Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku tanpa istriku, dan kamu tanpa suamimu.


__ADS_3

Terlihat gemercik air membasahi setiap kelopak bunga mawar kesayangan Ganaya. Ammar rutin menyirami kembang-kembang peliharaan istrinya setiap pagi. Sudah dua minggu tanpa Gana di sisinya. Dan selama itu pula ia belajar ikhlas walau masih sulit. Kadang ia kuat, kadang semangat, lalu runtuh lagi.


Pencaharian dari tim gabungan sar dan polisi sudah di tutup. Gana dinyatakan meninggal dunia. Di hari ke 7 pencaharian, terdapat potongan baju dress yang diyakini milik Gana terdapat di bibir penyaringan air sungai yang akan terlepas ke laut.


Dan di hari ke 10, Polisi berhasil membekuk pelaku yaitu anak buah Tn. Frady, ayah Farina. Namun pelaku di minta tutup mulut oleh Frady, agar dalang dari semua ini tidak terbongkar.


Jika pelaku buka mulut, tentu bukan hanya masalah kecelakaan Gana yang terkuak, tapi juga tentang kejahatannya sebagai Mafia akan terekspos. Ketika pelaku tersebut di masukan kedalam sel penjara. Untuk mencari aman lagi, Frady membunuh pelaku tersebut di dalam sel nya, tentu dengan rapih dan licin. Jika ada uang semua pasti tuntas.


Hari terus berganti. Dari keterpurukan itu, Ammar mulai bangkit. Setiap pagi setelah menyirami tanaman. Ia akan pergi ke lokasi kecelakaan Gana. Akan menebar bunga-bunga yang harum di sana. Menanti kepastian, siapa tahu Gana ada hadir kembali.


Sampai Papa takut lama-lama anaknya menjadi tidak waras. Dan saat ini Ammar masih di awasi oleh Dokter Spesialis Jiwa, masih minum obat penenang jika ia mulai panik.


Setiap mau tidur, mama menyetel murotal bacaan ayat Al-Quran di atas nakas. Agar bisa menemani Ammar untuk tidur setenang mungkin. Ammar rutin bangun tengah malam untuk shalat tahajud, ia masih bermunajat agar Gana tetap kembali, walau ia tahu rasanya sangat mustahil.


Dua minggu terasa berat. Hatinya dulu sangat terisi, kini kopong seperti daging di tubuhnya. Ammar sangat kurus, bulu-bulu halus mulai tampak di area bibir dan dagu. Tidak lagi memperhatikan diri. Rasa bersalah kepada Gana terus membuat dirinya tertekan.


Ia sampai menyesal. Lebih baik ia tidak menikah dengan Gana, kalau akhirnya wanita itu pergi untuk selama-lamanya. Jika saja ia bukan seorang mafia, mungkin Gana masih bisa hidup dengan tenang. Tanpa ada orang yang terus ingin membunuhnya. Dan Ganaya akan tetap hidup sampai sekarang.


Tidak bersama, tidak apa katanya. Yang penting Ia masih melihat senyum Gana. Tapi Pak Ustadz bilang, semua ini sudah ketetapan Allah. Jodoh Gana sudah habis di Ammar, kini tinggal Ammar yang harus tetap melangkah di dunia.


Pak Ustadz juga bilang, kita tidak boleh mencintai manusia lebih dari Allah. Karena Allah Maha pencemburu. Mungkin hal ini adalah teguran dari Allah, karena Ammar terlalu mendewakan Gana.


"Pak ..."


Ammar yang masih sibuk menyirami tanaman, dan memberi pupuk menoleh ke arah Yuni.


"Ya?"


"Yuni nemuin ini, Pak. Ini pasti punya Bik Ningsih."


Ammar menautkan alis. Ia menilik sebuah botol kecil berisi cairan dan sebuah hape.


"Ketinggalan ya?"


Yuni mengangguk.


Ningsih memang kabur begitu saja dari rumah, dua hari yang lalu. Ia tidak tega menanggung kesalahan atas kepergian Gana yang membuat Ammar depresi.


Akhirnya tengah malam, tanpa ada yang tahu pembantu itu melarikan diri. Pagi ini, Yuni baru membereskan kamar Ningsih yang terlihat acak-acakan. Karena saking buru-burunya, Ningsih sampai melupakan gawainya.


Ammar lebih tertarik dengan botol cairan tersebut, ia buka tutupnya dan sedikit ia cium aromanya. "Bau banget nih." Ammar langsung menyodorkan botol itu lagi kepada Yuni.


"Kayak obat ya, Pak?"


Ammar mengangguk sambil mengibaskan lubang hidungnya.


"Terus tadi waktu Yuni pegang hape ini, ada telepon masuk, Pak. Dari Ny. Farina istri Pak Farhan. Sayangnya Yuni enggak angkat, keburu mati."


"Dan Yuni coba baca pesan-pesan di whatsaap. Ada pesan masuk terakhir dari Ny. Farina, ia menanyakan tentang kabar Bapak, dengan kalimat tidak mengenakan. Apakah Bapak sudah gila, katanya begitu."


"Apa? Farina? Farhan? Maksudnya---"


Yuni mengangguk lagi, seraya mengiyakan terkaan Ammar. Kalau dua orang itu, adalah orang yang paling ia kenal. Farhan, sahabatnya.


"Kalau saya enggak salah persepsi ya, Pak. Kayaknya Bik Ningsih di bayar sama mereka untuk jadi mata-mata dirumah ini."


"Bapak ingat enggak, waktu Ibu hampir tenggelam di kolam renang? Kesetrum listrik? Keracunan makanan? Pada saat asma, tapi botol inhaler nya tiba-tiba hilang, dan yang terakhir Ibu gatal-gatal parah sampai di rawat, Bapak ingat 'kan?"


Penjelasan Yuni, membuat Ammar kembali terperosok masuk ke dalam bayangan-bayang beberapa waktu lalu dimana kejadian keji terus terjadi menimpa istrinya.


Ammar mengangguk mantap, ia seraya mengiyakan. "Saya baru ingat, kalau Bik Ningsih itu memang Farhan yang rekomen. Tiba-tiba waktu itu dia kasih saya art tambahan, setelah kamu dan Bik Ratih sudah tiba dirumah."


"Tuh kan Pak! Bener dugaan Yuni. Bik Ningsih memang berkomplot dengan Pak Farhan. Mereka ingin membunuh Ibu, Pak."


DEG.


Remuk dada Ammar. Bola matanya membola hebat dengan deruan napas yang tiba-tiba kasar. Menahan amarah, sampai tidak sadar ia sudah meremukan gagang gembor penyiram tanaman dalam genggaman tangannya.


"Brengseek!" seru Ammar. Ia melempar gembor itu ke tanah dengan amat geram. Lalu memutar langkah untuk masuk kedalam rumah. Berjalan cepat menuju kamar dan meraih sebuah pistol yang masih ia simpan untuk berjaga-jaga, jika di rumahnya kemasukan penjahat.


"Bapak mau kemana, Pak?" tanya Yuni cemas. Saat Ammar keluar dari kamar. Yuni takut, Ammar akan mendatangi Farhan. Ia ingin mengadu kepada Mama dan Papa untuk menghentikan Ammar, tapi mereka sedang tidak ada.


"Kamu jaga rumah ya, Yun. Siapa tau istri saya pulang. Saya mau pergi dulu sebentar."


Hati Yuni berdesir sedih. Majikannya terus saja berkata jika Gana pasti akan kembali. Yuni hanya memandang sedih kepergian Ammar dengan kereta besinya. Namun sesampainya mobil itu di gerbang, mobil Bima dan Denis tiba.


Ammar menyuruh mereka mundur agar mobilnya bisa keluar.


"Kalian mau sarapan? Masuk aja ke dalam." ucap Ammar setelah kaca jendela mobil ia turunkan.


Bima dan Denis menggeleng bersamaan. "Kami malah bawain kulit ayam kesukaan Bapak. Ayo, Pak. Kita makan dulu." ucap Bima. Sudah dua kali weekend, pasti Bima dan Denis akan menjenguk mantan bosnya ke rumah.


Ammar menggeleng senyum walau hatinya sedang patah dan hancur. "Saya ada urusan. Kalian saja yang makan duluan." Ammar kembali menyalakan deru mesin mobilnya. Dalam keadaan emosi seperti ini, ia tidak akan selera makan, sebelum melihat Farhan atau Farina mati, menyusul ajal.


"Kayaknya ada yang aneh, Bim. Kita ikutin Bapak." titah Denis. Bima pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa perasaan Bima dan Denis jadi tidak enak. Mereka berdua memutuskan untuk mengekor Ammar. Takut-takut lelaki itu melalukan sesuatu hal yang berbahaya.


Yuni bisa mengusap dada lega, karena Bima dan Denis akhirnya mengikuti majikannya.


"Semoga aja Bapak enggak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya lagi." doa Yuni. Ia sedikit menyesal, karena sudah mempengaruhi Ammar. Tapi ia juga kesal, tidak terima. Jika Farina dan Farhan menang begitu saja.


Yuni memandang langit luas yang berwarna biru. "Ibu yang tenang ya. Bapak di sini banyak yang jagain kok, Bu." ucap Yuni sedih. Air matanya menggenang, ia rindu wanita itu.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Terdengar keributan antar pasangan suami istri di dalam kamar. Farhan emosi lantaran ia mengetahui perbuatan Farina yang sebenarnya.


Lelaki itu tidak akan menyangkan kalau Farina tega nekat membunuh Gana dengan cara seperti itu. Ia baru tahu, saat Farina tengah berbicara di sambungan telepon dengan Papa mertuanya secara sembunyi-sembunyi.


"Oke deh, aku emang salah. Udah nggak jujur sama kamu. Tapi please dong, apa pantas kamu marah-marah kayak begini hanya untuk belain wanita bodohh itu? Dia loh yang udah pisahin kamu sama Ammar, dia juga yang hampir bikin nyawa bayi kita terancam! Kamu enggak ingat, Han?" ucap Farina sambil mengelus-elus perut buncitnya yang sudah memasuki usia delapan bulan.


Farhan masih berapi-api dalam emosinya. Ia bertolak pinggang menunggungi Farina menghadap ke jendela luar dari dalam kamar. Hanya terdengar dengusan napas kasar dari lelaki itu.


Farhan berbalik dan menatap tajam Farina. "Masalah akan semakin melebar kemana-mana, Rin. Cepat atau lambat Ammar akan tahu, kalau dalang dari kematian istrinya adalah kamu."


Farina tertawa. "Ya 'kan ada kamu yang lindungi aku."


"Ini bukan momen untuk bercanda, Rin!"


Farina menghempaskan tawanya. Lalu menatap serius, sambil membelai pipi suaminya dengan gerakan menggoda. "Bukannya cita-citamu dari dulu untuk membunuh Gana? Memisahkan dia dari Ammar? Kamu juga 'kan yang membuat dia lumpuh? Mencoba membunuhnya beberapa kali dan gagal? Lalu salahku dimana? Aku hanya ingin membantu suamiku untuk bisa---"


Tok tok tok.


Ucapan Farina terhenti ketika ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Kenapa, Bik?"


Hening. Tidak ada jawaban.


Tok tok tok


"Bik?" kini Farhan yang melemparkan pertanyaan ke luar. Mereka masih menganggap yang mengetuk adalah art mereka.


Dan.


BUG!


Farhan seketika terhuyung ke belakang ketika baru saja menyembulkan kepalanya dari balik pintu, saat itu juga ia langsung dihadang dengan tendangan kaki dari Ammar.


Terlihat Bima dan Denis sedang membekukan beberapa art dan satpam.


"Ahhh ... Sayang." teriak Farina. Ia beringsut memegangi Farhan yang terjatuh.


Mereka menatap Ammar kaget setengah mati. Sungguh tidak percaya mengapa bisa lelaki ini tiba dihadapan mereka sekarang.


"Ammar, kenapa kamu seperti ini? Tiba-tiba datang kerumah kami dan menghajar Farhan!" sentak Farina.


Ammar dengan otot rahang yang sudah mengencang dan kaku, hanya menilik Farhan dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Aku datang untuk membalaskan dendam atas kematian istriku!" ucap Ammar garang sambil menekan pelatuk pistol yang secepat kilat ia tarik dari kantung celana.


Dan


DORR.


Farina kembali berteriak. "Sayang." serunya lemas melihat Farhan mengaduh sakit.


Ammar tertawa. "Itu belum apa-apanya dari setiap kejahatan yang telah kamu berikan kepada istriku selama ini."


Dan


DORRR.


Bunyi tembakan kembali terdengar.


"Ahhhhhhhhhhhhhhhh!" desah Farhan kali ini lebih panjang, saat lengannya yang terkena tembakan.


"Pergi, Rin. Tinggalkan aku dan Ammar." seru Farhan. "Enggak! Aku nggak mau dia berhasil bunuh kamu!" Farina menangis.


"Ammar, maafkan aku. Aku khilaf." rintih Farhan.


Ammar tertawa sarkas. Kegilaan semakin memeluk dirinya.


"Percuma, Han. Istriku sudah mati, aku tidak butuh maaf darimu. Jika harus masuk penjara dan di pidana mati karena sudah membunuh sahabat sendiri. Aku siap! Yang penting istriku bisa tenang di sana ..." Ammar menatap sendu langit-langit kamar Farhan, seraya mencari bayangan Gana di sana. Dan ia seperti menemukan, lalu tersenyum.


Sampai dimana Ammar menunduk, ketika Farina memeluk kakinya. Wanita itu bersimpuh untuk meminta pengampunan.


"Tolong Ammar, jangan bunuh Farhan. Aku mencintainya." Farina terisak.


"Rina ..." lirih Farhan sambil menahan sakit dan mengedep darahnya yang terus keluar dari dua bagian sisi tubuhnya.


Ammar menatap keji, sedikit menendang Farina untuk menjauh dari kakinya lantas menarik tubuh ibu hamil itu dan mencekik lehernya. Ia himpit Farina ke dinding.


"Aku juga sangat mencintai istriku. Tapi kenapa dengan mudahnya kamu melenyapkan dia?" tangan kiri Ammar mencekik leher Farina, sedangkan tangan kanannya menyapu pipi wanita itu dengan ujung pistolnya.


"Ammar aku mohon. Lepaskan istriku, dia sedang mengandung. Balas 'kan saja dendam mu padaku." pinta Farhan amat memelas.


Wajah Farina sudah basah. Ia menatap Ammar takut. Tentu Ammar sudah berubah menjadi iblis yang sebenarnya.


Farina memekik, ketika ujung pistol Ammar letakan di kelopak matanya yang tiba-tiba memejam.


"Kamu mau di bagian mana, Rin? Katakan padaku." tanya Ammar dengan nada mengejek. Ujung pistol ia sisir kan dari bawah dagu, lantas naik ke atas pipi dan kini berakhir di pertengahan dahi Farina.


"Ammar!" seru tak berdaya dari Farhan.


"Maaa--maaf." ucap Farina gugup. Jantung wanita hamil itu berdegup kencang, seperti genderang mau perang. Dan Ammar puas dengan suasana mencekam di kamar ini yang baru saja ia ciptakan.


"Bagaimana kalau sekarang kita buat posisi kita menjadi sama, Rin. Aku tanpa istriku, dan kamu tanpa suamimu."

__ADS_1


Farina menggeleng frustasi. Ia memohon agar Ammar tidak membunuh suaminya.


"Aku benci padamu. Aku ingin membunuhmu sekarang juga! Tapi aku bukanlah banci yang hanya berani dengan wanita. Seperti yang telah suamimu lakukan pada istriku atas kecelakaan pertamanya. Jadi, aku ingin membuat kamu menderita seperti aku. Hidup tanpa suami, dan tanpa ayah untuk anak yang sedang kamu kandung!" nyeri hati Ammar, saat ia sudah mendengar semua percakapan antara Farina dan Farhan tentang kejadian yang banyak menimpa Gana.


Dan.


DORR


DORR


DORR


Ammar berbalik menembaki tubuh Farhan dengan secara brutal. Lelaki itu langsung limbung tidak berdaya di atas lantai. Entah dibagian mana saja peluru menancap. Farina berteriak histeris lalu berlari menuju Farhan yang sedang di kritis.


Ammar menatap Farhan sekilas yang sudah memejam mata di dalam pelukan Farina. Lelaki itu kemudian berlalu pergi dari kamar.


"Pak ..." seru Bima dan Denis yang sudah mengekor langkahnya dari ambang pintu rumah. Dua lelaki itu mampu mengikat tiga art, dan dua satpam. Hanya berjaga di ruang tamu sesuai perintah Ammar, saat lelaki itu sedang mengesekusi Farhan.


"Bapak mau kemana lagi?" tanya Denis.


"Mau ke jurang. Saya mau melepas rindu." jawabnya santai.


"Pak Farhan?" tanya Bima. Pasalnya mereka dengar ada beberapa bunyi tembakan dari dalam kamar. Dan Ammar pasti menang, karena Farhan tidak jago dalam menembak.


"Tunggu saja berita kematiannya, dan jadwalku masuk penjara."


Bima dan Denis meneguk salivanya dalam-dalam. "Kita pergi aja yuk, Pak. Kita kabur." mohon Denis.


Langkah Ammar terhenti, bertepatan sampai di pintu kemudi. Ia berbalik badan menatap Bima dan Denis. Dua asisten terbaik yang selama enam tahun terakhir selalu menemaninya. Baik dalam kepemimpinan di kursi Presdir sampai menjadi Mafia paling hina di atas bumi.


"Pergilah. Bakti kalian padaku sudah selesai."


Air bening menggenang di pelupuk mata Bima dan Denis. Ini perpisahan 'kah? Wajah mereka menahan api kesedihan. Ammar bukanlah sekedar bos, tapi juga seperti Kakak. Kakak yang ingin mereka lindungi.


"Hiduplah bahagia. Buatlah keluarga, hasilkan anak-anak yang baik. Jangan kembali ke dalam kenistaan ini. Saya minta maaf, sudah membawa kalian untuk masuk ke dalam lumpur dosa ... Pergilah." titah Ammar lembut. Ia menepuk bahu mereka berdua secara bergantian.


"Tapi, Pak." sergah Bima.


"Biarkan saya sendiri, menikmati hari ini berdua dengan Gana di tepi jurang, sebelum polisi memenjarakan saya ..."


Tak ada yang bisa Denis dan Bima jawab, selain menuruti permintaan terakhir dari Ammar. "Lakukan ini sebagai perintah saya yang terakhir. Pergilah ... Dan kamu, Bim. Menikahlah dengan Yuni."


Air menetes jatuh dari kelopak mata Bima. Wajah lelaki itu mencebik menahan pilu di hati. Dalam keadaan seperti ini, masih sempat-sempatnya Ammar memikirkan keadaan mereka.


"Kamu juga, Den. Nikahilah Anya. Jangan lagi main-main dengan wanita lain. Dia mencintaimu."


Denis terperangah. Ia sampai tidak berkedip, baru kali ini tahu, kalau Ammar sangat memperhatikan mereka. Anya, perawat di klinik EG yang suka ditemui Denis diam-diam disela-sela jam kantor. Dan Yuni, yang diam-diam juga suka dikunjungi Bima.


Air mata mereka makin luruh ketika melihat badan mobil Ammar sudah berlalu dari pandangan.


"Terimakasih banyak atas perhatian, cinta dan kasih sayang Bapak terhadap kami." desah mereka berdua.


🌺🌺🌺🌺


"Assalammualaikum sayang, aku datang." salam Ammar. Lalu menghempaskan bokong di pelataran tanah kering ditepian jurang. Duduk menyila seperti biasa. Lalu menebarkan kelopak bunga mawar merah yang ia beli dulu di toko bunga. Kelopak bunga mawar langsung luruh jatuh ke dasar jurang yang tercampur angin di udara.


"Maafkan aku melanggar janji. Aku sudah menghabisi nyawa orang lagi." ucapnya. Namun tidak menunjukan raut kesedihan.


"Nyawa di bayar nyawa. Farhan pantas mati. Dan Farina harus menderita!" Ammar tertawa. Ia mendongak menatap langit. "Kamu suka 'kan, sayang?" senyumannya menghias. Sungguh hangat, membuat dirinya semakin tampan walau sangat kurus.


"Bang ... Bang ... Permisi, Bang."


Sedang asik melepas rindu dengan bayangan Gana, Ammar menoleh dan mendapati lelaki bujang berumuran dua puluh tahunan mengganggunya.


"Ada apa?" tanya Ammar. Ia menyeka air mata yang mau turun dari pelupuk.


"Boleh minta bantuannya? Antar kan kami ke Rumah Sakit? Mobil kami mogok." lelaki itu menunjuk mobil yang berhenti tidak jauh dari mobilnya. Lalu melirik mobil Ammar yang sedang terparkir di tepi jalan.


"Ada yang sakit?"


"ya, saudara kami, Bang."


Sekali ini menolong orang, agar dosanya bisa berkurang. Ammar mengangguk dan bangkit.


Lelaki itu tersenyum senang. "Makasih banyak, Bang. Nanti ongkos bensinnya kami ganti."


Ammar tidak menghiraukannya. Ia fokus berjalan ke arah mobil yang mogok untuk membantu membawa yang sakit ke dalam mobilnya.


Dan


DEG.


Bola mata Ammar membelalak. Iris matanya ingin keluar dan jatuh ke dasar tanah. Lelaki itu terkejut setengah mati. Seakan darahnya mendidih lalu naik ke ubun-ubun.


Ia kaget, bukan karena sedang menatap yang sakit. Tapi ia tertohok menatap seorang wanita yang sedang memangku yang sakit.


Wanita dengan perban yang menyembul di sekitar dahi, dari balik pasmina yang hanya di lilit asal di depan dada. Dan beberapa lebam yang berangsur menghilang di tulang pipi dan ujung dagu.


"Sayang ..." seru Ammar.


🌺🌺🌺🌺


Kalau komennya banyakkkk dari yang kemarin, akan aku UP lagi guyss.

__ADS_1



__ADS_2