Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kalian Saling Mengenal?


__ADS_3

Mentari pagi yang semakin bergulir naik, terus menyoroti mereka dengan panas matahari yang mulai meninggi. Sudah berkali-kali Gana meminta udahan dalam sesi renang kali ini, atau mungkin bisa disebut hanya menghentak riak air dengan kedua kakinya.


Tangan kiri Gana mengalung di leher Ammar menyatu dengan tangan kanannya di belakang leher lelaki itu. Ammar fokus mengangkat tubuh Gana meletakan tangan kanan di bawah bokong, dan tangan kiri melingkar di bahu sang istri. Agar Gana dapat tenggelam di pertengahan air walau tidak dengan berdiri.


"Di gerakin sedikit kakinya, sayang. Kemarin kan udah bisa berdiri tanpa di pegangin." titah Ammar.


Memang dalam dua hari ini, Gana mengalami kemajuan. Tubuhnya bisa tegap tanpa langsung terkulai, walau belum belajar melangkah. Maka dari itu Ammar perlu memberikan pemanasan kepada kaki Gana agar tidak kaku.


"Tapi aku capek, udahan dulu yuk." pinta Gana.


Ammar mengangguk. "Ya udah." Ammar memundurkan langkahnya untuk ke tepi kolam. Membawa sang istri untuk di dudukan di sana. Entah mengapa Gana beberapa kali menahan debaran jantung ketika menilik dada bidang Ammar yang berkotak-kotak. Wanita itu mengagumi.


Kenapa baru sekarang? Suaminya ternyata sempurna, dan ia ketinggalan berita. Gana membatin.


CUP.


Ammar mengecup bibir Gana. Sontak wanita itu terlonjak kelimpungan. "Kok melamun sayang, kenapa?"


"Eh itu anu ... ehm .. enggak, hehe." ekspresi tidak jelas diberikan Gana. Ammar yang tidak memusingkan sikap istrinya, lantas menggendong Gana untuk di pindahkan ke kursi.


"Nanti kita mandi berdua ya." ucap Ammar.


Gana tersenyum. Ia sedang menikmati usapan lembut suami nya. Ammar mengelap tubuh Gana dengan handuk.


Rasanya enak sekali, karena sekarang telapak tangan Ammar seperti sedang memijat tengkuknya. Membuat Gana memejam kedua mata.


"Enak sayang?"


"Iya." jawabnya tersenyum. Seakan Ammar sedang ada di hadapannya.


"Enak?" tanyanya lagi ketika tangan sudah berpindah memijat di area punggung atas.


Gana menunduk sedikit, dibalik pejaman mata ia mengangguk. Terus merasakan kelihaian tangan suaminya dalam memijat. Sampai ia terlonjak dengan suara teriakan anak kecil yang tiba-tiba membuat matanya terbuka cepat.


"ANTE!!"


Hah?


DEG.


Gana dan Ammar sama-sama menoleh ke sumber suara. Mereka kaget ada anak kecil yang tiba-tiba berteriak dan muncul beberapa jarak dari mereka.


Lalu,


Picingan mata Gana mengendur, ketika rasa anehnya berganti dengan rasa tidak percaya.


"DAVA?" ucap Gana histeris bahagia. Anak lelaki yang juga ia fikirkan selama dirinya sakit. Ingin menghubungi Mulan, tapi bingung bagaimana caranya. Ponsel Gana terbakar bersama mobil.


Dava terlepas begitu saja dari tangan Mulan, ketika langkah kaki mereka baru tiba di ambang pintu. Papa Galih mengijinkan mereka untuk masuk, dan meminta penjaga untuk mengantarnya ke pelataran rumah, karena dirinya harus tetap pergi kondangan.


Anak itu antusias ketika melihat deburan air kolam berada di ujung belakang. Begitu saja berlari ingin melihat langsung, terlepas dari genggaman tangan sang Ayah.


"Kok bisa ada di sini?" gumam Gana bahagia.


Apakah dia bermimpi? Namun suara Dava yang terus memanggilnya dengan iringan langkah maju, membuat Gana terus bertanya-tanya. Walau ini hanya mimpi, biarlah. Gana memang merindu Dava dan Mulan.


"Ante ..." seru Dava, ketika langkahnya ingin mendekat sebentar lagi. Ternyata bukan mimpi. Raut Gana gembira, lantas tangannya melambai-lambai ke arah Dava agar cepat menghampirinya.


"Siapa?" tanya Ammar. Lelaki itu mengerutkan keningnya.


Anak siapa ini tiba-tiba ada di rumahnya dan menyerukan nama istrinya.


Gana tidak menggubris, karena ia masih fokus menatap langkah Dava yang terus mengarah ke tempatnya.


"Dava sama Mama? Kok bisa tau rumah tante?" tanya Gana ketika Dava sudah sampai dan memeluk perutnya erat.


Baru ingin menjawab, namun suara lain membuat Ammar dan Gana terlonjak lagi.

__ADS_1


"DAVA ...!" seru Mahendra. Lelaki itu sampai dengan napas terengah-engah, selain lancang masuk ke rumah begitu saja karena si empu belum ditemui, dan ia takut anaknya tercebur di kolam renang.


Napas Mahendra serasa naik dan tercekik.


Pemandangan apa ini?


Gana dan Ammar menoleh lagi.


DEG.


Jantung yang menatap dan ditatap seperti ingin terlepas jauh dari pusara tubuh.


Mahendra terkejut


Ammar terkejut.


Gana terkejut.


Dan suara lain kembali terdengar setelahnya.


"Dav---"


Kedua mata Mulan melotot, dan suaranya tercekat, langkah derap sepatunya berhenti di sebelah posisi suaminya. Jantungnya seakan ingin berhenti, karena menemukan pemandangan yang membuatnya tertohok.


"Betulkah, yang aku lihat?" gumam nya. Wanita itu menggeleng samar.


DARR.


Seperti ada petir yang mengilat tiba-tiba di pertengahan awan. Udara yang sejak tadi sejuk, mendadak sangat dingin karena angin berhembus kencang.


Tersentak dan terperanjat, begitulah yang mereka berempat rasakan.


"Kak Dava?" ucap Mulan pelan. Sangat pelan sampai sulit terdengar. Bola matanya menilik tajam untuk memastikan apakah lelaki yang sedang ia tatap benarlah, Maldava Ammar Artanegara.


Lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya, lelaki yang menghilang dan tidak pernah mau kembali untuk memberikan maaf. Lelaki yang ia ingin sekali ia temui, dan memohon untuk menjadi manusia normal dan baik seperti dulu. Kini, ada, di sini, ditempat ini, mematung beberapa jarak dari posisinya.


"Gana?" seru Mulan setelah memanggil nama Ammar. "Kaa-kalian?" gumam Mulan terbata-bata, lalu membekap mulut.


Suami istri 'kah?


Begitupun Mahendra yang masih mematung, menatap bingung bola mata Ammar.


"Suaminya Ibu Gana 'kah?" gumamnya pelan.


Gana yang sudah berhenti dari keterjutan nya lalu tertawa. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala karena baru menyadari kalau Mahendra adalah Ayahnya Dava, suami Mulan. Ini memang baru terkaannya, karena Gana belum menanyakan langsung.


Gana menepuk tangan Ammar yang masih berada di atas pundaknya. "Letakan aku di kursi roda sayang, ayo kita hampiri mereka."


Degup jantung Ammar meningkat drastis. Wajahnya menegang dengan rahang yang mengencang. Lelaki itu tertohok hebat, seperti ditampar sampai stroke. Sulit untuk berbicara, Ammar mendadak bisu.


Mendorong kursi roda Gana menuju posisi mereka yang masih mematung berdiri, dan Dava ikut melangkah di sisi kursi roda.


Langkah kaki Ammar semakin dekat. Dua bola matanya terfokus ke arah Mulan yang juga sedang menatapnya tidak percaya. Lalu beralih dengan tatapan keji kepada Mahendra.


Anjingg yang dibenci. Kini hadir, menginjakkan kaki dirumah tercintanya. Belum lagi angin tornado seperti sedang menamparnya bolak-balik, ketika melihat Gana mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Mahendra.


Lelaki yang memberikan banyak luka kepadanya selama ini. Terakhir ia muak, karena Mahendra bisa merebut dan menggeser dirinya dalam permainan saham.


"Bapak suaminya Mbak Mulan?" tanya Gana tanpa basa-basi.


Hening.


Kedua alis Gana menaut, ketika lelaki yang ia tanya dan wanita yang sangat ia kenal ada di sebelahnya, masih saja terdiam menatap lurus ke depan.


"Mbak ...?" sapa Gana. "Aku enggak nyangka kalau---" suara Gana terhenti. Ia lebih tertarik dengan apa yang sedang mereka tatap. Gana mendongak ke atas.


Menatap suaminya 'kah?

__ADS_1


Dan betul saja. Ammar pun sedang menatap mereka dengan wajah serius.


"Maaf, kalian saling mengenal?" Gana berusaha menyadarkan Mulan dan Mahendra.


Hening lagi. Bagai sinetron Anak yang pulang merantau bertemu Bapak dan Ibu, lalu menggelar adegan peluk memeluk.


Tapi, jangan fikir itu berlaku untuk mereka bertiga sekarang.


"Perkenalkan, Mba, Pak. Ini suami saya." Gana malah memperkenalkan lelaki yang sudah sangat mereka hafal.


Roh Mulan dan Mahendra seperti baru di kembalikan ke tempatnya. Mereka terlonjak dari lamunan. Dengan wajah terkaget-kaget Mulan dan Mahendra mencoba mengatasi napas yang mulai berantakan. Mereka mencoba untuk tenang dan rileks.


Mahendra dan Mulan saling menatap, ternyata Gana sudah sama-sama mengenal mereka dengan cara berbeda. Terlebih lagi Mulan, tidak menyangka kalau suami yang di ceritakan oleh Gana selama ini adalah Kakak Dava, kesayangannya di masa lalu. Begitu pun Mahendra, ternyata suami yang dirahasiakan Gana kepada khalayak ramai, adalah Ammar. Lelaki yang sudah ia rusak harga diri dan rasa percaya dirinya.


Sepertinya Mulan dan Mahendra ingin menjerit bersamaan.


Kok, bisa?


Dunia memang bulat, dan kita hanya akan berjalan melingkar di lingkaran yang sama pula.


"Ammar, kenalkan ini Mbak Mulan temanku. Dan ini Bapak Mahendra, relasiku."


Gana mendongak lagi ke atas, ketika suaminya hanya diam dengan penuturannya.


"Ammar ...?" Gana mengelus lengan suaminya yang masih basah.


Napas Ammar semakin lama semakin terasa tertarik. Oksigen terasa mengikis seiring dengan ritme jantungnya yang masih bertalu-talu.


Ingatan masa lalu yang kelam, suram dan paling Ammar kutuk. Kini, seperti hadir kembali. Membuka luka lama yang sampai saat ini ia biarkan menganga.


"Tolong aku, Lex. Orang-orang suruhan Mahendra, mau menyodomii aku!"


"Pergi Mulan, jangan dekati aku lagi. Sudah cukup Mahendra berbuat keji padaku!"


"Alex dibunuh, Mar. Pelakunya Mahendra!"


"Kontrak kerja kita dibatalkan, mereka lebih memilih Mahendra!"


Bayangan-bayangan ucapan yang masih terpatri di benak dan kepalanya terus bergulir. Membuat tubuhnya mendadak memanas Sampai ke ubun-ubun.


Bola mata Ammar bergoyang, wajah lelaki itu memerah. Dengkuran napas kian kentara karena sedang menahan api emosi yang mulai membakar.


Dan.


BUG.


Seketika Mahendra terhuyung jatuh ke bawah sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan tetesan darah.


"Ayah ..." seru Mulan dan Dava. Dua orang itu memegangi Mahendra yang masih tersungkur. Mulan menatap sendu dan lirih. Air mata wanita itu menggenang. Mahendra tidak melakukan perlawanan. Ia memang pantas mendapat pukulan. Ammar belum memaafkannya. Dengan banyak corengan yang lelaki itu buat selama ini di hidup Ammar.


Bola mata Gana melotot tajam, kornea matanya seperti ingin tercabut.


Ammar memukul Mahendra tanpa aba-aba.


"AMMAR! Kamu apa-apan sih!" Gana berteriak, ia menatap punggung suaminya. Tangan Ammar masih mengepal. Gana marah, karena malu. Tidak punya muka.


Suaminya sudah gila, fikirnya.


Ammar menoleh ke belakang menatap tajam manik mata Gana. Ganaya tersentak dengan perubahan Ammar. Raut kekejaman mafia, kini Gana rasakan begitu nyata.


Ini 'kah suaminya yang selalu hangat dan sabar itu?


"Aa--Ammar, ada apa? Kenapa kamu memukul Pak Mahendra, salahnya apa?" takut-takut Gana memberanikan diri untuk bertanya.


"HARUSNYA AKU YANG BERTANYA, GANA! SEJAK KAPAN DAN DIMANA, KAMU BISA MENGENAL MEREKA??"


***

__ADS_1


Like dan Komennya ya guyss🌺🌺


__ADS_2