Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Menjadi Nyonya Ammar Hari Ini.


__ADS_3

Jantung Ganaya bergemuruh hebat. Ia sangat gugup. Hampir tidak bisa mendongakkan wajah, hanya terus menunduk menatap kain putih yang membentang luas di meja.


Biasanya ia akan tenang ketika melihat bunga mawar, namun kali ini bunga-bunga yang tersemat di sudut meja, tidak lagi memberi getaran apa-apa. Wanita itu tetap saja gelisah.


"Kita nikah ya, sayang."


"Iya, Mas."


"Kamu mau punya anak berapa?"


"Dua aja ya, Mas."


Gana duduk dengan rasa cemas. Sedari tadi ia mengangkat bokong, seperti ingin beranjak bangkit. Ingin membatalkan pernikahan ini.


Ia tidak bisa. Tidak sanggup. Wajah dan ucapan Adri masih terbayang-bayang dalam benaknya. Nasihat sang Mama tadi pagi sepertinya mental begitu saja.


Gerakan dadanya naik turun. Dengan napas yang mulai berantakan. Wajahnya tiba-tiba pucat. Seperti ada yang mengendalikan fikirannya, tapi Gana tidak mengerti mengapa ia bisa begini.


Lalu.


Semua yang ada di meja akad menoleh cepat ke arahnya, ketika Gana memutuskan jabatan tangan antara Ammar dengan Papa Galih. Ammar baru saja akan mengucap Ijab nya.


"Kamu kenapa, sayang?" bisik Ammar dengan kerutan dikening. Ia tertohok ketika menatap suatu keanehan yang sedang tercipta di wajah Gana. "Gana, kamu kenapa?" ulanginya.


"Gana! Jangan macam-macam!" Papa Galih berbisik dengan delikan. Ia tidak mau anaknya berulah.


Raut Gana lain. Tiba-tiba matanya memicing benci kepada Ammar dan Papa Galih. Dengusan napasnya sangat kencang. Terdengar suara erangan dari dalam mulutnya yang tidak bisa ia keluarkan.


"Neng enggak apa-apa? Sakit?" tanya Bapak penghulu. Gana menoleh ke arah lelaki itu dan menatapnya tajam. "Astagfirullahaladzim ... istighfar, Neng."


"Gana ..." Ammar memegang bahunya untuk menyadarkan wanita itu. Semua keluarga yang melihat perubahan Gana langsung panik. Terlebih keluarga inti, mereka terus menelisik wajah Gana yang memang tiba-tiba pucat, lemah dan berbeda.


"Kamu sakit?" tanya Ammar lembut. Namun, ketika Ammar ingin meletakkan punggung tangannya di kening Gana. Wanita itu langsung menepisnya dan berteriak.


Gana histeris dan meronta-ronta. Ia beranjak berdiri dan memukul-mukul meja. Suaranya begitu nyaring tapi tidak mirip dengan suara aslinya.


"AKU TIDAK MAU MENIKAH!"


"AKU TIDAK MAU!!"


"PERGI KALIAN SEMUA! PERGIIIII!!"


Ammar berjuang dengan sekuat tenaga untuk memegang tubuh Gana yang terus memberontak.


Gifali dan Gemma langsung loncat dari kursinya. Dua lelaki itu ingin menenangkan Ganaya yang terus bersikap beringas. Papa Galih dan Papa Bilmar ikut membantu. Namun tenaga Gana sangat besar, semua tangan di tepisnya. Sekarang ia beralih untuk mencekik leher Ammar.


"AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU!" mendengar ucapan itu membuat ujung hati Ammar terasa perih.


Semua kembali memegang tubuh Ganaya, untuk menarik tangannya yang sedang mencekik leher calon suaminya. Wajah Ammar terlihat memerah, ia hanya bisa memegangi pergelangan tangan Gana, jika yang mencekiknya bukan wanita yang ia cintai. Ammar pasti sudah menembak nya detik ini juga.

__ADS_1


"Dek, lepas!" teriak Gifali.


Semua keluarga beranjak berdiri dari kursi. Namun hanya berdiri ditempat, mereka dilarang untuk mendekat.


Kebetulan di waktu yang tepat ini, sang Hafizah yang di minta untuk membaca Al-Quran sebelum proses Ijab, datang kemari bersama Ayahnya yang merupakan seorang Ustadz.


Dengan izin Allah, mereka berdua masih tertahan dirumah ini karena diluar masih hujan, sambil menunggu reda maka mereka ikut menikmati jalannya Akad. Padahal biasanya, mereka akan langsung pulang jika tugas membaca Al-Quran sudah selesai.


Beliau bergegas mendatangi meja akad dan mencoba membantu menenangkan Ganaya. Wanita itu langsung pingsan ketika beliau menyentak bahunya sambil mengucap seuntai doa untuk mengeluarkan jin yang baru saja masuk ke dalam tubuh Gana.


Dirasa Gana sudah tenang, semua keluarga berlari ke depan, untuk melihat keadaan Ganaya yang sudah limbung. Ia di gendong oleh Ammar untuk dibaringkan di sofa. Wanita yang sudah cantik dengan kebayanya itu mendadak tidak sadarkan diri.


"Gana ... bangun sayang." seru Ammar gelisah. Keringatnya sudah banyak diiringi napas yang sudah terengah-engah. Ammar masih berusaha untuk menyadarkan Gana. Mengguncangkan bahu Ganaya untuk segera bangkit.


Ammar seperti ingin mati saja sekarang, ia takut terjadi apa-apa dengan calon istrinya. Dan ia juga takut kalau hari ini gagal untuk menikahi Gana.


"Gana ..." dua Mama saling berseru. Begitu pun Papa Bilmar yang sejak tadi bingung harus berbuat apa.


"Kita bawa saja ke Rumah Sakit!" seru Papa Galih.


"Mbak nya ini enggak sakit, Pak. Tapi lagi kena sihir, kalau boleh ... Biar saya bantu untuk ngeluarin jinnya yang baru masuk."


"SIHIR?" teriak Ammar. Dan semua orang tertohok mendengarnya.


Pak Ustadz mengangguk.


"Iya, Mas. Bapak punya sedikit keahlian buat kasus-kasus kayak begini." sahut sang Hafizah.


Ammar masih termenung mendengar ucapan Pak Ustadz dan Hafizah tersebut. Sampai dimana, ia kembali bertanya. "Calon istri saya, ada yang mengerjai, Pak?"


Pak Ustadz mengangguk lagi.


"Jin-nya mau keluar, kalau si Mbak udah sah jadi istri. Jin ini datang, disuruh buat menganggu jalannya Akad." jawab Pak Ustadz. Ia bisa membaca apa yang terjadi dengan Gana. Manusia akan melakukan apa saja, sekalipun cara gaib sekalipun.


"Ini pasti ulah Kak Adri!" sentak Gelfani.


Semua orang membekap mulut karena saking tidak percayanya. Ammar mendelik tajam ketika mengingat lelaki itu. Matanya melebar dengan rahang yang mengetat. Ammar memegang lengan Pak Ustadz.


"Tolong, Pak. Bantu untuk mengeluarkannya. Saya akan berikan apapun yang Bapak mau."


"Insya Allah ... Sebisa saya, Pak."


"Ammar, ayo kita mulai Ijab nya!" Papa Galih menarik lengan Ammar untuk kembali ke meja akad. Ia ingin anaknya kembali sadar.


"Semuanya kembali duduk dengan tenang. Biarkan Gana di sini beserta Mama-mama nya. Ayo, ayo, kembali duduk ...!" Papa Bilmar menggiring mereka yang tengah berkumpul melingkari Gana untuk duduk kembali. Gana butuh ruang yang kaya oksigen, jalan napasnya akan terganggu. Dia akan sesak dengan kerumunan banyak orang.


"Pah, Kakak mau lihat Gana ..."


"Nanti aja, jangan sekarang, udah sana duduk!" Papa Bilmar tidak mengizinkan Maura mendekati.

__ADS_1


Semua bergegas kembali ke tempatnya masing-maing. Mereka bersiap melihat Ammar yang akan melaksanakan proses Ijab.


Gana dibiarkan berbaring. Mama Difa dengan mata yang sudah basah, hanya bisa mengoleskan minyak angin di sekitar pelipis, lubang hidung dan leher Ganaya. Serta Mama Alika memijat-mijat jempol kaki calon menantunya sesuai arahan Pak Ustadz. Dua wanita berhijab itu memandang sendu Gana.


"Bangun, Nak." Mama Difa berucap lirih.


Pak Ustadz sedang mencoba meruqiyah Ganaya dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Semua mata memandang gelisah, mengapa hal itu bisa terjadi di proses yang sangat penting seperti ini.


Ammar kembali duduk di meja akad. Lelaki itu langsung berjabat tangan dengan Papa Galih sesuai arahan Bapak Penghulu. Entah bagaimana lagi perasaannya sekarang? Sungguh campur aduk. Sudah tegang ingin mengucap ijab, belum lagi calon istri sedang kemasukan jin dan belum sadarkan diri.


Ammar kembali menoleh ke arah Gana dengan tatapan sedih. "Ayo sayang, bangun." lirihnya.


"Ayo silahkan berjabat tangan." titah Bapak Penghulu. Ammar dan Papa Galih kembali berjabat tangan. Kedua mata mereka saling berpandangan.


"Setelah menjadi suaminya, tolong jaga anakku, Ammar." ucap Papa Galih pelan. Kaca-kaca di bola matanya mulai tampak. Kejadian seperti ini tentu membuatnya sakit.


Ammar menggerakkan kepalanya naik turun dengan sorotan mata semangat yang sedang berkobar. Ia mencoba memberikan senyuman, walau jantungnya ingin mencelos.


"Saya nikahkan dan kawinkan putri kandung saya, Putri Ganaya Hadnan binti Galih Hadnan kepadamu, Maldava Ammar Artanegara dengan seperangkat berlian 100 krat, uang lima miliyar, satu buah rumah, satu mobil dan dua sepasang kucing anggora dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya, Putri Ganaya Hadnan binti Galih Hadnan, dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"


"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu. Kedua saksi dari perwakilan masing-masing pengantin lalu mengangguk dengan mantap.


"SAH" jawab saksi bersamaan.


"Alhamdulillah ... Alhamdulillah." seruan dari khalayak ramai langsung bergemuruh nyaring. Walau mereka masih khawatir dengan keadaan Ganaya. Tapi hati mereka semua lega, karena Ammar dan Gana jadi menikah di hari ini, mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri.


TAP.


"Ahh ..." Mama Difa terkesiap. Wanita itu kaget ketika tiba-tiba melihat kelopak mata putrinya mengerjap, lalu terbuka dan menatap lurus langit-langit rumah.


Ucapan Ijab Qabul yang Ammar lontarkan, seperti aliran listrik yang bisa membuat Ganaya terdistraksi dalam hitungan cepat.


Ammar melirik ke arah Ganaya yang masih berbaring di atas sofa. Ia merasa lega karena sudah berhasil menikahi Gana. Dan senyumnya kembali mengembang ketika dua Mama sedang membantunya untuk duduk menyandar dengan punggung sofa.


"Alhamdulilah ... Istriku." ucap Ammar. Ia menyeka air matanya yang tanpa ijin turun membasahi pipi begitu saja. Lelaki itu lantas beranjak bangkit untuk menghampiri Ganaya.


Sesungguhnya, Adri tidak akan semudah itu untuk melepas dan membiarkan Ganaya hidup berbahagia bersama Ammar. Karena sampai detik ini Ganaya masih saja ia anggap sebagai miliknya seorang.


Dan mau bagaimana pun manusia berusaha, berencana dan berkehendak, jika Semesta tidak mengizinkannya. Maka Adri bisa apa?


Sesuai takdir hidup Gana, ia tetap menjadi Nyonya Ammar hari ini.


***


Ny. Ganaya Artanegara❤️


__ADS_1


__ADS_2