
"Ibu pasti bakal kangen sama kamu, Dek." ucap Ibu Tati saat melepas pelukannya dari tubuh Gana. Ia usap lembut pipi Gana untuk menekan kesedihan. Sebentar lagi ia akan berpisah dari wanita cantik ini. Mereka pikir Semesta sudah mengizinkan Gana menjadi bagian dari keluarga mereka, nyatanya tidak. Sang pemilik Gana akhirnya tiba, Maldava Ammar.
"Adek juga bakal kangen sama Ibu, Bapak, Bang Maryadi, Marwan dan Manda." jawab Gana sedih. Air bening di pelupuk matanya mulai tampak.
Senyum Ammar sekilas runtuh saat Gana menyebut nama Maryadi, membuat yang mempunyai nama seketika berbinar. Maryadi tersenyum walau sendu menatap Gana, karena dirinya akan ditinggal.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi." imbuh Bapak.
Marwan menatap sedih begitu juga Manda, ia kehilangan Gana yang selama dua minggu ini membantu tugas-tugas sekolah mereka. Gana juga sering membantu Ibu dan Bapak di sawah. Juga beres-beres di rumah dan memasak.
"Maaf ya, Bu, Pak. Abang gagal ngasih calon mantu lagi." ucap Maryadi sendu kepada Ibu dan Bapak. Lelaki ini memang sering patah hati.
Pangkal bahu Ammar mengedik, bola matanya memicing tajam ke arah Maryadi. "Pede banget lo! Yakin, istri gue mau sama lo? Ya Allah terimakasih, untung aja saya cepat menemukan istri saya lagi. Coba kalau tidak, Gana pasti udah di nikahkan sama dia! Mana masih perawan. Heuh ... dasar jomblo!" dengkus Ammar dalam hatinya. Berdoa mengucap syukur sekalian mengumpat Maryadi.
Gana tertawa mendengat penuturan Maryadi. "Siapa tau habis ini, Abang nikah ya." doanya. Dan semua orang mengaminkan.
Ammar melepas jam tangan rolex miliknya. Lalu ia serahkan di telapak tangan Bapak.
"Ini buat Bapak, Ibu, dan anak-anak. Ucapan terimakasih dari saya karena sudah mau menjaga, merawat dan menolong istri saya." Ammar merekatkan tangannya di pinggang Gana. Membuat Maryadi mencibir.
"Di jual aja, Pak. Maaf saya enggak bisa kasih cash. Bank jauh soalnya." Ammar juga memberikan kertas kwitansi jam tangan yang ia simpan didalam dompet.
Maryadi berdecih geli. "Paling jam tangan seratus rebu."
Ibu melotot horor dan mencubit lengan anaknya. "Yang sopan, Bang!"
"Enggak perlu, Nak. Kami semua ikhlas jagain si Adek." Bapak seraya mengembalikan lagi jam tangan itu tapi Ammar menolak.
"Ini akan berguna buat Bapak dan Ibu. Bisa buat tambahin modal, renovasi rumah, atau yang tabungan buat biaya sekolah Marwan dan Manda."
Maryadi semakin ingin tertawa. "Baru bisa kasih satu juta aja, udah belagak sok kaya. Saya yakin, mobil itu juga pasti punya bos kamu."
"Nih anak ya, mulutnya pedes banget kaya tahu jeletot! Ibu kutuk jadi cicak baru tau rasa kamu!" Ibu menghardik Maryadi.
"Dasar mulut sampah! Kecoa ompong! Kadal buntung!!" Ammar membatin. Ia hanya tersenyum tipis menahan kesal. Kalau tidak ada orang, muka Maryadi yang pas-pasan pasti sudah Ammar permak bagai gadis Thailand.
Gana juga terlihat tidak suka, suaminya di hina. Ia jadi dingin tidak mau menatap Maryadi.
"Di jual di tokonya langsung ya, Pak. Sesuai yang ada di kwitansi." Imbuh Ammar.
Karena Ammar terus memaksa akhirnya Bapak ikhlas menerimanya. "Makasih banyak, Nak."
Setelah berpelukan dan bersalaman. Akhirnya Ammar membawa Gana untuk masuk ke dalam mobil dan pergi dari halaman rumah mereka.
__ADS_1
Gana melambaikan tangan kepada Bapak dan Ibu serta triple M dengan wajah sedih dari dalam kaca mobil. Pun sama dengan mereka semua.
Keluarga ini beriung menatap kwitansi yang baru diberikan Ammar kepada Bapak.
"Masya Allah, harga jam nya tiga ratus juta?" pekik Bapak. Mereka rasanya ingin pingsan, masuk ke dalam adonan onde-onde.
"Adek akan rindu mereka, Bang." bola mata Gana masih lekat menatap keluarga itu yang masih berdiri sejajar dengan badan mobil.
"Insya Allah nanti kalau ada rezeki kita ke sini lagi." ucap Ammar.
Ia beringsut mendekati jok Gana untuk memakaikan wanita itu seat belt. Merasa ada sentuhan di dada, Gana pun menoleh dan bersitatap dengan suaminya. Begitu dekat sampai angin saja tidak bisa lewat.
"Adek belum pernah di pegang-pegang sama si Maryadi 'kan?" hembusan napas wangi dari mulut Ammar menyapu wajah Gana. Begitupun aroma tubuh Ammar, sungguh memabukkan. Lamunan Gana yang sudah memandang takjub akan ketampanan Ammar langsung buyar.
Gana mengangguk. "Bang Maryadi sopan kok, Bang."
Ammar menghela napas lega. Ia sudah selesai memakaikan Gana seat belt. "Kalau mau tidur, bilang ya. Nanti Abang mundurin joknya."
"Kalau tidur di dada Abang, boleh?" Ammar terkekeh ketika di goda. Ia meraih tubuh Gana untuk masuk ke dalam dadanya. "Kayak gini?" tanya Ammar.
Gana mesam-mesem malu. Semburat kemerahan di wajahnya mulai tampak. Ia menggangguk tanpa kata.
"Ada yang geter-geter, Bang."
"Ini ..." Gana menunjuk dada Ammar. Pasalnya jantung laki-laki itu sedang berdetak cepat. Entah mengapa mendapatkan Gana yang seperti ini, rasa bahagianya menjadi dua kali lipat. Gana seperti wanita baru, tutur katanya lembut, selalu tersenyum dan sejak bertemu tidak mau jauh-jauh dari Ammar. Ia merasa di dunia ini yang ia punya adalah lelaki ini, suaminya.
Ammar tertawa menutup gengsi. "Kirain kamu mau nunjuk jakun, Abang."
Gana mencubit pelan perut Ammar. Lelaki itu hanya terkekeh dan mulai menjalankan deru mesin mobilnya. Gana sesekali mendongak menatap Ammar yang sekarang sudah memakai kaca mata hitam.
"Masya Allah, tampan sekali suamiku." batin Gana menyerbak, menuangkan rasa bangga dan senang. Ia melingkatkan tangannya di pinggang Ammar.
"Abang wangi. Maaf ya, kalau Adek bau. Enggak punya farfum soalnya." Gana terus mengendus-endus aroma tubuh Ammar dari balik kemeja yang ia pakai.
"Enggak apa-apa. Nanti Abang beliin buat Adek." setelah kalimat itu terucap, Ammar melabuhkan satu kecupan di atas pusara kain pasmina Gana.
Bukan senang, Gana malah menautkan alis.
"Jadi bener Bang, Adek bau?"
Ammar menekan salivanya dalam-dalam. "Duh jebakan benteng Takeshi nih." gumam Ammar. Ia terus memutar-mutar setir kemudi. Jangan sampai baru bertemu, sudah ribut hanya karena ia tidak peka dengan pertanyaan wanita yang kadang kala seperti ranjau, hanya bisa menjebak.
"Adek wangi banget malahan, enggak usah pakai farfum juga enggak apa-apa." Ammar melepas tangan kirinya dari kemudi, untuk mengusap lembut lengan Ganaya.
__ADS_1
"Jadi Abang enggak jadi beliin Adek farfum?"
Aduh. Yae 'lah. Haha.
"Bener-bener si Gana. Walau ngomongnya datar, dan udah amnesia. Tetep aja sifat nyebelin nya masih ada." Ammar bergemuruh dalam batin.
"Adek tuh wangi banget. Masih sama kayak dulu. Bikin jakun Abang ... Eh, jantung Abang cekot-cekot kayak kepala migran. Apalagi kalau ditambah parfum. Wuh, dunia Abang pasti tambah jungkir balik."
Dasar lelaki pintar menggoda, dengus nyamuk kampung jomblo yang bisa melesat masuk ke dalam mobil. Ia terjebak dalam ke-uwu-an pasangan ini. Ingin muntah dan keluar lagi dari dalam mobil.
Gana tertawa bahagia. Senang sekali di puji-puji, di dekap dan di cium-cium. Ammar memang membuat Gana semakin mabuk kepayang.
Mobil terus dikemudikan sampai menuju keluar dari perkampungan, menginjak jalanan yang belum beraspal. Tanah liat yang basah dan berselimut batu-batu besar.
Seketika Gana melepas dekapan suaminya dan menatap lurus kedepan. Raut wajahnya aneh dan takut.
"Bang, itu ..." Gana menunjuk ke depan.
Ammar tersenyum. "Ramai ya?"
"Hem." Gana mengangguk.
"Gak apa-apa itu semua anak buahnya bos Abang."
"Oh, ya?" bola mata Gana melebar.
Ammar mengangguk.
Tepat di depan pigura utama kampung, sudah ada lima mobil berisikan anak buah Mahendra yang sedang menunggu mobil Ammar datang. Sebanyak dua puluh pengawal akan mengawal perjalan Ammar menuju rumah Mahendra dan Mulan. Karena malam ini dan besok, mereka akan menginap.
Ammar harus menyembunyikan Gana di tempat aman. Dua jam lalu Ammar menghubungi Mahendra dan Alex, perihal dirinya sudah berhasil menemukan istrinya.
Mahendra, Alex dan Mulan langsung berucap syukur dan bersuka cita mendengar kabar tersebut. Ammar memberi komando, agar tidak terlalu memberitahukan apa yang akan Gana tanya-tanya nanti.
Mereka hanya boleh menjelaskan. Bahwa Ammar adalah anak buah Mahendra sekaligus sahabat. Ammar selama ini bekerja di cabang perusahaan milik Mahendra. Dan mereka semua setuju.
Ammar juga sudah menceritakan bagaimana kejadian dirinya dengan Farhan. Maka untuk itu, Mahendra mengutus para bodyguardnya untuk melindungi Ammar dan Gana.
🌺🌺🌺🌺
Segini dulu ya guys, biar kalian gak rindu. Badan aku tuh lagi gak enak guys, abis di pijit kok malah jadi pegel-pegel🙈🤢. Insya Allah nanti malam aku UP lagi.
Like dan Komennya jangan lupa ya, biar bisa bakar semangat akuu❤️❤️
__ADS_1