
"Maksudnya gimana, Bim?" Ammar menjauh ke sudut lantai tiga untuk menerima sambungan telepon dari Bima. Lelaki itu tengah membicarakan proyek yang sedang berjalan di Sumatera. Sepertinya ada kendala yang mengharuskan Bima untuk menghubungi Presdirnya di hari libur seperti ini. Padahal, Ammar sangat pantang untuk membahas masalah perusahaan jika ia sedang libur.
Di meja biliyard tinggal lah trio kwek-kwek, eh! Trio ex mafia, maksudnya. "Nyundul bola aja enggak becus, masa dari tadi enggak masuk-masuk." Alex berdecih kepada Farhan.
Farhan yang sedang konsentrasi menyundul bola dengan ujung stick ke lubang meja, mencebik. "Bawel, lu! Biasanya aku paling khatam kalau soal sundul-menyundul. Sundul Farina, maksudnya. Haha." lelaki itu tertawa.
Dan.
Bola yang disundul nya meleset.
"Syukur! Mesum aja si otak kamu!" dengus Mahendra. Kini, ia tengah berancang-ancang untuk menyundul bola.
"Ya, bagus dong. Biar awet muda," balas Farhan dengan kekehan.
"Jadi kangen sama pengin. Udah lama aku sama Anna, nggak ecem-ecem, seminggu ada kali, ya." gumamnya lagi.
Pasal nya Anna memang sedang datang bulan. "Nanti, mau ajak honeymoon 'ah ke hotel." Alex senyam-senyum membayangkan kemesraannya nanti bersama Anna. Walau dia selalu berbicara tegas kepada istrinya, tapi di dalam hati. Lelaki itu amat mencintai istrinya. Karena hanya Anna, wanita yang mampu menerima Alex dengan wajah rusak dan cacat dulu.
Keduanya mencebik. "Halah, terong! Bisa bucin juga kamu, Lex."
Alex tertawa. "Bucin ke istri 'tuh penting. Biar rasa sayangnya awet."
Mahendra dan Farhan mencebik dan mengubah mimik wajah seperti ingin muntah.
"Lebay, kalian!" desis Alex.
"Silahkan, Pak. Di nikmati." lagi-lagi suara Yanti yang baru tiba di meja bartender, membuat ketiganya menoleh dan memberikan senyum. Mereka tergugah, karena Yanti berganti pakaian. Belahan dada Yanti begitu terlihat dan mengundang hawa napsu. Yanti kembali naik ke lantai tiga untuk membawakan beberapa cemilan di piring.
Dan para kucing belang mulai tergugah dengan kemolekan ikan cuek betina ini.
Mahendra, Farhan dan Alex mendekat ke meja. Mumpung Ammar sedang menerima telepon, menatap ke jendela, memunggungi mereka semua.
Yanti duduk di dalam bartender. Sedangkan ketiga nya duduk di area luar, namun menghadap ke arah Yanti.
Mahendra lebih dulu menyesap air teh manis yang sudah beranjak tidak panas lagi. Pun dengan Alex dan Farhan.
"Duh, panas!" seru Farhan.
"Ah, masa? Ini hangat, Han," ujar Alex sesaat sudah meminum sedikit demi sedikit air teh dari dalam cangkir.
"Sini, Pak. Biar saya tiup." Yanti meraih cangkir yang sedang di genggam oleh Farhan. Dan lelaki itu menyergah nya.
"Oh, enggak apa-apa 'kok. Saya bisa tiup sendiri." Farhan menarik lagi cangkir dari tangan Yanti.
Yanti tidak mau kalah. Ia tersihir pesona Farhan yang begitu tampan mirip seperti Jonas Rivano. Wanita itu menarik cangkir Farhan dengan paksa.
"Enggak apa-apa, Pak. Sini, saya bantu."
Dan Farhan tetap mengelak. "Jangan di tiup, nanti---"
__ADS_1
"Ah, banyak bacot! Sini, biar aku yang tiup!" Alex mengambil cangkir teh tersebut untuk ia tiup. Dan air ludah pun terciprat.
"Jorok kamu, Lex!" Mahendra dan Farhan berseru.
Alex terkekeh. "Anggap ini antibiotik. Bikin sehat. Ayo, minum!" Ia menyodorkan lagi kepada Farhan.
"Gila kali! Enggak mau 'ah!" Farhan meletakan cangkir berisi teh itu di meja.
"Mau saya buatkan lagi, Pak?" tawar Yanti.
Farhan menggeleng. "Enggak usah, kamu di sini aja."
Eh?
Buru-buru Farhan melipat bibir saat kedua temannya mendelik. "Jangan salah paham. Aku hanya latah." kilahnya yang memang benar. Ia hanya tidak enak hati dengan Yanti yang akan capek bolak-balik untuk membuatkan dirinya teh. Dia kan hanya tamu bukan majikan.
"Kamu asli mana?" kini, Mahendra yang mulai bertanya.
"Asli jawa, Pak."
Mahendra tertawa kecil. "Jangan Bapak, dong. Mas, aja. Saya kan masih muda."
Yanti mengangguk dengan senyum penuh goda. Jika di lihat-lihat aura Mahendra pun terpancar di pandangan mata Yanti. Lelaki itu mirip Ibnu Jamil.
"Iya, Mas." Yanti mengulang.
"Enak aja, panggil Mas. Ketuaan!" sergah Alex.
"Iya, Pak. Harusnya di panggil apa?" tanya Yanti kepada Alex dengan senyuman manis, seperti sedang menatap Adul. Eh!
"Harusnya kamu manggil dia itu, Kakek. Kakek Hendra. Haha " selak Farhan. Ketiganya semakin asik mengobrol dengan Yanti. Sedangkan Ammar sedang menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena bingung dengan masalah yang tengah di jelaskan oleh Bima di seberang sana.
Mahendra mendengus. "Tuaan juga wajah kalian dibanding aku."
"Wajah Bapak semua masih awet muda 'kok. Tampan, berkarisma dan maco! Beneran 'deh." bibir Yanti yang berwarna merah darah sampai monyong-monyong ke depan.
"Masa?" bola mata mereka bertiga berbinar. Farhan sampai mengelus wajah. Bukan tergugah karena di goda Yanti. Tapi kepercayaan dirinya sebagai lelaki tampak.
Yanti mengangguk-angguk senyum renjana.
"Berarti saya masih tampan, ya?" ulang Mahendra.
"Masih muda ...." puji Alex kepada dirinya sendiri.
"Berkarisma dan perkasa, cocok lah kalau sama is----"
"COCOK SAMA SIAPA?"
Ammar yang masih memunggungi mereka sampai berbalik badan karena mendengar hardikan dari seorang wanita yang suaranya sangat khas kepada Farhan. Lelaki itu kaget karena para temannya ini sudah duduk di bartender dengan Yanti. "Sejak kapan mereka di sana?" tanya Ammar dalam hati.
__ADS_1
Mata elang mantan mafia langsung meredup bagai kucing batita yang memelas ingin di susui. Manakala ia lihat tiga wanita berhijab dengan gamis panjang yang tidak lagi memuncarkan aura teduh seperti biasanya.
Farina, Mulan dan Anna melototkan mata horor kepada lelaki yang bertahun-tahun sudah mereka nikahi. Tubuh mereka semua lemas, mengapa bisa bidadari hati tiba-tiba muncul di sini.
"COCOK SAMA SIAPA, PIH?!" teriak Farina, seakan tenggorokannya ingin terlepas saking nyaring suara yang ia keluarkan.
"Ahh, sakit, Mih!" erang Farhan saat perutnya di cubit. "Cocok sama Mami, maksudnya."
"Kamu, Yah!" Mulan mengeratkan giginya kepada Mahendra. "Hanya ngobrol santai, Bu," balas Mahendra.
"Udah tua! Perut buncit, nggak mikir apa masih ganjen ajahhhhhhhh!" Mulan mengerang, ia menjewer telinga Mahendra dan membawa lelaki itu berlalu.
Pun dengan Anna, selepas menghentakkan kakinya karena merajuk, ia berbalik badan untuk berlalu dari sini dan Alex blingsatan mengejar.
"Ayang beb, tunggu!" Alex mengekor langkah Anna yang ingin masuk ke dalam lift bersama Mulan dan Mahendra.
Ammar yang masih tercenung tidak percaya hanya mengusap dada. Ia bersyukur karena Bima menelepon tepat waktu dan ia tidak ikut bergabung ketika para temannya sedang bercakap-cakap dengan Yanti.
"Kamu!" Farina menunjuk Yanti. "Pantas kamu sebagai asisten rumah tangga pakai baju seperti itu?"
Yanti yang sejak tadi terpelongo tidak percaya karena kerusuhan para istri, seakan bangun dari lamunan. "Maaf, Bu." Yanti menundukkan kepala.
"Yanti, kamu turun!" Ammar mengambil komando. Ia hapal sekali sifat Farina yang berani seperti istrinya. Dari pada Yanti berubah jadi cincangan jangkrik campur kornet. Lebih baik wanita itu pergi menjauh.
"Eh, mau kemana? Saya belum selesai bicara----" Farhan langsung memeluk perut istrinya dari belakang, saat wanita itu ingin menarik lengan Yanti. Yanti bergegas berlalu dengan lift.
Farina mengurai dekapan suaminya. Ia berbalik menatap tajam Farhan.
"Aku bilangin Papaku, ya! Biar kamu di tembak!" ancam Farina kepada Farhan. "Bisa-bisa nya kamu godain dia, Pih!" Farina memukul lagi lengan Farhan untuk mengeluarkan kecemburuannya.
Manik mata Ammar membola ketika Papa Frady di sebut. Mantan mafia kejam yang dulu ingin memenjarakannya. "Wah, habis nih Farhan." kekeh Ammar.
"Mami salah paham."
"Apa nya salah paham??"
"Aku enggak godain dia, Mih. Sumpah." Farhan menoleh ke arah Ammar untuk di bela.
"Iya benar, Rin. Farhan menggoda. Eh!" buru-buru Ammar melipat bibir dan Farhan melotot ke arahnya. "Monyet, lu!"
"Tuh, kan!!" Farina kembali berteriak. "Cinta Papi cuman sama Mami, udah mentok."
"Halah, Farhan! Cinta! Cinta! Berakk kucing!! Kalau ada wanita yang tongolin buah dada kayak tadi, juga kamu sikat 'kan?!"
"Enggak lah, Mih. Dia mah kendor. Eh!"
Manik mata Farina dan Ammar membeliak tidak percaya, karena ucapan Farhan sama saja menjelaskan bahwa ia memperhatikan milik Yanti sedari tadi.
"PAPIIIIIIIIIIIIII!!"
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...