
Mahendra Hutomo. Lelaki dua puluh tujuh tahun. Beliau adalah seorang milyarder muda yang mempunyai banyak usaha. Ia dipilih menjadi ketua perhimpunan pengusaha indonesia, karena keberhasilannya di kaca industri yang sangat fantastis.
Karena kecerdasannya, dua bulan lalu ia berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan penghasil logam dan baja terbesar di spanyol.
Ia berhasil menggeser Ammar. Membuat Ammar kalah dalam tender tersebut. Ammar murka dan ingin menghabisi Mahendra kala itu. Tetapi Ammar masih berfikir panjang, karena ia masih menghormati Mulan dan suatu rahasia yang masih mereka genggam yaitu tentang usaha haram yang masih berjalan.
Ammar dan Mahendra sama-sama tahu, kalau mereka mempunyai usaha sampingan yang terlarang dari publik dan keluarga. Mereka hanya bisa sama-sama bungkam, menjalani usaha dalam kapasitas masing-masing. Tidak saling menyenggol, karena mereka berdua memegang kunci masing-masing.
Namun Ammar tidak tahu, jika saat ini Mahendra sudah lebih dulu mundur dan bertaubat. Ia memutuskan kembali ke jalan yang benar ketika mengetahui sang Anak telah di vonis mempunyai penyakit jantung oleh Dokter.
Karena dalam lima bulan terakhir ini, perusahaan Mahendra ada di urutan pertama dalam bursa modal industri, maka Ganaya tertarik untuk bekerja sama dengannya.
Perusahaan Gana, Hadnan Group juga sudah bekerja sama dengan Eco Group, sejak sepuluh tahun yang lalu. Maka dari itu, Gana ingin menambah investor baru. Ingin mendapatkan tekhnologi tercanggih dari orang-orang yang berbeda.
Mahendra, menyetujui kontrak kerja dengan Hadnan Group, karena perusahaan ini dikenal konsisten, jujur dan transparan. Mahendra juga sudah banyak ditipu oleh perusahaan lain. Maka dari itu ia sangat setuju ketika beberapa bulan lalu Ganaya mengontak dirinya, untuk melakukan kerja sama.
"Maaf kalau pertemuan kita di undur selama ini, Pak. Saya sangat menyesalkan." ucap Gana diringi senyuman yang ramah dan penuh hormat.
Kini, perbincangan mereka sudah kembali kedalam bahasa informal. Setelah melakukan perbincangan dengan bahasa formal dalam membahas saham yang akan Mahendra kucurkan di Hadnan Group.
Mahendra mengulumm senyum. "Tidak apa-apa, Bu. Saya dengar-dengar Ibu Gana sudah menikah? Tapi, ada juga berita yang mengabarkan Ibu Gana gagal menikah." Mahendra menjeda kalimatnya yang disertai gelak tawa singkat. "Saya jadi bingung, entah 'kah mana yang benar. Namanya juga infotainment."
Yang Mahendra tahu, ada berita yang menginformasikan, tentang rencana pernikahan Presdir Hadnan Group dengan Presdir Wiryawan corp. Tetapi tidak lama berselang ada simpang siur kabar miring tentang pembatalan pernikahannya dengan Adri, dan di ganti dengan lelaki lain yang masih disembunyikan jati dirinya. Gana memang masih membungkam mulut kepada awak media dan di para barisan pengusaha lainnya. Ia akan memberitahu semua orang, jika waktunya sudah di rasa tepat.
"Saya memang batal menikah dengan calon suami yang dulu. Tapi sekarang saya sudah menikah dengan lelaki yang berbeda, baru tiga hari, Pak." jawab Gana apa adanya.
Mahendra sedikit terkejut. Lelaki itu ingin sekali mengulik. Tapi ia faham, hal ini bukan ranah nya. Mahendra bukanlah Lambeberbuah atau Lambecincong yang hobinya menyongsong gosip-gosip tetangga rumah sebelah. Eh ... Maksudnya gosip-gosip yang lekat degan masalah disekitar para pengusaha, artis dan lainnya.
"Selamat ya, Bu. Semoga Ibu selalu berbahagia dengan suami."
Gana mengangguk, memberikan senyuman tipis. "Terima kasih banyak, Pak."
****
Sudah dua jam berlalu, dari pertemuannya dengan Mahendra. Gana terduduk menyandar disandaran kursi kerja, dengan tangan terlipat di dada. Diiringi dengan wajah yang berbinar-binar. Senyumnya terus saja merekah. Wanita itu sangat gembira, karena berhasil mendapatkan kucuran dana dari Mahendra.
Ia sedang membayangkan bagaimana wajah Papa Galih, ketika lelaki itu tahu anak perempuannya berhasil memajukan Hadnan Group, setelah sang Kakak melepaskan perusahaan ini kepadanya. Ia berencana akan pergi ke rumah orang tuanya di hari weekend dan memberi surprise akan hal ini.
__ADS_1
"Aku harus memberitahukan berita penting ini kepada Ammar, dia pasti ikut senang." gumamnya. Gana meraih gawai yang tergeletak di atas meja. Ia mencari kontak suaminya.
Tut ... Tut
Hanya suara itu yang terdengar di sambungan telepon. Ammar tidak menjawabnya.
"Lagi apa ya, Ammar?"
Gana teringat kepada Bima dan Denis, tapi sialnya ia baru ingat tidak mempunyai nomor mereka berdua.
"Mungkin Ammar sedang sibuk." ucapnya sambil menurunkan gawai dari telinganya kemudian mematikan sambungan telepon itu yang masih tidak terjawab oleh Ammar.
Ganaya beranjak berdiri dari kursi, tapi wanita itu langsung mematung. Terlihat tangannya terangkat meremat kain jas didepan dada. Dadanya tiba-tiba sesak. Gana sulit bernapas. Ia meringis, menatap bayangannya di meja kerja yang terbuat dari bahan kaca berwarna gelap.
"Ya Allah ... kok bisa kambuh begini?" rintihnya pada tubuhnya yang mulai lemah.
Penyakit asma miliknya kambuh lagi. Mungkin karena selama ini, ia terlalu memikirkan Adri dan rumah tangganya bersama Ammar. Banyak fikiran sangat berpotensi untuk membuat penyakit itu muncul.
Gana merogoh tas, mencari inhaler asma yang biasa ia pakai. Tetapi wanita itu hanya bisa mendesahkan napas frustasi, karena baru terkngat kalau alat tersebut sudah ia buang. Karena masa kadar pakainya sudah terlewat, dan Gana lupa membeli yang baru, karena fikirannya sudah teralihkan dengan beberapa masalah di akhir-akhir ini.
Gana mencoba menarik napas dari udara lalu menekannya ke dalam dada. Tapi sama saja, ia tetap sesak. Malah semakin berat. Ada suara wizzy dari dalam dadanya.
"Hallo, Bu?"
"Hani tolong saya."
Terdengar suara panik dari sambungan telepon. "Ibu, kenapa?"
"Han, tolong!" Gana semakin meringis. Dadanya makin terhimpit.
Ia melirik gawainya yang masih menggelap. Menyatakan kalau Ammar belum menghubunginya balik. Tangannya kembali
terjulur untuk meraih gawai.
Dengan dada yang terus sesak, ia mencoba menekan nomor suaminya lagi. Tapi sebelum ia lakukan, tubuhnya seketika terhuyung disertai teriakan Hani dari ambang pintu.
"IBU!"
__ADS_1
***
Kelopak mata Gana terbuka perlahan-lahan, ketika sudah tegap terbuka, kelopak mata itu kembali memicing karena sorotan lampu yang sangat tajam ke arahnya.
Selang oksigen sudah terpasang di kedua lubang hidung Gana. Gerakan dadanya mulai normal. Rasa sesak sudah berkurang. Ia mengulas senyum kepada Hana dan dua staf lain yang sedang berdiri di tepi ranjangnya. Mereka membawa cepat Gana ke IGD Rumah Sakit.
"Terima kasih banyak ya." ucap Gana kepada mereka.
"Sama-sama, Bu." jawab mereka serentak.
"Kembali saja ke kantor. Saya akan meminta suami saya untuk menjemput."
Ada kerutan di dahi mereka, ketika Presdirnya minta untuk ditinggal sendirian dengan keadaan masih lemah seperti itu. Seakan tahu apa yang ada dalam fikiran bawahannya, Gana kembali bertutur.
"Jangan cemaskan saya. Saya sudah mendingan, kalian kembali saja ke kantor."
"Kalau ada apa-apa, kabarin saya ya, Bu." ucap Hani mewakilkan mereka semua. Mereka pun berlalu setelah mendapatkan anggukan kepala dari Presdirnya.
Gana masih merebahkan tubuhnya dengan kepala ranjang yang di naikan ke atas. Agar bisa membuat Gana semakin rileks dalam mengambil napas.
Namun, kedua matanya menatap lurus dan hening sesaat. Ketika ada seorang anak kecil yang juga sedang menatapnya dengan tatapan serius, seolah seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Anak lelaki yang sedang terbaring di ranjang pasien berhadapan lurus dengannya, yang juga berpenampilan sama seperti dirinya. Sedang memakai selang oksigen di kedua lubang hidungnya.
Dan di detik setelahnya. Anak lelaki itu berteriak ke arah Gana.
"Ante!" suaranya yang begitu nyaring, membuat sang Ibu yang langkahnya baru saja sampai di tepi ranjang, karena baru mengurus administrasi, lantas menoleh ke arah Ganaya.
Gana mengerjap mata berkali-kali. Seraya mengingat dua sosok yang sekarang ada dihadapannya.
"Dava ... Mbak Mulan?"
***
Si dedek kemana nih, Istri kesayangannya lagi atit juga.
Like dan Komen ya guyss🌺🌺
__ADS_1