
Suara grasak-grusuk semakin jelas terdengar diluar pintu. Gana dan Yuni saling bersitatap dalam diam. Mereka pasrah jika hari ini riwayatnya habis diketahui.
Namun tak berapa lama. Suara sautan antara dua lelaki didepan sana menghilang. Gana dan Yuni yang sudah saling menggenggam tangan dengan akral dingin langsung terpelongo. Mereka menautkan alis.
"Kok sepi ya, Bu? Apa orang yang mau masuk itu sudah pergi?" tanya Yuni.
Gana menggeleng lemah dengan mata yang masih fokus menyorot pintu. "Saya juga enggak tau, Yun. Coba kamu intip keluar." Gana menunjuk ke lubang intip pintu. Yuni mengangguk, gadis itu melangkah pelan menuju pintu dan memicingkan mata kanannya.
"Kosong, Bu." serunya senang.
Gana menghela napas lega.
"Ayo, Bu. Kita pulang sekarang." Yuni menggandeng tangan Gana yang masih terasa dingin dan berkeringat.
Gana berhasil keluar dari apartemen dengan hati yang hancur. Gontai sekali langkahnya sampai berjalan saja dengan kaki yang diseret.
Namun ketika langkah mereka sudah sampai didepan lift, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan keluarlah dua lelaki yang mereka takuti. Gana langsung menunduk, wajahnya tertutup dengan topi dan kaca mata hitam. Sedangkan Yuni juga melakukan hal yang sama, ia menunduk namun tangan kirinya masih merangkul pinggang Gana. Buru-buru masuk setelah Bima dan Denis keluar dari lift.
"Kayak enggak asing." ucap Denis. Sekilas ia melihat dua wanita tampak mencurigakan.
"Kalau liat cewek body bagus aja, bilangnya selalu enggak asing." decak Bima.
Jika saja mereka tidak balik lagi ke lantai bawah untuk bertemu satpam, perihal meminta kartu passcode cadangan. Maka saat beberapa detik lalu, Gana dan Yuni pasti akan di tangkap oleh Bima dan Denis.
Semesta sudah mengatur semua ini.
Yuni dan Gana berjalan cepat menuju basemen parkiran mobil. Sesampainya di pintu kemudi, Gana mematung diam. Ingin menekan handle pintu, tetapi urung. Ia menilik body mobil, seketika ia jijik. Ia tidak suka dengan barang itu, mobil yang dijadikan mahar dari Ammar.
"Uang haram! Kamu memberikanku nafkah selama ini dengan uang haram, Ammar!" Gana membatin. Wanita itu menangis lagi.
"Bu ... Ayo cepat, nanti Pak Bima dan Pak Denis nemuin kita di sini." ucap Yuni dengan wajah takut. Bola matanya berpendar kesana-kemari.
Gana mengangguk lemah. Ia menekan tombol unlock mobil dan menekan handle pintu kemudi. Kedua wanita itu menghempaskan bokong di jok mobil. Yuni sampai memijat kening karena lagi-lagi Gana termangu. Wanita itu membisu, dengan kedua tangan di atas kemudi. Sorot matanya menatap kosong ke depan.
"Bu ..." Yuni mengelus pelan bahu Gana.
"Kayaknya saya enggak siap ketemu Bapak, Yun. Saya masih syok. Kamu mau 'kan temenin saya menginap dirumah orang tua saya? Saya butuh Mama, Yun." suara Gana sendu dan amat lirih menusuk dada. Gana kembali terisak.
Hiks ... Hiks.
__ADS_1
Tampa aiueo, Yuni mengangguk. Ia mau dibawa kemanapun oleh Gana. Ia tahu Gana sedang rapuh, tidak akan ada seorang istri di muka bumi ini yang kuat dengan kelakuan kebejatan suaminya.
"Apa yang dilakukan dia sama saya, itu lebih menjijikan dari pada sebuah pengkhianatan! Dia menantang Tuhan, Yun. Membohongi pernikahan kami, orang tuanya, orang tua saya! Malah kemarin Bapak baru saja membelikan tiket umroh untuk orang tua kami! Dan jahatnya dia, memakai uang haram untuk menghidupi kami!!"
Hiks ... Hiks.
Kelopak mata Gana sudah selebar jengkol. Besar sekali, memerah dan sakit untuk dikedipkan. Gana memukul-mukul stir kemudi, lalu bergantian memukul-mukul dadanya.
"Sakit banget, Yun. Perih! Saya enggak kuat! Kenapa saya harus cinta sama dia! KENAPA??"
Hiks ... Hiks.
Gana terus meronta dalam penyesalan.
"Sabar, Bu. Ibu jangan begini." Yuni beringsut untuk melepaskan tepakan tangan yang Gana hentakan ke dadanya berkali-kali. Sudah sesak napas, sakit pula karena dipukul-pukul.
"Ibu bisa bicarakan ini dengan Bapak."
"Dia tidak akan mengaku!" sergah Gana dengan wajah berapi-api.
Drrt drrt drtt.
[Kamu dimana? Dengan istri saya, kan? Cepat pulang, orang tua saya sedang ada dirumah ingin menginap]
Karena Gana tak kunjung membuka layar gawai, membiarkan ponsel itu berdering dan bergetar terus karena pesan yang Ammar kirim secara bertubi-tubi.
"Ada mertua Ibu dirumah. Ibu tetap mau pulang kerumah orang tua, Ibu?"
Gana tergagap. Tangisannya terhenti. Ia kaget karena tiba-tiba mertuanya datang. Kalau ia tetap memaksa untuk tidak pulang, pasti akan menjadi bahan masalah dan perbincangan tidak mengenakan. Apalagi mertuanya sangat baik, dan paling Gana hormati.
"Baiklah kita pulang saja ke rumah, Yun."
Yuni mengangguk dan mengusap kebasahan di wajah Gana dengan tissue.
"Kita jalan dulu, Bu. Takut ketahuan Pak Bima dan Pak Denis kalau kita masih di sini. Nanti dipertengahan jalan kita berhenti ke toko tanaman. Biar Bapak enggak curiga. Beli pupuk sama tanaman, sekalian Ibu dandan lagi. Biar wajahnya fresh." tidak hanya majikannya yang cerdas, tapi art nya pun cerdas. Tak salah Gana memilih Yuni.
Gana tersenyum menatap Yuni. "Makasih banyak, Yun. Semoga Allah membalas kebaikan kamu."
"Aamiin, Bu. Sama-sama."
__ADS_1
****
"Apartemen masih seperti kemarin, Pak. Tidak ada yang mencurigakan." jawab Denis di sambungan telepon.
Tentu saja penuturan itu membuat dada Ammar terasa lega. Tapi ... tetap saja masih mengganjal.
"Coba cek cctv yang menghadap ke pintu apartemen." titah Ammar. Ternyata lelaki itu belum puas. Instingnya kuat, kalau Gana dan Yuni pasti pergi kesana.
"Baik, Pak." jawab Denis tanpa menyanggah.
Ammar yang sudah sampai sejak satu jam lalu dirumah. Terlihat mondar-mandir di ambang pintu rumah. Bola matanya terus menyorot ke arah gerbang. Kemeja kerjanya saja belum dibuka, ia gelisah menunggu kedatangan Gana. Entah mengapa dugaannya kuat kalau ia sudah diketahui, karena Gana tidak mau sama sekali mengangkat telepon atau membalas pesan seperti orang yang sedang merajuk.
"Ya Allah jangan sekarang, aku tidak mau berpisah dengan istriku." lirihnya dalam doa. Sungguh tidak malunya Ammar, mempermainkan taubat yang sedang ia jalani setengah-setengah. Baru sekarang ingat dan meminta kabulan doa dari Maha Pencipta.
Mungkin Semesta berkata, sudah cukup Ammar untuk melakukan dosa-dosa selama ini. Sang penguasa bumi sudah letih untuk menutup aibnya. Membiarkan perlahan agar istrinya lebih dulu mengetahui semua ini.
****
Netra pekat milik Bima dan Denis tengah menilik tajam ke arah layar televisi yang sedang menayangkan rekaman cctv beberapa jam lalu. Ia membenarkan terkaan Presdirnya, Kalau Gana dan Yuni memang memasuki apartemen.
Denis menatap Bima. "Benarkan dugaanku tadi. Wanita itu memang Ibu."
Bima mengangguk pasrah dengan desahan napas panjang.
Mereka hening sesaat dan kembali bersitatap.
"Apakah yang ada dalam fikiranmu sekarang, sama seperti yang ada didalam fikiranku, Den?" tanya Bima.
Denis mengangguk mantap.
"Lakukan sekarang, Den." titah Bima dengan tegas.
"Baiklah." Denis merogoh ponselnya dan kembali menghubungi Ammar.
"Bagaimana hasilnya?" suara Ammar terdengar nyaring dan cemas diseberang sana.
"Kami tidak menemukan apa-apa, Pak. Tidak ada yang memasuki apartemen selain kami dari pagi sampai saat ini." jawab Denis berkilah. Ia tersenyum menatap Bima. Dan Bima membalas senyuman itu serta mengelus pundak Denis.
"Berjuang lah, Bu. Gunakan kecerdikanmu." gumam Bima dalam hatinya.
__ADS_1
****