mudaan lagi ya, biar Papa saya pangling." ucap Gelfa dengan kekehan geli.


"Adek!" seru Mama.


"Hehe. Ampun, Mah."


Mama Difa menggeleng malu, kemudian berlalu untuk naik ke lantai atas, untuk siap di dandani.


Gelfa melangkah untuk menghampiri Gemma yang masih berdiri di tepi kolam renang memperhatikan para pengelolah katering.


"Fara belum datang? Biar sekalian di dandani." suara Gelfa sontak membuat Gemma terlonjak.


"Eh, iya, Kak. Katanya sedang on the way."


"Kamu ada apa, Gem? Kok melamun terus dari tadi siang?"


Gemma menggeleng dan memberikan senyumannya. Ia menggandeng Gelfa untuk kembali masuk kedalam rumah. "Ibu hamil jangan kebanyakan mondar-mandir." sergahnya.


Gelfani hanya mendengus malas, ia tahu Adik lelakinya ini sedang memikirkan sesuatu. Apalagi jika bukan tentang pernikahan Ammar dan Ganaya yang akan dilakukan seminggu lagi.


***


Terlihat seorang wanita cantik memakai dress brokat putih dan aksen mahkota bunga-bunga yang melingkar di kepala dan rambut yang tergerai indah begitu saja sedang duduk sendirian di tepi ranjang, sesekali tangannya mengusap ponsel dan hanya membuka-buka aplikasi sosmed tanpa pandangan khusus.


Polesan make up dari perias terkenal, mampu membuat wajahnya sangat mengkilap, glowing dan membuat pangling. Ganaya sudah siap lahir batin untuk dilamar. Jujur dirinya tegang dan gugup. Kepalan tangan Gana terasa dingin sekali. Walau Lamaran ini tidak pernah ia harapkan dan bayangkan sama sekali, bisa terjadi di malam ini.


Ammar memaksa Gana untuk mengganti nomor ponselnya, agar Adri tidak menghubunginya lagi. Karena ingin belajar menjadi istri yang penurut dan baik, maka Gana mengiyakan permintaan calon suaminya tersebut. Walau hatinya masih berat.


Beberapa kali ia ingin menelepon lelaki itu, untuk menanyakan bagaimana keadaanya sekarang, cinta itu memang buta dan tuli. Tapi Ganaya urung melakukannya, perasaannya sangat kuat untuk lebih membenci.


"Kak ... Ammar dan keluarganya sudah tiba." ucap Gelfani setelah langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu kamar Kakaknya. Gelfani menghampiri Gana yang masih terduduk sambil menunduk di bibir ranjang yabg sedari tadi menunggu aba-aba untuk turun. Tatapan matanya yang masih menatap layar terang di gawai seketika menoleh.


Ganaya mengangguk. Ia beranjak bangkit dan berdiri dengan debaran jantung dan helaan napas lalu melangkah sambil menerima gandengan tangan sang Adik. Wanita itu mengucap kata Bismillah. "Lancarkan malam ini, Ya Robb."


***

__ADS_1


Lamaran guyss, siapa yang senang? Haha😬🤭



__ADS_2