
Terlihat beberapa mobil mewah milik keluarga besar Artanegara secara beruntun baru saja sampai didepan gerbang rumah sang pengantin wanita.
Ammar berada di dalam satu mobil yang sama dengan Mama dan Papanya.
"Kenapa banyak banget penjaga bersenjata sih, Dek? Kita ini kan mau menyaksikan pernikahan kamu, bukan mau perang dan tembak-tembakan." tanya Papa dengan keningnya yang sudah mengkerut seperti kulit jeruk.
Ammar yang duduk didepan sebelah supir hanya tertawa saja.
"Biar aman, Pah." Mama yang menjawab.
"Pakai dua satpam juga udah cukup, Mah. Nah itu, puluhan yang jaga. Sanak saudara yang datang akan menjadi seram, Mah."
Papa Bilmar terus saja bercakap-cakap di dalam mobil. Sopir terus melajukan kendaraan ini dengan aba-aba dari para penjaga untuk masuk dan parkir.
"Dari mana Adek mendapatkan mereka?"
"Adek sengaja meminta bantuan polisi, Pah." Ammar bedalih.
Nyatanya bukan. Mereka yang sedang berdiri berjajar dari ambang pintu rumah sampai ke halaman dan berakhir di luar pintu gerbang, adalah orang-orang kepemilikan Ammar.
Memang terlihat sangat ekstrim bagi manusia normal. Mengapa Ammar harus mengerahkan pasukan bersenjata dalam total lebih dari tiga puluh orang.
Gana juga sempat protes, karena sejak semalam sudah ada sepuluh orang penjaga bersenjata di area rumahnya. Dan pagi ini Ammar kembali menambah totalnya menjadi tiga puluh. Tentu Ammar mendapatkan mereka dari sumbangsih Farhan. Sahabat yang paling ia percaya.
Ammar hanya ingin jalan pernikahannya hari ini dengan Gana sukses tanpa hambatan. Sudah cukup beberapa hari kemarin ia mendapatkan banyak musibah beruntun. Dan semakin bersyukur karena keadaan calon mertuanya yang sudah pulih dan sehat. Hanya tinggal luka-luka kecil saja.
Sebenarnya hari ini perasaan Ammar begitu campur aduk. Ia senang karena akan menikahi Gana, tapi ia sedih karena kemarin baru mendapat info, kalau Alex memang telah berkhianat selama ini darinya.
Jantungnya terasa diplintir. Ia tidak menyangka Alex yang sangat ia percaya, bisa setega itu.
Alex sengaja menginformasikan tentang bahan-bahan dasar granat yang di hasilkan oleh Ammar kepada Mahendra. Agar lelaki itu bisa membuat Mahendra lebih unggul dibanding Ammar.
Ya, begitulah penjelasan Farhan kepada Ammar. Ammar meminta bukti, namun Farhan bilang, bukti tidak lah penting. Yang penting sekarang Alex sudah mati. Tidak akan ada lagi kerdil yang bermain curang dengan mereka. Dan, Ammar percaya akan hal itu.
Lalu bagaimana dengan polisi kemarin? Apakah mereka akan menangkap Ammar sekarang? Lagi-lagi Farhan bisa menenangkan Amar untuk tidak terpengaruh. Lelaki itu bilang, mereka hanya polisi bohongan yang dibayar oleh beberapa musuh mereka yang masih kasat mata.
Karena orang-orang suruhan Farhan, tidak menemukan pengaduan atas nama Ammar dan dirinya di catatan kepolisian. Dan Farhan berhasil membuat Ammar bisa Bernapas lega.
"Ayo, Mah, Pah, kita turun." ajak Ammar kemudian melepas seat belt nya lalu turun. Mama dan Papa juga bergegas turun dari dalam mobil.
Diluar pintu mobil sudah ada yang bertugas untuk memayungi mereka, karena sampai sekarang rintik hujan masih menetes, walau tidak sederas beberapa jam yang lalu.
Semua keluarga besar Artanegara telah berbaris rapih memanjang ke belakang. Mereka akan bersiap masuk kedalam rumah mewah keluarga Hadnan.
Papa Bilmar mengusap lembut punggung anak lelaki yang ia apit dengan istrinya. "Jangan putus doa sampai mau mengucap ijab, biar lancar, Dek. Ingat nanti malam udah bisa nyicil, buatin Papa cucu. Siapa tau kembar kayak Kakakmu."
Ammar terkekeh geli mendengarnya. Namun Papa buru-buru diam karena mendapat delikan dari istrinya.
****
__ADS_1
Sebuah meja persegi empat yang berlapis kain putih begitu indah dengan tambahan aksen beberapa bunga mawar yang tersemat di setiap sudutnya.
Meja yang sudah di dekorasi dengan cantik itu, sudah siap dan kokoh untuk menjadi saksi proses Ijab Qabul dalam akad nikah Maldava dan Ganaya beberapa menit lagi.
Lantunan seorang Hafizah yang sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Quran menambah keharuan di hati para hadirin. Suasana begitu tenang dan khidmat walau suara gemercik hujan masih terdengar jelas. Banyak berkah ketika hujan sedang turun, dan mereka yang mengetahui itu akan langsung bermunajat dan meminta doa kepada Sang Pencipta bumi dan langit.
Sang pengantin pria yang mempunyai hidung mancung, berlesung pipit, memiliki bibir tipis yang berwarna segar itu. Terlihat semakin dibuat tampan dengan beskap berwarna putih tulang dan kalung melati yang menjuntai di dadanya. Songkok dengan tile melingkar di tepinya sudah terpasang di kepala lelaki rupawan itu.
Saat ini Ammar sudah duduk di kursi meja akad nikah. Berhadapan dengan penghulu dan Papa Galih serta beberapa saksi.
Dari pandangan matanya di depan, Ammar bisa memandang luas kursi-kursi yang sudah di duduki oleh para keluarga besar, kerabat dekat dan para sahabat.
Mereka semua kompak memakai seragam yang sudah di siapkan oleh Ammar. Dari mulai Kakek, Tante, Om, Kakak, Adik, Sahabat sampai ke keponakan sekalipun. Semua diberikan kebaya dan batik dengan bentuk dan warna yang sama satu lain.
Hanya pakaian untuk orang tua saja yang berbeda. Ammar memilihkan pakaian orang tua dan besannya langsung ke perancang ternama yang juga di amanat kan untuk membuat kebaya pengantin dan beskap elegan untuk dipakai dirinya dan Gana.
Ammar tidak perduli berapa banyak uang yang sudah ia habiskan. Dan memang dalan acara akad nikah sampai ke resepsi, semua Ammar yang mendanai. Ia tidak mau menerima uang yang ingin Gana berikan untuk acara pernikahan mereka.
Baginya, Gana mau menikah saja itu sudah cukup membahagiakan.
Berkali-kali Ammar menghembuskan napas nya pelan. Wajahnya tegang sekali dan gugup. Lelaki itu sejak tadi tidak berhenti untuk menggenggam tangan Papanya.
Papa Bilmar sejak tadi, dengan setianya duduk disebelah sang anak untuk menemani Ammar, sampai calon menantunya keluar dan duduk bersanding dengan putranya.
"Adek tegang, Pah. Papa dulu kayak gini, nggak?" bisik Ammar.
"Jangankan dulu, sekarang aja Papa udah tegang, takut lidah kamu keseleo pas ngucap ijab."
Papa Galih tertawa melihat kelakuan calon menantunya serta besannya.
"Dibawa santai Ammar, jangan tegang. Tinggal selangkah lagi, kamu dan Gana akan sah." ucapan Papa Galih membuat Ammar dan Papa Bilmar menoleh.
Ammar mengangguk dan mengembangkan senyum. Ucapan calon mertuanya memang betul, sebentar lagi mereka akan menjadi suami istri. Hal yang selalu di impikan oleh Ammar.
"Menikah lebih gugup dari pada menembak." batinnya.
Mama Alika tidak lepas memandang sang anak dengan buliran doa yang sedang ia gumam kan. Kaca-kaca di bola matanya tak terbendung untuk turun.
"Mah ..." Mama Alika menoleh, menatap Maura yang matanya juga tengah berkaca-kaca.
"Adekmu ..." Mama Alika menyandarkan kepalanya di bahu Maura. "Apakah Adek akan bahagia, Nak?"
Maura menatap Ammar, lalu luruh air matanya. "Pasti, Mah. Gana pasti akan membahagiakan Adek..." entah mengapa ada getaran lain ketika mengucapkan hal itu.
Dua wanita yang mempunyai insting sama, sedang mengkhawatirkan bagaimana nasib rumah tangga mereka.
Apakah benar Ganaya bisa mencintai Ammar dengan cepat? Mereka takut, Ammar malah akan menderita dengan pernikahan ini.
Karena wanita sangat sulit dan membutuhkan waktu yang banyak untuk melupakan cinta sejatinya. Dan Mama Alika serta Maura tahu, bahwa Ammar bukanlah cinta sejati Ganaya.
__ADS_1
"Sudah bisa dimulai?" tanya penghulu. Ketika Hafidzah sudah menyelesaikan tilawahnya.
"Sudah, Pak." jawab Ammar tegas.
Tak lama kemudian dengan aba-aba permintaan penghulu, Ganaya akhirnya muncul. Ia berjalan menuju meja akad yang diapit oleh Gelfani dan Faradisa.
Mereka bertiga berjalan diatas karpet yang sudah terjulur memanjang diantara kursi-kursi yang sudah di atur menjadi dua barisan.
Wanita bertubuh tinggi semampai dan memiliki tubuh ramping seindah biola sedang melangkah hati-hati dengan segala pesona yang ia tebarkan.
Ganaya tersenyum malu-malu ketika ingin menatap para hadirin yang tengah menoleh ke arahnya. Buliran blush on berwarna merah muda membuat tulang pipinya semakin menonjol. Bibir ranumnya terlihat berminyak dengan olesan lipstik berwarna pink nude.
Riasan matanya yang bold, membuat tatanan make up di wajah nya semakin hidup. Dapat mempertegas lekuk wajahnya sehingga terlihat anggun dan sejuk untuk dipandang.
Harum dari bunga melati segar yang tersemat di sanggul rambutnya begitu saja menyerbak, bercampur dengan angin di udara. Membawa masuk aroma itu untuk menelisik indera penciuman para hadirin dan semakin memuji kesempurnaan wanita itu.
Gana memakai kebaya putih bermandikan kristal swarovski disekujur sisi kainnya. Hasil rancang perancang terkenal yang dipadu padankan dengan kain samping batik berwarna cokelat emas. Kencantikan dan leluk tubuhnya bak model luar negeri. Ammar beruntung, akhirnya bisa menikahi wanita itu.
Bola mata Ammar dan Gana saling bertemu dari kejauhan. Ammar menatap calon istrinya dengan gelengan kepala samar tanpa bisa berucap apapun. Ia begitu takjub ... Sungguh sempurna ciptaan Semesta untuknya.
"Cantik sekali ... Indah ... Surga dunia." senyuman lelaki itu membahana. Ia merasa bangga kepada semua orang karena sebentar lagi akan menikahi cinta pertamanya.
Tanpa alih-alih, Ammar langsung beranjak berdiri dan melangkah untuk menghampiri Ganaya.
Ia ingin menjemput wanita itu dengan tangannya sendiri. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh kebanyakan calon pengantin lelaki karena sudah di makan rasa gugup.
Awalnya Ammar pun sama, lelaki itu sedikit stress. Tapi setelah melihat Gana melangkah dengan kebaya pengantin, entah mengapa rasa gugup di dadanya begitu saja menghilang.
Langkah Gana terhenti seiring langkah Ammar sudah sampai dihadapannya. Dari balik suara rintik hujan diluar. Ada sepasang calon pengantin yang saling bertatapan dan menebar senyum.
"Dirimu tampan sekali, Ammar ..." Ganaya membatin. Sorotan matanya yang indah tidak urung menatap Ammar dengan segala rasa takjubnya. Secara fisik dari wajah dan tubuh. Ammar memang lebih unggul di banding Adri, sayangnya lelaki itu tidak memiliki rasa cinta dari Gana.
Cahaya dari kilat kamera gawai, kamera digital dan kamera dari sang Fotografer handal terus membidik gambar mereka berdua yang tengah saling memandang dalam senyum yang mengalir penuh keindahan.
Ammar menjulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka ke hadapan Gana. Wanita itu tersenyum melihatnya, lantas meletakan tangannya di atas telapak tangan Ammar. Gelfani dan Faradisa kembali ke jejeran kursi yang kosong. Karena langkah mereka sudah terselak lebih dulu oleh Ammar.
"Romantisnya Ammar, Pah." ucap Tante Binar kepada Om Rendi.
"Persis, kayak Omnya." Om Rendi tertawa karena memuji dirinya sendiri. Tante Binar hanya mendengus. "Romantis dari Parangtritis kali, ah!"
Pandangan yang sangat elok ketika Ammar menggandeng Gana, semua mata tak jemu-jemu melihat kemesraan mereka. Jantung Gana berdentam kencang jutaan kali. Ia malu tapi juga bahagia karena perlakuan Ammar yang begitu spesial dan amat merasa diinginkan.
Mereka melangkah bersisihan. Ammar dengan sabar mensejajarkan ritme langkahnya dengan langkah Gana yang sangat pelan, karena ia tidak terlalu bisa berjalan dengan high heels serta ikatan kain sampir yang begitu terasa padar di perutnya.
Tak berapa lama tibalah mereka di meja akad. Ammar membantu Gana untuk duduk dengan hati-hati di sebelah kursinya, yang akan ia duduki kembali untuk mengucap janji suci sebentar lagi.
Mama Difa menyeka air matanya. "Masya Allah ... baik sekali Ammar kepada Putri kami." wanita itu merintih bahagia.
Tatapannya lurus menatap perhatian yang Ammar berikan kepada Ganaya. Dan tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan bola mata suaminya didepan sana, dan ternyata lelaki itu mengangguk pelan menatapnya. Sepertinya telepati batin mereka sedang mengucap kalimat yang sama.
__ADS_1
****