Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Lapangkan Hati Kamu.


__ADS_3

"Dengan perbuatan kamu yang seperti itu, Kamu tidak sadar kalau sudah berubah menjadi setan untuk banyak orang! Kamu tidak punya ketenangan dalam hidup."


"Bebaskan Ammar ... "


"Lepaskan rasa sakit di hatimu ..."


"Ada aku di sini, kamu harus berubah!"


"Lapangkan hati kamu!!"


"Maafkan mereka ..."


Gana menatap sendu suaminya. Bukan benci tapi jadi iba. Ammar tetap mendengarkan setiap curahan hati istrinya.


"Harusnya aku marah dengan kejahatan yang kamu lakukan. Aku bisa saja menamparmu bolak-balik. Tapi karena aku tau, semua ini di sebabkan trauma pembullyan. Maka aku memahami mu, Ammar ... bisa 'kah demi cintamu padaku, kamu berubah?"


Gana mengusap dada Ammar. Berusaha memaksa Ammar untuk mengikuti ucapannya. Ia tahu suaminya orang baik, yang tiba-tiba bisa berubah karena keadaan dan rasa trauma.


Ammar mengangguk dengan wajah berbinar. Walau istrinya belum tahu sepenuhnya dengan kejahatan yang sebenarnya. Tapi hatinya sudah cukup tenang, karena Gana sudah mau menerima satu kebohongannya.


"Iya sayang, demi kamu aku akan berubah. Tapi bisa 'kah kamu juga menuruti permintaanku?"


Gana menyerengitkan dahi. "Apa?"


"Putuskan kontrak kerja HG dengan perusahaan Mahendra!" titahnya.


Gana kembali mengerjapkan mata beberapa kali. Tidak salah 'kan telinganya?


"Aku tidak ingin kamu berdekatan dengan Mulan. Aku tidak ingin Mahendra cemburu, bisa saja kan perasaan Mulan kembali hadir padaku. Karena kita sudah kembali dekat, kalau aku memaafkannya?"


Tidak di pungkiri, Mahendra memang sudah berkali-kali ingin meminta maaf kepada Ammar. Namun Farhan selalu mempengaruhi malah membuat hati Ammar semakin panas. Sampai Ammar melempar bom ke salah satu anak cabang perusahaan milik Mahendra, membuat lelaki itu murka dan kembali melakukan aksi serangan.


Mahendra berhenti setelah ia mulai bertobat. Dan Ammar menakuti Gana dengan masalah Mulan. Agar wanita itu awas dan mengikuti ucapnya. Ammar hanya takut, Mulan dan Mahendra membeberkan semua rahasianya.


Gana melamun sebentar. Seolah berfikir, dan ia mulai mengangguk. Apalagi rasa suka mulai merekah di hatinya untuk Ammar. Tidak akan ia biarkan siapapun merebut Ammar darinya. Walau dalam bahasa tegasnya, Ammar tidak akan bisa berpaling ke lain hati.


Mengingat Ammar tidak rugi melepas klien demi membela dirinya yang pada saat itu di maki-maki oleh Asyifa. Gana pun ingin membalas kebaikan suaminya.


"Iya, Ammar. Aku akan memutuskan kontrak kerja antara HG dan perusahaannya."


"Lewat Kak Gifa saja, aku tidak ingin kamu bertemu dengannya." Ammar memaksa.


Gana mengangguk dengan senyuman.

__ADS_1


"Tapi, maaf sayang. Aku tetap harus bertemu dengan Mahendra. Aku masih belum percaya dengan Farhan ... Aku hanya ingin menolongmu jika memang lelaki itu adalah biang keladinya." lirih Gana dalam batinnya.


****


Gawai Ammar masih saja bergetar di atas meja kerjanya. Layarnya kembali terang. Nama Farhan muncul di sana. Beberapa kali menelpon, tapi Ammar masih mendiamkannya.


Hatinya mundur-maju. Kadang ia percaya kepada lelaki itu. Kadang juga ada rasa ragu. Apalagi ia sudah berjanji kepada Gana. Baru tau satu titik dari lingkaran kebohongan saja, Gana sudah syok. Bagaimana kalau dirinya tahu secara lebar tentang Ammar.


Habislah lelaki itu.


"Aku tidak ingin membuat Gana curiga. Lebih baik untuk sementara waktu, kita berjauhan dulu, Han. Maafkan aku."


Ammar memilih tidak mengangkat telepon dari Farhan. Membuat lelaki diseberang sana mengutuk namanya berulang kali. Ada seekor tikus didalam rumah, yang mengatakan kalau tadi pagi Ammar berkelahi dengan tamu yang datang kerumah.


Setelah makan malam bersama Gana dan kedua mertuanya. Ammar memilih masuk kedalam kamar untuk berdiam diri di meja kerja sambil merenung.


"Baguslah kamu sudah bisa melupakan aku dan mencintai Mahendra ..." gumam Ammar dengan senyuman tipis. Tiba-tiba saja keningnya mengerut. Ia mengingat ucapan Mulan. "Mahendra, bertobat?" Ammar tertawa.


"Dajjal mana bisa sih tobat?" ucapnya terkekeh.


Jika Mahendra saja Dajjal, lalu dirinya apa? Ck!


Gawai kembali berdering. Dan nama Farhan terlihat lagi. Ammar hanya membiarkan, tidak meriject panggilan tersebut. Ia tidak mau membuat Farhan berfikir macam-macam. Jangan lupakan, lelaki itu memiliki perasaan yang tak kala sensitif. Ammar hanya ingin mencoba untuk mundur pelan-pelan. Bukan ingin mengkhianati Farhan. Tapi ia hanya ingin Farhan lelah untuk mengelola bisnis itu sendirian, dan berpaling untuk berhenti.


Ammar bangkit dari kursinya. Membiarkan gawai itu terus berbunyi. Ia memilih menyusul Gana yang masih berada diruang televisi bersama Mama Difa dan Papa Galih.


***


Ammar menghempaskan bokongnya di sudut sofa tepat di ujung kaki istrinya. Gana sedang duduk dengan kedua kaki terjulur. Ammar mengangkat kaki Gana dan diletakan di atas pangkuannya. Lelaki itu menatap layar televisi sambil memijat kedua kaki istrinya.


Bukan hanya Gana yang terpana. Mama Difa dan Papa Galih pun sama. Gana menatap wajah Ammar dari samping, ingin sekali membelai wajah lelaki itu namun urung, ada Mama dan Papanya di sini.


Mama Difa yang kembali menonton langsung mengedikkan bahu karena kaget. Tiba-tiba ada kaki yang sudah ada di atas pangkuannya. Lantas menoleh dan mendapati suaminya sudah duduk seperti Gana.


"Pijitin sayang, pegel ..." ucap Papa sambil menggeliatkan leher dan bahunya.


"Yang pegel pundak kok, malah kaki yang di kasih?" decak Mama. Dengan bibir yang di miringkan ia sambar kaki suaminya tersebut untuk ia pijat.


"Oh, iya, pegelnya tuh kayak ngalir. Sekarang lebih berat di kaki ..." Papa terkekeh.


Ammar dan Gana tertawa melihat mereka berdua.


"Tuh lihat, Papa kalian makin tua makin enggak jelas. Tanda-tanda mau pikun kayaknya."

__ADS_1


"Enak ajah. Rambut masih hitam begini, masa dibilang mau pikun?" Mama Difa membulatkan matanya, menatap ke arah rambut suaminya yang sebagian sudah memutih. "Bulu keteknya kali hitam." sambar Mama.


"Hahaha." Ammar dan Gana terbahak-bahak.


"Jangan pikun dulu dong, Papa masih mau gendong cucu-cucu. Mau gendong Raja, calon anaknya Gema ... terus, bayi nya Gana sama Ammar. Masih on the way ya?" Papa menoleh ke arah dua anaknya.


Membuat tawa yang sedang mereka tumpahkan, begitu saja redup. Jika Ammar masih bisa merubah raut itu menjadi senyuman tipis, namun berbeda hal dengan Gana. Wanita itu langsung diam tanpa basa-basi. Bagaimana mau si janin mau on the way, kalau dirinya saja belum memberikan Honey kepada Harley, si pawang buaya.


"Ammar jaga stamina kamu. Mumpung Gana lagi dirumah aja, belum aktivitas lagi. Bisa sepak terjang beberapa kali. Dulu Papa juga begitu. Dari dua hari sekali, sampai seminggu tiap hari. Durasinya juga bisa tiga kali dalam sehari, udah kaya minum obat. Alhamdulillah jadi tuh Gana ..." Papa dan Mama cekikikan. Dua orang tua itu kembali mengingat bagaimana susahnya mereka mendapatkan Gana.


"Kalau seminggu sekali itu bisa mencegah stress."


"Kalau dia kali seminggu, gimana, Pah?" tanya Mama.


"Itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh." jawab Papa.


"Kalau tiga kali seminggu, Pah?" Ammar ikut-ikutan dengan kekehannya.


"Bisa buat tidur kita nyenyak."


Papa Galih mendapatkan banyak info tentang manfaat waktu berhubungan di setiap artikel yang ia baca.


"Kalau empat kali seminggu?" tanya Mama. Papa Galih tersenyum menggoda. "Kayak kita ya?"


Mama Difa menghempaskan cubitan panas di kaki suaminya. "Sakit dong sayang, kamu tuh, makin tua makin sakit nyubit nya." ucap Papa Galih memelas. "Empat kali bisa mencegah gangguan ereksi." sambungnya.


"Kalau satu jam sekali, Pah?" selak Ammar. Lelaki itu terus menggoda Papa mertuanya.


"Bisa meninggal ..."


Ammar dan Mama Difa tertawa, sedangkan Gana hanya menggeleng kepala samar. Bisa mati dia, kalau suatu saat nanti Ammar memintanya setiap hari atau mungkin setiap jam.


"Kamu kenapa?" tanya Gana memicingkan matanya, ketika Ammar menatapnya dengan seringai penuh damba.


"Mau nyoba petuah Papa. Biar cepet ya, Pah." Ammar menatap Papa masih dalam kekehan.


"Gana nya juga goyang. Jangan Ammar nya aja. Kalau dua-duanya goyang kan mantul tuh." imbuh Papa.


Mama Difa tertawa. "Iya, Nak. Biar cepet." makin jadi-jadi saja Gana di goda.


Ammar hanya ikut berekspektasi untuk memeriahkan hati kedua mertuanya. Walau sejatinya ia tahu, kekehan nya hanya akan menjadi bualan. Ammar akan sabar menunggu agar Gana mencintainya dulu


***

__ADS_1


Like dan Komennya yaw🌺🌺


__ADS_2