Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Kamu Bisa, Dek.


__ADS_3

"Kamu puasa, Eyden?" tanya Nurul. Yang ditanya menggelengkan kepala. "Sejak kemarin aku enggak puasa, karena harus minum obat," jawab Aidan sendu. Ada rasa sesal di wajahnya.


Nurul tersenyum. "Ya udah jangan sedih, enggak apa-apa 'kok," jawabnya. Nurul mengelus-elus Alda yang sedang makan astor tengah duduk di pangkuannya. Melihat Nurul, Alda langsung antusias ingin minta di gendong. Seakan Alda tau, Nurul adalah gadis yang baik hati.


Sedangkan Sofwan tengah duduk di atas karpet tidak jauh dari Aidan dan Nurul, bersama Rora dan Taya. Lelaki itu tengah mengajarkan matematika kepada mereka berdua. Adela pun tidak mau kalah, si keriting ikut nimbrung.


Sedangkan Gana saat ini, sedang berada di dalam kamar, wanita itu tengah menghubungi butik Mulan. Ingin menanyakan masih kah ada stok busana muslim untuk Sofwan dan Nurul.


Dan Gana senang karena Mulan mengatakan ada stok baju muslim keluaran terbaru. Mulan mengatakan, ia mengantarkannya ke rumah bersama Dava. Untuk ukuran tubuh mereka, di samakan dengan tubuh anak-anaknya. Aidan walau lebih muda, tapi tingginya sudah sejajar dengan Sofwan. Begitupun Taya dengan Nurul. Ya, namanya juga anak sultan. Tubuhnya kaya akan gizi.


"Nauh?" Alda seakan menawarkan astor ke mulut Nurul. Seperti dulu saat dia membuat Kakeknya jadi batal puasa.


Nurul menggeleng dan mencium anak itu. "Enggak, sayang. Kan Kakak puasa," balas Nurul.


Aidan tersenyum. Ia menatap kebaikan Nurul kepada Adiknya dan juga kerudung yang bertengger di kepala Nurul.


"Jika saja ada kerudung lagi yang bisa aku berikan buatmu. Pasti kamu senang, Rul." Aidan membatin.


"Adikmu masih belum bisa berjalan, ya?" tanya Nurul kepada Aidan. Ia tatap Alda yang sedang merangkak ke arah Kakak-kakaknya yang sedang sibuk belajar.


Aidan mengangguk. "Iya, Rul. Kata Dokter, ada saraf kaki Adek yang bermasalah," balasnya.


"Kasian banget dedek," timpalnya. Nurul terus menatap Alda yang kini tengah di usir oleh Adela. "Tanan, Dek. Adek canah!"


"Nanain, yuh," ujar Alda. Ia memegang lengan Adel seraya ikut dengannya untuk bermain.


"Ndak ah aku mauh di cinih dulu. Mauh belajal," sergahnya.


"Sudah kamu main sana sama Adek," ucap Taya kepada Adel. Adel menggeleng tidak mau. Ia masih antusias menatap Sofwan tengah mengajari Rora.


Alda mencebik, wajahnya memelas dan sebelum menangis, buru-buru Taya ingin menggendongnya tapi di sela oleh Nurul.


"Biar sama aku aja, Taya," ucap nya.


"Oh, baiklah, Kak," balas Taya. Nurul menggendong Alda, lantas dibawanya berdiri. Di goyang-goyangkan tubuhnya, dikecup-kecup seperti boneka hidup. Alda tertawa geli saat perutnya dikelitik.

__ADS_1


"Kamu suka anak kecil, ya?" tanya Aidan. Ia ikut berdiri.


Nurul mengangguk dan berkata, "Aku ingat Adikku. Dua tahun lalu Adikku meninggal, saat itu umurnya sebaya dengan Adikmu ini."


Aidan ber oh panjang dan memasang wajah nanar. "Maaf, ya. Buat kamu jadi ingat," ucapnya.


Aulianurul tersenyum. "Enggak apa-apa 'kok. Lagian Adikku juga sudah di Surga. Kata Mama dan Papa, lebih enak hidup di sana di bandingkan di dunia."


Aidan mengangguk saja dah mengucap kata Aamiin.


Alda yang sedari tadi digendong kemudian di turunkan ke bawah. Nurul memposisikan Alda untuk berdiri di dekat kakinya.


"Belajar jalan, yuk."


"Nanauh," maksudnya tidak mau. Si rambut jarang menggeleng.


Tapi, Nurul tetap memaksa. Ia memposisikan Alda untuk mau berdiri di tepi sofa.


"Tapi, Rul. Kasian Alda takut jatuh," ucap Aidan, ia berjongkok di belakang tubuh Adiknya seraya menjaga agar Alda tidak limbung.


"Harus dipaksa kayak gitu. Biar mau jalan,"


"Tapi katanya---"


"Udah lihatin dulu. Mau enggak mau, Alda pasti mau samperin kita," selak Nurul.


Dan Anak itu merengek ke arah Aidan dengan mengulurkan tangan seraya ingin di hampiri. "Kakahhhhh ...," serunya.


"Biarin dulu, Eyden." Nurul tetap memaksa Aidan untuk mau bersabar.


"Ayo sini, sayang. Kakak di sini." Nurul melambaikan tangan. Alda mencebik sedih tapi tidak menangis. Wajahnya saja yang memelas.


"Ayo sini, Dek. Jalan ke sini, kamu bisa," Nurul terus menyemangati. Pun sama dengan Aidan.


Merasa terjepit keadaan, karena kedua Kakaknya itu tidak mau menghampirinya. Alda yang hening lama, akhirnya mau menggerakan kakinya perlahan. Buku-buku jari mungilnya tetap berpegangan tepian sofa, namun kakinya sudah di paksa bergeser.

__ADS_1


Bola mata Aidan membelalak sempurna. Ia sampai berseru kepada saudaranya yang sedang meriungi tubuh Sofwan.


"Adek bisa jalan! Alda bisa jalan!" seru Aidan senang. Semua pun menoleh dan memasang pandangan takjub.


"Ya Allah, Adek ...," seru Rora tidak percaya. Taya yang ingin mendekat langsung diberi kode tangan oleh Nurul agar tidak boleh mendekat.


"Ya awoh, Adek bica jalan," ucap Adela dengan senyum gembira. "Ndak ucah di endong-endong agih," imbuh nya.


Nurul terus memanggil Alda, dan ia merangsang anak itu untuk terus merambat jalan ke arah nya walau lama sekali.


"Sini, Dek. Ayo. Nih Kakak ada boneka," Nurul melepas gantungan kunci dari tasnya yang berbentuk boneka hadiah dari snack ciki pengganti miku yang sudah ia berikan kepada Aida. Digoyang-goyangkan ganci tersebut, dan Alda tertawa-tawa melihatnya. Seakan ingin meraupnya langsung.


"Ya Allah ... Masya Allah ... Alda!" seru Gana. Betapa kagetnya ia melihat anak kelimanya tengah berusaha melangkah dalam posisi berdiri. Gana yang baru keluar dari kamar ingin meminta Sofwan dan Nurul untuk berbuka puasa di sini sembari menunggu datang nya pakaian baru, langsung membekap mulut tidak percaya.


Ia lihat Nurul yang terus membimbing sang Anak untuk mau melangkah.


"Ayo sini, Dek. Pelan-pelan aja," tukas Nurul. Dan sesaat Alda sudah melewati tepian sofa. Dengan langkah kecilnya, buru-buru Nurul mendekat dan mendekap tubuh Alda.


Alda meraih ganci yang ada di genggaman tangan Nurul. Si rambut jarang terlihat senang, bukan karena ia bisa berjalan tapi ia bisa mendapatkan mainan tersebut. Berbeda hal dengan para Kakaknya dan Gana yang masih melongo tidak percaya.


Kok bisa, anak itu belajar melangkah hanya karena ucapan Nurul saja. Padahal selama ini anak itu sudah berkali-kali melakukan pengobatan, fisioterapi dan berbagai macam tindakan lainnya, tetap saja hal itu tidak mampu membuat Alda melangkah, barang merambat sedikit saja. Gana dan Ammar pasti bahagia. Ya begitulah, banyak cara dan ragam ketika Allah ingin memberikan kesembuhan.


Gana memeluk Nurul dan menangis. "Makasih, ya, Nak. Sudah membuka jalan kesembuhan untuk Anak tante,"


Nurul mengulas senyum renjana. Ia usap kepala Alda dan diciumnya. "Sama-sama, Tante. Dulu Adik kita yang sudah meninggal juga belum bisa berjalan awalnya. Tapi Mama pernah melakukan cara ini, dan berhasil. Aku hanya menirukan saja,"


Gana mengangguk, air mata haru nya masih saja menetes. Ia cium Nurul. "Makasih, ya, Nak. Makasih banyak,"


Tidak salah kalau Aidan sampai membela-belai mencuri kerudung untuk Nurul. Ternyata Nurul adalah sosok penolong, perantara dari Allah untuk kesembuhan Alda.


"Makasih, ya, Aulia Nurul Aufa," ucap Aidan sambil memegang pundak Nurul.


"Sama-sama, Magala."


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


__ADS_2