
Mendengar ucapan lahnat yang paling dibenci oleh Allah SWT, kini terdengar begitu syahdu dari mulut suaminya, Maldava Ammar Artanegara.
Lelaki yang sejak dulu tidak pernah ia perkenankan hadir di hatinya. Lelaki yang selalu ia tolak mentah-mentah cintanya. Bahkan lelaki yang ia nikahi hanya dengan modal terpaksa karena terhimpit oleh suatu keadaan.
Kini, disaat cintanya mulai merekah, melebar dan menarik agar lelaki itu saja yang dapat bersemayam di hati, jiwa dan raganya. Ammar malah melemparkan bara api. Menembus dinding hati lalu menusuk dan mencincangnya sampai hancur lebur terkoyak-koyak.
"Aku menceraikanmu, Gana ..."
Terasa lembut untuk didengar, tapi sakit sekali untuk diterima. Bagai langit terbelah, bumi yang berputar dan ombat laut yang tengah menderu-deru. Pecah hati Gana, hancur seperti beling yang tersebar dan akan melukai kaki lalu berdarah.
Iris mata Gana bergoyang-goyang dengan tatapan menyalang tajam menatap mantan suaminya, bagai seekor singa lapar yang akan menerkam rusa.
Rahang wanita itu mengencang seiring hembusan napas kasar yang keluar dari wajahnya. Kedua tangan Gana mengepal kuat. Matanya mulai memerah menahan bola api yang ingin keluar untuk menerjang Ammar.
Ammar dan Gana saling bersitatap. Jika Ammar menatap sendu, Gana menatap keji. Seperti harimau lapar yang siap memangsa daging manusia yang tergolek tidak berdaya.
Dan.
PAK.
Gana mendaratkan tamparan panas di pipi Ammar. Di saat Ammar memalingkan wajah ke sisi lain, barulah air bening milik Gana terjerembab turun dari sudut matanya. Wanita itu menarik kain berlapis di dada Ammar dan menghentak-hentak nya sampai Ammar terdorong ke dinding.
"Tega kamu, Ammar! Begini perlakuan kamu sama aku? Setelah apa yang sudah aku lakukan buat kamu? Ini permintaan gila, UNTUK APA KAMU TURUTI!" teriak Gana kencang. Ia mendongak menatap suaminya yang belum mau menatapnya.
"Dengan gampangnya kamu menceraikan aku!"
"Seharusnya aku tidak perlu membuka hati padamu! Karna akhirnya aku tahu, aku pasti akan terluka!" isak tangis Gana pecah. Bahu wanita itu bergoyang-goyang menahan sesak.
Baru merasakan indahnya cinta, menikmati masa-masa rumah tangga yang baru ia raih, baru saja ingin melepas kehormatannya agar secepatnya memiliki anak, nyatanya semua keinginan itu harus lebur dan hancur.
Sontak mendengar ucapan Gana, membuat Ammar menoleh. Ia pandangi wajah mantan istrinya dengan air yang mengembun di pelupuk. Namun, tak ada kata yang mampu terucap. Lidah Ammar terasa kelu.
"Aku berusaha menerimamu. Mendampingimu di saat-saat sulit, membelamu di saat semua orang tidak perduli! Tapi kenapa kamu melepaskan aku, Ammar! KENAPA!!!" Gana kembali menghentak-hentak tubuh Ammar, lantas menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu dan merintih dalam tangisan.
Ammar ingin mengunci tubuh Gana namun urung. Mereka sudah tidak halal, karena Ammar belum merujuknya.
"Tarik lagi ucapan kamu, Ammar! TARIK!!" Gana memeluk tubuh Ammar kuat-kuat. Menghentak-hentak kaki karena gemas dan meminta iba'an dari lelaki itu.
"Katamu dulu aku adalah hidupmu! Aku duniamu! Kamu akan mati kalau kehilangan aku, tapi kenapa akhirnya kamu melepaskan aku?" kini nada Gana berubah pelan. Walau Ammar dipaksa, setidaknya Ammar bisa menolak, walau harus bersikap kurang ajar kepada Papanya.
Dadanya terus bergetar dengan detak jantung yang berdetak kuat. Ammar bisa merasakannya, karena saat ini dada mereka menyatu dalam suatu pelukan.
Ammar hanya diam. Ia menoleh menatap Papa yang berbalik menatapnya. Papa seraya menggerakan kepala, sebagai kode agar Ammar tetap dalam keputusannya.
Ammar melepas paksa Gana dari tubuhnya. Dia adalah lelaki. Penjantan yang ucapannya harus di jaga dan janjinya harus dipegang. Ia sudah menjatuhkan talak. Dan sah lah mereka untuk berpisah.
"Ahh, gak mauu!!!" Gana kembali mencengkram tubuh Ammar, ketika dirasa tubuhnya akan didorong untuk menjauh. Gana kembali memeluk lelaki itu dengan rontaan sekuat mungkin.
"Ayo dong bawa aku pulangggggggg ... hiks!" Gana tidak lebih seperti anak batita yang sedang merengek. Ia menolak lupa, jika umurnya lebih tua dibanding Ammar.
Ammar menghela napas berat. Di tepi hatinya tidak tega. Ia tak kuasa melihat Gana menggeliat seperti ular di lengannya. Tapi ia bisa apa? Kata-kata yang sudah keluar, tidak bisa ditarik lagi.
Ammar mengelus lembut bahu Gana. Lantas berbisik. "Kalau kamu rindu, lihatlah ke atas langit. Jika ada bintang paling besar di sana, tunjuk dan tersenyumlah. Itu diriku, Gana."
Hal klise tapi romantis. Di ujung perpisahan, bisa-bisanya lelaki itu semakin membuat hati Gana menjerit.
Ammar menurunkan tangannya dari bahu Gana, kemudian menoleh ke arah Papa dan mendekati lelaki itu.
"Ammar pulang, Pah." Ammar tetap mencium tangan Papa Galih. Lelaki itu tetap bersikap lembut walau hatinya sudah di gergaji.
"Hati-hati, Nak. Maafkan Papa." jawab Papa.
Ammar mengangguk dengan senyuman setipis benang. Dadanya meradang seakan di rajam oleh sembilu.
"Jangan tinggalkan aku. Bawa aku, sayang." Gana tetap bersikeras memohon. Tapi Ammar
kembali melepaskan cekalan Gana dari lengannya sampai wanita itu terjatuh.
Dengan langkah terseok-seok Ammar tetap melangkah, membiarkan tubuhnya pergi dengan luka. Walau ia tidak tahan mendengar tangisan Gana yang terus mengerang namanya.
Papa beringsut untuk meraih tubuh Gana yang sudah bersimpuh di atas lantai. Namun wanita itu menepis tangan Papanya dan kembali bangkit untuk mengejar Ammar.
"Aku ikut sayang. Aku tetap istrimu." seru Gana memelas.
Angin di udara saja, jika bisa berbicara, mereka pasti ingin memeluk Gana yang sedang bergelut dalam kesedihan yang tidak bisa terbendung.
Gana tetap mengekor langkah Ammar yang terus berjalan pelan. Setiap kali Gana ingin menggandeng tangan Ammar, lelaki itu menghempasnya. Dan membuat Gana terjatuh beberapa kali.
Brug.
"Ah ..." desis Gana. Tubuhnya kembali terhuyung.
Ammar menghentikan langkah dan sekilas menoleh, Gana tidak marah. Ia malah tersenyum dalam tangis, mengulurkan tangannya ke atas agar Ammar meraihnya. Tetapi lelaki itu hanya diam dan kembali melanjutkan langkah.
Wajah Ammar sudah berubah dingin. Ia tidak perduli dengan Gana yang masih bersiap untuk mengikutinya lagi, sampai dimana Papa bisa merengkuhnya dan menarik Gana untuk menjauh.
"Papa tega banget sama aku! Papa jahat! Lepasin!" Gana mencoba melepas cekalan tangan Papa yang bermaksud menyeretnya untuk kembali masuk ke dalam kamar Mama.
__ADS_1
"Ayo masuk!" Papa tetap memaksa.
"Enggak mau, Pah!" Gana tetap memaksa memundurkan langkah, ketika Papa terus menarik-narik tubuhnya.
"Suamiku ... tolong aku. Bawa aku pulang! Aku tetap istrimu-----" Gana berseru kencang. Menggema seisi koridor yang kebetulan sedang sepi.
Ammar tetap melangkah tanpa mau menoleh. Bola matanya memerah menatap kedepan. Air matanya menggenang dengan riak didada yang tidak bisa ia keluarkan.
Sakit sekali ketika Gana terus memohon belas kasih. Ucapan, sapaan, panggilan cinta yang tidak pernah ia dengar, kini dengan gampang keluar dari mulut Gana. Dan Ammar menyukainya, walau ia sedih, mengapa ia bisa merasakan sapaan cinta di saat mereka sudah berpisah.
"Kakak tolong aku!" Gana mencoba meraih tangan Maura untuk membantunya lepas dari cekalan tangan Papa. Maura hanya mematung, menatap Gana dan bergantian menyorot punggung Adiknya.
Setelah sadar dari lamunan, Maura bergegas berlari. Wanita berhijab itu menyusul Ammar yang terus menyeret langkah.
"ADEK!" seru Maura, ia berhenti dipertengahan koridor. Karena napasnya sudah tidak kuat untuk terus berlari, menembus angin dan mengejar Adik lelaki semata wayangnya.
Sepertinya gelap mulai menghilang, bergantikan cahaya yang tiba-tiba saja datang. Ada suara yang sangat ia kenal menelusup ke dalam daun telinganya.
Ammar menoleh, menatap sendu sang Kakak yang ia kira akan meninggalkannya juga. Isak tangis Ammar pecah, ia berlari menerjang Kakaknya. Bahagia hatinya, ternyata tidak semua orang mampu menyiksa batinnya.
Blas.
Maura hampir terhuyung ke belakang karena dekapan kencang dari Ammar. Lelaki itu menangis, menumpahkan kesedihan hati dan kekecewaannya.
"Aku telah melepasnya, Kak."
"Aku kehilangan istriku ..."
"Aku kehilangan Gana-Ku!"
Ammar terus merancau. Melepas tekanan batin yang sekarang tengah menyiksa. Ia peluk wanita mungil itu yang sekarang seperti orang sedang kesusahan dalam bernapas.
Maura sampai berjinjit karena meletakan dagu di atas pangkal bahu Ammar. Ia mengusap punggung sang adik dengan gerakan naik turun. Wajahnya pun basah.
"Rujuklah kembali, Dek. Rengkuh istrimu lagi."
Ammar menggeleng. "Tidak bisa, Kak. Aku sudah bersalah kepada keluarganya."
"Rujuk lagi, Dek! Rujuk!!"
Ammar terus menggeleng. "Aku tidak akan merujuknya, jika Papa dan Mamanya belum merestui kami untuk kembali bersama. Ini lah dosa yang harus aku bayar, Kak."
Maura terdiam. Mungkin keluarga suaminya, memang butuh waktu.
"Tolong rahasiakan semua ini dari Mama dan Papa. Jangan sampai mereka tau. Adek yang akan bicara sendiri kepada Mama nanti."
Maura menghela napasnya dan mengangguk. Sejujurnya ia tidak punya daya untuk membantu. Ammar memang bersalah dan pantas untuk di hukum. Tapi ia sadar, menyadarkan orang yang bersalah tidak diperkenankan dengan kekerasan.
***
Setelah terpaksa berakting. Mencoba bersandiwara didepan keluarga besar, kalau dirinya memang sudah khilaf telah membela suami yang sudah menuai luka menganga di keluarga.
Dirinya berkata sudah menerima jika harus berpisah dengan Ammar. Ia mengiyakan ucapan Papa kalau Ammar akan membawa hal buruk kedalam kehidupannya, jika mereka terus disatukan dalam ikatan pernikahan.
Ketika semua keluarga percaya. Maka Gana mengambil ide untuk izin pergi ke kantin, beralasan ingin membeli teh manis hangat. Maka dirinya bisa bebas dari pantauan Papa, Gema dan Gelfa. Sedangkan Gifali izin pulang karena mengetahui istrinya sudah pergi meninggalkan RS sejak empat jam yang lalu.
Sebelum ia melangkah pergi. Gana sudah lebih dulu memeluk Mama dan membisikan sesuatu.
"Izinkan Gana pergi dulu menyusul Ammar, Mah. Gana pasti akan kesini lagi, untuk menjaga Mama." bisik nya pelan, di saat Papa dan kedua adiknya sedang tertidur pulas di sofa.
Mama mengedipkan kelopak matanya, seraya setuju. Tahu jika dirinya di izinkan, wanita itu mengecup kening Mama dengan segala untaian doa.
"Gana mencintai Mama. Maafkan suamiku ya, Mah." Mama mengedip lagi, dan Gana menolak lupa jika Ammar sudah bukan suaminya lagi. Wanita itu menganggap, talak yang Ammar jatuhkan tidaklah sah. Karena di paksa oleh Papanya.
Setelah keluar dari pintu kamar perawatan Mama, bermodalkan uang seratus ribu dalan kepalan tangan, karena ia tidak membawa tas untuk pergi. Gana takut, dirinya akan di curigai. Gana mencari taxi untuk menembus malam, ia melesat pergi kerumah yang selama ini ia tempati bersama suaminya.
Gana terus menilik arloji. Waktu memang sudah menunjukan pukul 21:00 malam, biasanya Ammar sudah tertidur. Tapi ia tahu, kedatangannya pasti tidak akan sia-sia. Dirinya tahu tadi sore Ammar hanya sedang lelah, bingung dan penuh penekanan serta desakan.
Taxi melaju cepat, membelah jalan, menembus angin. Gana terus berseru kepada sopir untuk mengemudikan mobil dengan kencang, agar Gana bisa sampai di rumah dengan cepat.
Ia tinggalkan keluarganya demi Ammar. Tidak perduli dirinya, jika semua orang akan tahu dengan siapa dirinya menikah. Walau Ammar adalah seorang mafia, tetap saja dalam benaknya. Lelaki itu adalah dedek kecilnya. Suami yang akan menjaganya sampai ke titik nadir.
"Makasih banyak ya, Pak." Gana memberikan ongkos taxi. Wanita itu tepat berdiri didepan gerbang besar yang melindungi bangunan rumah yang tinggi hampir mencakar langit. Gana melangkah mendekati satpam yang sedang tertidur pulas di posko depan gerbang rumah mereka.
"Assalammualaikum, Pak. Ayo bangun, tolong bukakan saya pintu." ucapnya berulang-ulang untuk membangunkan para penjaga agar menjalankan titahan nya.
Para penjaga lalu mengerjap mata perlahan-lahan, memfokuskan tatapannya kepada Gana.
"Eh Ibu." ucap salah satu dari mereka sambil mengucek mata.
"Tolong bukakan gerbang, saya mau masuk."
Pak Darkim mengangguk dengan kesadaran yang belum penuh. Dan tak berapa lama, kesadarannya kembali. Rasa kantuknya tiba-tiba musnah. Ia baru teringat sesuatu.
"Maaf, Bu. Bapak berpesan kalau Ibu datang, jangan dibukakan pintu."
Gana terperangah.
__ADS_1
"APA? Maak---maksud--nya?" wanita itu terbata-bata.
Gana tertohok lama. Benarkah Ammar setega ini padanya? Apakah lelaki itu memang memakai niat ketika menalak nya? Raut kesal mulai terpancar.
"Jangan dengarkan Bapak. Rumah ini adalah rumah saya!" seru Gana dengan nada mulai emosi.
Pak Darkim dan Pak Soleh saling melemparkan pandangan dengan alis yang menaut.
Rumah ini memang Ammar yang membelinya, tapi sudah ia jadikan mahar untuk Gana. Maka yang berhak atas rumah ini memanglah dirinya.
"Ayo cepat buka!"
"Enggak bisa, Bu. Bapak udah ngasih perintahnya kayak gini." mereka hanya menjalankan tugas yang Ammar berikan.
"Saya pecat kalian ya, mau?"
"Gini aja deh, Bu. Saya coba dulu untuk telepon ke dalam."
Gana termenung. Jika ia membiarkan penjaga menelepon ke dalam, sudah dipastikan Ammar tahu dirinya sudah datang. Maka lelaki itu akan semakin mengunci langkahnya agar tidak bisa masuk kedalam rumah.
"Ya sudah kalau begitu. Saya pulang." Gana kembali berakting. Ia mencoba pergi sebentar. Wanita pemberani itu tidak akan begitu saja menyerah. Ia banyak akal, cerdas dan jenius.
Gana mencoba bersembunyi dibalik tembok rumah orang. Menilik para penjaga yang kembali menguap karena mengantuk.
"Ayo cepat tidur! Dan aku akan segera masuk kedalam." gumamnya.
Dan.
Tik tik tik.
Gerimis mulai tiba. Gana bergumam kesal, mengapa harus datang di saat dirinya sedang diluar jalan seperti ini. Ia tidak bisa mengelak kalau bajunya sudah basah. Air hujan terus mengguyur tubuhnya.
Sudah setengah jam ia berdiri, dan akhirnya penantian nya berhasil. Para penjaga itu terlelap dalam mimpi.
Gana mendengap-endap kembali mendekat ke area gerbang. Wanita itu mulai memanjat gerbang yang mempunyai jeruji lancip di puncaknya. Ia tidak memiliki ide selain cara ini.
Gana mulai merayap disela-sela pagar, dengan wajah, tubuh dan baju yang sudah basah semua, Gana tetap memanjat pagar. Tidak perduli ada guntur dan kilat yang sesekali membuatnya menghentikan panjatannya dan menutup mata.
DARR.
Gana menyebut nama Allah, dan memohon perlindungan agar tidak tersengat petir. Namun saat ia sudah sampai di puncak tertinggi dan hendak melompat ke dalam pekarangan, bagian tralis pagar yang hendak ia injak begitu saja licin dan membuat tubuhnya langsung jatuh dari ketinggian tiga meter setengah.
"Ahhhh, Ya Allah ..." desahnya. Buru-buru melipat bibir kedalam, agar desahan sakitnya tidak terdengar oleh para penjaga.
Lututnya luka, karena bergesek dengan aspal. Darah terlihat mengalir, bercampur dengan air hujan. Gana mengeluh sakit, pasalnya kaki ini sempat tidak bisa digunakan untuk berjalan beberapa bulan. Bukan hanya kakinya yang sakit, bagian tubuh yang lainnya pun sakit.
Demi Ammar ia terus berkorban. Meninggalkan keluarga, menembus malam dan sekarang terluka. Tapi baginya, tidak mengapa. Yang penting Ammar mau menerimanya lagi. Ia akan paksa lelaki itu untuk merujuknya.
Gana mencoba bangkit dengan desisan ngilu. Ia mencoba berjalan pelan, walau dengan langkah yang tertatah-tatah. Membawa tubuhnya untuk sampai ke daun pintu utama.
"Aku kangen kamu, sayang." ucapnya terus menyeret tubuh. Sesekali mengusap wajahnya yang sudah basah karena air hujan.
****
Di dalam kamar. Ammar yang masih mengenakan sarung setelah melaksanakan shalat isya dua jam lalu, terbaring lemah di pusara ranjang. Wajah lebamnya sudah diobati Maura.
Ia menoleh ke bagian sisi ranjang yang sering digunakan istrinya untuk tidur. Mengusap-usapnya bagian itu dengan tangannya. Lantas mencium bantal yang semalam Gana pakai untuk meletakkan kepalanya di sana.
"Masih wangi rambut kamu cintaku ..." rautnya mencebik. Dari pelupuknya begerumun lagi air mata. Ammar meraih bantal itu dan membawanya ke dalam dekapan.
"Aku kangen kamu sayang. Aku rindu." ucapnya. Air bening yang sudah mengembun, lalu luruh.
Bayangan dirinya ketika ia masih dalam pelukan Gana, terpatri dengan jelas dan membuat sesak di hati. Luka lebam yang ia derita sekarang tidak ada apa-apanya ketika mengingat bayangan istrinya yang pada saat ia tinggalkan begitu histeris.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak punya cara lain." rintih nya. Ammar semakin merekatkan bantal itu didalam dadanya. Seraya sedang memeluk Gana seperti biasa.
Tak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk.
"Pak, maaf. Apakah sudah tidur?" suara Yuni muncul seiring ketukan dari tangannya di luar pintu.
Ammar menyeka air mata. Dan beranjak dari ranjang. Ia bergegas berjalan ke pintu, dan membukanya.
"Ada apa, Yun?"
"Ada Ibu, Pak. Hujan-hujanan. Saya mau bukain, tapi kuncinya kan sama Bapak."
Benar saja apa yang Ammar terka pasti terjadi. Gana pasti akan datang menyusulnya. Maka dari itu semua kunci pintu, ia yang pegang. Ia tidak mau para art dengan mudah membukakannya pintu.
"Sudah kamu tidur saja. Jangan perdulikan Ibu! Saya tidak mengizinkan kepada siapapun di dalam rumah ini untuk membukai Ibu pintu dan masuk kedalam."
Ammar tetap membiarkan Gana seorang diri diluar, yang tubuhnya sudah basah kuyup, matanya bengkak, akralnya dingin, bibirnya bergetar, gana menggigil serta luka berdarah di area lututnya.
Tok tok tok.
"Sayang, tolong buka pintu. Aku pulang."
Ammar dan Yuni kembali menoleh ke arah pintu utama, mereka mendengar Gana terus berseru.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺