
"ShodaqallahulAzim." Farhan mengakhiri tilawahnya.
Lelaki itu mengaji selama satu jam setelah menunaikan shalat Isya. Sebelum Al-Quran ditutup, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas di pertengahan dada untuk memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Pun untuk orang tua, istri. Dan semoga Ammar dan Gana selalu tenang di alam sana.
Lirih hatinya, ia masih saja menyesal atas apa yang terjadi dengan sahabat tercintanya. Ammar tidak akan pernah terganti dalam memorinya. Walaupun ia pernah ditembak secara brutal dan anak pertamanya harus meninggal dunia. Tapi, Farina dan Farhan sudah memaafkan atas perbuatan Ammar, karena mereka merasa pantas untuk dibantai.
"Aamiin ya Allah." ucapnya mengakhiri doa sambil mengusap wajah. Ia letakan kembali Al-quran di meja. Farhan bergegas keluar dari mushola untuk kembali ke kamar.
Farina sudah lebih dulu berbaring di kasur menyusui Falan. Karena wanita itu juga sedang halangan, jadi tidak bisa melaksanakan shalat jemaah seperti biasa dengan suaminya.
Setelah menghadapi masalah hidup yang begitu pelik dan menyadari bahwa mereka sudah banyak melakukan kejahatan. Farina dan Farhan akhirnya bertaubat dengan khusyu. Walau di satu sisi, mereka menyesalkan mengapa Frady masih belum bisa untuk mengikutii jejak mereka yang sudah kembali ke jalan Allah SWT.
"Duh anak Papi belum tidur?" ucap Farhan kepada batita yang sudah menginjak umur satu tahun dua bulan. Falan lebih muda enam bulan dibanding Rora. Falan terlihat habis di susui. Ia memainkan puncak dada Farina yang sedari tadi habis ia lahap asi nya.
"Mauh ain Apih." seru Falan. Ia bergegas bangkit dari baringnya. Lalu mengulurkan kedua tangan agar Farhan meraihnya.
"Udah malam ya. Sekarang Kakak harus tidur!" titah Farhan.
Farhan menidurkan lagi Falan, menciumi anak itu sampai bergeliat. Falan terlihat segar, malah matanya sekarang tidak mau terpejam. Bergumam sendiri, tertawa sendiri dan main sendiri. Sedangkan Farina sudah terbang ke alam mimpi saat menyusui Falan. Farhan memasukan lagi gunung sintal milik istrinya ke dalam piyama yang sejak tadi menyembul keluar. Lalu mengecup bibir dan kening Farina.
"I love you, Sayang. Mimpi indah ya." Farhan mengusap sebentar rambut Farina yang terurai panjang dan harum tanpa hijab.
Falan tertawa geli saat Farhan kembali membercandai nya. Dan tak lama terjeda karena ada telepon masuk ke ponselnya yang berada di atas nakas. Menciptakan getaran tanpa dering.
Farhan menoleh ke arah ponsel dan membiarkan saja. Ia sudah menerka sendiri, pasti itu dari asisten kantornya. Farhan mempunyai komitmen, jika sudah dirumah bersama Farina dan Falan ia tidak mau diganggu. Keluarga dan waktu istirahat adalah nomor satu.
Drrt drrt
Drrt drrt
Drrt drrt
Gawai berhenti bergetar.
Dan dua menit kemudian. Ponsel itu kembali bergetar, sesaat dirinya sudah masuk ke dalam selimut untuk mengikuti jejak istrinya yang sudah terbang ke alam mimpi. Mengelus-elus lembut Falan yang sekarang memeluknya, dipaksa untuk tidur.
"Apih tuh nunii!" Falan menunjuk ke belakang punggungnya. Anak itu kepo karena ponsel Papinya terus berbunyi. Tapi Farhan memaksa untuk memejam mata sambil memeluk Falan dan Farina.
Dan si batita tetap saja tidak mau tidur. Bergeliat ingin bangun, tapi Farhan sekuat tenaga menidurkan anak itu kembali.
"Tidur, Kak. Kalau enggak tidur nanti di gigit setan."
"Ata tuh eyan, Pihhhhhhh." nyaring sekali anak ini menjawab.
Karena ponsel itu terus saja bergetar dan membuatnya pusing karena terganggu. Serta membuat istrinya bergeliat. Ia tidak mau sampai Farina terbangun dan terganggu tidurnya. Pasalnya dari pagi wanita itu sudah letih mengurus Falan. Akhirnya dengan perasaan kesal Farhan beringsut untuk meraih gawai tersebut.
__ADS_1
Ia tatap sebuah nomor baru yang berada di layar.
"Siapa ya? Nomornya tidak dikenal." gumamnya. Ponsel terus bergetar dan tangan Falan seakan ingin meraih ponsel itu namun Farhan menjauhkan dari jangkauan tangan anaknya.
Ia biarkan sambungan telepon itu terputus, dan kembali berbunyi. Rasa penasaran yang menghujam jiwa akhirnya ia jawab.
"Assalammualaikum, hallo?" Farhan lebih dulu menyapa.
Hening. Hanya ada hembusan napas dari seberang sana.
"Hallo? Siapa ini?" Farhan mengulang. Kini nada suaranya meninggi. Karena lelaki itu kesal dipermainkan.
"HALLO!" sentak nya. Sampai Falan melongo dan bergumam "Ana atah Pih ...." anak lelaki itu ingin meraih ponsel yang mengatung di telinga sang Papi, namun Farhan menjauhkannya.
"Siapa anda?" Farhan tetap memaksa. Ia merasa aneh, siapakah orang iseng yang malam-malam ini menganggu dirinya?
"HALLO! Jangan macam-macam dengan saya. Saya bisa lacak anda!"
Ada suara tawa dari sana.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kamu bisa melacak aku, Han."
Dahi Farhan berkedut-kedut. Bola matanya berpendar kesana kemari seraya sedang mengingat. Dan dirasa terkaannya benar. Deru napas Farhan langsung memburu dalam sekejap. Ia memegang dada karena sesak.
"Aaa---Aa--AMMAR?" desah Farhan tidak percaya, bibirnya menganga sulit untuk di katupkan. Rasa kaget menembus sukma nya. Hampir saja ponsel yang sedang ia pegang terjatuh. Tidak perduli Falan terus menarik-narik bajunya untuk meraih ponsel.
"Enggak mungkin!" Farhan meneguk salivanya dalam-dalam. Lelaki itu lemas. Seakan puasa empat puluh hari tanpa sahur.
"Mungkin, Han. Aku di sini. Masih hidup." nada bariton Ammar kembali menggema di telinganya.
"Enggak mungkin!" Farhan lirih. Ia kembali mengulang kalimat ketidak percayaannya. Terus menggelengkan kepala lemah. Jantungnya berdetak kencang. Air matanya bergerumun di pelupuk. Tiga tahun lebih, lelaki itu hilang dan sudah dianggap mati, dan kini menelepon dirinya dengan suara lembut.
"Mungkin, Han. Ini aku, Ammar." di seberang sana, Ammar mengulangi pembenaran itu.
Bukan hanya tangan Farhan yang tremor, tapi sekarang tubuhnya juga. "Be--benarkah?" lidah yang sejak tadi terasa kelu untuk menanyakan lebih jelas, kini sudah bisa menyergahnya.
"Aku ingin bertemu kamu, Han."
"Benar ini kamu, Ammar?" dengan satu kedipan mata, air bening Farhan begitu saja terjerembab lurus jatuh dari sudut matanya.
"Apih nataah nanis?" Falan, si lucu. Menyeka air mata diwajah Papinya.
Seakan mendengar celotehan sang anak. Di sana Ammar tersenyum. "Anakmu, Han?"
Farhan yang masih belum bisa menenangkan denial nya, apakah ini hanya ilusi atau nyata, lantas mengangguk. "Iya, Ammar. Namanya Falan anak keduaku."
__ADS_1
"Maaf karena aku, kamu harus kehilangan anak pertamamu." Ammar kembali bertutur. Ammar membuka pembicaraan ini layaknya tidak terjadi apa-apa di masa lalu. Seakan ia dan Farhan tetaplah berteman karib.
Farhan mengangguk lagi dengan tatapan kosong ke arah depan. Seakan Ammar ada di sini sekarang sedang menatapnya. Jantung Farhan masih bertalu-talu, dirinya sulit untuk percaya.
"Ini benar kamu, Ammar? Jadi kamu tidak mati?" seolah Farhan masih tidak percaya. Ia terus mengulang-ulang.
"Seperti yang kamu dengar sekarang. Ini aku. Alhamdulillah aku sehat-sehat saja, begitupun Gana. Aku harap keluargamu juga baik-baik saja."
"APA?" Farhan kembali tersentak. Lelaki itu setengah berteriak, sampai Farina mengerjapkan kedua matanya. Istrinya terbangun.
"Pih, kenapa?" Farina setengah bangkit. Ia menatap Farhan kaget. "Siapa yang telepon? Kenapa wajah kamu pucat begitu?"
Di sana Ammar hening, ia kembali mendengar suara Farina setelah bertahun-tahun lamanya. Suara wanita yang dulu paling ia benci, namun sekarang perasaan benci itu sudah memudar. Berkat keikhlasan, Ammar diberikan rasa besar hati oleh Allah untuk memaafkan.
"Besok aku akan ke kantormu bersama Gana dan anak-anaku pukul sepuluh pagi. Ajak juga Farina dan anakmu. Aku ingin melepas rindu dengan kalian."
Seketika air mata Farhan yang menggenang langsung tumpah ruah. Seakan batinnya tidak kuat menahan haru.
Sesosok yang selalu ia doa kan dalam doanya.
Sesosok yang ingin sekali ia cari keberadaannya sampai ke dasar bumi untuk meminta maaf.
Sesosok yang setengah hati sudah ia relakan kepergiannya. Kini hadir kembali. Plong sekali hatinya.
"Mamih, Apih nanis!" tunjuk Falan sambil melihat ke arah Farina. Farina mendekat, mengusap punggung Farhan. "Kamu kenapa sayang? Siapa yang telepon? Kenapa kamu nangis?" lembut sekali Farina berkata.
Di sana pun Ammar menangis dalam dekapan Gana.
"Sabar Abang." Gana terus menguatkan. Pangkal bahu Ammar membuncang. Gana pun ikut meneteskan air mata. Ia terharu karena mendengar isak tangis kerinduan dari Farhan di seberang sana.
Keduanya merindu.
Sejahat apapun Farhan, lelaki itu tetaplah sahabatnya. Sesosok yang sudah ia anggap lebih dari saudara. Persahabatan yang dimulai dari duduk di kelas dua sekolah dasar. Sering menghabiskan waktu liburan bersama sampai ke luar negeri dengan masing-masing keluarga.
Farhan yang dulu tidak segan-segan memukul orang lain yang berusaha menyakiti Ammar. Mereka saling melindungi. Sampai akhirnya Farhan berubah karena ketamakan, kerakusan dan ambisinya yang sangat jahat seperti Iblis. Ia terlupa bahwa Ammar lebih penting dari segala yang ingin ia capai. Terbukti selama Ammar meninggalkannya, lelaki itu terpuruk dan hampir depresi.
"Aku rindu kamu, Ammar."
DEG.
Bola mata Farina seketika ingin rontok terserak, saat suaminya menyebut nama Ammar di sambungan telepon.
"Masya Allah!" seru Farina tidak percaya.
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾
__ADS_1
Besok Falan sama Aurora ketemuan ya🌾🌾