
Tangan Mama Difa yang begitu saja ingin terulur memeluk leher Gana, lantas terhuyung ke bawah dengan desahan napas yang berat. Wanita tua ini kembali sesak. Ia menoleh ke arah suaminya yang juga sedang menatap Gana dengan raut tidak percaya.
"Kamu lupa siapa kami? Tidak kenal orang tuamu, Gana?" ucap Papa dengan mata membola hebat. Gana menatap bingung kepada orang tuanya. Permukaan kulit para keluarga Artanegara, seketika meremang. Mereka takut, lelaki beruban yang sekarang sedang mencecar Gana pasti akan mengerang habis kepada Ammar.
"Gana! Jangan bercanda!" Papa Galih kembali menghentak.
Gana hanya menatap Papa dan Mama bergantian dengan wajah meringis, takut dan susah berkata-kata. "Orang tua saya?" ulang Gana pelan, seraya berfikir.
Oh,Tuhan. Gelap sudah dunia Ammar. Jantung lelaki itu sepertinya ingin lenyap.
Habislah Ammar. Habis!
"Bang ... Ada apa ini, Bang? Buu--bukan--bukannya, Abang bilang kalau orang tua kita sudah tiada?" tanya Gana tergagap-gagap.
DARR.
Bola mata Papa Galih, Mama Difa dan Gifali membeliak sempurna. Seperti ingin rontok dan terserak.
"Astagfirullahalladzim, Ammar. Teganya kamu seperti ini, Nak?" tanya Mama Difa dengan air mata. Ia menatap menantunya dengan tatapan sakit, perih dan kecewa.
Yang ditatap, memberikan tatapan sendu tidak bisa berucap. Seakan lidah Ammar diikat dengan tali tambang.
"Keterlaluan kamu Ammar! Orang tua kami masih hidup, kamu bilang sudah mati?" kini Gifali yang bersua dengan nada tinggi. Ia mengecam perbuatan adik iparnya yang di luar nalar.
"Ayah!" tanpa sadar Maura berseru kencang kepada suaminya. Seakan ia tidak terima kalau adiknya di hardik, walau Ammar bersalah.
Gifali memicing mata kesal kepada Maura. "Berani kamu membentak suami!"
Maura langsung melipat bibirnya dalam-dalam. Ia diam.
"Bang ...." panggil Gana dengan nada takut. Ketakutannya muncul, saat melihat suasana di rumah ini terasa panas, membuat ia bergedik ngeri. "Jawab, Bang. Ini semua enggak benar 'kan? Abang enggak bohongin Adek 'kan?" Gana kembali memastikan, ia memaksa Ammar untuk berbicara.
Air bening menetes dari bola mata Ammar yang masih menyorot lekat, istrinya tanpa kedipan sama sekali. Hawa panas, dingin, dan seram, saling bertautan menjadi satu. Mama dan Papa menggenggam tangan Ammar untuk memberi anaknya kekuatan, seraya melindungi.
Baru saja Ammar ingin menjawab. Tapi Papa Galih kembali berteriak, membuat semua dada bergetar.
"JAWAB, AMMAR!" lelaki beruban itu menatap keji menantunya. Rahangnya mengencang, seperti seekor buaya buas yang ingin melahap habis daging manusia. Kecewa sekali lelaki ini.
Mengapa Ammar terus menyiksanya dalam luka?
"Mas!" Papa Bilmar berseru, seakan membela sang anak.
"Diam kamu, Bilmar!" Papa Galih menatap tajam besannya. Kekecewaan dan amarah menutup akal sehatnya.
"Seharusnya anak-anak kita tidak perlu menikah!
Seharusnya dulu, kita tidak perlu bertemu di resort!
Seharusnya kita tidak pernah berbesan! ANAKMU ITU!" Papa Galih menunjuk Ammar dengan wajah yang sudah basah.
"Sudah menghancurkan keluarga saya! Mencoreng nama baik kami! Dan sekarang lihat!" Papa menoleh ke arah Gana.
"LIHAT!! Anak saya sudah di anggap mati oleh orang banyak! Dan setelah kembali, ia tidak ingat kami! Lalu, pembelaan apa yang ingin kamu beri untuk anakmu itu, Bilmar!" otot-otot hijau menyembul di pelipis Papa Galih.
DEG.
Sakit sekali mendengar ucapan Papa Galih. Segala bentuk kekecewaan ia lontarkan tanpa jeda. Wajar, orang tua mana yang akan terima mendapatkan anak dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
Gana yang selalu fashionable, sekarang berubah menjadi wanita biasa dalam kesederhanaan. Di sembunyikan dalam rimba tanpa kehangatan keluarga yang merupakan haknya dalam hidup.
Sekali lagi, orang tua mana yang akan terima? Tentu tidak ada.
Melihat air mata Papa Galih memupuk, Papa Bilmar pun ikut menitikan air bening. Ia juga mengecam Perbuatan Ammar yang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, suratan takdir sang anak memang jalannya seperti itu.
"Maafkan Ammar, Pah." Ammar melepas genggaman tangan Mama dan Papanya. Lalu beringsut untuk bersujud di kaki Papa mertuanya. Memelas untuk di ampuni.
Papa Galih menarik Ammar untuk beranjak berdiri.
Dan.
BUG!
Papa mendaratkan pukulan panas dari kepalan tangannya kepada Ammar sebanyak dua kali. Ammar yang terhuyung lalu ditarik lagi dan dihimpit ke dinding.
"Aahh, Abang!" teriak Gana sambil menggendong Aidan ia mendekat ke arah adegan pemukulan itu.
Gana menghentak punggung Papanya. "Lepaskan suamiku, Pak! Enak saja anda main pukul!" Gana masih membela Ammar.
Linu.
Perih.
Semakin sakit hati Papa Galih. Ia tidak menyangka anak yang ia rindukan bersikap seperti ini padanya.
Papa semakin menatap Ammar dengan sorotan keji. Bola mata lelaki itu melotot sampai ke dasar. "KAMU DENGAR? AKIBAT PERBUATAN KAMU? ANAK SAYA TIDAK MENGENAL SAYA! DASAR MENANTU KURANG AJAR!!" Papa Galih kembali memukul Ammar.
BUG.
BUG.
Sampai akhirnya Papa yang malah terjatuh. Lelaki itu di hajar oleh besannya, Papa Bilmar.
BUG.
Papa Bila melayangkan pukulan panas.
"Enak saja kamu main pukul anak saya! Ammar melakukan semua ini karena mempunyai alasan yang jelas! Anak saya terpaksa menyembunyikan Gana dari kalian!" seapapun salahnya anak, orang tua pasti akan membela.
__ADS_1
"Bela saja anakmu yang penjahat itu!" ucap Papa Galih.
"Tentu! Akan saya bela anak saya sampai titik darah penghabisan!" seringai Papa Bilmar penuh emosi.
BUG.
Papa Bilmar kembali menghujam wajah besannya, sesaat lelaki itu memukul Papa Bilmar sampai terjatuh.
Masing-masing keluarga berteriak memisahkan ketika kedua Papa saling adu pukul. Walau mereka sudah tua, tapi kekuatan saat emosi, seolah muncul dua kali lipat seperti masih muda.
Keadaan menjadi semakin runyam. Semua orang tidak bisa berkepala dingin.
Bisakah untuk bersikap bijak?
Tentu sulit!
Siapapun yang berada dalam situasi yang mengagetkan seperti ini, awalnya pasti akan berteman dengan emosi. Kebohongan adalah hal yang paling menyakitkan.
Munafik sekali kalau ada manusia yang langsung melepaskan kata maaf disaat dirinya tengah terbakar api amarah. Jika tidak menunggu berangsur nya waktu, untuk bisa memulihkan perasaan.
"Huwaaaaa ...." kini, Aurora dan Aidan yang menangis. Kedua anak itu kaget. Melihat keributan dengan iringan pukulan, yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup.
Maura lebih dulu meraih Aurora dan memaksa Gana untuk memberikan Aidan padanya. Wanita berhijab itu lalu pergi membawa kedua keponakannya yang terus menangis, berserukan Mama dan Papanya. Adegan ini tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Psikis Rora akan terganggu.
Terlihat di kedua sudut bibir para Papa, memuncar darah segar. Mereka berhasil di pisahkan oleh Gifali.
"Tenang, Pah. Jangan berkelahi. Kalian sudah tua." ucap Gifa.
Walau hati Gifali pun sakit, karena Ammar kembali membuat luka di hati orang tuanya. Mama Difa dan Mama Alika sama-sama menangis memeluk suaminya yang mempunyai sifat tempramental tinggi. Seraya menenangkan untuk tidak kembali bertengkar. Mereka ini, tetaplah keluarga.
Hanya karena anak, mereka harus bergulat. Sungguh menyedihkan dan mengiris kalbu.
"Abang! Tolong jawab Adek, Bang!" kali ini, Gana mendekati suaminya yang tertunduk menahan rasa bersalah. Rasa sakit karena habis dipukul, dan rasa sesak didada, karena memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini.
Ammar mendongakkan wajah. Menatap istrinya yang sedang hamil dengan leleran air mata yang bercampur dengan peluh dan ingus.
"Maafkan Abang, Dek. Abang terpaksa berbohong. Abang hanya ingin melindungi kamu." ucap Ammar amar lirih.
"Aaa-apa, Bang? Jaa-jadi, apa yang Adek dengar sekarang, itu benar? Mereka orang kita? Dan rumah ini, rumahmu?" Gana kembali terperanjat.
Ternyata dirinya bukanlah anak yatim piatu. Keluarga Artanegara yang selalu ia dengar di televisi, yang ia rasa mempunyai kesamaan dengan nama belakang suaminya, ternyata benar bahwa keluarga itu memang keluarga suaminya. Lelaki ini adalah seorang miliyarder.
Astagfirullah. Gana menggeleng kepala dengan hawa sama sekali tidak percaya.
Bukan lah, karyawan pabrik. Yang ia kenal.
Bukan penjaga warung.
Bukan penanam sayur.
Bukan!
Ammar mengangguk lemah. Buru-buru ia genggam tangan istrinya. Seakan meminta untuk dimaafkan dan di mengerti.
Blas.
Tangan Ammar ditepis. Gana menatap lelaki itu dengan tilikan benci.
"Kenapa kamu begini, Bang? Apa alasannya? Kenapa kamu berbohong?" Gana mulai menghentak-hentak kain kemeja Ammar di bagian dada.
"Abang hanya ingin melindungimu, Dek. Dari para bandit yang sudah berusaha membunuhmu. Abang mencoba membunuh mereka untuk membalaskan dendam. Di saat Abang frustrasi karena kamu sudah dianggap mati. Kamu kembali selamat walau lupa ingatan. Lupa semuanya.
Tidak ada jalan lain, Abang terpaksa membawa Adek jauh dari sini. Saat itu keadaannya sangat genting. Kita sedang berperang dengan keluarga besar. Abang hanya tidak ingin masuk penjara dan dipaksa bercerai dari kamu."
DEG.
Bola mata Papa Galih bergoyang. Membola dan melebar. Wajahnya serasa ditampar. Lelaki tua itu tersentak dengan ucapan Ammar. Tentu perbuatan Ammar sekarang. Juga cikal bakal dari perbuatannya dulu. Yang selalu memaksa Gana agar bercerai. Isi kepalanya baru terbuka, kalau buah emosinya dulu yang membawa Ammar untuk mengambil jalan nekat.
Manik mata Gana memerah. Seakan ada tumpahan air hujan dari awan, membuat tubuhnya dingin, dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Dadanya sesak sekali, di bohongi mentah-mentah walau dengan alasan untuk memberikan perlindungan.
"Siapa Abang sebenarnya? Kenapa mereka semua ingin membunuhku?"
Ammar terdiam. Apakah ia harus jujur sekarang? Bisakah Gana menerimanya? Tapi sudah kepalang tanggung. Tidak ada yang perlu di tutupi. Semua orang sudah tahu siapa dirinya.
"Abang adalah mantan Mafia.
Seorang penjahat kelas kakap.
Penjual organ tubuh manusia.
Penjual wanita, pengedar, penjual bahan-bahan peledak. Maka dari itu, para musuh ingin membunuh Abang. Dan juga ingin mencelakai-mu."
"Astagfirullahaladzim, Abang!" Gana meremat kain baju di dadanya. Wanita itu tertohok hebat. Matanya melotot, kejujuran apa lagi ini? Gana mendongak wajah ke atas lalu memejam mata. Mencari oksigen untuk menghilangkan sesak.
Bagaimana bisa?
Lelaki ini?
Lelaki yang tersegala baginya?
Lelaki yang selalu bertutur lembut padanya?
Lelaki yang selalu rajin ke Masjid dan menjadi Muazin?
Adalah seorang penjahat dan pendosa.
"Astagfirullah, Ya Allah ... Astagfirullah!" Gana sedikit menunduk. Mengusap-usap dadanya yang terasa sempit. Tubuhnya lemas sekali. Masa lalu suaminya mengapa begitu pelik seperti ini.
__ADS_1
Ammar bersujud di kaki istrinya. Memeluk kaki Gana. Lantas mendongak ke atas. Menatap Gana yang sedang menangis. "Maafkan Abang, Sayang. Abang begini, karena cinta sama kamu." Ammar takut sekali Gana meninggalkan dirinya.
Seakan kata cinta tidak ada artinya lagi. Gana menggerakan kakinya untuk mundur. Tangan Ammar terhempas dari kakinya. Deru napas wanita itu berantakan. Ia mengusap-usap perutnya yang tiba-tiba terasa kaku. Ia masih sulit menerima pengakuan Ammar.
Lelaki yang ia banggakan tidak lebih dari sekedar buron. Mungkin juga sebentar lagi jeruji besi sedang menanti kedatangannya.
"Sayang ..." Ammar bergegas bangkit. Saat melihat Gana meringis. Tapi Papa Galih dan Mama Difa lebih dulu memegang tubuh Gana, dan membawa anak mereka untuk duduk di sofa. Orang tua itu sudah sedikit lebih tenang, karena secara singkat. Ammar sudah menjelaskan duduk perkaranya.
Papa Bilmar dan Mama Alika juga membawa Ammar untuk duduk di sofa. Menenangkan sang anak. Sekarang perkaranya bukanlah para orang tua lagi. Tapi perkara Ammar dan Ganaya. Tentang mereka berdua.
Bisa kah wanita itu menerimanya?
Gana dan Ammar akhirnya duduk di apit oleh orang tua mereka di sofa dan saling berhadapan yang disekat dengan meja. Sedangkan Gifali duduk di single sofa. Seraya menjadi penengah. Walau hatinya masih belum menerima kejadian di hari ini.
Luka yang ia anggap sudah menutup, kini kembali terbuka.
🌺🌺🌺🌺
Setengah jam lalu, Ammar berhasil jujur. Membuka dan menceritakan bagaimana kejadian dan permasalahan yang terjadi antara dirinya, Gana, Farina dan Farhan. Serta bagaimana Gana bisa ditemukan walau dalam keadaan amnesia. Ammar mengaku terpaksa membawa Gana dan menyembunyikannya dulu sampai waktunya di katakan cukup aman. Ia memang mempunyai tekad untuk membawa Gana kembali, jika keadaan sudah dirasa aman.
Mendengar penjelasan dan penuturan Ammar secara beruntut, jelas dan detail. Membuat emosi yang sejak tadi memuncak di benak keluarga Hadnan dapat berangsur memudar. Kedua Papa pun sudah melemparkan kata maaf atas perkelahian yang terjadi barusan. Luka ringan yang mereka dapati, sudah diobati. Dan lagi-lagi hanya demi anak, mereka bisa bertarung seperti itu. Buah hati adalah sesosok yang harus di amankan oleh para orang tua dalam keadaan apapun.
Tapi, Gana hanya diam saja. Ia sedikit menundukkan kepala ke bawah. Menatap perutnya yang sudah membuncit. Rasa kecewa tidak akan begitu saja terhempas.
Ammar beranjak bangkit. Lalu mendekat ke arah mertuanya. Menumpukan kedua lututnya di lantai lalu memeluk perut Papa Galih.
"Maafkan Ammar, Pah. Maafkan. Kalau saja Papa berada dalam posisi Ammar. Papa pasti akan melakukan hal yang sama." ucap Ammar sedikit dengan isakkan. Walau sedih, tapi hatinya sudah jauh lebih tenang.
Papa Galih menghela napas berat. Ia menunduk menatap tubuh menantu yang sedang memeluknya. Perlahan jari-jemarinya bergerak, mengusap dari helaian rambut sampai ke punggung Ammar. "Iya, Nak. Papa maafkan." mau tidak mau, secacat-cacatnya, Ammar tetaplah menantunya. Suami dari Anak, dan Ayah dari cucu-cucunya. Tidak mungkin ia terus menyimpan dendam, walau di ujung hatinya masih tersemat rasa kecewa.
PLONG.
Lega hati Ammar.
Tenang jiwa dan raganya.
Seakan awan gelap sudah menghilang.
Beban seakan menghilang. Sesak di dada begitu saja mengeriput. Ia peluk erat tubuh lelaki beruban itu, seperti anak bayi yang tidak mau ditinggal pergi oleh orang tuanya.
"Pa ... Ba ... Ma."
Semua mendongak ke atas. Ke tepi bibir pembatas di lantai dua. Menatap Aidan yang sedang berteriak nyaring dalam gendongan Maura. Aurora pun berdiri disebelah tantenya, ikut menilik ke arah mereka dibawah.
Papa Bilmar mengajak Aidan bergumam dari bawah, dan bayi lelaki itu terlihat antusias dan kembali bergumam nyaring membalasnya. Seakan ia ingin mencakar-cakar wajah Kakeknya. Haha.
Papa Galih refleks mencium pusara rambut Ammar. Menenangkan menantunya yang sekarang malah menangis sesegukan. Ammar menyadari kesalahannya. Kesalahan yang sudah fatal karena menjauhkan orang tua dan anak.
"Kami akan melindungimu dari mereka. Jangan pernah lari, Ammar. Semua ini harus kita hadapi. Setiap perbuatan harus di pertanggung jawabkan. Kamu adalah lelaki, contoh yang baik untuk istri dan anakmu. Hadapilah dengan berani!"
Ammar mengurai dekapan itu. Ia mengangguk dalam air mata. Kemudian meraih tangan Papa Galih dan di ciumnya berkali-kali.
"Ammar tidak akan lagi buat Papa kecewa. Ammar janji, Pah. Demi Gana dan anak-anak kami."
"Alhamdulillah, Ya Allah." desah Mama Alika. Hatinya ikut tenang dan senang. Karena anak lelakinya akhirnya di maafkan. Tidak perlu lagi takut kalau Ammar akan dipaksa untuk bercerai lagi.
"Anak kita, Pah." Mama tersenyum dengan air mata yang kembali menggenang. Papa Bilmar yang ikut terenyuh, lantas menyeka air mata istrinya.
"Hukuman dari Papa buat Mama nanti ya. Nanti malam." Papa Bilmar menyeringai tawa dalam balutan kesal. Lelaki itu tertohok, ketika Ammar menceritakan tentang kepergian ke Makassar, hanya Mamanya yang tau. Mama pun menunduk malu dan segan kepada kedua besannya. Tapi mau bagaimana lagi, beginilah kenyatannya.
"Mama juga mau hukum Papa. Kita kan sama-sama bohong. Ya, impas dong." sungut Mama. Papa memiringkan sudut bibir, susah kalau harus berdebat dengan belahan hati yang sudah kepalang terpatri dalam sanubari.
Setelah meminta maaf dengan Papa. Kemudian Ammar melewati Gana untuk berpindah ke hadapan Mama Difa. Ia melakukan hal yang sama seperti kepada Papa.
"Mah ...." lirih Ammar.
Mama Difa mengusap turun naik punggung menantu yang ia rindukan, tentunya dengan balutan tangis.
"Iya, Nak. Mama maafkan. Terimakasih karena sudah menjaga Gana dan cucu-cucu kami."
Air mata Gana menetes, mendengar isak tangis dan ucapan dari Mamanya.
"Makasih, Mah. Makasih banyak." jawab Ammar serak. Setelah selesai mencium punggung tangan Mama mertuanya. Ammar menggeser ke pertengahan. Ada istrinya yang hanya duduk, diam dan menundukkan kepala.
"Adek ...." panggil Ammar lembut. Ia mengangkat dagu istrinya, agar bisa jelas menatap matanya.
"Maafin Abang ya, Sayang." Ammar memohon. Menilik mata Gana dengan semburat kesedihan. Hanya mendung yang Ammar berikan, berharap Gana akan menggantikannya dengan sinar matahari.
Namun.
Tidak.
Gana memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap Ammar. Rasa kesal masih bercokol di hati.
"Meminta maaf? Segampang itu 'kah, Bang?"
Ammar menggeleng samar, tidak percaya dirinya, mendapati Gana yang berucap dingin seperti ini. Betul apa terkaan nya. Gana yang dulu pasti akan menerimanya.
Namun, Gana yang sekarang, apakah bisa?
🌺🌺🌺🌺 bersambung🌺🌺🌺🌺
Like dan Komennya ya guys. Oh iya aku mau kasih saran. Kalau mau ngevote, pakai aplikasi NT/MT yang udh ke upgrade ya. Kalau ttp dengan tampilan lama enggak akan masuk guys. Sayang-sayang poin kalian. Kan lumayan bisa ngevote novel author-author lain. Gitu aja deh dari aku, hihihi.
Like dan Komen aja, itu udah cukup untuk ngebayar waktu aku buat cerita ini selama tiga jam. Sehat-sehat ya kalian.
Hello, Presdir. Welcome back❤️❤️
__ADS_1