
"Mau teyepon Ante, Bu." Dava menarik-narik tepi baju di lengan Mulan. Wanita itu hanya bisa menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Terus menatap layar terang dari gawai, menekan kontak Gana dan berulang kali meneleponnya. Walau ia melakukan itu hanya berakting di depan Dava.
"Oh lagi sibuk ya Ante? Oke deh, nanti jangan lupa mampir ya." ucap Mulan pura-pura seperti tengah berbicara dengan Gana di sambungan telepon.
Ia hanya ingin Dava mengerti dan puas walau anak lelaki itu harus kembali kecewa. Karena Tante yang ingin ia temui, tidak akan pernah datang.
Mulan meraih dagu Dava yang tertunduk kebawah menatap mobil-mobilan yang sedang ia genggam. "Nanti Ante kesini, mending Dava bobo, ya. Udah malam, Nak." bujuk Mulan.
Sudah jam sembilan, tapi suaminya juga belum tiba di rumah. Biasanya jika sudah ada Mahendra, Dava pasti akan terfokus dengan lelaki itu.
Walau Dava hanya bertemu beberapa kali dengan Gana, sepertinya rasa sayang Gana kepada Dava, begitu terpatri dengan cepat. Sehingga anak tersebut bisa merasakan kemurniannya. Dava rindu Gana.
Dava menggeleng. Mulan mendesahkan napas berat. Harus bagaimana lagi untuk membujuk Dava.
"Kamu kemana sih, Gana? Tega sekali mengganti nomor tapi tidak bilang. Apa aku ada salah? Dua bulan menghilang begitu saja. Bagaimana kamu dengan suamimu? Wisata kalian lancar 'kan?" Mulan bertanya-tanya dalam hatinya.
Mulan memang memberikan ide kepada Gana untuk bertamasya berdua dengan sang suami. Agar rasa cinta Gana bisa timbul. Tapi bukan berita baik yang ia terima, malah tiba-tiba Gana sulit untuk di hubungi. Nomor telepon tidak tersambung dan mengirim pesan lewat wa hanya ceklis satu. Sesungguhnya Mulan belum tahu, insiden apa yang terjadi dengan Ganaya dalam dua bulan ini.
"Assalammualaikum ..."
Raut sedih Dava kini berganti bahagia. Anak itu langsung loncat dari atas sofa menerjang Ayahnya yang baru pulang kerja sudah berdiri dipertengahan ruang tamu.
"Ayah ..." seru Dava lalu menerjang Mahendra.
"Duh anak Ayah, kok belum tidur?"
"Nungguin Ayahnya." ucap Mulan, ia mengh toampiri suaminya dan mencium tangan Mahendra.
"Mau makan, Yah?"
"Aku sudah makan tadi bersama relasi." jawabnya sambil menghempaskan bokong di sofa. Kedua tangannya masih memangku Dava.
"Bu, hari minggu temani Ayah ya."
"Kemana?"
"Menjenguk. Direktur dari salah satu rekanan perusahaan kita, mendapat musibah. Ayah saja baru tahu beritanya. Ayah ngerasa enggak enak banget, soalnya telat dapat info."
__ADS_1
Mulan merasa tertarik dengan pembicaraan suaminya.
"Ya Allah, musibah gimana, Yah?"
"Kecelakaan katanya. Enggak bisa jalan. Ayah juga baru tau dari Kakaknya. Soalnya tadi pas rapat, ternyata Kakaknya yang mewakilkan dan menggantikan posisi beliau."
"Lumpuh, Yah?" Mulan menggeleng tidak percaya.
Mahendra mengangguk. "Ya Allah kasihan sekali, Direktur rekanan itu wanita?"
"Ya ... tapi sudah menikah." buru-buru Mahendra mengeluarkan aji pamungkasnya ketika melihat raut Mulan sudah berbeda. Mahendra sangat senang ketika istrinya sedang cemburu. Tentu perlakuan ini ia dapatkan ketika Mulan bisa mencintainya.
Selama sudah mencintai suaminya, Mulan lebih over protectif. Jika mengetahui klien Mahendra adalah perempuan, ia akan lebih waspada. Tapi karena mengetahui kliennya ini sudah menikah, Mulan bernapas lega. Sampai ia lupa untuk mengintrogasi lebih dalam siapa sang Direktur wanita tersebut.
Mahendra mengecup bibir Mulan, membangunkan wanita itu dari lamunan. "Jangan suka berfikir aku akan selingkuh. Cinta aku udah kepalang mentok sama kamu, Mulan."
Mulan tersenyum menahan senyum yang akan merekah tapi malu-malu.
"Bisa aja ngegombal nya." cibir Mulan. Mahendra terkekeh geli.
"Sudah, Kakaknya yang memberi tahu. Kamu siapkan parcel buah dan beberapa kue ya, sebagai buah tangan kita."
"Iya, Yah. Akan Ibu siapkan."
***
Masih jam tiga sore. Tapi bola mata Gana terus beralih ke arah pintu utama. Mencari-cari sosok suami yang belum membalas pesannya dari satu jam lalu. Semenjak kejadian kecelakaan hebat waktu itu, Gana berubah menjadi orang yang gampang cemas dan gelisah.
Fikiran nya sudah melalang buana entah kemana jika Ammar tidak membalas pesannya ketika berada di kantor. Ia takut, Ammar terluka lagi. Walau sampai saat ini, ia merasa kejadian kemarin terasa janggal. Seperti ada yang ingin menyakiti mereka.
Farhan. Entah mengapa di sudut hati Gana selalu terpatri akan bayangan wajah lelaki itu ketika ingatannya muncul, tentang kemelut perkara yang tengah dirinya dan Ammar rasakan.
"Baru juga jam tiga. Udah kangen ya?" sontak Gana menoleh ke arah Papa Galih yang sedang duduk di single sofa sambil memakan anggur. Lelaki itu seperti tahu apa yang sedang anaknya fikirkan.
Gana menunduk malu. Kangen? Mungkin, iya. Tapi lagi-lagi rasa gengsi menyapu dirinya.
"Biasanya juga kan pulangnya jam empat." satu buah anggur dimasukan lagi kedalam mulutnya. Sang Papa mulai menelisik tatapan mata Gana yang terlihat berbinar akan cinta, ketika dirinya secara tidak langsung membicarakan tentang menantunya.
__ADS_1
Baru ingin membuka katupan mulut untuk menjawab pertanyaan Papa. Tiba-tiba matanya kembali beralih ke arah pintu. Gana mendengar deru mesin mobil Ammar tiba.
"Wah sudah sampai, toh?" ucap Papa Galih. Gana tersenyum lalu bersiap untuk memutar kursi roda dengan kedua tangannya. Ia ingin menghampiri suaminya di ambang pintu dan mencium tangannya. Ritual seperti ini memang sudah ia lakukan selama sebulan belakangan ini.
"Bisa, Nak?" Papa Galih beranjak bangkit dari kursi.
"Bisa, Pah. Biarin Gana sendiri aja. Papa makan aja, habisin anggur nya ya." ucap Gana.
Wanita itu menggerakkan roda kursinya sampai ia tiba di figura pintu bersamaan langkah Ammar yang akan masuk.
"Assalammualaikum ..." salam Ammar.
"Waalaikumsallam ...." jawab Gana lalu mencium punggung tangan Ammar. Lelaki itu tersenyum membalasnya dengan mengusap rambut Gana yang sedang menunduk. Ammar bahagia, karena Gana sudah berusaha untuk merubah sikap cueknya selama ini.
"Kenapa tidak membalas chat, ku? Dan kenapa pulangnya cepat? Kamu sakit?" Gana memegang tangan Ammar untuk mengecek akral kulitnya. Ammar hanya terkekeh karena langsung di todong dengan bagai pertanyaan.
Ammar tertawa lalu mengecup pipi Gana. "Jangan marah ya, sayang. Pas mau balas pesan kamu, ponselku lowbet." Ammar merogoh kantung jas, meraih gawai dengan layar mati, yang kemudian di sodorkan kepada Gana, agar wanita itu percaya. "Aku juga enggak sakit, aku pu---"
"Ya udah enggak apa-apa." selak Gana menyodorkan kembali ponsel itu kepada suaminya.
Ia merasa Ammar sudah tiba dengan selamat, tentu tidak akan menjadi buah fikir nya yang tidak-tidak.
Ammar meletakan kedua tangannya di pegangan kursi roda dan mendorongnya. Ketika melewati ruang tivi, ia berhenti sebentar untuk menghampiri Papa mertuanya dan mencium tangan Papa Galih.
Ganaya tergugah. Hatinya serasa terang. Tatapan matanya menyorot senang. Karena Ammar selalu menghormati dan menyayangi Mama dan Papa nya seperti orang tua sendiri.
"Kok tumben pulangnya cepat, Nak?"
"Iya, Pah. Soalnya sore Ammar ada janji dengan---"
"Farhan?" selak Gana. Manik matanya melebar dengan tatapan tidak suka kepada suaminya.
***
Masih ada satu part lagi, tungguin yaw.
Like dan Komennya ya🌺
__ADS_1