
Berkali-kali Ammar menurunkan tangannya dari stir kemudi, ingin menggenggam tangan Gana, namun sang istri enggan. Gana menarik tangannya agar tidak dapat disentuh.
Di sepanjang perjalanan Ammar terus saja membatin dalam hati, mengapa Gana susah sekali untuk dibujuk. Padahal ia sudah meminta maaf walau bukan dengan kesalahan yang ia perbuat.
Adela yang sedang duduk dipangkuan Ammar menoleh ke arah Mamanya yang tengah memangku Alda, dengan raut penuh tanya.
Ada apa dengan Mamanya? Mengapa sikapnya dingin seperti itu kepada sang Papa?
Pun sama dengan Aidan, Aurora dan Attaya di bangku belakang. Ia menilik orang tuanya di depan dengan raut sedih. Gana adalah Mama periang, ia akan banyak berceloteh jika mereka sedang berada di dalam mobil, menikmati pemandangan jalan.
Berbeda sekali sekarang, wanita itu hening seribu bahasa. Anak-anak merasakan perbedaan mood Gana memang sejak tadi pagi. Kelopak mata Gana bengkak, ia hanya ingin di kamar seharian. Padahal mulut Ammar sudah berbusah, menjelaskan duduk perkara dari semalam. Tapi, Gana tidak mau mendengarnya. Ia merasa Ammar tetap berbohong.
Sore ini sebelum adzan Magrib, Ammar memboyong keluarganya untuk bertandang ke rumah Papa Bilmar dan Mama Alika. Mereka akan shalat tarawih berjamaah, sahur dan buka puasa pertama. Pun dengan Maura. Ia akan membawa ke lima anak dan suaminya ke sana. Nanti malam, rumah Mama dan Papa pasti akan ramai luar biasa.
"Mau bawakan apa untuk Mama dan Papa?" Ammar membuka percakapan kepada Gana.
Gana membisu. Bukan ia tidak mau membelikan buah tangan untuk mertuanya. Tapi, ia hanya malas bersautan suara dengan suaminya.
Menjadi anak tertua, Aurora pun berinsiatif, ia mengelus bahu Mamanya dari belakang. "Mah? Itu Papa tanya," ucapnya.
Ammar menghela napas menahan sesak di dada. Gana memang gampang merajuk, tapi ia juga gampang di bujuk. Dan baru kali ini, Gana merajuk lama seakan ada meteor besar menghardiknya.
"Ya, apa aja," jawab Gana datar.
"Enaknya apa, ya?" Ammar kesampingkan dulu rasa kesalnya yang mulai tersulut karena Gana tetap saja bersikap dingin padanya.
"Terserah!" balas Gana ketus. Bukan hanya lelaki itu yang menarik napas, tapi juga seluruh anak-anak nya. Sampai Alda saja yang sedari berceloteh tidak jelas, mendongak menatap Mamanya.
"Maaaaaah!" serunya. Tangannya yang mungil terulur ke atas. Dan Gana akhirnya tersenyum menatap Alda. "Iya, Nak," balas Gana.
Adela berbisik di telinga Papanya. "Mama agih tenapa cih, Pah?"
Ammar hanya menggeleng. Ia bingung ingin menjawab apa. Mobil mewah mereka tetap melaju tanpa sopir. Jika biasanya Ammar berseru riang ketika mengemudikan mobil untuk keluarganya. Kini, ia terlihat hampa. Wajahnya ikut tertekuk seperti Gana.
__ADS_1
"Mama sama Papa lagi kenapa sih, Kak?" bisik Aidan kepada Rora.
"Dari tadi pagi, diam-diaman terus," timpal Taya.
"Lagi berantem kayaknya," balas Rora kepada adik-adiknya.
Gana dan Ammar bisa mendengar bisikan ketiga anak mereka di bangku belakang. Ammar menoleh ke arah Gana, mencoba memegang tangannya lagi untuk merayu. Dan terulang lagi, Gana menepisnya.
"Dek!" seru Ammar, rasanya kesabarannya mulai hilang.
"Pah!" Anak-anak menyergah nya, termasuk si keriting. Mereka takut Ammar yang sudah berseru dengan nada tinggi akan melukai sang Mama. Ammar menghela napas berat. Ia cengkram stir kemudi kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Gana menurunkan ego nya sedikit. Ia juga memiliki rasa takut kepada Ammar, jika lelaki itu sudah mengeraskan rahangnya. "Berhenti di Swiss Bakery aja," ucap nya.
Ammar hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Ia pun kesal dengan sikap Gana yang terus merajuk seperti ini.
...🌾🌾🌾...
"Udahan, ya, Kek. Udah sejam ngurut nya," ujar Bisma. Cucu kembarnya yang saat ini sudah berusia dua puluh tahun tengah menempuh pendidikan di sekolah angkatan darat, sudah mengeluh letih sedari tadi.
"Ayo yang bener ngurutnya. Kamu tuh calon TNI. Masa ngurut aja kayak anak perempuan. Lembut banget!" decak Kakeknya.
Bisma memiringkan sudut bibir setelah memasukan uang seratus ribu ke dalam kantung celana. Ia hanya diam mendengarkan ucapan Kakeknya. Ia kembali memijat.
Rumah mewah ini terdengar lebih berisik, apalagi suara Adela begitu nyaring. Ia tengah berlari-lari karena dikejar-kejar Pradipta. Dipta gemas sekali dengan si keriting. Sedangkan Geisha sedang asik menatap layar gawai bersama Taya dan Aidan, menonton yutub.
Lantas Ginka dan Ghea tengah memakai Rora sebagai percobaan untuk manekin hijab. Ginka dan Ghea walau masih duduk di bangku SMA, tapi mereka sudah berbisnis. Terbukti usaha hijab dengan brand mereka, laku di ranah online.
Mama, Gana dan Maura tengah bermain-main dengan Alda sambil duduk melantai menonton televisi, di sebelah Papa yang sedang dipijat Bisma. Setelah shalat tarawih berjamaah, mereka semua kumpul di ruang tivi, kecuali Ammar dan Gifali yang tengah duduk di ruang tengah. Sedang bermain catur.
Dan.
Semua menoleh saat Adela berseru dalam tangis. Ia berlari menghampiri Gana dan mengadu. "Mah, maca tatana Kakak, akuh anak olang, Mah. Anak ketukel di lumah cakit. Huwaaaa ...," ucap Adela sambil menunjuk ke arah Pradipta yang langkah baru tiba di hadapan mereka semua.
__ADS_1
Gana yang suasana hatinya masih belum baik, dan sesampainya di rumah mertua lebih banyak diam. Hanya mengelus sang anak. Tidak menimpali apa-apa. Mama dan Maura sejak tadi pun bertanya-tanya. Ada apa dengan Gana? Seperti berbeda dari biasanya.
"Kakak hanya bercanda, maafin, ya," timpal Maura. Kini, Dipta bergelayut manja di bahu Bundanya. Ia kembali menggoda Adela yang masih menangis. "Anak orang nih, pantesan keriting sendiri ...."
"Aaahhhhhhh!! Mama ...," Adela semakin merajuk. Ia sampai menjambak rambutnya yang keriting seperti indomie goreng.
"Dipta!" Mama mengingatkan untuk berhenti meledek, begitupun dengan Maura. Mereka merasa tidak enak kepada Gana, karena wajah Gana terlihat mulai kesal. Padahal selama ini, Gana terkenal sebagai tante yang asik. Bisa di ajak bercanda. Tapi, karena ulah Yanti semalam. Membuat Gana berubah, menumpahkan kekesalan kepada semua orang.
Adela mendekat, seraya ingin memukul Dipta untuk berhenti berceloteh. "Pukul nih, ya!" tangan Adela sudah terangkat naik ke atas, namun di sergah oleh Maura. "Jangan dong, Nak," Maura mengusap kebasahan di wajah Adela.
"Sini, Nak. Sama Kakek," Papa melambaikan tangan. Dan Adela menggeleng tidak mau. "Sini, ting! Nanti di kasih duit sama Kakek," sela Bisma. Kedua tangannya masih saja mengurut betis Kakeknya.
Ting? Keriting 'kan maksud nya? Merasa diledek juga oleh Bisma. Adela mencebikkan bibirnya lagi. Kini, tangisannya lebih kencang. Sampai semua menoleh ke arahnya.
Gana menghela napas berat. Ia bangkit berdiri dan menggendong paksa Adela, untuk di bawa ke kamar.
"Jangan nangis terus! Mau kamu Mama kurung di kamar mandi!!" sentak Gana. Dan semua mata yang memandang terheran-heran. Sampai Alda pun menangis karena Mamanya pergi meninggalkan dirinya.
"Mahhhhhhh ... Mama ...," seru Alda. Ia mencoba merayap untuk mengejar, namun Maura dengan cepat menggendongnya.
Papa, Mama, Maura dan para anak-anak mengerutkan dahi. Mereka bingung dengan sikap Gana yang amat berbeda.
"Ada apa dengan Gana? Apa ada masalah?" tanya Gifali kepada Ammar. Ia hapal sekali sifat Adiknya. Tidak mungkin Gana marah karena hanya soal anak yang digoda.
DEG
Jantung Ammar berdentam. Bisa habis dia kalau masalah kesalahpahaman tadi malam terkuak di depan keluarga. Jatuh harga dirinya, karena di tuduh main serong dengan pembantu. Belum lagi jika Papa Bilmar tahu, Ammar pasti akan binasa.
Ammar menggeleng dan menjawab, "Enggak ada, Kak."
Gifali hanya mengangguk saja. Ia kembali menatap papan catur.
"Ayo, Kak. Susul Gana ke kamar," ajak Mama kepada Maura. Selain untuk mengantarkan Alda, ia juga ingin bertanya apakah ada masalah yang sedang Gana pikirkan.
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...