
"ADEK!" seru nya senang setelah membuka pintu kamar, ingin menunjukan hasil potongan rambut terbaru yang ia rasa amat unyu untuk dibanggakan. Alda yang sudah bisa berjalan fasih masuk ke usia tujuh belas bulan, melongo tidak percaya ketika si keriting tertawa gembira.
"Gimana nih lambut Kakak, bagus, ndak?" Alda yang sedang asik bermain sendiri dengan boneka, lekas bangkit dari duduknya untuk memegang punggung ranjang seakan ingin merayap naik karena Alda ketakutan.
"Ihh kok takut cih. Ini tuh bagus!" ia melangkah panjang, merangkak cepat untuk memegang adiknya yang masih saja ketakutan tidak mau melihatnya apalagi mengelus rambutnya.
"Nanah elgi!" Alda mengusir, yang ia rasa Adela bukanlah Adela yang biasa.
"Butan nah dicium, malah dipukul cih!" Adela paksa Alda untuk tetap duduk berhadapan nya dengannya, menyergah saat ingin turun dari ranjang.
"Mahhhhhhh ...," teriak nya kencang tidak mau diam. Memanggil-manggil Gana seraya ingin diselamatkan dari raungan setan cilik. Eh? Haha.
"Napain panggil-panggil, Mama. Kan ada Kakak di cinih." saat ingin mencium pipi Alda yang begitu wangi, bibirnya terdorong dengan kaki Alda, adiknya itu tetap tidak mau.
Si anak bermata biru jernih, lekas mengibaskan hidung, seperti ada rasa asam sekilas yang menguar dari telapak kaki Alda, menusuk saluran penciuman sampai bermuara di otak.
"Kaki kamuh kok bau cih. Injak apa ituh?"
Alda, si rambut lurus selengan yang pirang sendiri di antara saudaranya yang lain mencoba memeriksa telapak kaki kanannya. Adela pun ikut menilik.
"Ih itu apa?" Adela menunjuk, seperti orang tengah menakuti, Alda jadi mencebik takut. Ia genggam tangan Adela untuk menarik gumpalan lembek berwarna hitam. "Ndak mau ah, itu bau, Dek."
__ADS_1
Melihat Kakaknya yang enggan, ia tetap memaksa. Menarik-narik jari Adela agar mau menyentuh. "Kamu ajah yang belsihin, itu kan kaki kamu." Alda berdecit tidak mau saat jarinya ditarik Adela untuk menyentuh.
"Nanaauh! Nah!" menggeleng-geleng kepala. Padahal itu kakinya sendiri.
"Aku tuga ndah mau, ah." melepas tangan, memberi raut keberatan kepada Alda. Adiknya pun jadi menangis, Adela jadi tidak tega.
"Ya udah diam! Nanan nanis!" Adela mulai membulatkan mata, menegaskan kalau Alda harus menuruti ucapannya.
"Yah, ke pakca deh." mulai memegang si gelenyar hitam di telapak kaki sang adik yang memang memberi aroma tidak sedap, ilalah nya sejak tadi Alda seraya tidak merasakan apa-apa.
"Duuuuh ini cih puppy nah, Miku! Ah, kamuuu!!" menjewer telinga Alda karena kesal sudah kepalang memegang kotoran kucing anggora peliharaan Gana yang sudah mengering. Di jewer, bukannya menangis. Si rambut pirang malah terbahak-bahak lucu. "Haha ... eek." Alda menggoda-goda Adela yang mulai mencebik sedih. Dan akhirnya ...
Ammar dan Gana yang tengah perang dingin di sofa lekas menoleh ketika Alda keluar dari kamar berteriak memanggil mereka sambil menunjuk ke dalam kamar.
"Kah, nis." maksudnya, Kakak menangis.
Gana semakin mendelikan mata kepada Ammar yang sedari tadi terus berjuang untuk menjelaskan duduk masalah bahwa yang memilih potongan rambut itu memang sang anak bukan dirinya. Ammar menolak keras saat Gana meminta lelaki itu agar memotong rambutnya sampai botak untuk membayar rambut Adela yang juga sudah habis.
Mau jadi apa Ammar kalau kepalanya pelontos? Jadi lontong sayur kah? Wkwk.
"Tuh kan Bang, Adel nangis! Itu pasti karena dia udah ngeh kalau rambutnya jelek banget!" decak Gana, sekali lagi menarik jambang rambut Ammar sampai sang suami meringis sakit sebelum benar-benar bangkit dari sofa.
__ADS_1
Saat Gana mulai melangkah dan Ammar mengekor sembari mengusap-usap pipi yang terasa panas, Adela keluar dari kamar masih dengan tangisan. Buru-buru Alda merayap di tubuh Ammar, meminta gendong.
"Kenapa, Nak? Nyesel, ya, punya rambut kayak gini?" cecar Gana.
Adela menggeleng. Ia tunjuk Alda dengan wajah masih sumringah lucu menatap nya yang menangis terisak. "Butan, Mah. Butan kalna lambutku! Ini kalna puppy na mikuh!" jawab dengan nada gemas terseguk-seguk, ia tunjukan kotoran Miku yang masih berada di ujung jarinya ke udara tepat di depan bola mata Ayah dan Ibunya.
"Kok bisa?" Gana dan Ammar berseru bersamaan.
"Ada di kaki Adek. Dia culuh aku ambil. Aku pikil apaan, taunya eek ... huwaaaaa." kini giliran Ammar yang memandang tegas Gana. Membuat nyali wanita itu menciut.
"BUANG MIKU, DEK!!!!" Ammar berkali-kali meminta Gana untuk memberikan Miku kepada orang lain yang memang bisa mengurus kucing dengan baik. Kadang kali, Miku ikut masuk ke dalam toilet dan menemani Ammar yang tengah nangkring di atas closed.
Kadang kala kalau sudah kesal, Miku dan kandangnya, Ammar pindahkan ke sudut kolam ikan. Dan Gana akan menangis mencari Miku.
🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾
Mau lagi nggak? Kalau mau, like dan komennya, ya. Sehat-sehat, guyss❤️❤️
Mahikaku❤️❤️
__ADS_1