
"Kakah ... nih nain nih," ucap Alda kepada Adela yang tengah berbaring miring dalam balutan selimut. Ia menatap Alda yang tengah main masak-masakan sendiri. Jika saja dirinya tidak sakit, ia pasti akan menemani adiknya bermain.
"Kakah!!" seru Alda.
Adela yang baru saja ingin memejam mata karena mengantuk efek obat yang baru saja ia minum, mengerjap mata lemas. Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala Alda.
"Kakah bobok duyu, yah. Adek main duyu cendili," jawab Adela.
Seraya mengerti, adiknya lantas menggeleng. "Nih ... nih, nain," ucap Alda. Ia menarik tangan Adela untuk menyentuh mainan yang tengah ia pegang. Meminta Kakaknya untuk bermain seperti biasa.
Adela yang lemas, kembali menarik tangannya dan memeluk dada. "Akuh agih cakit, Dek. Ndak kuat main," balasnya. Kelopak mata Adela menyipit, menahan panas yang masih menerjang tubuhnya. Pilek dan batuk ikut mendominasi.
Alda menatap Kakaknya lama. Dan merangkak, mendekati Adela. Ia kecup pipi Kakaknya. "Nanas ...." ujar Alda.
"Hem." Adela mengangguk.
Tak berapa lama Gana kembali masuk ke dalam kamar, setelah mengantar dokter yang habis memeriksa Adela, sampai ke pintu utama untuk pamit pulang. Ia merangkak naik ke atas kasur. Kedua anak itu pun mendekap Gana.
"Ayo, tidur! Sudah siang," ucap Gana kepada mereka. Alda mengangguk-angguk sambil memasukan tangannya ke dalam baju Gana, memeras bongkahan permata di sana. Mencari sumber gizinya.
Adela mendongak ke atas. "Mah?"
"Ya?"
"Papa kapan pulangnya, Mah?" anak itu seperti merindu.
"Dua hari lagi," balas Gana singkat, wajahnya masih saja kaku jika nama suaminya sedang disebut.
"Akuh ndak ucah dilulucin aja lambutnya, Mah. Kiting gini ajah ndak papa 'kok," anak cerdas ini seakan paham kalau dialah penyebab orang tuanya tidak saling bicara selama beberapa hari.
"Enggak apa-apa. Nanti, kalau Adel udah sembuh. Kita ke salon, ya. Mama lurusin rambutnya. Mama janji, Nak," Gana mengecup kening Adel yang masih saja panas.
Adela menggeleng. "Ndak ucah, Mah. Kiting aja kayak ginih," balasnya.
Gana menghela napas panjang. Hatinya semakin geram. Karena suaminya berhasil mendoktrin sang anak untuk berubah pikiran. Bukan Gana tidak senang jika sang anak sudah bisa dipengaruhi. Dan tidak lagi menuntut permintaannya, tapi ia kesal karena Adel sakit. Ia masih saja menyangka kalau anak ke empatnya itu sakit, karena menahan kecewa.
"Udah enggak usah dibahas terus. Kamu sekarang tidur!" titah Gana. Adela mengangguk dan mulai memejam mata. Gana kecup lagi pipi tembam Adel.
"Cepat sembuh, ya, Nak. Mama kangen suara berisiknya Adel," bisik nya.
Selama anak itu sakit, rumah memang terasa sepi. Setelah puas menatap Adela, ia menoleh ke sisi kirinya, Gana tersenyum menatap Alda. Entah sejak kapan anak itu sudah menyusu di pangkal dadanya. Lihai sekali si rambut jarang ketika melepaskan kancing-kancing dress sang Mama di area dada sampai Gana saja tidak sadar. Alda memang mirip Papanya. Suka bergegas cepat untuk mendapatkan yang ia mau.
Drrt drrt drrt. Ponsel Gana bergetar di atas nakas. Gana mengulurkan tangan, melewati kepala Adela untuk meraih ponselnya di sana.
[Assalammualaikum, Dek. Adel gimana kabarnya? Sudah diperiksa Dokter?]
__ADS_1
Gana membaca pesan masuk dari Ammar. Dua jam lalu ia menelpon menanyakan kabar anak-anak dan Gana bilang Adel tengah demam. Walau sampai saat ini, nada suara Gana masih tidak hangat kepada lelaki itu.
[Waalaaikumsallam, sudah]
Singkat, padat dan jelas. Di seberang sana, Ammar hanya menghela napas panjang. Istrinya masih saja merajuk. Sejak dirinya tiba di Semarang, tidak ada satu pesan pun yang dikirim pribadi oleh Gana untuk menanyakan kabarnya di sana. Hanyalah anak-anak yang menelpon dirinya, tapi tetap menggunakan ponsel Gana.
[Kata Dokter apa? Terus sekarang Adel lagi apa?]
[Jika nanti malam masih demam. Dokter menyarankan untuk membawa Adel ke Rumah Sakit agar di cek darah. Anaknya lagi tidur, baru saja minum obat]
[Kabarin Abang terus, ya, Dek.]
[Ya]
Melihat balasan pesan seperti itu, di sana Ammar kembali sesak, hati istrinya masih belum melunak. Padahal ia sedang meeting tapi masih disempatkan untuk mengirim pesan kepada Gana.
[Adek lagi apa? Sudah makan siang belum. Jangan lupa minum susu hamilnya, ya, sayang]
Ammar mencoba mencairkan suasana. Ia tekan emosinya. Padahal sebelum ia pergi, dirinya sudah minta maaf. Tapi istrinya ini tetap saja tidak mau menggubris.
Alih-alih dibalas. Status whatsaap Gana malah offline. Wanita itu hanya membacanya saja tidak membalas sama sekali. Padahal di sana Ammar sedang menunggu balasan agar bisa mengambil hati istrinya, syukur-syukur Gana berbalik tanya bagaimana keadaan Ammar setibanya di Semarang.
Setelah perdebatan di meja makan saat mereka sedang berbuka puasa, perihal masalah sepele tentang Adel. Malam nya Gana dan Ammar kembali berdebat. Gana kukuh ingin bekerja di perusahaan Papa Galih walau ia tidak sungguh-sungguh, ia hanya masih kesal dengan perkataan Ammar. Dan Ammar pun ikut tersulut. Ia menolak mentah-mentah.
Ammar sampai mengirim pesan kepada Gemma, untuk tidak memberikan pekerjaan apapun kepada Gana, jika wanita itu tetap memaksa. Dan Gana kecewa, karena dengan begitu Ammar sama saja memberitahukan kepada Adiknya kalau mereka tengah cekcok. Belum lagi Gana yang tidak mau mengikuti kemauannya untuk tidak selalu memanjakan keinginan anak. Ammar seakan hilang kesabaran.
Sebelum keberangkatannya ke Semarang untuk mengecek cabang EG di sana. Ammar sempat berbicara serius dengan Adela dari hati ke hati. Ia tahu anak ini masih kecil, tapi Ammar yakin Adela anak yang cerdas, ia pasti bisa menyerap apa yang akan ia jelaskan.
"Keriting aja udah cantik banget. Gimana kalau lurus? Adek akan lebih cantik. Tapi, Allah sudah memberikan rambut Adek seperti ini. Berarti Adek harus bersyukur. Ingat enggak anak kecil yang duduk di kursi roda waktu kita lagi main ke taman safari?"
Adela mengangguk. "Iya, Pah. Kakak pelempuan botak dan pucat itu, yah?"
"Iya, Nak. Kakak itu harus kehilangan rambutnya karena menderita sakit. Tapi ia masih senang dan gembira walau banyak yang ketawain dia karena botak. Kakak itu tetap bersyukur, karena masih diberikan nikmat hidup walau sedang sakit. Masa, Adek yang sehat-sehat saja, diberikan rambut yang unik dan lucu seperti ini malah enggak bersyukur? Malah mau dilurusin, kalau rambut Adek rusak gimana, Nak? Mau botak kayak Kakak itu?"
Belajar dari pengalaman Ammar dulu, kalau sedang menerima tekanan atau bullying. Sebisa mungkin harus bisa dihadapi bukan dihindari. Harus kita lawan agar menjadi suatu kebiasaan yang melekat. Ubah bagian yang terasa kurang untuk menjadi suatu kelebihan. Ia ingin Adela tumbuh percaya diri melebihi dirinya di masa muda dulu.
Semenjak percakapan itu. Adela mulai paham. Ia tidak lagi merengek untuk meminta diluruskan rambut. Ia harus menerima rambut yang seperti ini apa adanya. Namun, berbeda dengan Gana. Ia akan selalu berusaha untuk mengiyakan apa yang membuat anaknya bahagia. Bahkan sebelum Adela jatuh sakit, Gana memaksa Adela untuk pergi ke salon. Dan Adela menolak tidak mau.
Yang Gana tahu, Adela sakit karena ucapan Ammar yang tetap melarang dan tidak mengizinkan anak itu untuk meluruskan rambut. Walau, kenyataannya memang Adela nya saja yang tubuhnya tengah tumbang.
...🌾🌾🌾...
"Sudah berbuka puasa?" tanya Ammar kepada Anak-anaknya yang saat ini sedang menatap nya dari sana di sambungan video call.
"Udah dong, Pah. Papa di sana udah belum?" tanya Rora. Ia duduk di antara Aidan dan Taya, sedang memegang gawai Gana.
__ADS_1
"Sudah, Nak," jawab Ammar. Baru saja ke luar kota dua hari, tapi dirinya sudah tertimpa rindu akan anak-anak, istri dan rumahnya.
"Papa pulang nya jangan lupa bawa oleh-oleh, ya," ucap Taya dengan kekehan. Ammar yang sedang menyandar di punggung ranjang hotel ikut terkekeh.
"Insya Allah Papa usahain belanja oleh-oleh di sini," balas Ammar.
"Yess, hore!" seru triple A.
"Adek gimana? Udah mendingan belum? Kalau Mama lagi apa?"
Rora menoleh dari duduknya, mencari tahu sedang apakah Gana sekarang.
"Adek udah enggak panas lagi. Kalau Mama lagi bukain bungkusan makanan, Pah," jawab Rora.
"Alhamdulillah----"
"Iya, soalnya tadi banyak banget dapet nya," Aidan menyela.
Di sini, Ammar menautkan alis. "Bungkusan makanan? Maksudnya, gimana?"
"Tadi sore, waktu kita lagi temenin Mama ke apotik beli vitamin tambahan buat Adek. Kita ketemu sama Om baik, Pah."
"Om ... om siapa?" cecar Ammar.
Dari sini, Ammar bisa mendengar suara Gana kalau ia sedang menitah para art untuk memasukan makanan tersebut ke dalam kulkas dan menghangatkannya lagi untuk sahur nanti.
"Katanya sih teman Mama dulu waktu sama-sama kerja," balas Aidan.
Ammar semakin bingung. Ia sedang menerka siapa lelaki yang dimaksud sebagai teman istrinya. Kolega istrinya dulu kah? Atau siapa? Ammar terus meraba-raba.
"Kalian tahu namanya Om itu?" Ammar menyerah. Ia sulit menerka.
Ketiga nya hening, seraya mengingat. Dan amazed nya Aidan malah bertanya kepada Gana.
"Mah, om baik yang tadi kasih kita makanan itu siapa namanya?" Aidan menoleh ke arah Gana yang masih duduk di kursi meja makan.
Ammar sampai membulatkan mata tidak percaya, kalau anak lelakinya itu malah akan bertanya langsung kepada Gana.
Gana yang masih sibuk memotong-motong kue, lantas menjawab tanpa menoleh, tanpa kepo untuk bertanya balik, mengapa sang tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Namanya Om Adri." jawab Gana santai.
"Ha?" Ammar melongo hebat tidak percaya. Bola matanya terbelalak saat nama lelaki yang amat ia benci dan sudah kalah telak dari nya kembali disuarakan oleh Gana.
"Bangsatt!" Ammar geram.
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...