
"Aku kenapa ya, kok, bobo di sini?" suara Gana terdengar serak. Tangan kanannya terangkat ke atas untuk memijat dahi yang terasa pening.
"Tubuh aku juga rasanya lemas." sambungnya lagi. Kedua matanya mengerjap dua kali untuk menetralkan padangan yang masih sedikit berkabut.
Ammar yang sudah duduk dibibir sofa, ikut memijat kedua pelipis wanita yang baru saja resmi ia nikahi.
Bahagia hatinya
lega jiwanya
Dadanya terasa longgar dari sesak
Begitulah yang Ammar rasakan sekarang. Semua terkagum pada lelaki itu, dengan lugas, tegas, dan dalam keadaan terhimpit, Ammar tetap mampu menguasai emosi pada saat mengucap Ijab.
Hanya dengan satu tarikan napas, tanpa kesalahan sama sekali. Ia mampu menggetarkan Arsy-nya Allah dengan suaranya.
Walau banyak pujian yang mengalir, tetap saja Gana tidak bisa mendengarnya secara langsung. Tapi tidak masalah, sang fotografer handal sudah mendokumentasikannya, walau beberapa dari mereka ikut merasa tegang dengan keadaan Gana.
"Tadi kamu kesurupan ..."
"Hah?" Gana menyerengit. "Jangan bercanda."
"Iya, Nak. Makanya kamu pingsan. Beliau yang sudah menolong kamu ..." Mama Alika menunjuk ke arah Pak Ustadz.
Gana ingin bertanya lebih jauh perihal keadaannya kenapa tiba-tiba seperti ini, namun ia merasa waktunya sudah tersendat. "Makasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Mbak." jawab Pak Ustadz.
Ammar melambaikan tangan ke arah Bima dan Denis yang masih berdiri di ambang pintu. Dan hanya Bima yang menghampiri. Karena Denis harus tetap setia berjaga di luar.
"Saya sangat berterimakasih kepada Bapak, karena sudah membantu menyadarkan istri saya." ucap Ammar. Wajahnya semakin berbinar ketika ia mengucap kalimat panggilan tersebut.
Istri? Uh, bahagia sekali Ammar.
"Sama-sama, Mas. Sudah kewajiban sesama muslim untuk saling menolong."
Ammar mengangguk.
"Saya minta alamat rumah Bapak dan nomor telepon ya, biar asisten saya yang akan mencatatnya." Pak Ustadz dan kedua asisten itu mengangguk.
Tapi tiba-tiba Gana menyelak pembicaraan mereka. Stimulus otaknya begitu saja melesat. "Lho, terus, Ijab Qabulnya gimana?" Gana terlihat panik. "Ya udah ayo, kita kesana lagi! Mumpung Bapak penghulunya belum pulang!"
Gana memaksa tubuhnya untuk beranjak bangkit dari sofa, namun ketika sudah berdiri ia seperti ingin terhuyung kembali. Ammar langsung sigap menyanggah punggungnya dari belakang.
"Berbaringlah dulu, kamu masih lemas." jawab Ammar.
Gana menggeleng. "Ayo Ammar, kira harus menikah hari ini juga! Aku enggak mau kamu malu." Gana kembali menegapkan tubuh.
"Kalian sudah sah, Nak. Baru saja Ammar melakukan Ijab Qabul." ucap Mama Difa.
Gana melebarkan matanya. Menatap Mama Difa, Mama Alika dan Ammar secara bergantian.
"Benar, Ammar?" ia menatap lurus bayangannya dalam manik mata Ammar.
Ammar mengangguk. Senyuman hangat dan lembut terus mengalir dari raut wajahnya. Ammar tetap memeluk pinggang Gana agar wanita itu tidak terhuyung.
Gana mendesahkan napas sembari mengusap dadanya pelan. "Alhamdulillah ..."
"Gana, sudah enakan?" tanya Papa Bilmar yang ikut menghampiri. Pun sama dengan Papa Galih yang baru sampai. Ia hanya memperhatikan keadaan anaknya tanpa bertanya. Sudah tahu lah dirinya, kalau Gana sudah berdiri, itu pasti sudah baik-baik saja.
"Sudah Om, eh---" Gana melipat bibirnya.
"Panggilnya Papa dong, masa Om ... Om ganteng ya." Papa berdecis geli.
__ADS_1
Semua tertawa kecuali Mama Alika dan Papa Galih. Wanita itu mendengus dengan bibir mencebik. Memang suaminya ini, selalu berbangga diri dengan ketampanan yang kini turun kepada anak lelakinya, Ammar.
"Udah tua kamu tuh, masih aja percaya diri." celos Papa Galih. "Wajah bolehlah tua, dalaman tetap oke!" Papa Bilmar menepuk dadanya sendiri dengan tatapan bangga.
Dibalik rautnya yang pucat, Ganaya tersenyum. "Sudah, Pah."
"Ammar ayo kita kesana lagi, kasian Bapak penghulunya." pinta Gana.
Ammar mengangguk. "Ayo."
Dan mereka semua kembali menuju meja akad. Gana dan Ammar kembali duduk dihadapan Bapak penghulu yang waktunya banyak tersita karena huru-hara pernikahan ini.
Sebagai penghulu, memang bukan satu atau dua kali ia mengalami calon pengantin seperti Gana. Maka dia tidak aneh dan rungsing. Beliau yakin Allah ada untuk membantu dan melindungi mereka yang sedang tertimpa masalah.
Tatanan sanggul Gana memang agak bergeser, tapi ia tetap anggun dan cantik ketika wajahnya tengah dibidik oleh Fotografer, pada saat Ammar sedang menyematkan cincin berlian yang ia berikan sebagai mahar di jari indah Ganaya. Dan sebaliknya, Gana menyematkan cincin titanium di jari Ammar.
Wajah bahagia terpancar di keduanya, walau semua orang tau, Gana hanya sedang memaksa dirinya untuk tetap tersenyum menerima pernikahan yang sudah kepalang tanggung ini.
Senyum Gana belum selepas senyuman milik Ammar. Bola mata lelaki itu berbinar-binar. Kilatan cintanya begitu merekah. Ia menyorot wajah Ganaya dengan penuh damba.
Gana mencium punggung tangan Ammar, yang statusnya sudah berubah menjadi suaminya. Lelaki yang akan bertanggung jawab penuh atas hidupnya.
Dan Gana harus berbakti mulai detik ini kepada Ammar. Sampai saat ini Gana masih tidak percaya, bahwa jodohnya adalah lelaki yang selalu ia anggap saudara, adik dan bocah kecil. Memang jodoh kadang suka mempermainkan si empunya, Gana tidak akan menyangka ia memang berjodoh dengan Maldava Ammar.
Setelah Gana mencium tangannya, Ammar di minta untuk mencium Gana. Entah apa yang ada di fikirannya, ia malah ingin mencium bibir Gana.
"Eh ... Eh!" Papa Bilmar menarik kain beskap dibagian punggungnya. "Kening, Dek."
"Wadidaw ..."
"Catcitcuit ..."
"Buset deh, udah kagak nahan."
Semua orang berseru dengan gelak tawa yang renyah. Mereka menertawakan kepolosan Ammar. Begitu pun Farhan, ia juga menyunggingkan senyum karena hal lucu yang akan sahabatnya lakukan. Gana memang sangat cantik, dan Farhan tak jemu-jemu menatap Gana dari atas rambut sampai ujung kaki. Kilatan matanya terlihat kagum dan menginginkan. "Sempurna."
"Kalau lihat Ammar begitu. Nanti malam, udah bisa dipastiin anak saya bakal jadi lemper." bisik Papa Galih.
Papa Bilmar mengedikkan pangkal bahu, kemudian tertawa. "Sekarang impas, dulu saya yang khawatir pada saat Maura dan Gifa menikah. Kamu kan teriak-teriak goal aja. Waktu anak perempuan saya menjerit-jerit." seloroh Papa Bilmar tanpa dosa.
Papa Galih menggeleng dengan decakan sebal. Terbalas juga dirinya karena masa lampau. Haha.
Setelah degup jantungnya kembali normal. Ammar kembali mendekatkan bibirnya untuk mendarat di kening Gana. Mengecup sangat lama yang disertai pejaman mata.
Pemandangan yang begitu syahdu. Dan dibenci para kaum jomblo.
Lelaki itu seperti sedang menumpahkan segala perih, duka dan lara yang ia simpan berbelas tahun, karena tidak bisa memenangkan hati Ganaya. Dan dihari ini lah, Semesta memberikan kuasanya yang selama ini Ammar ragukan.
Maka nikmat Tuhan manakah, yang engkau dusta 'kan?
Bagaimana, Ammar?
Sungguh besar 'kan, kasih Allah kepadamu? Hamba yang sudah berlumur banyak dosa.
"Makasih sudah mau menjadi pendamping hidupku, Gana." ucap Ammar ketika melepas kecupannya.
Ganaya mengangguk dan mengelus pipi suaminya, yang sebenarnya masih enggan untuk ia lakukan. Tapi mulai saat ini, ia harus mau melakukannya. Walau lagi-lagi kata terpaksa, akan selalu ia pakai.
"Tolong bimbing dan terima kekuranganku, Ammar ..."
Ammar mengulas senyum. "Pasti sayang."
Mereka kembali mengikuti prosesi setelah akad nikah yang dipandu oleh MC. Kini, para orang tua sudah duduk berjajar di pelaminan. Sebentar lagi anak-anak mereka akan bersimpuh untuk meminta doa.
__ADS_1
Mama Alika mengusap lembut punggung anak lelakinya yang sedang menangkupkan kepala diatas pangkuannya.
"Jadi suami yang baik, Nak. Bimbing istrimu untuk mencapai surganya Allah. Karena tanggung jawab suami kepada istri akan di pertanyakan di hari akhir. Walau usiamu lebih muda, tapi Adek harus lebih dewasa. Karena Adek adalah kepala keluarga sekarang."
Hati Ammar tersayat. Begitu pilu dan perih, bagaimana bisa ia membimbing Gana dengan ilmu agama? Nyatanya saja ia adalah seorang kafar. Seorang muslim yang mengaku islam, tapi tidak pernah mengerjakan shalat dan perintah Allah lainnya.
Sudah sejak tadi Ammar menahan tangis. Namun mendengar nasihat lembut sang Mama dan sentuhannya, membuat si mafia kejam tapi berhati baik, meluruhkan tangisannya tanpa ampun. Ammar terisak dengan kedua pangkal bahu yang bergetar. Mengingat dosa yang sudah ia ukir selama ini.
"Iya, Mah. Adek janji." oh, sesak sekali ya Tuhan. Ammar sampai meremat kain beskap dibagian dadanya, karena napasnya seperti tertarik. Rasa sakit itu belum seberapa dibandingkan tarikan Malaikat pencabut nyawa. Ada banyak dosa yang harus ia pertanggung jawabkan di hari akhir kelak.
Mama Alika mengecup seluruh bagian wajah putranya. Pun sama dengan Ammar. Ia mencium kening Mamanya. Semua yang melihat, begitu sangat terenyuh. Hati mereka bergetar kuat.
Setelah selesai, dengan aba-aba dari MC. Ammar bergeser dan mengulangi yang ia lakukan dengan Mama kepada Papa.
"Pah ..." seru Ammar. Lelaki itu semakin menangis ketika menatap Papanya. Wajah teduh yang akan jarang Ammar lihat, karena mulai hari ini. Lelaki itu akan meninggalkan rumah orang tuanya.
Papa Bilmar menitikan air matanya walau tidak sederas istrinya. Mencium kepala Ammar yang dihalangi dengan songkok. Bayangan Ammar pada saat masih bayi, batita, balita, remaja, sampai dewasa terus berputar-putar di kepala lelaki itu. Ia tidak percaya, anaknya ini sudah cukup untuk dilepas berumah tangga.
"Bajunya suami adalah istri. Tulang rusuknya suami adalah istri. Wanita yang harus kita muliakan setelah orang tua Ibu."
"Aib istri hanya milik kita, karena istri adalah baju yang akan selalu kita pakai kemanapun. Jika kesal, tidak perlu membuka aibnya. Cukup adukan kepada Allah."
"Jadilah imam keluarga yang selalu bertakwa. Hanya itu pesan Papa dan Mama untukmu, Nak. Semoga Adek selalu berbahagia." Papa mengelus lembut punggung anaknya.
Ammar semakin membuncang dalam gelak tangis. Ia pun bangkit dan merentangkan kedua tangan untuk memeluk Mama dan Papanya.
"Makasih, Mah, Pah. Selalu menuruti semua kemauan Adek. Sampai mengizinkan Adek untuk menikahi Gana." ucapnya dengan derai air mata.
Mama dan Papa mengangguk sembari mengusap wajah mereka yang sudah basah.
"Tapi Adek jangan lupa sering kerumah ya, pijitin kaki Papa ... sama beliin Papa cemilan."
Tangis Mama Alika dan Ammar seketika terhenti. Ada-ada saja si Kakek yang satu ini, dalam suasana haru, ia masih bisa-bisanya membuat orang tepuk jidad.
"Papa ..." Mama Alika mencubit paha suaminya. Ammar tertawa tapi menangis. Lelaki itu kembali memeluk mereka. Keharuan pun terjadi di antara Gana, Mama serta Papanya.
"Anak Papa sudah menjadi istri sekarang. Berbaktilah kepada Ammar, Nak. Tetap jaga kehormatan hanya untuk suamimu. Walau di rasa berat, karena cinta masih sulit untuk diutarakan, tetap lah jalani. Sabar dan ikhlaskan."
"Kembalikan semua jalan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk Gana. Jangan lupakan shalat, mengaji dan berdzikir. Agar pengaruh sihir tidak tembus, dan membuat hidupmu sesat." ucapan Papa Galih begitu menyentuh sudut hati Gana. Sangat menusuk relung sanubarinya.
Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Mengapa begitu sakit dan susah untuk menerimanya. Jika saja suaminya tetap Adri, ia akan menerima nasihat dari Papa dan Mamanya dengan tangisan penuh keharuan bukan dengan tangisan penuh kekecewaan seperti sekarang. Ingin berlapang dada dengan keadaan, namun rasanya masih terasa sulit.
"Ya Allah ... Tolong hapus rasa cinta ini untuk Adri. Dan gantilah rasa ini hanya untuk suamiku seorang, Maldava Ammar ..."
Gana dan Ammar yang masih dalam pelukan orang tuanya, kini saling menoleh dan menatap dari jarak beberapa meter. Muka mereka berdua sudah sama-sama basah. Kedua mata, pucuk hidung dan pipi sudah memerah dentam.
"Ajari aku untuk mencintaimu, Ammar ..."
"Sebisaku, Gana ..."
Telepati mereka saling bersautan dalam aksa dan sukma. Setelah hari pernikahan ini, Ammar dan Ganaya akan sama-sama berjuang dalam arti yang berbeda.
Ammar akan berjuang, untuk membuat Gana bisa mencintainya, menjaga Gana dan pernikahannya dari serangan musuh.
Demikian pula dengan Gana, ia akan berjuang untuk bisa mencintai Ammar, tetap memilih setia kepada pernikahannya, walau Adri masih akan terus bertahta didalam jiwanya.
Bisakah mereka?
***
Walau di masa-masa pernikahan mereka akan berliku, terjal seperti halnya permainan roller coaster. Tapi tetap mereka akan romantis, cute dan sweet.
Kalian suka atau tidak suka dengan jalan ceritanya nanti, atau sesak sampai ke ubun2. Ditahan aja ya, atau boleh skip. Karena aku akan menulis sesuai outline ku guys.
__ADS_1
Jangan lupa selalu ada pelangi yang memberi warna terang dilangit mendung sehabis hujan๐ง๏ธ๐๐ง๏ธ๐