Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Akan Kembali, Sayang!


__ADS_3

"Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?" Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab.


"Ibumu ..."


"Siapa lagi?"


"Ibumu ..."


"Lalu?"


"Ibumu ..."


"Setelah Ibu?"


"Baru Ayahmu."


Begitu penting dan tingginya harkat dan martabat seorang Ibu. Menjadi ibu merupakan tugas tersulit dan penuh tantangan yang perlu dilakukan sepanjang hidup.


Tidak pernah ada kata libur, cuti atau ijin. Pekerjaan yang dilakukan nonstop 24 jam selama dirinya masih bernapas.


Dimulai dari mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, dan mendampingi anak untuk terus tumbuh hingga mampu hidup mandiri.


Maka tidak mengherankan jika semua agama mengingatkan agar semua anak untuk menjunjung tinggi, sayang dan menghormati para Ibu mereka.


"Sudah shalat, Nak?"


"Bentar lagi, Mah."


"Jangan nangis, kamu lelaki! Sini, Mama obatin lukanya."


"Iya, Mah."


"Nih Mama kasih uang. Tapi jangan bilang-bilang Papa, ya."


"Tapi 'kan Adek lagi di hukum, Mah?"


Percakapan Ammar dengan Mama dari tahun ke tahun begitu saja berputar-putar di kepala bagai ombak yang terkurung di lautan.


Ammar terus berlari menyusuri lorong Rumah Sakit setelah mendapat kabar buruk dari Kakak Iparnya.


Hatinya tercacah, air mata menyembur begitu saja seiring dengan napas yang terengah-engah.


Ia lupakan rasa panas yang masih bersarang dalam tubuhnya. Sakitnya tidak penting, yang penting hanya Mamanya sekarang. Ia ingin memeluk wanita itu. Wanita yang selama dua minggu ini, belum ia peluk dan cium.


Ganaya sampai sulit menyamakan langkah suaminya. Karena lelaki itu berlari, lupa dirinya kalau saat ini sedang sakit dan membawa istri.


"Kamu udah pipis belum? Ayo pipis dulu, nanti malem-malem merengek minta di antar ke kamar mandi."


"Iya, Mah."


"Wajah kamu kenapa biru-biru? Berantem lagi ya? Nakal ya, Mama bilangin Papa nih!"


"Duhduhhh ... Sakit, Mah."


"Adek yakin mau nikah sama Gana?"


"Doain ya, Mah. Adek pasti bahagia sama Gana"


Ammar terus berlari, menerobos para bahu yang melewatinya. Angin yang berhembus tidak cukup memberi hawa dingin kepada tubuhnya yang makin memanas.


"Mah, kuat ya. Adek datang, Mah." Ammar membatin. Terus berlari sambil mengusap-usap air mata dengan punggung tangannya.


"Ammar, jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh!" seru Gana yang berjarak beberapa meter dari langkah suaminya.


Lelaki itu mendadak tuli dan buta. Ammar terus berlari. Apa yang terjadi? Fikirnya.


Mengapa wanita yang selalu ia anggap kuat, malah mendadak terkena serangan jantung?


TAP.


Langkah kakinya terhenti beberapa meter dari bangku tunggu pasien ICU. Ada Papa yang tengah memeluk Kakak Iparnya dalam tangis.


Gerakan dada Ammar naik turun. Mendesahkan napas kasar karena sudah berjuang berlari secepat kilat dari parkiran menuju ruang ICU.


Ada hidupnya yang tengah meregang nyawa di dalam.


"Pah ..." panggilan itu membuat Papa dan Gifali mendongak. Wajah mereka bertiga sudah basah dan saling bersitatap.


Papa memandang Ammar lama. Lelaki itu melamun, seraya berfikir. Benarkan anak ini yang ia besarkan?


"Pah? Mama gimana?" nada Ammar terdengar sangat cemas. Ia sedikit melongo ke dalam kaca tembus pandang, bermaksud mencari sang Mama yang katanya sedang dalam fase kritis.


Perkembangan Mama Alika memang begitu pesat menurun. Para keluarga besar sedang on the way menuju RS. Sedangkan Maura sedari tadi sibuk menelepon suaminya sambil terisak-isak.


Kesedihan seorang anak di dunia ini yaitu, ketika mengetahui orang tua sedang dalam keadaan kritis. Di ambang hidup mati. Tidak ada yang bisa kita lakukan, selain mendoakan takdir yang sudah ditetapkan.


Papa mengurai pelukan menantunya. Lalu berdiri, berhadapan dengan anak lelakinya. Anak lelaki yang mewarisi kental darahnya.


PAK


PAK


Papa mengibaskan telapak tangannya tepat di tulang pipi Ammar secara bergantian dari pipi kanan dan kiri. Gana yang langkahnya baru sampai, langsung membekap mulut. Wanita itu tersentak bukan main.


Ammar syok. Ia menatap lamat-lamat bola mata Papanya yang sedang melotot tajam. Menumpahkan amarah yang sejak tadi bercokol di dalam hati.


"Selama dua puluh tujuh tahun usia kamu. Saya selalu menjaga kamu dari pukulan tangan saya!" Papa menggoyangkan telapak tangannya di udara.


Ammar menatap Papa lirih sambil memegangi pipi sebelah kiri.


"Saya tidak pernah mau memberikan tamparan seperti ini! Maka dari itu saya selalu ingin membuat kamu menjadi anak yang berbakti, soleh dan baik. Agar tidak pernah melakukan kesalahan! Tidak membuat saya murka!"


Walau belum tahu kesalahannya apa. Tapi, air mata sudah luruh dari kelopak matanya.

__ADS_1


"Apa salah saya kepada kamu, Ammar? Apa salah istri saya kepada kamu? Apa salah kami dalam mendidik kamu?" air mata Papa semakin bergerumun di pelupuk.


Tidak terasa lagi kelembutan yang selalu Papa beri kepada Ammar.


"Salah Adek apa, Pah?" tanya nya sedih. Lelaki itu masih belum faham dengan kesalahannya.


"Salah kamu, karena kamu! Membuat istri saya terkapar di dalam---" Papa menunjuk ke daun pintu ruang ICU.


"Kalau bukan karena kamu! Saat ini saya masih memeluk nya dengan erat! Kenapa kamu bunuh istri saya! Kenapa, Ammar? KENAPA!!"


Semua yang mendengar sampai mengedikkan pangkal bahu, siapa yang tidak kenal Bilmar Artanegara? Jika sudah marah dan kecewa. Angin pun enggan untuk berdekatan dengannya. Begitu takut, memilih untuk bersembunyi. Tangisan lelaki tua itu tumpah ruah.


"Kenapa bukan saya saja yang ada di dalam? Kenapa harus istri saya?"


"Kamu memisahkan saya dengannya sebentar lagi!"


"Kamu mengambilnya!"


"Merebutnya! Menuntunnya untuk pulang sekarang!"


"Lalu bagaimana hidup saya tanpa dia? Saya belum siap kehilangan dia! BELUM SIAP!"


PAK.


Papa menampar Ammar lagi lebih kencang dibanding awal, setelah melontarkan serentetan kekesalan di benaknya.


Unek-unek, rasa sakit, sedih, kecewa setelah tahu bahwa anaknya adalah seorang mafia, sungguh membelah hatinya. Membuat istrinya yang ia anggap sehat ternyata sakit, dan tidak kuat menerima kenyataan yang telah diperbuat Ammar.


Karena lima belas menit lalu Dokter mengatakan, keadaan umum istrinya semakin menurun drastis. Hanya menunggu keikhlasan dari para keluarga, karena harapan hidup amatlah kecil. Keluarga di minta untuk mencoba menerima.


Bagaimana 'kah dengan Ammar? Meminta maaf saja, ia belum sempat.


Papa fikir, dirinya yang akan meregang nyawa karena sudah melihat foto-foto kebiadaban anaknya. Nyatanya, Semesta lebih memilih istrinya.


Wanita yang sudah ia nikahi selama dua puluh delapan tahun. Seakan kulit sudah menempel tidak bisa terlepas.


Cinta sejati membalut diri mereka untuk terus bergandengan tangan menunggu kepulangan menuju Allah. Tapi bukan seperti ini caranya. Papa tidak rela.


"Istri saya yang sebaik itu, pantas 'kah kamu sakiti hatinya dengan perbuatan kamu?"


"Wanita yang sudah melahirkan kamu, dan hampir mati kala itu."


"Air susunya saja belum bisa kamu balas! Pantas 'kah kamu tuntun ajal nya dengan cara seperti ini?"


Air mata keduanya luruh, basah dan banjir.


"Pah, salah Adek apa? Kenapa Papa nyalahin Adek kayak gini?" desak Ammar dengan bibir bergetar. Ia masih belum mengerti, dimana letak kesalahan nya. Papa menepis tangan Ammar ketika hendak menyentuh tubuhnya.


"Jangan sentuh aku! AKU BUKAN PAPAMU LAGI!"


"Astagfirullah ..." desah Ganaya. Bola mata Ammar bergoyang-goyang menatap lamat bola mata Papanya yang selalu teduh.


"Pah udah, nanti jantung Papa kambuh." Gifali memegangi tubuh mertuanya, bermaksud untuk membawanya pergi.


Papa melepas tangan Gifali yang mulai memegang lengannya. "Biarkan Papa berbicara dulu dengan anak ini!"


DEG.


"Dengarkan saya, Ammar! Mulai saat ini, kamu bukan lagi putraku! Tidak ada nama Maldava Ammar dalam silsilah keluarga Bilmar dan Alika!"


"Kami tidak pernah mempunyai anak durhaka seperti kamu!" hardik Papa lantang.


Sakit. Yang mengucap dan mendengar sama-sama sakit. Papa terlihat meringis, kembali memegang dada sebelah kiri karena terasa ngilu.


Mengapa bisa kata-kata itu terlontar dari bibirnya?


Gana masih termangu, sampai ia sulit untuk bertanya. Rasa takut dan bingung membuat dirinya hanya bisa membisu, sampai lamunannya terkoyak. Dan ia memberanikan suara.


"Pah ..." Gana ikut memegangi tubuh mertuanya yang sekarang sedang di rangkul oleh Kakaknya.


"Maafkan, Papa, Nak. Tidak bisa mendidik suamimu dengan baik. Papa serahkan dia sama kamu, mau kamu apa 'kan terserah. Papa sudah tidak perduli lagi." ucap Papa kepada Gana.


"Tapi apa salahnya Ammar, Pah?" gana bertanya dengan leleran air mata.


Ammar masih mematung menatap lelaki yang dulu selalu mengelus-elus rambut dan mengecup dahinya sampai sekarang jika sedang bersama.


Rasa panas di pipinya, seakan membuat tulang wajahnya remuk. Begini 'kan rasanya ditampar oleh orang tua sendiri?


Terlihat Papa melepas cincin titanium ruby dari jarinya. Lalu melemparkan ke dada Ammar.


"Saya tidak mau menerima uang haram darimu lagi!"


Ammar tetap menatap bola mata Papa yang masih menyalang tajam. Ia biarkan cincin itu menggelinding di lantai.


"Jangan pernah temui kami! Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah saya! KAMU BUKAN ANAKKU LAGI! Lepaskan dan pergi kamu dari EG! Saya lebih ridho jika EG bangkrut dari pada sukses dengan tangan kotor kamu!" bentak Papa.


"Hah?" lolos begitu saja dari mulut Ammar. Lelaki itu semakin tidak mengerti.


Gifali mengeluarkan sebuah amplop yang bungkusnya sudah terlihat remuk. Ia menyodorkan kasar di dada Ammar. Buru-buru Ammar meraihnya sebelum jatuh. Ammar menatap dalam wajah Kakak Iparnya, mengapa saat ini begitu berbeda? Tatapan lelaki itu dingin dan datar.


"Bertaubatlah sebelum ajal berada di ujung tenggorokan mu, Dek." ucap Gifa.


"Papa mau lihat Mama lagi, Nak." suara Papa lirih sekali untuk didengar.


Gifa mengangguk dan membawa Papa mertuanya untuk masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


"Kamu mau ke bandara 'kan jemput Maura?" tanya Papa di ambang pintu. Gifali mengangguk.


"Pah ..." seru Ammar pelan, menerobos percakapan mereka. Ammar berharap Papa mau menatap wajahnya lagi. Tapi seruannya tidak di gubris. Papa malah fokus berbicara dengan menantunya.


"Hati-hati ya, Nak. Tenangkan istrimu."


Papa mengelus bahu Gifali dengan leleran air mata. Melihat kelembutan yang diberikan Papa kepada Kakak Iparnya, entah mengapa membuat Ammar menjadi cemburu.

__ADS_1


Biasanya ia akan bersikap biasa saja, tapi karena sekarang ia merasa di hempaskan mentah-mentah dengan sesuatu hal yang belum bisa ia fahami, Ammar mulai merajuk.


Sebelum Papa benar-benar menghilang dari balik pintu ia kembali menoleh dan menunjuk Ammar.


"Pergi dari sini! Kamu tidak akan pernah saya biarkan untuk melihat istri saya!"


Ammar terperangah dalam tangis.


Gana merampas paksa amplop yang masih bersandar ditangan Ammar. Wanita itu penasaran masalah apa yang membuat Papa mertuanya menjadi murka dan begitu menyalahkan suaminya.


Gifali, lelaki teduh yang jarang sekali marah. Kini menatap Ammar dengan sorotan keji. Berkali-kali menggelengkan kepala tidak percaya.


Baru saja ia ingin melangkah pergi meninggalkan Gana dan Ammar untuk menjemput istrinya yang sudah tiba di bandara. Seketika langkahnya terhenti saat ponsel di kantungnya bergetar.


Lelaki itu menyerengitkan dahi. Ketika ada telepon dari Papanya di seberang sana. Ia fikir istrinya yang akan menelpon lagi.


Seketika Gifa mengerang. "APA? MAMA ENGGAK SADAR?"


Gana refleks menoleh. Dada nya kembali terguncang, baru saja mendengar caci makian dari mertua kepada suaminya, sekarang ia kembali diterjang ombak karena mendengar info tentang ibu yang melahirkannya.


Gifali menoleh ke belakang ke arah adiknya dengan gawai masih mengatung di daun telinga. Air mata lelaki itu mulai turun membasahi pipi.


"Iya, Pah. Kakak akan bawa Gana pulang."


Amplop yang dipegang Gana jatuh, belum sempat ia tatap foto itu, tapi fotonya sudah berserak. Gana menghampiri Kakaknya dan Ammar membungkuk menatap foto itu, dan langsung terkejut serta beristighfar.


Aliran darah yang mendidih seakan langsung naik sampai ke ubun-ubun. Telapak kaki dingin dan tiba-tiba menciut.


Ammar terjungkal di lantai, tubuhnya lemas tidak berdaya. Air matanya luruh lagi. Pantas saja Papanya sampai murka durjanahh. Dirinya memang pantas jika disebut sebagai pembunuh Mamanya sendiri.


"Ya Allah ... Mah." rintih Ammar dengan tangisan.


Menghentak-hentakkan kepalan tangan di atas lantai. Menumpahkan rasa sesal yang berbalut sakit.


Mendengar suaminya meronta, Gana menoleh, bermaksud untuk menghampiri. Tetapi langkah tersebut tercekat ketika Gifali menarik paksa Gana untuk menjauh dari suaminya.


"Kamu pulang sekarang!"


"Mama kenapa, Kak?"


Gifali tidak menjawab, ia kembali menarik adiknya untuk melangkah pergi.


"Ammar ..." seru Gana. Ammar yang wajahnya sudah basah lantas menoleh dan terkejut karena langkah Gana sudah menjauh. Lelaki itu bangkit dan mengejar mereka.


"Kak, kenapa?" tanya Ammar kepada Gifa, lelaki itu ikut mempercepat langkah dan menerobos gandengan tangan istri dan Kakak iparnya. Walau masih sakit, tenaga Ammar masih lebih besar.


Wajah Gifali berapi-api. Si lelaki yang selalu berparas teduh, bijak dalam berbicara. Kini sungguh berubah drastis.


Gifa mendekat, menatap Ammar lekat.


PAK.


Tamparan yang sejak tadi ia sembunyikan,


akhirnya mendarat di pipi Adik Iparnya.


Gana mendorong tubuh kakaknya. "Kenapa Kakak tampar Ammar?" wanita itu terlihat tidak rela.


Gifali membiarkan Gana meronta, tetapi sorot matanya masih menilik Ammar dengan tatapan remuk redam. Dengusan napas kasar seiring dadanya yang terlihat naik turun menggema di tubuh Gifali.


"Jika terjadi apa-apa dengan Mama kami Kamu orang yang pertama kali akan aku cari!"


"Maaf ... Kak." jawab Ammar lirih. Duri-duri seakan menancap di belahan dadanya, darah seraya mengucur dan tidak bisa ditampung.


"Ada apa sih, Kak? Salahnya Ammar apa?"


"Kamu tidak tau apa usah sampingan suamimu selama ini dibelakang kami? Atau kamu sudah tau, tapi pura-pura tidak tau?"


DEG.


Bahu Gana merosot sampai ke dasar pinggang. Bola matanya membeliak sempurna. Jantungnya berpacu lagi seperti sedang mengitari lapangan dengan dua ratus putaran.


Seakan gempa tengah melanda dirinya. Pun sama dengan Gifa, ia fikir hanya keluarga Artanegara saja yang tahu, ternyata semua ini merembet ke keluarga besarnya.


Kini, Mama Difa jatuh pingsan. Dokter mengatakan tensinya tinggi dan memecah pembuluh darah di otak. Wanita itu jatuh stroke.


"Ayo pulang!"


"Mama kenapa, Kak?"


"Sudah, ayo pulang dulu! Papa meminta kamu pulang!"


Gifali kembali menyeret tubuh Gana yang masih termangu. Wanita itu menangis, karena saat ini dua keluarga besarnya sudah tahu siapa suaminya sebenarnya.


"Jangan sekali-kali kamu tampakkan wajah di depan orang tuaku!" tunjuk Gifali ketika langkah Ammar masih ingin mendekat untuk menarik tangan istrinya.


Gifali kecewa, kesal dan benci dengan keaslian Ammar. Seorang pembunuh, perusak dan penghancur. Susah untuk di maafkan begitu saja. Dua keluarga ini masih syok.


"Aku pulang dulu. Tunggu aku di sini, aku pasti akan kembali ... Aku mencintaimu, sayang." nada itu terucap lirih dari bibir Gana dengan derai air mata sambil melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Mengapa harus mendengar kata-kata cinta seperti itu di saat-saat seperti ini?


Ammar mengangguk dan menatap sedih istrinya yang ditarik paksa dengan segala rontaan. Harusnya Ammar tergugah dengan kata-kata terakhir Ganaya.


Wanita itu akhirnya menyatakan cinta, tapi waktunya tidak tepat. Dada Ammar tidak berdesir, karena sudah tertutup dengan ribuan jerami di ari ini.


Berdoalah Ammar, agar Gana mempunyai jalan untuk kembali pulang ke dalam dekapan mu.


****


Part terpanjang menurut aku 2300 kata, dan sengaja gak aku bagi dua. Biar kalian pas ngebaca feelnya dapet.


Jangan lupa like dan komennya yah.

__ADS_1


Yang mau marah karena aku jahat. Enggak apa-apa. Hiks. Karena ku buat episode ini sampai empat jam. Mewek.



__ADS_2