Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sudah Musnah.


__ADS_3

Tembakan yang mereka layangkan ke mobil Ammar begitu saja meleset. Ammar lebih dulu menancap pedal gas dan akhirnya bisa mendahului mereka.


Gana ketakutan, ia meremat kaos suaminya erat-erat.


"Ada apa Ammar? Kenapa ada suara tembakan terus? Aku taa--kut." tanyanya tergagap. Ammar merasakan deruan napas Gana yang kasar menyapu permukaan lehernya.


"Hhh ... Ammar." Gana kembali mendesah berat. Terdengar bunyi swing dari dadanya. Ammar semakin panik, keringatnya terus bercucur. Rasa sesak sudah membelit, ditambah lagi asma Gana yang mulai kambuh.


Ammar masih mengemudikan mobil dengan tatapan mata yang berpendar ke sana kemari. Memperhatikan mobil dibelakang yang terus menembaki mobilnya, tapi selalu mental dan meleset. Untung saja mobil ini sudah di setting anti peluru.


"Kamu sesak, sayang?" tanya Ammar.


Gana mengangguk pelan


Ammar semakin merasa bersalah, membuat istrinya terjepit dalam suasana seperti ini. Ammar membuka lagi dashboard dengan tangan kirinya. Meraih cepat sebuah botol inhaler untuk meredakan asma pada Gana.


Dengan tatapan yang masih awas untuk melajukan mobil, menghindari kejaran para penjahat durjanaa tersebut, Ammar langsung memasukan ujung inhaler kedalam mulut Gana. Wanita itu mirip sekali seperti bayi yang tengah menyusu.


"Ayo sayang, hisap." titah Ammar. Gana menurut dan mulai menghirup oksigen dari dalam tabung inhaler.


Ammar sengaja menyimpan inhaler di mobil. Ia takut sewaktu-waktu asma Gana kambuh. Apalagi saat ini, sedang musim hujan. Hawa dingin bisa menjadi pemicu.


"Tenang sayang, tenang. Kamu aman, aku di sini jagain kamu." Ammar mengecup singkat pusaran rambut Gana dengan debaran jantung yang kencang.


Bagaimana bisa tenang? Jika dibelakang si pemangsa masih belum mau melepaskan mereka.


Gana masih menghirup oksigen dari inhaler yang Ammar pegangi. Lemah sekali wanita itu, bergerak saja rasanya tidak bisa. Hanya bisa pasrah, meletakan kepala di dada sang suami. Napasnya masih saja tersengal-sengal. Kelopak matanya menutup menahan ritme dada yang masih memburu hebat.


Ammar mengemudikan mobil dengan satu tangan. Lelaki itu gelisah, karena di saat seperti ini tidak ada yang membantunya. Para Bodyguard, Denis, Bima dan terlebih lagi Farhan.


Bukan curiga, ia malah menyesal karena sudah menjauhi Farhan. Benar apa kata lelaki itu, ketika Ammar menjauh dan memutuskan untuk hengkang. Pasti akan banyak penjahat yang mulai berdatangan untuk balas dendam.


Lagi-lagi dirinya tidak sejenius yang ia kira.


Bus.


Angin kembali berhembus kencang. Seiring ban mobil yang melaju cukup cepat membawa badan mobil berlari seperti jaguar di tengah hutan.


Brug.


Mobil berguncang. Tidak perduli apa yang ia injak dan ia tabrak.


Brug.


Tubuhnya dan Gana kembali tersentak, terangkat ke atas dari jok lalu terhempas kembali, ketika Ammar tidak menekan pedal rem pada saat ada sebuah kayu sedang membentang di jalan. Ia tabrak begitu saja.


Botol inhaler yang sedang ia pegang sampai terlepas dari bibir Gana. Wanita itu gelagapan, ia meremat kaos Ammar seraya kode meminta oksigen kembali.


Ammar menunduk ke bawah, dan melihat botol inhaler menggelinding di pojok bawah dashboard. Maksud ingin meraih dengan kaki, mobilnya kembali terasa oleng. Karena ada guncangan tembakan dari belakang.


DOR.


Walau tidak tembus, tapi hentakannya sangat terasa di badan mobil. Ammar kembali memutar stir kemudi yang mulai lemah. Ingin terus fokus melaju, tapi istrinya semakin sesak.


"Am----mar ..." rintih Gana pelan


"Iya sayang, tunggu sebentar." Ammar menangis.


Ia tidak tega melihat Gana yang sudah memucat. Wanita itu butuh oksigen, dan keparatt di belakang masih belum berhenti untuk mengincar mereka. Apa yang harus Ammar perbuat, di saat mereka juga kuat untuk di tumbangkan.

__ADS_1


Ammar menjulurkan kakinya ke pojok bawah dashboard. Ingin meraih botol Inhaler itu dengan kakinya, tapi tetap saja tidak bisa di jangkau. Gana terus merintih, dan bunyi tembakan dibelakang masih saja terdengar.


"BAJINGANN!!" Ammar memaki keras di dalam mobil. Keadaanya semakin menjepit dirinya.


"Am---mar ..."


Ah, rasanya sakit sekali. Mendengar istri terus saja mengeluh lemah.


"Tahan ya sayang, sabar ..." ucapnya lembut dengan napas yang berantakan. Tidak ada jalan lain selain mengambil alat inhaler itu. Ia takut Gana semakin tidak tahan.


Ammar melepas stir kemudi. Membuat mobil yang sedang melaju kencang, jadi oleng ke arah yang tidak tepat. Lelaki itu merebahkan Gana di sandaran jok dan membungkuk ke bawah untuk meraih inhaler, lantas memasukannya lagi kedalam mulut Gana.


"Aa---" Gana berusaha teriak walau tertahan, ia menjulurkan telunjuknya ke depan dengan mata yang melotot tajam. Ammar mengikuti arah mata Gana.


Dan.


"Ahhhhhhhhhh!"


Suara teriakan Ammar menyatu dengan Gana, seiring bemper mobil mereka yang akan menabrak pohon besar.


BUG.


Kecelakaan tunggal tidak bisa mereka hindari. Tubuh Gana dan Ammar berguncang hebat di dalam mobil.


***


Benturan keras antara mobil dengan pohon besar membuat ranting-ranting dan daun-daun bertebaran kasar di atas bemper mobil Ammar yang menganga dan berasap.


Asap nya saja sudah masuk kedalam mobil lewat celah jendela.


Uhuk ... Uhuk.


Uhuk ... Uhuk.


Gana terbatuk-batuk lagi. Ingin mengeluarkan dahak yang seperti mencekik lehernya namun sulit. Mengayuhkan jari ke atas dan mengenai pelipis nya. Ingin memeriksa mengapa rasanya sangat sakit sekali.


Dengan ritme napas yang masih berantakan, Gana terlonjak ketika mendapati tetesan darah segar dari pelipis kirinya. Dan ia baru sadar kalau baru saja mengalami kecelakaan.


"Ammar ..." seru Gana kaget. Ia baru teringat dengan lelaki itu, lantas menoleh ke samping mencari keberadaan suaminya, dan ternyata Ammar juga tidak sadarkan diri. Kabut asap semakin menggunung dan menutupi pandangan Gana.


Gana beringsut dengan susah payah. Ia menangkup wajah Ammar.


"Ammar, bangun." Gana memeriksa nadi yang ada di bawah dagu sang suami.


"Hh ... Alhamdulillah." Gana menghela napas. Ia bersyukur nadi Ammar masih berdenyut, walau lemah.


Air mata Gana menetes. Ia mengusap darah yang keluar dari hidung Ammar. Dari pelipisnya pun terlihat darah mengalir. Ada lebam di tulang pipi sebelah kanan.


"Ammar ..." seru Gana lagi. Ia masih belum putus asa untuk membangunkan suaminya. Kepala Gana terasa berat, sesak terus melanda, tubuhnya tidak kuat menahan kebulan asap.


Uhuk ... Uhuk.


Gana menghalau asap dengan kedua tangannya untuk menjauh. Wanita itu semakin sulit untuk bernapas.


"Tolong ... Tolong." rancau nya pelan. Sialnya, tidak ada yang mendengar. Si penjahat sengaja menggiring Ammar untuk melalui jalanan yang sepi dan jarang digunakan pengendara untuk melintas.


Mobil kompolotan penjahat tersebut menghilang dari peredaran ketika mobil Ammar sudah menabrak pohon. Mereka sempat turun dan melihat keadaan keduanya dengan melongo kan tatapan ke dalam jendela.


Yakin, kalau mereka sudah mati. Maka komplotan penjahat itu pergi dengan perasaan senang. Walau bos mereka hanya menitah untuk menghabisi Gana, tapi mau bagaimana lagi jika Ammar ikut terkena sasaran? Mungkin mereka mengganggap itu hanya bonus. Dan Farhan akan senang mendapatkan berita ini.

__ADS_1


"Ammar ayo bangun! Kita keluar dari mobil ini." Gana menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


Air matanya semakin pecah ketika melihat bemper mobil mulai terlihat percikan api dan asap gelap semakin mengepul di dalam mobil.


"Ammar, ayo kita turun!" Gana semakin panik. kembali mengguncang tubuh suaminya yang masih pingsan dengan kekuatan penuh.


"BANGUN!" teriak Gana.


Api di depan semakin terlihat. Tidak butuh lama mobil yang mereka tumpangi pasti akan meledak.


"Mama ... Papa!!" seru Gana merintih nama orang tuanya. Ingin mencari tas dan meraih ponsel tapi tidak bisa ia lakukan. Penglihatan sudah terhalang asap tebal.


Jangankan mencari barang itu, botol inhaler yang ia butuhkan sebagai penyelamat hidupnya saat ini saja. Sulit ia cari.


"Kita tidak boleh mati di sini!" dengan bunyi swing dari dalam dada yang masih kentara, sengal-sengal napas, dan tubuh yang mulai menggigil. Gana tetap memaksakan untuk berusaha keluar dari dalam mobil yang sebentar lagi akan membakar tubuh mereka.


Gana membuka pintu kemudi, bermaksud ingin mendorong tubuh Ammar ke luar walau terasa akan menyakitkan karena sengaja di jatuhkan ke tanah. Karena ia tidak bisa menoleh ke belakang untuk turun dari pintu di sebelah kursinya, karena asap sudah menutupnya.


Pintu mobil seketika sulit untuk dibuka. Gana sudah berkali-kali menekan tombol dan memaksa mendorong pintu, tapi tetap saja nihil. Ia sampai gemas dan menggebrak-gebraknya.


Dua bola mata Gana melotot ketika melihat api di bemper mobil semakin besar dan tinggi naik ke atas.


"Ammar!" Gana kembali menggoyangkan tubuh suaminya. "Ayo bangun! Kita keluar dari sini!!" tangisan Gana tumpah ruah, disertai batuk dan napas yang masih sesak.


Ia merasa nyawanya sudah lebih dekat dengan Tuhan. Tapi Gana kembali berjuang, sekuat tenaga ia mendorong lagi pintu mobil yang tiba-tiba macet.


Dan


Krek.


"Alhamdulillah." serunya bahagia, ketika pintu kemudi berhasil terbuka. Gana meraih tubuh Ammar yang berat.


"Euhh ..." Gana mengerang ketika berhasil menegapkan tubuh Ammar dari sandaran jok.


"Maaf ya, ini pasti sakit." ucap Gana. Ia mendorong tubuh Ammar untuk terhempas ke luar.


Bug.


Ammar jatuh ke tanah. Kepalanya kembali terbentur. Gana bergegas turun dengan sisa-sisa kekuatan. Wanita itu mencoba meraih tubuh Ammar dengan cara memapah. Namun sulit, karena tubuhnya mungil dan susah untuk membawa tubuh Ammar yang besar, apalagi sedang tidak sadarkan diri maka tubuhnya semakin berat.


Tidak ada cara lain selain menyeret tubuh Ammar dari belakang. Melolongkan kedua tangan di bawah lengan suaminya, Gana menyeret tubuh Ammar dengan gerak kaki mundur ke belakang. Ia harus bergerak cepat, sebelum mobil meledak dan terbakar.


Wajah Gana pucat pasi, tubuhnya bergetar, akral nya dingin. Napasnya berantakan. Dada masih saja terasa sesak yang disertai batuk karena asap mulai mengotori paru-parunya.


"Euhh ..." mendesah berat, karena terus menyeret tubuh Ammar yang besar. Dengan langkah kaki mundur yang blingsatan. Gana berhasil menyeret tubuh Ammar sejauh sepuluh meter.


Gana berhenti. Ia meremat kain di dada, karena sesak semakin menjulang. Helaian rambut di sekitar dahi, sudah basah karena keringat. Mulutnya mengeluarkan hembusan napas yang terengah-engah. Dan mulutnya kembali menganga, ketika menatap mobil mereka yang sudah direndam dengan kobaran api.


Lalu.


Duarrrr.


Mobil meledak. Suara nyaring ledakan menggema di tepi di jalan yang sepi dan kosong. Api menjalar sampai naik ke atas ranting pepohonan yang melintang di atas atap mobil.


Saat ini, satu-satunya transportasi mereka untuk kembali pulang agar bisa menyelamatkan diri, sudah musnah.


***


Like dan Komen ya guyss🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2