
Ganaya POV.
"Ibadah terpanjang adalah menikah."
Sebuah petuah yang selalu aku dengar berulang-ulang dari bibir Mamaku, ketika keluarga besar kami sedang berkumpul.
Mamaku yang masih saja cantik walau sebenarnya umurnya sudah menua itu, selalu menasehati kami, khususnya aku dan Gelfani. Untuk selalu setia, menerima, memahami kondisi suami sampai ke dalam-dalamnya.
Entah mengapa yang selalu ditekan adalah kami. Anak perempuannya. Mama sangat takut kami berdua tidak bisa setia dengan suami sendiri.
Naudzubillahmindzalik. Tukas ku kala itu ketika Mama terus saja mendesak apakah aku masih berhubungan dengan Adri?
"Dosa, Gana!" begitu saja terus. Di ulang-ulang seperti kaset rombeng.
Seakan Mama mempunyai masa lalu yang tersimpan dan lebih peka dengan dunia perserongan. Entahlah ... Aku tak faham.
Tapi dengan kecerewetan Mama. Membuatku terlatih untuk tetap setia kepada Ammar, walau aku belum bisa mencintainya di awal pernikahan kami.
Berkali-kali aku menahan diri untuk tidak mengenal lagi Adri atau mengubur rasa ingin mengetahui kabarnya. Rasanya sangat sulit aku lakukan.
Tapi lagi-lagi kata-kata Mama yang selalu menasehati ku tentang kata kesetiaan. Membuatku berpegang teguh, bahwa aku sudah bersuami dan harus tetap setia kepada Ammar.
Dan awal mula paksaan setia tersebut, membuat hidupku hanya terpana kepadanya. Mulai memperhatikan dirinya, lelaki yang sampai saat ini masih sulit ku percaya, kalau kami akhirnya berjodoh.
Haha. Aku ingin teriak dan tertawa. Mentertawakan diri ini yang dulu sangat sombong, selalu menolak Ammar dan mengucap kata kasar padanya. Kalau kami tidak akan mungkin bersatu.
Dan nyatanya.
Aku membasahi kerongkongan dengan air ludah sendiri. Lidahku serasa ingin putus karena aku sudah berkhianat dengan lisan kalau aku tidak akan pernah bisa mencintai Ammar.
Dan nyatanya lagi.
Aku mencintainya
Mencintainya
Mencintainya
Sangat!
Aku benar-benar malu dan gengsi untuk mengatakan perasaanku padanya. Biarlah ia yang peka sendiri. Aku akan menunggu.
Seingatku, aku mulai suka padanya bak sepasang kekasih, ketika melihat pertama kali wajahnya basah karena air wudhu. Ada gelenyar aneh yang berdebar di dalam dada. Ammar tampan sekali waktu itu. Tapi rasa suka itu menghilang, suka naik-turun, entah mengapa, aku juga tidak mengerti.
Rasa suka yang hanya suka, sepertinya naik fase. Di titik mana, aku mulai jatuh cinta kepadanya, Maldavaku. Hanya dengan aktivitas receh, aku mulai tergila-gila dengannya.
Yaitu pada saat ia tengah menggunting kuku kaki dan tanganku. Saat aku masih terduduk di kursi roda menatap datar tanaman-tanamanku di halaman. Lelaki itu datang lalu duduk menyila dibawah menghadapku, dengan membawa sekumpulan alat-alat pedicure and menicure.
Sambil menonton video dari YouTube, ia mempraktekkan semuanya kepada kuku-kuku tangan dan kakiku. Satu dari seribu lelaki akan melakukan ini kepada wanita.
Papaku saja yang seromantis itu dengan Mama, tak pernah ku jumpai, seperti perlakuan Ammar kepadaku. Suamiku itu memang luar biasa, cintanya tulus dan murni.
Dan aku bodoh membiarkan ia terluka untuk menahan cinta sendiri bertahun-tahun lamanya.
Tanpa sadar ku kecup keningnya hanya karena mengikuti naluri hati yang muncul kala itu, Ammar tersenyum senang dan tetap fokus membersihkan kuku-kuku jariku.
Selama sakit ia merawatku dengan sabar, apapun yang aku ocehkan, tidak pernah di gubrisnya. Jika mood ku sedang tidak bagus karena mendadak kesal dengan keadaanku yang lumpuh, ia akan diam saja ketika tubuhnya aku cubiti. Malah mengelus rambutku dan berkata, mau ke salon?
Ahh, aku tidak mengerti dengan lelaki ini. Sungguh teramat baik untuk disakiti.
Tapi ... Ternyata aku yang di sakiti dengan ulahnya sekarang. Suamiku yang dulunya selalu aku anggap dedek kecil, ternyata malah monster jadi-jadian berwujud manusia. Di depan bisa merubah wujud sebagai malaikat, namun dibelakang berubah menjadi Iblis yang dimurkai oleh Allah.
Lagi-lagi kata-kata entah yang aku pakai sekarang. Ya, entah kenapa. Ketika sudah tahu semua kebusukannya, aku malah semakin mencintainya.
Padahal ketika aku masih menerka-nerka dirinya tentang bukti-bukti yang belum jelas dua minggu lalu, rasanya aku ingin sekali menceraikannya.
Aku tidak terima dengan segala kejahatan dan kebohongannya. Sungguh menjijikan perbuatannya, setampan dan seganteng itu menjadi Mafia? Aku langsung terjekut, eh salah, maksudnya aku terkejut.
Rasanya tungkai didalam tubuh ingin bergoyang dan lepas. Belum lagi ketika ia sampai menamparku, walau aku tahu itu tidak sengaja. Tetap saja aku kesal, ingin sekali menamparnya balik sampai sariawan.
Dan kembali lagi dengan petuah Mama dengan nasihat 'Pernikahan adalah ibadah terpanjang'. Dan aku yakin, perihal masalah Ammar yang baru saja terkuak malam ini, juga ada kaitannya dengan petuah Mama.
__ADS_1
Aku harus tetap menjadi istri siaga, ikut melindungi, mendoakan, menerima aibnya, membawanya ke jalan yang benar serta menjaga cintanya agar tidak berpaling ke pada pelakor-pelakor yang biasanya mukanya putih banget tapi leher sama tangan hitam. Hihi. Maaf ya aku tertawa.
Begitulah intisarinya dengan makna dibalik Pernikahan adalah Ibadah terpanjang, karena aku harus selalu bersiap ketika Sang Khalik akan kembali menerjang pernikahan kami, ingin menguji kekuatan dan pengorbanan yang bisa kami berikan untuk ibadah terpanjang ini.
Meladeni setiap ujian perihal rumah tangga kami yang tidak tahu kapan kapal kami akan berhenti berlayar, tentunya di saat salah satu diantara kami berpulang terlebih dulu kepada Illahi, maka saat itulah ibadah terpanjang kami sudah berakhir.
Bruk.
Guncangan yang terasa didalam mobil karena ban tidak sengaja menghantam lubang, membuat lamunanku buyar. Aku yang masih menikmati ruas jalan malam langsung terkesiap menatap ke depan kemudi.
Ada Denis yang masih fokus menyetir. Lelaki itu berkali-kali menguap. Serta di sebelahnya ada Bima yang sudah mendengkur. Dasar tukang sate ... Oh salah. Dasar pelorrr maksudku. Asal nempel langsung molor. Ck.
Lalu, bayi besarku? Sedang apa dia?
Karena terus menangis memohon untuk tidak diceraikan, membuat suamiku lelah dan akhirnya tertidur. Tanpa rasa bersalah, ia meletakan kepalanya di pangkuanku, memeluk perutku dan mendengkur.
Aku tatap sudut matanya yang masih menyimpan bulir kebasahan. Lelaki itu memohon, meronta, meminta maaf, menjelaskan detail bagaimana awal mulanya. Dan aku tetap berpendirian untuk tidak mau memaafkannya. Ya, sekali lagi. Aku hanya sedang berpura-pura tegas.
Dan kepura-puraan ini membuatku teringat dengan rasa lapar.
"Den ..."
Denis terkesiap dengan panggilanku.
"Iya, Bu? Saya fikir Ibu tidur." jawab Denis.
Aku terkekeh pelan. "Enggak bisa tidur, Den. Soalnya perut saya lapar."
"Mau makan dulu, Bu?" mungkin dia juga kode, supaya aku mengajaknya untuk menghentikan mobil agar bisa mampir dulu ke rumah makan. Aku tahu semua yang ada didalam mobil ini belum makan, tanpa terkecuali aku.
Seraya mengusap kerongkongan aku kembali bertutur. "Kalau ada pecel ayam pinggiran, boleh nepi ya. Saya lagi pengin." tak sadar tanganku sudah mengusap-usap lengan suamiku yang sedikit bergeliat. Menitah nya lagi untuk semakin pulas.
"Baik, Bu."
Aku arahkan lagi manik mata ini menatap Ammar. Membelai halus wajahnya, mengikuti jejak wajahnya yang tampan dengan ujung jariku.
Dan tak sadar lagi, aku mencium wajahnya berulan-ulang. Setiap menciumnya, aku merasa tubuhku melayang ke awan.
***
Sesuai dengan kemauanku. Denis menepati janjinya untuk menepikan mobil di tenda tukang pecel ayam di pinggiran jalan.
Awalnya alis Ammar menaut dan kembali meyakinkanku untuk makan saja di restoran. Tapi aku tetap memaksa untuk makan di sini saja. Makan sederhana bersama kedua asisten kami. Bukan aku pelit tidak mau makan direstoran, tapi aku memang sedang ingin makan pecel ayam.
Ammar masih mengucek-ngucek matanya dan sesekali menguap, tanda jika kedua matanya masih ingin terpejam. Setiap ia ingin memejam mata, aku cubit lengannya. Di akan mengaduh sakit dan Bima serta Denis akan menertawakan dirinya.
"Ini tempat makan, bukan kamar! Kamu enggak boleh tidur kalau mau makan!" sentak ku ketus. Ia menggerakkan kepalanya dengan anggukan. Pasrah jika aku masih sewot.
"Enggak boleh nguap! Kamu fikir napas kamu wangi?" mulut suamiku langsung terlipat ke dalam. Bola matanya membulat namun tertahan.
Lagi-lagi, Bima dan Denis kembali tertawa.
Tak berapa lama pesanan kami datang. Empat paket pecel ayam lengkap dan empat gelas air jeruk hangat tersaji di hadapan kami.
"Maaf, Pak. Boleh minta sendok?" pinta suamiku.
"Pakai tangan! Makan dengan jari langsung adalah sunahnya Nabi Muhammad SAW." ucapku lantang, lagi-lagi nyali Ammar menciut.
"Enggak usah, Pak." selak Denis kepada si abang yang disambut dengan kekehan Bima. Dua lelaki itu sedang mengaduk-aduk nasi dengan sambal di piring.
Puas sekali hati mereka, Ammar dikerjai habis-habisan. Pasalnya Ammar tidak bisa makan jika tidak dengan sendok.
"Nikmat, Pak, kalau makan pakai tangan langsung." ucap Bima
"Makan pakai mulut!" tukas Ammar.
"Memang siapa bilang pakai duburr?" decakku.
Aku lihat Denis dan Bima ingin menyemburkan nasi yang sedang mereka kunyah.
"Sukurin!" Ammar mendengus, menatap Bima dan Denis, mungkin dalam batinnya begini. 'Awas saja kalian, akan aku libas pusar kalian'. Haha. Aku berdecih dalam hati.
__ADS_1
"Bisa 'kan makan pakai tangan?" tanyaku masih dengan nada dingin. Tanpa menoleh ke arahnya, karena aku sedang sibuk mengaduk-aduk air jeruk di gelasku.
"Bisa sayang, demi kamu. Jangankan pakai tangan, pakai kaki aja aku bisa 'kok." Ammar kembali berguyon.
"Coba Bu suruh Bapak praktekin. Jadi pengin tau, gimana caranya makan pakai kaki. Bakal ke campur daki enggak ya?"
Haha. Dua lelaki yang selalu dempet kemana-mana itu kemudian tertawa renyah. Dan aku pun terpancing karenanya. Ammar hanya bisa mendengus bete.
"Aduh ... duh." suamiku meringis. Ia menarik tangannya yang baru saja menarik kulit ayam dari bagian dada. Ia meringis kepanasan.
"Makanya hati-hati. Kaya debus aja bisa kebal sama panas." ucapku ketus lagi kepadanya.
Ammar menyodorkan telapak tangan yang buku-buku jarinya terlihat sedikit memerah. Kode ingin minta di tiup. Aku tidak bisa menolaknya. Suamiku merengek sendu. Seperti anak yang sedang memaksa meminta uang seribu kepada Ibunya.
"Wah kayak bocah aja nih, Bapak." ledek Bima.
"Bocah tua. Haha." timpal Denis.
Aku yang sedang konsentrasi mengusap-usap ujung jarinya ikut terkekeh.
Dan terdengar keretukan tulang dari leher ketika Ammar sedang menggeliatkan kepalanya, seraya kode, seperti akan mencekik mereka berdua.
Buru-buru Bima dan Denis menelan tawanya dengan keheningan. Aku masih saja tertawa, lucu dengan pasangan dempet itu. Haha. Ya, begitulah aku meledek mereka.
Suamiku memang tidak bisa makan tanpa sendok, terlihat makannya sangat lama seperti keong. Kita sudah di Afrika dia masih di bundaran HI. Rasanya aku jadi pengin nambah, kalau lihat dia makan lelet seperti itu.
Gregetan dan gemes. Akhirnya aku raih piring nya dan mulai menyuapinya dengan tangan ku sendiri. Suamiku mengulum senyum cinta.
"Maawaaccih sahhyaangg---" ucapnya tak jelas ketika sedang mengunyah. Mulutnya belepotan sambal.
Aku hanya memiringkan sudut bibir, menandakan aku masih marah padanya. Padahal dalam hati, aku tertawa. Masa membunuhh dan mencincang organ saja bisa, tapi makan pakai tangan saja tidak bisa.
Dasar aneh.
Setelah beres menyuapinya. Membayar semua makanan yang kami pesan. Akhirnya kami melenggang masuk ke dalam mobil. Tapi sebelumnya itu terjadi, dengan dehemanku, mereka semua menatap ke arahku.
"Kenapa sayang?" tanyanya lembut.
Aku tidak menjawab. Aku alihkan mataku kepada Denis yang mematung didepan pintu kemudi.
"Kunci mobil serahkan kepada Bapak. Bapak yang akan menyupiri kita. Kalian berdua bisa duduk dibelakang dan istirahat. Perjalanan pulang kita masih panjang."
Ketiganya terpelongo. Tapi suamiku yang lebih lama diam sambil menautkan alis, ia terlihat enggan. Dan aku senang.
"Asiap, Bu." ucap Denis senang. Haha.
"Ini, Pak. Kuncinya." Denis menyodorkan kunci mobil kepada suamiku yang wajahnya menatap horor kepada Denis. Tapi, Denis dan Bima hanya terkekeh menahan geli. Kapan lagi fikir mereka, disupiri Presdirnya.
Ammar menekan tombol unlock pada kunci mobil dan kami bergegas masuk. Tapi ia masih saja mematung diluar pintu kemudi, dari wajahnya terasa berat, tidak terima dua cecunguk yang ia sayang berleha-leha di belakang kursi penumpang seperti tuan besar.
"Ayo cepat masuk!" titahku.
"Ehhh--iya, sayang." jawabnya tergagap.
"Kapan lagi ya, kan. Kita disupirin sama Bapak."
Bima dan Denis kembali tertawa mendengar guyonan ku.
Lagi-lagi Ammar mendengus kesal namun tertahan. Rasanya ingin ia tarik bibir tebal milik Bima dan Denis yang sudah puas sedari tadi mengejeknya.
Aku melipat tangan di dada, serius menatap jalan didepan. "Aku tidur dulu. Tubuhku rasanya lelah. Nanti setelah sampai di rumah, aku masih ada urusan denganmu, Ammar!" ucapku lugas.
"Urusan tentang apa, jika sudah sampai di rumah? Di ranjang?" tanpa rasa dosa karena sudah membuat kesalahan di hari ini, ia malah membercandai ku.
Dan setelahnya Ammar mengerang karena kupingnya aku gigit.
****
Like dan Komen yaw🌺🌺
Masa unyu begini jadi mafia, gimana kalo jadi boyband ajah tigaan ama Mbak Ningsih dan Mbak ratih ... Loh?ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1