
"Astagfirullahalladzim ... KERITING!" seru Papa Bilmar nyaring. Lelaki beruban yang masih saja gagah, kaget setengah mati saat mendapati Adela tengah menyoret-nyoret kaki adiknya, Alda.
Karena Gana sedang pergi ke sekolahan Rora, Aidan dan Taya. Sementara Adela dan Alda dititipkan di sini. Karena jarak dari sekolah ke rumah Papa Bilmar cukup dekat dibandingkan ke rumah mereka sendiri.
Anak perempuan dengan tubuh montok dan rambut keriting panjang, yang sekarang sudah berusia tiga tahun itu tersentak kaget. Menoleh ke belakang, lantas meringis takut saat menatap Kakeknya yang tiba-tiba muncul di tepi ranjang dengan bola mata melotot. Buru-buru Adela menghempas spidol yang sedang ia genggam dan sebisa mungkin membela diri.
"Kok di corat-coret kaki, Adikmu!"
"Ini icah iyang 'kok, Tek." dalih Adel. Seraya mengusap-ngusap kaki adiknya dengan tangan dan menyemburkan ludahnya.
"Eh, eh. Jangan, Dek. Ini tuh jorok!" sergah Papa. Ia menghalau tangan Adela yang sedang mengoles cairan ludah di kaki Alda.
"Pantas aja kamu anteng di kamar, ternyata begini. Memangnya Adikmu ini buku gambar?" Papa merangkak naik ke ranjang. Mengusap kaki Alda dengan tangan seraya membersihkan, bayi perempuan berusia delapan bulan tersebut adalah anak ke lima Ganaya dan Ammar. Untuk saat ini Alda adalah cucu bungsu. Cucu ke sepuluh turunan darinya.
Adela mencebikkan bibir. Dadanya bergerak naik turun, air bening menggenang di pelupuk mata. Si keriting yang gampang cengeng akhirnya menangis. Ia tidak suka dimarahi walau dirinya salah.
"Jangan nangis! Kamu salah!"
"Huwaaaaaaaaa ... Nenek!" serunya. Karena tahu Mama nya sedang tidak ada di sini. Ia hanya bisa menyerukan Mama Alika.
Papa mendiamkan saja. Ia fokus membersihkan warna spidol di kaki Alda, yang tak kunjung menghilang. Papa beranjak dari ranjang dan pergi ke luar kamar ingin memanggil istrinya dan mengambil tissue basah.
Tangisan Adela membuat Alda mendadak terbangun dari tidurnya. Bayi itu kaget dan ikut menangis. Dan menangis lah kedua-duanya di kamar ini, membuat rungsing Nenek dan Kakeknya.
Beberapa saat kemudian, Mama Alika datang dengan langkah terpogoh-pogoh, Papa mengekor di belakang sambil memarahinya.
"Aduh kok bisa begini?" gumam Mama. Ia melihat kedua kaki Alda habis di corat-coret. Lantas beralih menatap Adela yang masih menangis.
"Nanih tuga iyang, Nek." Adela tetap membela diri. Melihat cucunya terseguk-seguk membuat Mama tidak tega. Ia menarik Adela untuk di tekan ke dalam dada. Sedangkan Papa menggendong Alda yang juga ikut menangis.
"Lagian Mama tuh ngapain 'sih di kebun terus? Mau jadi petani kamu? Cucu lagi tidur 'kok bukan di jagain! Nih, lihat. Kakinya habis, kalau Papa enggak ngecek ke kamar, pasti udah di corat-coret sampai ke muka!" Papa melampiaskan kekesalan kepada Mama. Lelaki itu menimang-nimang Alda untuk menenangkannya. Di kecup-kecup kepala botak Alda, membuat bayi itu menghentikan tangis dan berganti tawa.
Mama Alika hanya bisa diam saja. Dirinya memang salah. Ia memang sedang repot memilah-milah tanaman yang ingin ia berikan kepada para temannya. Saat ditinggalkan, Alda memang sedang tidur dan Adela sedang main di ruang tamu. Entah sejak kapan anak itu malah naik ke kamar dan mengganggu Adiknya.
Sedih karena Neneknya dimarahi dan Papa lebih condong ke Alda, membuat Adel cemburu dan tangisannya semakin kencang.
"Tatek jaat! Ndak cayang cama atuh, Nek!" Adela menangis dalam dada Nenenknya, ia menunjuk ke arah Papa.
__ADS_1
Sebisa mungkin Mama menenangkan. "Kakek sayang sama kamu 'kok, Nak. Hanya kaget aja kok Kakak warnain kakinya Adek."
"Huwaaaaaaaa ... Mama ... Papa!" seru Adela. Ia menyerukan kedua orang tuanya.
Dalam gendongan Papa, Alda hanya melongo sedih, tangannya terulur seraya ingin menyentuh Kakaknya yang sedang menangis. Papa menghela napas panjang, mencoba mendinginkan hati. Lelaki ini memang kaget dan marahnya hanya refleks, tidak ada unsur benci. Papa memberikan Alda kepada Mama. Lantas meraih Adela yang masih menangis dan di gendongnya.
"Kakek sayang sama kamu, Nak." Papa mengusap-usap lembut punggung Adel yang kini memeluk dadanya erat. "Hanya Kakek enggak suka kalau Kakak coret-coret di kaki Adek. Kalau enggak bisa hilang, gimana? Kan ada buku gambar, kok malah di kaki." Papa sebenarnya masih gemas, ingin sekali ia mengigit lengan sintal milik Adela.
Anak itu menghentikan tangisnya, hanya tersisa deru isak nya saja. Ia menatap Alda dalam pangkuan Neneknya, sedang memasukan jari kaki untuk diemut. Adela merasa ikut bersalah. "Iya, Tek." cicitnya dengan raut sendu.
"Jangan gitu lagi, ya?" titah Papa. Adela mengurai dekapan dan menatap Kakeknya. "Tatih talau di lumah, atuh celing nanain di muta Papa, Tek. Talau agih bobo. Hihi." Adela tertawa. Bangga sekali dirinya mengatakan kalau sering mewarnai wajah Ammar jika sedang tidur.
Bukan hanya Papa yang melongo horor tapi Mama juga. Mereka baru tahu kalau Adela sering berulah seperti ini.
Papa mendengus ke arah Mama. "Kalau kita lagi tidur siang, ini Anak kerangkeng aja, Mah. Nanti wajah kita lagi yang diwarnain!"
Mama terkekeh. Begitupun Adela dan Alda yang juga terkekeh, walau tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Kakeknya barusan.
Haha.
...🌾🌾🌾...
Gana, Taya dan Aidan juga ikut tersenyum melihat kemesraan mereka. Awalnya Gana merajuk kepada Ammar dan lelaki itu terus meminta maaf. Ada kemacetan di jalan menuju sekolahan ketiga anaknya. Setelah menurunkan jet pribadi di kantor EG pusat, Ammar bergegas ke sekolahan dengan kereta besinya.
Dan traffic di jalan tidak bisa ia hindari. Bersyukur lah ia datang tepar di saat anaknya akan melakukan hapalan. Tidak bisa dibayangkan jika hal itu terlewati, bukan hanya rajukan Rora tapi juga Gana yang harus di hadapi. Belum lagi Taya dan Aidan yang pasti ikut cemberut
"Pah, kalau Kakak enggak menang. Enggak apa-apa 'kan?" Rora mendongakkan wajah ke atas, Ammar yang sedari tadi masih memperhatikan kandidat terkahir di atas panggung, lantas menurunkan tatapannya ke arah putrinya.
Ammar tersenyum. Ia meraih Aurora untuk pindah duduk di pangkuannya. Taya pun bergeser menempati bangku kosong bekas Rora, Gana dan Aidan pun mengikuti.
Ammar mencium pipi Rora. "Melihat Kakak hapalan tanpa teks di atas panggung aja udah buat Papa bangga, Nak. Kakak tetap juara satu di hati Papa, Mama dan Adik-adikmu."
Taya ikut mencium pipi Rora dan membelainya dengan sayang. "Iya, Kak." tuturnya. Rora tersenyum malu tapi juga bahagia. Ia senang karena amat di sayang.
Air mata Ammar dan Gana sempat muncul saat Aurora dengan lancar membacakan surah Al-Kahfi di depan puluhan orang-orang yang menonton. Orang tua mana yang tidak akan bangga jika anak-anak mereka bisa berprestasi dalam dua bidang sekaligus. Agama dan dunia.
"Semoga kalian semua, bisa memberikan mahkota dan jubah untuk Mama dan Papa, ketika di Akhirat nanti agar bisa masuk surga. Makanya Kakak dan Adek harus selalu rajin shalat dan mengaji, ya." Gana menasehati ketiga anaknya. Anak yang dikatakan berhasil bukanlah karena ia pintar matematika atau pintar bahasa Inggris. Tapi, anak yang dikatakan berhasil dalam didikan orang tua adalah anak yang bisa menghapal Al-Quran.
__ADS_1
"Iya, Mah. Aamiin ...." seru mereka senang.
Dan sesaat kemudian sesi pengumuman pemenang di mulai. Semua kandidat dan orang tua menatap lurus kedepan dengan hati yang berdebar-debar. Apakah anak mereka bisa menang dalam tiga besar.
"Juara tiga ... Zahira Yasmine." Aurora menatap temannya yang digandeng orang tuanya untuk naik ke atas panggung. Akan menerima hadiah, piala dan uang.
"Kayaknya Kakak enggak menang 'deh, Mah, Pah, Dek." ucap Rora. Raut nya memang tidak sedih. Karena sejatinya ia tahu, teman-temannya yang mengikuti perlombaan sungguh luar biasa melebihi dirinya.
Gana selalu menasihati dari jauh-jauh hari. Kalau menang dan kalah dalam perlombaan itu adalah hal yang sangat biasa. Jadi tidak perlu bersedih jika tidak menang, mungkin Allah mengatakan belum waktunya. Dan Rora sudah mematri kata-kata Mamanya di dalam jiwa. Rora hanya ingin Mama dan Papanya menyaksikan keberaniannya untuk berdiri di atas panggung saja.
"Kakak pasti menang. Mungkin aja juara satu." Aidan dan Taya, adik-adik yang sangat menyayangi Kakaknya terus memberikan semangat kepada Rora.
"Juara dua ... Sofwan Al Hadid."
"Wah, Kak Sofwan menang! Hebat!!" seru Aidan. Anak itu berdiri sambil memberikan tepuk tangan, lantas ia tersenyum manis ke arah Nurul yang juga sedang menatapnya.
"Tapi kasian, ya. Naik sendiri ke atas panggung enggak sama Mama dan Papanya." imbuh Taya.
Semua penonton menatap sedih ke arah Sofwan. Dan Rora bersyukur walau ia merasa tidak akan menang, setidaknya Mama dan Papanya lengkap berkumpul menemaninya sekarang. Jauh-jauh Ammar melesat tebang dari Jogja menuju Jakarta.
"Abis ini pasti nama Kakak di sebut." tukas Gana. Dan Rora hanya memberikan gerakan kepala tidak yakin.
"Enggak mungkin kayaknya, Mah. Yang juara satu pasti Madinah."
Madinah adalah teman sekelasnya yang sangat pintar. Ketua kelas dan anak dari kepala sekolah. Rora rasa, ia tidak mungkin mengalahkan Madinah. Rora memang selalu merendah, padahal selama ini ia selalu juara tiga besar di kelas.
"Kakak jangan pesimis. Berharap itu boleh," imbuh Papa.
Rora mengangguk saja. Ia kembali menatap ke depan, menunggu host menyebutkan siapa juara satu dalam perlombaan hapalan surat Al-Kahfi hari ini.
"Juara satu adalah ...."
Deru napas keluarga Ammar memburu. Semua nya berdoa dalam hati semoga Malvinia Aurora Artanegara, keluar sebagai pemenang hari ini.
Aamiin.
...🌾🌾🌾...
__ADS_1
Like dan Komennya jangan lupa ya. Biar aku semangat bikin bonchap mereka. Yang belum mampir ke ceritanya Geisha, bisa mampir ya. Nunggu sampai bonchap Ammar dan Gana, terbit.
Sehat selalu ya guyss, moga suka ceritanya❤️