
"Mama tantik banet!" Adela mencium pipi Gana yang sedang duduk di sebelah kursinya. Gana tersipu malu karena di puji oleh anak ke empatnya. Namun pujian yang Adela berikan justru membuat suami dan anak-anaknya yang lain, menautkan alis. Mereka merasa aneh.
Saat ini, keluarga Ammar sudah duduk di meja makan untuk memulai makan malam. Mereka tidak henti menyorot perubahan Gana yang drastis. Setelah shalat Isya, si bumil berdandan. Ia memakai bedak yang sedikit tebal, lipstik berwarna nude yang di oleskan berlapis-lapis. Ujung rambut melekuk ke dalam, karena Gana sedikit mencatok nya. Tak lupa ia memakai piyama daster dengan leher yang rendah.
"Kamu dandan malam-malam, buat apa? Mau kemana memangnya?" tanya Ammar saat Gana sedang menuangkan nasi di piring nya.
Gana tersenyum malu. Malu karena di anggap genit. Ya, biarlah pikirnya. Walau mood nya masih tidak enak karena malas dandan, tapi ucapan Mulan dan Farina terus saja membekas. Ia tidak mau hasrat Ammar padanya tergantikan kepada si bahenol, Yanti.
"Kan buat kamu, Mas."
DEG.
Bola mata Ammar bergoyang, lelaki itu terperangah. "Apa tadi, Mas? MAS SIAPA?!" Ammar melototkan manik gelapnya. Semua anak-anak pun menatap Gana dengan tatapan menuntut. Pasalnya mereka tahu, apa sebutan Gana kepada Papa mereka.
Buru-buru Gana membetulkan ucapannya. "Maaf, Bang. Adek latah. Masih ke ingat sama si Mas Al."
Ammar melebarkan pupil matanya. Jangan lupakan lelaki ini mempunyai rasa cemburu seperti istrinya. Pasangan yang sama-sama mempunyai rasa cemburu yang besar.
"MAS, AL? SIAPA ITU?" nada bariton Ammar menggelegar. Adela sampai bersembunyi di balik punggung sang Mama, karena takut.
"Yang ada di sinetron, Bang. Pemainnya cakep." dan Ammar semakin mendelikkan manik nya yang gelap.
"Bener, deh, Bang. Bentar lagi juga sinetronnya mulai. Nanti, Abang bisa ikut nonton." Gana menceritakan apa adanya. Dasar lidah lahnat bisa-bisanya keseleo seperti itu.
Ammar menyerengitkan dahi. Ia tilik penampilan istrinya yang tidak biasa. "Jangan kagumi lelaki lain selain mengagumi suami sendiri!" Ia menerka, Gana mulai memasuki masa puber kedua. Haha.
"Iya, Bang. Cinta Adek cuman buat, Abang."
"Tinta itu atah, Kak?" bisik Adela kepada Rora.
"Kakak juga enggak tau, Dek." Rora menggelengkan kepalanya.
Ammar mendengus malas. Seakan jawaban Gana tidak melegakan dadanya. "Sudah malam. Habis makan juga langsung tidur, ngapain kamu dandan? Enggak biasanya!"
Gana mengigit bibir bawah, ia meringis malu. "Dandan begini juga 'kan buat, Abang."
"Kamu 'kan tau, Abang enggak suka kamu dandan. Menor begitu lagi."
Anak-anak tertawa. "Iya 'nih, Mama. Mau kemana 'sih malam-malam? Pipi nya merah-merah gitu." goda Aidan. Anak lelaki itu tertawa karena melihat bulatan blush on di tulang pipi Gana yang tidak sama rata.
Dalam hatinya, walau ia malu di depan anak-anak karena di kritik. Gana senang. Itu artinya Ammar tidak akan kepincut dengan kemenoran Yanti. Lelaki itu tidak suka dengan wanita yang berdandan berlebihan.
"Iya, Bang. Nanti, Adek hapus."
"Hem." Ammar menjawabnya dengan deheman. Lelaki itu mulai menyantap makan malam nya.
...🌾🌾🌾...
[Besok kunciin si Yanti di kamar mandi, Gana!] Jeung Farina
[Iya, biar Aman!] Jeung Mulan
[Yanti itu siapa, Mbak?] Jeung Anna ketinggalan berita. Karena siang tadi ia tidak ikut main ke rumah Gana.
Gana yang sedang terduduk di sofa bersisihan dengan Ammar yang sedang membaca majalah, menatap gawai nya. Membaca pesan grup yang masuk. Grup yang bernamakan 'Bidadari hati Mafia' hanya berisikan empat orang anggota saja. Dirinya, Farina, Mulan dan Anna.
Gana mulai membalas.
[Memangnya ada apa?]
[Besok para suami kita akan datang ke rumah kamu. Ammar ngajak main bilyard, memangnya Ammar enggak cerita sama kamu?] Mulan membalas.
Pasalnya, Mahendra memberitahu bahwa hari sabtu besok ia akan membawa Dafa dan Danisha untuk main rumah Ammar. Begitupun dengan Farhan dan Alex. Mereka sudah meminta ijin kepada para istri. Hanya Ammar saja yang bungkam, ia belum cerita. Mungkin lupa.
__ADS_1
[Tapi, Abang belum cerita. Coba, ya. Aku tanya dulu] Gana membalas pesan grup.
"Bang ...."
"Hem."
"Besok Papanya Dafa, Papanya Falan dan Papanya Anggi, mau kesini?"
Ammar mengangguk. "Iya, Dek. Abang lupa ngomong sama kamu. Besok siapin makanan yang banyak, ya. Katanya pada mau bawa anak-anak juga."
"Mau ngapain, Bang?"
Seakan tidak biasa dengan jawaban istrinya. Ammar memutus kontak matanya kepada majalah yang sedang ia tatap. Beralih menatap sang istri.
"Kok tumben nanya mau ngapain? Ya kayak biasa aja, mereka mau main." karena biasanya, Gana akan langsung antusias kalau ada tamu yang mau datang ke rumah. Apalagi para mantan mafia tersebut.
"Kenapa harus di sini?"
Ammar membolakan mata. Seperti melihat keanehan di raut Ganaya. "Mereka mau main bilyard. Hanya Abang yang punya." di lantai tiga di rumah ini, di khusus kan sebagai tempat untuk olahraga. Alat-alat fitnes dan meja bilyard. Bukan karena Mahendra, Farhan dan Alex tidak mampu membeli. Tetapi, karena mereka bukan pemain fanatik seperti Ammar. Hanya sesekali suka saja.
"Ya 'kan bisa di luar. Sewa gitu." Gana masih saja menyergah, dan Ammar semakin bingung. Menikah sudah sebelas tahun, ia bisa membaca kalau istrinya sedang resah, seperti ada yang di pikirkan. Dan lagi-lagi karena si Yanto. Haha.
Ammar mengikuti arah mata istrinya ke arah Yanti yang sedang duduk di depan televisi bersama anak-anak dan para art lain, seraya sedang berpikir.
"Tatapan Adek ke Yanti agak beda, ya?" Ammar membatin.
"Kenapa harus sewa? Kalau di sini ada? Kamu 'nih kenapa 'sih, Dek?" Ammar melembutkan suaranya. Ia raih tangan Gana untuk ia genggam dan diletakan di atas paha.
Si bumil menghela napas panjang, lantas menggeleng. Tapi, Ammar tahu wanitanya sedang tidak baik-baik saja.
Istri mana di dunia ini yang akan bersikap biasa saja, sesaat ada wanita yang bisa menjadi bibit penggoda suaminya?
Ada-ada saja, masa cemburu sama pembantu? Ets, jangan salah! Sekarang sedang musim, pembantu memikat hati majikan. Atau, majikan menyukai mata genit pembantu. Haha. Sekretaris dan bos saja yang hanya bertemu di tempat kerja bisa kasmaran? Apalagi pembantu yang selalu di tatap di rumah? Apalagi baby sitter genit macam Yanti. Sedari tadi saja matanya selalu menilik ke belakang, mencuri-curi pandang Ammar dari tempat nya. Dan sayang nya, Gana tidak menangkap hal itu. Ia sibuk dengan gawai.
"Hem?" sambil menggenggam tangan istrinya, Ammar kembali membaca majalah.
"Yanti cantik, ya?"
Ammar mengangguk tanpa rasa dosa. "Namanya perempuan. Ya pasti cantik." jawabnya datar, seperti ekspresi tidak perduli.
DEG.
Bola mata Gana melolong tajam. Panas hati nya. Padahal ia yang memancing, dia juga yang terbakar karena ulahnya sendiri.
Ammar memang tidak peka. Sepeka Papanya. Papa Bilmar selalu lolos dari pertanyaan penuh ranjau yang Mama Alika selalu berikan kepadanya. Seperti halnya Papa Galih kepada Mama Difa.
"Cantikan siapa? Aku atau dia?"
"Ya cantikan Mama dong, jauh banget."
Ya begitu lah kedua Papa itu akan menjawab jebakan betmen yang kedua Mama lontarkan, untuk mencari aman agar tidak ada keributan.
Namanya juga wanita. Walau suami berbohong, tapi tetap menyukainya. Hanya ia yang ingin di sanjung-sanjung, wanita lain tidak boleh. Walaupun wanita lain itu memang lebih cantik dari para istri.
Gana mencubit lengan suaminya. Ia menatap kesal. Lantas bangkit dari sofa, menghentak kaki dan melangkah cepat menuju kamar.
"Loh 'kok ngambek?" tanya Ammar. Ia menutup majalah dan mengekor langkah istrinya.
Gana duduk di bibir ranjang dengan napas berat menahan kesal. Ia memalingkan wajah saat Ammar masuk ke dalam kamar. Duduk di sebelahnya.
Ammar mengecup pangkal bahu Gana dari belakang. "Kamu tuh lagi kenapa?" tanyanya halus. Sehalus kain sutera.
Gana melipat kedua tangan di depan dada. "Jadi, Yanti cantik?" Gana memastikan lagi. Sekarang Ammar paham. Si Presdir mulai peka. Ia menangkap kalau istrinya tengah cemburu.
__ADS_1
"Kamu cemburu sama dia?" Ammar langsung to the point.
Gana masih gengsi. Ia menggeleng. Ia takut Ammar mentertawakan dirinya.
"Tatapannya dia ke Abang itu beda!" Gana mulai jujur. Ia lepaskan sesak di dada.
"Jadi benar 'kan kamu cemburu? Dandan menor kayak begini buat nyaingin dia? Gitu?" Ammar terkekeh.
Gana mendengus, bola mata memutar jengah. "Kok ketawa 'sih, Bang? Abang 'tuh senang, ya, digenitin sama dia?"
Ammar semakin terkekeh. Ia dekap wanita itu. Mengusap-usap perut Gana, ada anaknya yang sedang berkembang di sana.
"Jawab dulu pertanyaan, Abang. Benar 'kan kamu cemburu?"
Gana memiringkan sudut bibirnya. "Ya."
Ammar bergelak tawa. Ia mencium pipi istrinya.
"Duh bau bedak banget. Berapa kilo di oles nya?" Ammar mencolek pipi Gana dengan ujung jari. "Ini sih bukan bedak, tapi bubuk gypsum. Buahaha" Gana mendelik tajam. Ia memajukan wajah dan mengigit bibir Ammar.
"Ah, sakit, Dek!" Ammar meringis memegangi bibir.
"Aku lagi serius, Abang malah bercanda!"
Ammar mendekap lagi cintanya. Ia peluk-peluk mesra. "Jadi gimana?" Gana kembali bertanya.
"Apanya?" Ammar mengulang.
"Yanti, cantik enggak?"
Ammar mengusap wajah. "Ya Allah, masih aja itu yang ditanyain."
Gana mendelik lagi.
"Dia jelek. Cantikan kamu." dan Ammar yakin, jawaban ini yang Gana mau.
Gana menghembuskan napas lega.
"Abang tau 'kok selama ini tatapan dia aneh ke, Abang."
"Terus?"
"Ya tapi, selagi Abang bisa jaga sikap. Ya biarin aja. Nanti dia juga capek sendiri. Toh, di rumah ini. Yang enak di pandang selain anak-anak, ya, hanya Adek seorang. Wanita cantiknya, Abang." si tupai kembali merayu. Dan yang di rayu, cepat sekali terperangkap. Gana menunduk malu.
"Aku takut Abang kesemsem sama dia. Takut ke goda gitu, Bang."
Ammar tertawa. "Rekan kerjaku banyak yang lebih cantik, muda dan sexy dari pada Yanti. Tapi, Abang enggak tertarik, Dek. Percaya, deh. Lebih baik kamu jangan neting dulu. Kita kan enggak tau, terkaan kita benar atau salah. Kita udah asik menuduh, eh, tau nya kita salah. Kan dosa, Dek. Tapi, kalau memang hatimu enggak enak, curiga sama Yanti. Ya udah ganti aja sama yang lain. Abang akan setuju. Yang penting hati kamu enak. Jadi enggak perlu uring-uringan kayak begini."
Walau jadi memutus rezeki orang, tidak masalah dari pada menjadi konflik prahara di rumah tangga sendiri. Mereka juga bisa menyelamatkan Yanti, agar tidak kepalang terpikat dengan suami orang.
Gana tersenyum menatap Ammar. Dadanya terasa lega sekali. Ia pikir lelaki ini akan marah, nyatanya amat mengerti dirinya. Dan tanpa sadar kancing piyama daster Gana sudah terbuka sampai ke bagian perut. Jari-jemari Ammar yang nakal, mulai menjelajah masuk ke pangkal dada untuk meremass.
"Yuk, Dek." bisik Ammar saat bibirnya sedang mengecup dataran ceruk leher Gana.
Gana mengangguk walau sebenarnya ia sedang malas. Tapi, demi kepuasan suami yang tidak boleh terabaikan. Gana menurutinya. Lelaki akan bertambah cinta, jika sudah di manjakan, dari hal kepuasan perut karena penyuguhan makanan yang enak dan aktivitas di ranjang.
"Iya, Bang. Ayo!" Gana pasrah saat di baringkan. Dan Ammar mulai mengungkungnya. Lelaki itu bermain lembut dan pelan, ia tahu sekarang ada janin di dalam perut istrinya.
Gana merintih. Dan Ammar tersenyum senang. Lelaki itu terus memaju-mundurkan tubuhnya untuk menembus puncak kebahagiaan malam ini.
"Hanya Adek yang Abang cinta. Enggak ada yang lain." bisik Ammar di telinga Gana. Gana mengangguk, ia memejam mata menikmati semua belaian yang Ammar berikan.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
__ADS_1