
Acara akad nikah sudah selesai. Mereka sudah banyak mendapatkan kata selamat dan untaian doa dari para keluarga, sanak saudara dan para sahabat.
Sebenarnya Ganaya kaget, ia fikir malam ini masih bisa tidur di kamar Spongesbobs nya. Nyatanya Ammar langsung memboyong dirinya ke rumah mewah yang sudah Ammar belikan untuknya.
"Tidak perlu bawa baju. Semua sudah siap di sana ..." Gana hanya menautkan alis, dan tanpa banyak komplen. Ia kembali memasukan koper yang sudah ia isi pakaian secara asal ke dalam kamar.
Ammar terus menggenggam tangan istrinya di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah baru mereka. Sudah beberapa kali punggung tangan Gana ia tarik untuk menempel di bibirnya.
Ammar menciumnya rakus, selain dikecup. Punggung tangan itu ia gesek-gesekan ke pipi kanannya seiring dengan kedua matanya yang memejam.
Lembut sekali tangan istrinya, Ammar seperti sedang terbang ke alam mimpi. Masih belum percaya dirinya, bahwa yang ia nikahi betul-betul si cinta pertamanya, yang sedang duduk bersebelahan dengannya sekarang.
Gana hanya bisa menghela napas. Ingin menarik tangannya yang sudah selama tiga puluh menit terus di uwel-uwel. Rasanya ia ingin memaki Ammar.
Entah mengapa perasaannya mulai kesal dan tidak enak. Melihat Ammar yang sebegini manjanya, ia merasa seperti menikah dengan bayi.
"Kamu kenapa sayang? Aku perhatikan, kamu diam aja dari tadi?" Ammar membuat Gana mengalihkan matanya dari ruas jalan yang sedang ia tatap lalu menoleh ke arahnya.
Gana hanya menggeleng. Ia seperti malas membahas apapun dengan Ammar. Suasana hatinya sepertinya kembali kambuh tidak baik.
"Mau makan? Di acara tadi 'kan, kamu belum makan." Ammar memainkan ujung rambut Gana, dan menyampirkan helaian rambut yang menjuntai panjang menutup pipi, ke belakang telinga. "Aku enggak mau kamu sakit." timpalnya.
"Aku belum mau makan." jawabnya singkat. "Tapi kalau kamu mau makan, aku temenin." ya, setidaknya Gana masih mempunyai hati untuk memperhatikan suaminya.
Ammar mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Gana. Ia senang, hanya karena kata-kata seperti itu saja, sudah membuat hatinya mengembang. "Aku pun sama, belum lapar."
Gana mengangguk, dan kembali risih karena Ammar terus saja menempel bagai cicak. Ia tidak perduli didepan ada siapa. Ammar semakin gila, ketika ia menurunkan wajahnya, kemudian mencium permukaan kulit leher Gana.
Sontak wanita itu terhenyak, dan refleks mendorong Ammar dengan hentakan kasar.
"Apa-apaan sih, kamu!" Gana geram.
Bima dan Denis yang duduk didepan, langsung menatap mereka dari balik spion.
Bukan hanya Gana yang masih kaget karena perlakuan suaminya. Ammar pun kaget karena mendapat respon yang diluar bayangannya. "Maaf ..." ujar Gana. Lalu wanita itu menunduk.
"Dasar anak kecil! Lihat saja dia, tidak punya malu! Didepan orang berani mencumbuku!!" Gana membatin. Ia kembali menoleh ke ruas jalan dengan perasaan kesal. Sungguh awal yang tidak mengenakan hati untuknya.
__ADS_1
Ammar mencoba mengerti. Mungkin Gana hanya malu karena masih ada Bima dan Denis.
"Iya enggak apa-apa, sayang." dan tak ada sautan lagi dari Gana. Ammar memilih merebahkan dirinya dengan santai sambil melipat kedua tangan di dada dan memandang lurus kedepan. Ingin ia menarik tangan Gana lagi, tapi Gana sudah lebih dulu duduk dengan posisi bersedekap. Sepertinya Gana sengaja, agar Ammar tidak lagi menyentuh tangannya.
"Gana aneh banget. Perasaan waktu di kantor, ia mau aja kalau di peluk. Apa jangan-jangan ... Jin itu??" Ammar terdiam, seakan menerawang jauh.
Ia hanya menerka-nerka. Jujur, ia masih belum percaya dengan ucapan Pak Ustadz ketika sedang menolong Gana. Ia berfikir, memang Gana hanya sedang lelah dan suasana hatinya yang belum membaik pasca perpisahan dengan Adri. Ammar masih abu-abu, untuk memutuskan apakah betul Adri pelakunya? Dan apa betul Gana terkena sihir?
Denis terus mengemudi dengan fokus, sampai dimana ia berhasil mendaratkan kereta besi milik Presdirnya di halaman rumah.
Bima dengan cepat turun untuk membukakan pintu untuk Ammar. Namun lelaki itu lebih dulu membuka, sebelum tangan Bima sampai. Ammar memutar tubuhnya ke belakang mobil untuk membukakan Ganaya pintu, yang memang sudah didorong oleh wanita itu dari dalam.
"Tidak perlu seperti ini, Ammar. Aku bukan nenek-nenek jompo yang harus di tatah ketika turun dan berjalan!"
Gana hanya membiarkan saja telapak tangan Ammar yang terbuka untuk membantunya turun menggantung di udara. Jika saja Adri yang ada dihadapannya, dengan suka cita Gana akan menyambutnya malah mungkin ia akan meminta untuk di gendong.
Lagi-lagi Ammar hanya bisa menghela napas, karena berkali-kali malu didepan Bima dan Denis. Terlihat jelas bagaimana perlakuan Gana yang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali kepadanya.
Baru sejengkal langkah keluar dari dalam mobil. Manik mata Gana melebar. Mendongak ke atas menatap sebuah rumah berlantai tiga yang menjulang tinggi hampir mencakar langit.
Bola matanya terus berpendar. Gana tersenyum senang ketika menatap hamparan halaman luas yang diisi oleh banyak bunga-bunga mawar yang tertata rapih di sana.
Lalu, Gana mengarahkan matanya ke dalam garasi. Ia sampai membekap mulut karena tidak percaya. Ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang dibalut dengan pita raksasa dan berplat atas namanya.
Bola mata Gana kembali teralihkan ketika melihat dua kucing anggora berbulu abu-abu dan cokelat emas keluar dari dalam rumah lalu berlari-larian.
"Kucing?" gumamnya. Tapi ketika ia ingin menangkap dua kucing tersebut, mereka langsung berlari masuk kedalam rumah kembali.
Ammar mendekat dan berbisik dari belakang.
"Ini semua mahar dari ku." tengkuk Gana seketika merinding. Pertama karena hembusan napas halus dari mulut suaminya dan kedua tentang mahar-mahar yang diberikan.
Wanita itu takjub. Karena pada saat Akad, yang ia tahu mahar dari Ammar hanyalah berlian dan uang saja. Sesuai permintaan Gana, ia tidak mau diberi tahu tentang mahar apa yang akan Ammar berikan untuknya.
"Kamu sudah memberiku berlian dan uang. Apakah sisanya ini, masih pantas untuk aku dapatkan?" tanya Gana. Ia cukup tahu diri, wanita seperti apa dirinya untuk Ammar. Seorang wanita yang belum bisa memberikan cinta murni kepada suaminya di awal pernikahan.
Ammar mengulum senyum. "Malah aku fikir, segini tuh masih kurang." Ammar bersiap ingin mengunci tubuh istrinya dari belakang. Namun sebelum itu terjadi, Gana lebih dulu melangkah, untuk menaiki lima tangga agar sampai ke ambang pintu rumah.
__ADS_1
Ammar menggusarkan rambutnya, mengelus tengkuk dengan napas halus yang ia hembuskan ke udara. Lalu menoleh ke belakang ketika mendengar gelak tawa yang masih tertahan di bibir Bima dan Denis.
Tahu jika Presdirnya akan menoleh, buru-buru kedua asisten kesayangannya itu membuang muka menatap apa saja yang bisa di tatap.
Ammar mendengus. "Pulang sana!"
Mereka menoleh cepat.
"Asiap, Pak. Selamat belah dur----"
Denis membekap mulut Bima yang akan keceplosan.
"Belah apa? Belah kepala kamu?" tanya Ammar dengan wajah sedingin es.
Matanya menyalak tajam. Lelaki itu langsung berlalu meninggalkan Denis dan Bima yang seketika langsung tertawa memegang perut. Mereka tahu Presdirnya sedang malu kepada mereka berdua.
"Kamu mau taruhan berapa? Kalau malam si Bos bisa belah duren."
"Enggak usah taruhan. Jawabannya juga udah telak. Ibu enggak bakal mau ... Haha." jawab Denis. Dan Bima kembali tertawa.
"Kamu lihat aja dari tadi gimana sikapnya. Istrinya dingin, suaminya bucin. Nanti malam dingin-dingin, eh enggak bisa dikekepin ... jiahh!!" Denis kembali tertawa mendengar ucapan Bima.
"Kasian dong bakal mencair. Haha."
Dua lelaki jomblo itu terus saja tertawa nyaring. Mereka sepertinya butuh refreshing, menjadi penembak, sangat memotong waktunya untuk berkenalan dengan para wanita.
"DENIS! BIMA!" hardikan dari dalam rumah namun si pemanggil tidak terlihat.
"Kabur, Nisa!" Bima menghentak bahu Denis, dan keduanya langsung bergegas masuk kedalam mobil. Seakan tahu kalau Presdirnya sedang mereka gibahi. Bima dan Denis masih ingin hidup, tidak mau kepalanya dipenggal begitu saja oleh Ammar.
"Cepet banget pergi nya kayak setan!" decak Ammar ketika langkah kakinya sudah sampai diluar pintu. Ia merungut ketika badan mobil sudah menghilang dari gerbang. "Casan hape kayaknya ketinggalan tuh didalam mobil." gumamnya.
"Ammar ..."
"Iya sayang tunggu."
***
__ADS_1
Like dan Komennya yaa maccih❣️🌺