Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Aku Tidak Suka di Bantah.


__ADS_3

Saat ini, sudah ada tiga wanita dan satu pria yang sedang duduk berhadapan dengan Ammar dan Ganaya di sofa ruang tamu, yang hanya tersekat dengan meja panjang. Di meja tersebut terdapat vas cantik berisikan beberapa bunga mawar merah hidup. Lagi-lagi Ganaya sedikit tersipu karena sang suami begitu memperhatikan sampai ke hal-hal dasar kesukaan istrinya.


Bola mata cantik Gana, tidak henti-henti menyisir setiap sudut rumah yang selalu membuatnya takjub. Bagaimana tidak? Semua dinding rumah di cat dengan warna kesukaan Gana, warna kuning terang. Rumah yang begitu luas bisa di huni oleh dua puluh orang sekaligus.


Sedari tadi, wajah Gana terus saja berbinar bahagia. Berkali-kali ia menanyakan, benarkah mahar ini pantas untuknya, dan Ammar selalu menjawabnya berulang kali tanpa bosan.


"Kepada semuanya ... Perkenalkan, ini istri saya. Ganaya." Ammar memperkenalkan Ganaya kepada para art.


Ammar menyandarkan diri di sandaran sofa, meletakan tangan kiri nya dibahu Gana, serta merapatkan tubuh Gana untuk menempel lekat dengan dirinya. Kaki kanannya terangkat dan diletakan di atas paha kiri.


Ketiga art itu mengangguk dan tersenyum.


"Selamat datang Nyonya Ganaya ..." seru mereka bersamaan.


"Terima kasih." Ganaya menyambut sapaan mereka dengan hangat.


"Yang ini, Ibu Ratih. Tugasnya memasak, mencuci, membersihkan rumah. Nanti juga akan dibantu dengan Ibu Ningsih. Dua Ibu ini yang akan bertugas untuk mengelola kerapihan dan kebersihan rumah." ucap Ammar


Ibu Ratih dan Ibu Ningsih mengangguk. Dua wanita berhijab dengan usia rata-rata sekitar tiga puluh delapan tahunan.


Ganaya manggut-manggut, ia masih mendengarkan suaminya untuk menjelaskan sampai selesai.


"Dan yang ini, Bapak Aji. Beliau ini yang akan merawat kebun kamu. Tanaman-tanaman kamu, bunga-bunga kamu. Selain itu Pak Aji juga bisa menyetir. Kalau kamu sedang membutuhkan sopir, kamu bisa meminta bantuan Pak Aji. Beliau juga bisa memperbaiki alat-alat rumah tangga yang rusak."


Pak Aji, lelaki berusia empat puluh tahunan, mengangguk dengan buliran senyum kepada Gana, ia membenarkan job desk yang sudah Ammar jabarkan barusan.


"Dan yang terakhir. Ada Yuni. Dia yang akan menjadi asisten pribadi kamu kalau dirumah. Yuni, bertugas untuk menyiapkan segala keperluan kamu, menemani kamu ketika ingin berbelanja keluar, jika aku sedang tidak bisa mengantar dan---"


"Buat apa aku punya asisten pribadi segala? Tidak perlu, Ammar." selak Gana.


Yuni, gadis 17 tahun. Berwajah putih bersih dan berhijab. Hanya tersenyum memandang Gana yang sedang protes kepada suaminya.

__ADS_1


Ammar tidak memperdulikan reaksi Gana atas penuturannya.


"Kalian semua boleh kembali ke perkerjaan masing-masing, oh tunggu! Untuk Yuni, kamu bisa menjauh dari istri saya, ketika saya sedang bersamanya. Tapi jika saya tidak ada, kamu wajib mengikuti kemanapun istri saya melangkah di setiap sudut rumah ini. Kamu harus menjaganya!" perintah Ammar. Lelaki gagah itu tersenyum kepada Yuni.


Oh God, sungguh baik sekali lelaki ini. Perhatian sekali kepada istrinya. Gana berkali-kali dibuat takjub dengan sikap Ammar.


Rumah ini memang sangat luas. Mungkin Ammar takut istrinya akan tersasar. Gana saja belum kenyang untuk menyusuri setiap lekuk rumah ini. Rasanya ia memang butuh Yuni untuk menjadi tourguide.


"Baik, Pak." mereka berempat kemudian berlalu dari pandangan Ganaya dan Ammar.


"Kamu berlebihan Ammar. Untuk apa harus mempekerjakan art sampai tiga orang? Okelah, kalau ada tukang kebun aku setuju, tapi ini loh, pembantu sampai banyak begini. Buat apa? Hanya kita berdua yang tinggal di sini, aku pun sanggup kok tanpa art." decaknya. Gana tetap saja tidak setuju. Terlalu buang-buang uang menurutnya. Ya, biar sajalah Gana. Suamimu ini kan banyak sekali uangnya. Bahkan beberapa deposito miliknya ada di beberapa bank luar negeri.


"Rumah ini kan besar, kasihan dong kalau hanya mempekerjakan satu art. Kalau ada yang sakit bagaimana? Lagian biar ramai." dalih Ammar.


Gana melipat kedua tangan didadanya, bibirnya mengerucut seperti itik. Wanita itu memilih diam dan menatap lurus dinding berwarna kuning secerah matahari dihadapannya.


"Oh iya, kamu juga ngapain sih ngasih aku asisten segala? Mana masih bocah gitu!" ia kembali menoleh dan memiringkan duduknya.


Gana menyerengit heran. "Kantor kita tuh beda arah---"


"Gak masalah." selak Ammar. "Turuti aku, Gana. Aku tidak suka dibantah."


DEG.


Sebuah ultimatum yang patut di waspadai. Gana kaget dengan ucapan Ammar. Walau ketika mengucapkan kalimat itu, Ammar masih melemparkan senyum dengan tatapan yang meneduhkan.


Namun tetap saja terasa dingin dan berbeda di hati Gana. Seperti ada yang berbeda, tapi apa? Gana belum bisa memahaminya. Ia seperti melihat dua sisi berbeda dalam diri Ammar.


Tentu sang suami mempunya alasan mengapa bisa melakukan hal seperti itu. Hanya karena rasa cintanya kepada Gana, membuat Ammar menjadi overprotectif.


Ammar memegang ujung dagu Gana. Ia kembali mendekatkan wajahnya di wajah Gana. Bersiap untuk membenamkan bibirnya di bibir ranum istrinya yang sudah ia inginkan sejak lama.

__ADS_1


Aroma napas kembali bersautan. Hasrat Ammar semakin berkobar dengan aroma wangi yang berhembus pelan dari bibir Gana. Ia tidak perduli, posisi mereka masih di ruang tamu. Gana sedikit memalingkan wajah, memejam mata dan kedua tangannya mengerat kain sofa.


Ammar semakin mendekat, lalu mengecup bibir itu. Awalnya hanya menempel tanpa gerakan. Ammar hening, ia menunggu apakah Gana akan ikut memulai. Nyatanya tidak, wanita itu tetap diam. Ammar sedikit membuka kelopak matanya dan benar, Gana sudah memejam kedua matanya. Gana ingin mengelak, namun nasihat Papa begitu saja muncul. Dan memaksa ia untuk tetap menerima apa yang akan Ammar lakukan. Lelaki itu berhak, dan Gana wajib memberikan haknya.


"Nungguin aku nih ceritanya?" Ammar membatin. Lelaki itu tertawa dalam hati.


Tanpa aba-aba, Ammar langsung melumatt bibir Gana dengan persatuan kedua bibirnya. Gana ingin melepas, namun Ammar terus memegang tengkuk wanita itu. Mendapat serangan dari Ammar. Membuat tubuhnya memanas, Gana belum bisa menerimanya. Tapi lagi-lagi, ia tidak mampu untuk menolak.


Gana pasrah ketika lidah Ammar menyapu rongga mulutnya. Tapi Gana tetap tidak membalas ciuman tersebut. Hati nya belum bisa, ia belum menerima Ammar seutuhnya. Ia tidak suka disentuh tanpa cinta. Baru saja ingin bergerak untuk melepas, namun kepalanya tertahan dengan tangkupan tangan Ammar.


Merasa jijik, tidak ingin, dan lagi-lagi terpaksa. Keringat Gana sudah bercucur bukan main. Ammar semakin dimabuk asmara. Begitu nikmat bibir Ganaya. Berciuman setelah menjadi pasangan halal sungguh sangat indah.


Lalu, di saat Gana ingin mendorong dada Ammar untuk menghentikan ciuman itu. Dirinya langsung kaget dan ikut berteriak.


"Ahh ..." teriak Ammar.


Ia benci sekali karena tiba-tiba harus mengakhiri perpagutan bibirnya dengan sang istri. Lelaki itu tersentak, karena dua kucing anggora yang belum punya nama itu langsung merangkak naik ke pangkuan Ammar dan Gana.


Gana tergugah melihat kelucuan dua kucing tersebut. Lalu memeluk mereka semua. Mengajak dua kucing itu untuk berbicara.


Jauh dari lubuk hatinya, Ganaya merasa plong. Karena perpagutan bibir yang rasanya masih hambar itu berakhir.


"Ganggu aja deh nih kucing buduk!" Ammar bergumam kesal.


Walau ia kesal, terlihat dari wajahnya, Ammar begitu bahagia, ia mengusap bibirnya singkat karena tanpa sengaja sudah mendapatkan ciuman pertama dari Gana.


"Aku akan tuntaskan nanti malam." batinnya. Ia tersenyum dan ikut mengelus kucing-kucing yang sedang Gana belai.


***


Like dan Komennya ya guyss, maacih🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2