
Brug.
Tas ransel mahal yang dibelikan Papanya saat berlibur di New York, Aidan letakan sembarang di ranjang. Anak lelaki yang saat ini duduk di kelas dua sekolah dasar itu, baru saja pulang sekolah. Ia berbaring menelungkup, membenamkan kepala di bantal.
"Duh, lemas banget," gumamnya parau. Waktu saat ini memang sudah menunjukan pukul satu siang. Sedang haus-hausnya. Apalagi tadi, di sekolah banyak sekali tugas yang membuat dirinya sangat lapar. Ia ingin sekali menyerah.
"Kalau buka puasa boleh enggak, ya? Kayaknya aku enggak kuat deh," tukasnya lagi. Aidan merasa amat lemas, seperti tidak bisa berpijak di atas kedua kaki.
Ia membalikan posisi tidur, terlentang menatap langit-langit kamar. Ada bisik-bisik yang mendera hatinya, agar berbuka puasa saja sekarang.
Diam-diam saja, minum seteguk. Enggak akan ada yang tau 'kok. Nanti, lanjut puasa lagi. Begitulah kata-kata yang membisikinya.
Di dalam kamar nya yang luas penuh karikatur Kaptain Tsubasa, anak itu terus berpikir keras. Rasa haus yang membuat kering di kerongkongan yang sangat mengiris kalbu, membuat ia akhirnya berkata iya.
Dengan seragam muslim putih-putih yang masih bertengger di tubuhnya, Aidan beranjak bangkit dari ranjang. Ia ingin keluar kamar untuk mencari air minum.
Kamar tidurnya berada di lantai dua yang bersebelahan dengan kamar Aurora dan Attaya. Di sudut lantai dua ini terdapat dispenser air, bisa memudahkan dirinya untuk buka puasa tanpa ada yang melihat.
Mendekat ke pintu kamar Attaya seraya ingin memastikan sedang apa adiknya di dalam, memastikan kalau keadaan telah aman.
"Pasti udah lemes banget makanya langsung tidur," tukasnya. Ia memandang Attaya yang sedang tertidur di ranjang princess megahnya dengan baju seragam yang belum dibuka seperti dirinya.
Aidan tutup kembali pintu kamar adiknya. Ia melanjutkan langkah menuju pintu kamar Kakaknya, Aurora. Pelan-pelan ia bukan pintu itu dan mengintip dari balik pintu ke dalam kamar yang penuh dengan wallpaper sailormoon.
Terlihat Rora sedang berbaring miring memunggungi pintu, sambil memeluk guling tengah membaca buku asal-usul Nabi. "Hebat ya, Kakak. Selama puasa hanya dia yang enggak kelihatan lemas sama sekali," gumam Aidan. Merasa Kakaknya sedang sibuk dan tidak sadar sedang diperhatikan. Pintu kamar pun ia tutup kembali.
"Bagus deh enggak akan ada yang lihat aku minum," kekehny. Dengan langkah tegas ia mendekat ke arah dispenser.
Dan.
Tap.
Aidan hening. Sudah sedekat ini dengan dispenser yang berisikan air dingin, bisa langsung ia nikmati, mengapa dirinya kembali bimbang?
Kalian bisa saja bohongi Mama dan Papa. Tapi, jangan lupa ada Allah yang tidak pernah tidur, selalu dekat dengan kita melebihi dekatnya urat nadi, Allah maha melihat setiap apa yang dilakukan hambanya.
Nasihat Gana kepada ketiga anaknya yang sedang berpuasa jika ingin berangkat sekolah, Gana hanya tidak ingin anak-anaknya buka puasa di sekolah. Jika tidak sedari dini, mendidik anak-anaknya untuk kuat berpuasa, lalu ... kapan lagi?
Aidan menggelengkan kepala lemah. Nasihat Mama nya seakan lebih menusuk hati dari pada rasa haus nya sekarang, padahal mulutnya masih menanti air dingin untuk membasahi kerongkongan. Padahal di sekolah banyak juga teman-temannya yang tidak berpuasa. Tapi, dirinya sudah sanggup puasa sampai Maghrib dan sudah berjalan lima hari.
Mengapa sekarang harus menyerah?
__ADS_1
Kembali melangkah gontai menuju kamar. "Lebih baik aku tidur saja lah," ucapnya.
Namun, setelah sampai di kamar, saat ingin merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia menoleh ke arah kamar mandi. "Kayaknya kalau kumur-kumur engga batal deh," ia usap kulit tenggorokan, seakan meredakan kerontangan di dalam sana.
Dan Aidan akhirnya mengikuti kata hati. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di depan wastafel. Menangkup air dari kran yang terasa dingin, untuk meneguknya ke dalam mulut. Baru saja ingin memuntahkannya lagi ke dalam wastafel, ada suara sang adik yang mengagetkan dirinya.
"Kok Kakak mimi?" tanya Adela. Entah sejak kapan dan mau apa dia berdiri di ambang pintu kamar mandi Aidan.
Karena rasa kaget mencuat, refleks ia telan air dingin yang masih bersarang di dalam mulutnya.
Gleg.
Kerongkongan yang kering tersapu bersih.
Aidan menghentakkan kaki. "Ah, tuh 'kan jadi batal!" dengus nya. Padahal ia sudah sekuat hati untuk bertahan, dan kehadiran Adela sebagai pemicu kesialannya.
"Kakak bukan minum, tapi lagi kumur-kumur, Dek!"
"Tapi tatih Kakak mimi, akuh liyat cendili." Adela memang melihat saat Aidan memasukan air ke dalam mulutnya dan tertelan begitu saja.
"Ya itu karena kamu tiba-tiba ada, kagetin Kakak," bals Aidan, anak itu masih berdiri di depan wastafel. Membersihkan mulutnya dengan tissue.
Alis Adel menaut. Ia seperti tidak suka disalahkan. "Aku tecinih kalna mau ajak Kakak main, Kak Tayah cama kak lola lagi tidul,"
Adela membulatkan mata, ia tetap bertahan dengan argumennya. "Tatih cebelum akuh tecinih, akuh ke kamal nya Kak Lola dulu, tapi utah tidul, Kak,"
Aidan hanya ber oh saja. Mungkin betul, sang Kakak keasikan membaca buku sampai terlelap.
"Kakak lemas, Dek. Nanti aja mainnya sore, ya. Habis buka puasa," balas Aidan. Ia keluar dari kamar mandi, dan Adela mengekor langkahnya dari belakang. Mereka sama-sama naik ke atas kasur.
"Kakak mau tidur, ya. Adek main aja dulu sama Adek Alda," titah Aidan. Ia peluk guling itu dan mulai memejam mata. Adela yang siang ini sedang memakai dress bunga-bunga bertali satu dengan rambut di kuncir kuda, menggoyang-goyangkan lengan sang Kaka. "Tanan tidul, Kak. Aku ndak ada temennya. Mama cama Adek agih bobok," pinta Adela memelas.
"Tapi Kakak lemas, Dek. Enggak kuat main," balas Aidan. Disertai suara perut yang berbunyi.
Dan.
Si keriting melongo. Adela tertawa, seakan menular, Aidan pun jadi ikut tertawa kecil. "Haha ... Kakak lapel, ya?"
"Ya, lapar dan haus. Namanya juga lagi puasa."
Aidan memejam mata, memaksa agar bisa tidur sampai sore. Adela hening. Ia usap tubuh Kakaknya dengan rasa kasihan. Kemudian ia beranjak bangkit dari ranjang, merasa tahu Adiknya mau meninggalkan dirinya, Aidan hanya membuka suara tapi matanya masih terpejam. "Adek di sini aja. Tidur di sini sama Kakak,"
__ADS_1
Adela yang sudah menapak ubin ingin melangkah keluar kembali menoleh. "Iya nanih dulu, ya. Nanih aku ke cini agih," balasnya.
"Ya."
Berlalu lah si keriting ke lantai bawah. Ia ingin bergegas pergi ke dapur untuk membuka kulkas. Ingin membawakan Kakaknya susu kotak, roti cokelat dan sosis siap makan kesukaannya.
Mumpung para Art sedang ada di ruang belakang, maka dapur terasa sepi. Bergegas cepat ia membawa semua makanan dan minuman itu untuk ia berikan kepada Aidan.
"Kakak, angun! Akuh wawain matanan cama mimi," bisik Adel di telinga Aidan. Melihat Kakaknya lemas tidak berdaya. Haus dan kelaparan membuat anak itu berspekulasi, kalau Kakaknya tidak kuat, mungkin akan mati. Haha. Lebih baik buka jika tidak tahan. Padahal semua orang berpuasa pasti akan merasakan hal seperti itu.
Rasa kantuk yang memang ia paksakan untuk datang, belum muncul-muncul juga sedari tadi, membuat ia bisa mendengar bisikan dari sang Adik secara jelas. Aidan terlonjak bangkit dari baringnya. Ia duduk dengan kaki menyila di hadapan Adela. Saat ini ditengah mereka sudah ada makanan dan minuman yang amat menggiurkan. Membuat perut Aidan meronta-ronta.
"Kakak kan lagi puasa, Dek," ucap Aidan.
"Tapi Kakak lapal tan? Aus tan? Iyautah nih mamam cama mimi ajah. Nanih, puaca agih,"
Adela menusukan sedotan ke dalam kotak susu, lantas menyeruputnya isinya. "Duh, enak banet, nih, Kak," ucapnya setelah menyesap isinya sampai setengah, kemudian menyodorkan ke bibir Aidan yang kering.
Aidan masih mematung. Ia menatap tetesan es yang menyelimuti kotak susu yang tengah Adela genggam. "Tepetan, Kak. Nanih ketauan Mama," Adela gemas. Bocah cadel itu masih belum mengerti apa artinya dosa. Yang ia tahu, puasa itu menyiksa. Membuat Aidan lemah tidak berdaya.
Sukma Aidan kembali terpengaruh. Untuk saat ini sajalah tidak puasa, besok baru puasa lagi. Toh tadi kan sudah menelan air kran, walau tidak sengaja. Bisikan-bisikan kembali mengaung di telinga dan hati nya.
Aidan mencium Adiknya yang amat wangi bedak bayi dan minyak telon. "Makasih, ya, Dek," dan Adela mengusap pipi dan menutup hidung karena hembusan napas Aidan yang amat menusuk lubang penciumannya.
Aidan menjawil pipi si keriting. "Ini bau surga," itu lagi tamengnya.
"Ah, bau campah!" dengus Adela tidak suka. Aidan hanya tertawa saja, walau ia tahu Adela salah karena sudah memaksanya untuk berbuka, tapi perhatian anak itu padanya amat besar.
Srrt srrt.
Susu cokelat dari kemasannya, Aidan sesap. Susu dingin menerpa kerongkongan yang tandus, membuat kesegaran dan kekuatan seakan kembali. Sedang asik-asiknya menikmati surga dunia yang dilarang.
Tiba-tiba.
"EYDEN!" seru Ganaya. Sepasang matanya menghunus tajam Aidan. Wanita hamil itu berdiri di ambang pintu tengah menggendong Alda yang sedaru tadi tidak berhenti menguap. Ia ingin mengajak Adela untuk tidur siang, dan mencarinya ke setiap kamar anaknya yang lain. Dan pemandangan ini, yang ia dapat.
"Mama ...," gumam keduanya pelan. Baik Aidan atau Adela sama-sama meringis. Mereka bukan hanya takut dari suara Gana yang melengking, bola mata yang melotot tapi juga karena wajahnya sudah putih semua karena masker.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Sepertinya, entah sebelum lebaran atau sesudah lebaran, season kedua ini akan aku tamatkan, ya, guys.
__ADS_1