Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Ini Yang Terakhir.


__ADS_3

Masih dalam pengaruh alkohol, Ammar tidak sadar jika sudah membentak istrinya. Mengeluarkan suara kencang yang selama menikah tidak pernah ia keluarkan. Wajah Gana tertunduk ke bawah. Bahunya membuncang dengan isakkan tangis.


Sudah sedih karena di bohongi, mendapatkan bukti kalau suami mabuk dan lebih parahnya lagi, Ammar sampai berani berkata kencang. Semua itu membuat Gana menangis tidak karuan di dalam kamar. Wanita itu tidak terima, diperlakukan seperti ini oleh Ammar.


Tahu dirinya sudah salah dan kelewat batas. Ammar beringsut untuk menarik tubuh Gana masuk kedalam dekapannya. Gana bergeliat, tetapi tubuh mungilnya sudah kepalang terkunci di pelukan Ammar.


Hiks ... Hiks. Gana terus terisak.


"Maafin aku ya, sayang." ucap Ammar lembut "Aku menyesal ..." sambungnya lirih.


Hiks ... Hiks.


Ganaya terus menangis. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 02:00 malam. Seharusnya ia sudah tidur dan melepas penat. Tetapi tenaganya malah terkuras karena leleran air mata.


"Aku salah. Aku minta maaf." Ammar semakin merekatkan pelukannya.


"Aku memang pergi bertemu Farhan. Karena ada sesuatu yang kami bahas tentang pekerjaan. Awalnya aku tidak mau minum, tapi karena tawaran itu menggoda. Aku jadi khilaf, dan akhirnya aku minum. Dan soal noda ini, memang ada perempuan bayaran Farhan di sana, tapi aku---"


Mendengar alasan di kalimat terakhir. Gana memaksa melepas pelukan itu dan sedikit mendorong Ammar serta menyelak ucapannya.


"DAN KAMU TIDUR DENGAN WANITA ITU??" tanya Gana. Bola matanya melotot tajam dengan wajah yang sudah basah.


"JAWAB!!" kini Gana yang berseru kencang. Dosanya kepada suami sudah banyak fikir, Gana. Jadi sekalian saja, kalau saat ini ia berbalik membentak suaminya.


"Demi Tuhan, enggak sayang. Aku berani mati." jawabnya jujur. Lelaki itu memelas belas kasih, agar istrinya mau percaya.


"BOHONG!" Gana memundurkan langkahnya ke belakang, ia menjauhi Ammar yang sedang melangkah mendekatinya.


"Aku udah bersumpah demi Tuhan, kamu masih enggak percaya?"


"JAWAB JUJUR AMMAR! Kamu ngapain malam-malam ke sana? Kamu memang berniat minum-minum dan main wanita 'kan?" Gana terus mencecar lelaki itu. Langkahnya terus mundur.


Ammar menggeleng dengan penuh keyakinan. Ia tetap mendekat. "Kalau kamu enggak percaya, kamu bisa telepon Bima atau Denis. Mereka juga ada di sana." Ammar tidak mau menyebut nama Farhan, karena Gana pasti akan histeris. Ia benci mendengar nama lelaki itu.


Ingin sekali Gana berteriak. Ya, dirinya tahu. Karena saat itu, ia juga ada di kawasan apartemen. Hanya ia tidak tahu saja apa yang di lalukan mereka semua di dalam kamar tersebut.


Gana berdecak kesal "Aku tetap enggak percaya!" wanita itu terus mundur sampai dimana Ammar mendekat paksa dan meletakan telapak tangan dibelakang kepala Gana ketika kepala istrinya akan terbentur dengan dinding.

__ADS_1


Napas mereka bersatu padu dalam jarak yang amat dekat. "Tuh 'kan kepala kamu hampir aja benjol." ucap Ammar.


Gana memalingkan wajahnya untuk menjauhi kedua mata Ammar.


"Aku minta maaf, sayang. Aku mengaku salah. Aku minta maaf karena sudah berbohong. Tapi Demi Tuhan, aku tidak menyentuh wanita seperti yang kamu tuduhkan. Yang ingin aku sentuh hanya kamu, Gana. Hanya kamu, satu-satunya istriku. Dan aku akan selalu sabar untuk menunggu kamu siap. Terbukti 'kan sampai sekarang? Kamu masih bersegel."


Hati Gana berdesir mendengarnya. Entah kenapa jiwanya, seperti tertelan dalam atmosfer kejujuran yang Ammar ucapkan. Dalam dadanya terasa lega, Gana mulai percaya. Mungkin karena lelaki ini tulus dan berkata jujur. Dan juga Gana terbawa suasana, karena ucapan romantis Ammar.


"Yang benar?" tanya Gana memastikan. Kini raut wajahnya sudah sedikit hangat.


"Demi Tuhan. Kalau kamu enggak percaya juga, biar aku kesambar gledek."


Gana menyerengitkan dahi dan meletakan satu jari di bibir Ammar. Ia takut dengan ucapan Ammar. "Jangan ngomong kayak gitu!"


Ammar terkekeh walau dalam keadaan setengah mabuk. Tapi ia masih bisa mengendalikan ucapan dan tubuhnya. "Makanya maafin aku ya, aku janji enggak akan kayak gini lagi." pintanya penuh harap.


"Kalau memang Farhan adalah teman yang baik, dia tidak akan membuatmu menjadi suami yang jahat karena sudah membohongi istri!"


"Tidak akan membuat kamu tega pergi meninggalkanku malam-malam, tidur sendirian, hanya untuk menunggu kepulanganmu yang ternyata sedang dalam pengaruh alkohol!"


"Sahabat yang baik tidak akan membuat sahabatnya menjadi berperilaku menyimpang, dan tidak pernah menjeratmu kedalam suatu kemaksiatan!"


DEG.


Dada Ammar seraya tertampar dengan ucapan Ganaya. Benar katanya, teman yang baik tidak akan memasukan kita ke dalam hal-hal yang merugikan.


"Apa kamu masih ingin hidup bersamaku, Ammar?"


"Tentu, Gana. Kamu segalanya bagi aku."


"JAUHI FARHAN! JAUHI DIA! PUTUSKAN HUBUNGAN PERTEMANAN KALIAN!"


Jika Ammar menjawab dengan nada memelas, beda hal dengan Gana yang kembali berseru dengan nyaring. Sisa-sisa kemarahannya dia tumpahkan semua malam ini. Walau tetap masih ada yang bercokol di hati tentang apa sebenarnya usaha yang sedang mereka jalani.


Gana tetap ingin mengupasnya, dan tidak mau bersikap bodoh untuk membongkarnya sekarang. Karena jika iya, Ammar akan berusaha untuk terus menutupinya dan bisa saja Farhan menghilangkan bukti. Karena Gana masih tidak yakin kalau Ammar mau benar-benar menjauh dari Farhan.


Dengan terpaksa. Ammar mengangguk. Ia ingin mencari aman malam ini. Dari pada melihat istri tercintanya terus mengamuk, lebih baik mengalah dulu. Farhan masih bisa ia kesampingkan. Ammar juga mengutuk Farhan, karena kelakuannya malam ini membuat dirinya dan Gana ribut. Hampir saja sang istri pergi dari rumah karena kebodohannya.

__ADS_1


"Iya sayang aku janji, demi kamu. Aku enggak akan lagi berhubungan dengan Farhan." Ammar memeluk Gana. Mendekap si cinta kembali dengan erat.


"Janji ini yang terakhir?"


"Iya aku janji."


Gana mencoba memaafkan Ammar dan menerima kesalahan lelaki itu malam ini. Sudut hatinya mulai percaya kalau Ammar tidak mungkin menghianati nya dengan wanita lain. Rasa cinta lelaki itu amatlah besar, dan Gana baru teringat serta menyadari.


"Mba Ningsih, ngapain?"


DEG.


Art itu terlonjak ketika Yuni tidak sengaja memergokinya, tengah berada didepan pintu kamar majikan mereka. Yuni yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak sengaja melihat kehadiran Ningsih di sini.


"Eh, Yun. Ini ... itu ... ehm, anu ..." susah sekali dirinya untuk menjawab.


Yuni menatap Ningsih dengan tatapan curiga.


"Anu ... anu, itu apa?"


Ningsih menggeleng. "Tadi Mbak bangun, mau ambil minum. Tapi enggak sengaja dengar Ibu sama Bapak kayak lagi ribut."


"Ah, masa?" Yuni tercengang. Ia beringsut ingin mendekati daun pintu namun dihalang oleh Ningsih.


"Tapi kayaknya udah enggak lagi. Mungkin sekarang udah tidur." bisiknya.


Oh, hapal sekali wanita itu.


"Udah ah, Mbak duluan ya. Mau lanjutin tidur. Kamu juga cepet tidur, Yun. Besok kan harus ke pasar subuh-subuh."


Tanpa menunggu jawaban dari Yuni. Ningsih melenggang pergi ke kamar. Yuni menatap punggung Ningsih yang terus melangkah pergi menuju kamar, sampai dimana ia menatap aneh ketika tanpa sengaja melihat Ningsih pergi sambil menggenggam ponsel ditangannya.


"Mau ambil minum kok bawa hape? Aneh!"


****


Like dan Komennya yaw🌺🌺. Kalau gak sibuk, Insya Allah nanti aku up lagi ya. Kalau enggak sibuk tapi, hehe❤️❤️.

__ADS_1


Komennya dulu deh yang banyak.


__ADS_2