Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Pergi Untuk Kembali.


__ADS_3

Maldava POV.


Dulu, yang aku tau. Gana hanyalah mimpi indah seperti bintang yang bertebaran di langit, hanya bisa di pandang tapi tidak bisa disentuh atau dimiliki. Namun, dengan kepatahatian, membuat dia masuk ke dalam jurang kekecewaan. Dan disitulah awal kebahagiaan untukku. Haha, kejam sekali untuk didengar. Tidak apa lah, jika dulu Gana menderita karena Adri, yang penting sekarang dia bahagia bersamaku.


Sebenarnya aku sangat dendam kepada Adri. Lelaki yang tidak tahu di untung bisa semudah itu mengalahkan ku untuk mendapatkan cinta dari Gana. Padahal aku sudah berjuang mati-matian untuk merebut hatinya sejak dulu.


Bayangkan saja, cintaku kepadanya, dimulai sejak jaman aku memakai seragam putih biru. Dan Ganaku, hanya memandangku seperti panu di punggung yang jika diberi obat langsung luruh dan hilang, tidak ada artinya.


Kini aku tahu jodoh akan selalu datang tepat waktu dan tepat sasaran. Seapapun Adri menjaga Gana, kalau akhirnya Gana harus menjadi istriku, si moncong lele itu bisa apa? Haha.


Dan aku tahu kenapa Allah memberikan Ganaya menjadi jodoh dan Insya allah, istri selama-lamanya untukku. Karena ia adalah wanita mandiri, pemberani dan galak. Ia mampu menarik ku keluar dari dunia hitam.


Sampai dimana aku tahu, dia mendadak pergi meninggalkanku. Entah benar-benar sudah mati atau sedang bermain petak umpet, aku tak faham. Tapi yang jelas, selama dua minggun kehilangan nya aku tersiksa.


Harus mengambil baju sendiri, memakainya sendiri, makan sendiri, tidak ada lagi yang menggosok rambutku sehabis keramas, perutku tidak lagi di usap dengan minyak tanah. Eh, maaf ... maksudku minyak telon.


Tidak ada lagi yang berteriak-teriak, kalau lantai kamar menjadi becek karena jejak kaki yang basah sehabis mandi. Walau teriakan itu bisa membuang gendang telingaku berjoget, tapi sangat aku sukai, hal yang selalu aku inginkan ketika Gana sudah pergi meninggalkan aku.


Kini, semua masa-masa penderitaan itu sudah menghilang dan berganti kebahagiaan. Sekarang aku baru tahu, arti pelangi yang selalu turun sehabis hujan, karena akan selalu ada hikmah dari setiap musibah yang Allah berikan. Aku bisa menjadi manusia normal, tidak lagi melakukan kejahatan dan akhirnya istriku kembali, kami bisa bersama lagi walau Gana mengalami amnesia. Dia lupa ingatan.


Ketika dirinya seperti ini, aku fikir akan mengalami kesulitan untuk mengarungi rumah tangga lagi bersamanya. Karena tidak ada kenangan yang diingat.


Awalnya hal ini membuatku frustrasi. Yang aku tau, dia sudah mencintaiku dan kini, kembali terhempas dengan ingatannya yang sudah menghilang.


Namun nyatanya aku senang, sepertinya memang hanya ingatannya saja yang hilang namun getaran cinta tetap saja terpatri di dalam hatinya.


Ah, bahagia rasanya.


Gana berubah menjadi wanita polos, manja, maunya selalu berada dibawah ketiak ku. Dan apa yang aku katakan ia selalu menurut. Dan karena kepolosannya, aku berhasil mendapatkan hak ku yang selama ini sudah di penjarakan olehnya. Aku sudah menang, berhasil membobol gawang Honey.


Aiss, lega. Haha.


Puji dan syukur aku panjatkan kepada Allah SWT. Rasanya begitu nikmat. Sampai aku baru sadar, mengapa Kakakku bisa mempunyai banyak anak, karena rasa dalam proses pembuatannya, sungguh membuat diri mabuk kepayang.


Assh, air liurku sudah menumpuk. Srrp.


Saat ini aku masih memperhatikan tubuh istriku yang sedang di pijat oleh tukang urut langganan Mulan. Satu jam lalu, aku bisa bernapas lega kalau Gana dikatakan baik-baik saja oleh Dokter. Tidak ada luka dalam yang ditakutkan. Hanya bekas-bekas lebam yang masih ada dan akan memudar.


Aku meminta Mulan mencarikan tukang pijat untuk Gana. Karena tadi, saat kami bercinta. Aku merasakan tubuhnya menegang dan keras.


"Sakit, Dek?" tanyaku yang masih duduk dibibir ranjang, karena tangannya begitu saja mencengkram lenganku, seperti tengah mengaduh kesakitan.


"Urat kaki nya tegang, Pak." selak tukang urut. Wanita sudah berumur dengan telapak tangan yang terlihat kekar. Bisa aku lihat gerakan tangannya yang begitu luwes ketika memijat-mijat kaki istriku.


"Di urut sampai tegangnya hilang ya, Bu." pintaku.


"Baik, Pak." kembali ia urut kaki mulus Gana dan istriku kembali merintih. Ada lebam di jari jempolnya. Aku rasa itu yang membuatnya tak tahan ketika sedang di urut.


"Sayang, Abang tinggal dulu ya. Abang sudah ditunggu sama Pak Mahendra dan Pak Alex di ruang kerja."


Istriku mengangguk dengan selaan ringisan. Ia cantik sekali dengan kemben bermotif batik kepunyaan Mulan. Rasanya aku ingin menggahinya lagi.


Tadi ia sempat merajuk padaku. Karena saat kita mandi bersama setelah melebur diri menjadi satu. Aku meminta lagi hak ku padanya.


Gana meringis-ringis di kamar mandi dan aku biarkan saja. Jika saja dia tidak hilang ingatan, aku pasti sudah di tendang sampai keluar kamar mandi.


Entah kah ini yang memang dirasakan oleh seorang pengantin baru yang tak lagi baru sepertiku? Saat baru mengetahui rasanya. Membuatku seperti candu, dan susah menghentikan hasratku yang sudah lama tidak tersalurkan.


Aku takut badannya remuk. Maka untuk itu aku biarkan tubuhnya mendapatkan sentuhan reflexy.


Aku mengecup keningnya lantas berlalu dari kamar.


"Jangan terlalu di porsir, Kak! Kasian Gana." ucap Mulan saat diri kami berpapasan di ambang pintu kamar yang sudah lebih duku ia buka dengan sikutnya. Ia membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat untuk istriku dan tukang pijat.


Aku tertawa. "Bukannya dulu, Mahendra sepertiku? Malah aku dapat ajian pamungkas darinya."


"Demi apa??" sentak Mulan tak percaya. Sampai Gana sedikit beranjak dari baringnya. Aku lihat dia sedikit mendongakkan kepalanya ke arah kami.


"Kenapa, Bang?" tanyanya panik, sambil memegangi kemben di bagian dada. Ia melihatku dan bergantian ke arah Mulan. "Ada apa, Bu?"


Aku menoleh dan tersenyum. "Enggak apa-apa sayang, udah berbaring lagi." titahku padanya dengan gerakan tangan. Ia kembali menurut dan mengikuti ucapanku.


Lihat 'kan bagaimana Gana menurut? Coba saja kalau tidak amnesia, ia pasti sudah melesat menghampiri kami, ikut nimbrung.


"Awas ya!" decak Mulan, seraya marah tapi pura-pura kepadaku


Aku hanya tertawa dan berlalu meninggalkannya.


🌺🌺🌺🌺


Blug.


Pulpen yang terlempar dan hampir mengenai kepalaku langsung aku tepis dengan gerakan silat. Di susul buku notes kecil melayang ke arahku setelahnya dari tangan Alex.


Mahendra dan Alex terlihat murka dan aku hanya terkekeh.


"Sorry ya, bro. Lama." goda ku tanpa rasa bersalah. Aku duduk di kursi bersebelahan dengan Alex. Dan Mahendra ada di hadapan kami selayak nya bos sungguhan kami.


"Gila kamu, Ammar. Ngebiarin kita berlama-lama di sini kaya bernuk ompong, gak taunya kamu lagi enak-enak." dengkus Mahendra.

__ADS_1


"Wajarlah aku rindu istriku." jawabku apa adanya. Aku juga malu diketahui oleh mereka. Karena suara Gana yang merintih seperti sedang di aniaya, membuat dua lelaki ini menghentak-hentak pintu dengan kencang.


Kalau saja mereka tahu, aku baru melepas keperjakaan. Mereka berdua pasti akan membully aku habis-habisan. Dan, maaf aja. Tidak akan aku biarkan. Haha.


"Belum pernah kamu di tampoll sama genderuwo?" sambung Alex.


Aku terkekeh dengan kemarahan mereka. Aku menggeleng. "Belum."


"Ayo, Ndra. tampol sih, Ammar!" ucap Alex kepada Mahendra.


"Dih, bangsatt banget!"


Pletakk!


Mahendra melempar pulpen yang masih ia miliki tepat ke kepala Alex. Ia terhina karena di mirip-miripi genderuwo.


Aku tertawa geli. Biarlah mereka yang jadi baku hantam. Sambil memulai pembicaraan aku seruput es teh manis milik Mahendra yang tinggal setengah.


"Awas rabies! Asal minum aja enggak minta izin." selak Mahendra.


"Coba tunggu satu jam. Dan lihat reaksinya, tubuh kamu bakal berubah berbulu enggak, macam simpanse." kekeh Alex mengelus pangkal bahu Ammar.


"Monyet!" Mahendra melempar stabilo ke dada Alex.


"Guk-guk!" Alex membalas.


Setelah masa-masa sulit yang baru saja aku lewati. Kini, aku bisa tertawa kembali. Aku fikir kebahagiaanku dulu cukup hanya bersahabat dengan Farhan. Nyatanya dia musuhku yang paling nyata. Sedangkan Mahendra orang yang dulu pernah menyakitiku, malah berubah menjadi kawan sejatiku, begitupun dengan Alex.


Ya, aku akui, jika dulu kelopak mataku ketutupan belek. Jadi tidak bisa melihat mana yang baik dan buruk.


"Kenapa kamu harus menembak Farhan, Mar. Urusan akan jadi semakin panjang---" sebenarnya aku paling tidak suka jika ada yang memanggil ku dengan ujungnya saja. Mar! Macam Marimar di film telenovela kesukaan Bik Minah. Art di rumah Mama dan Papaku yang sudah sepuh.


Aku menyelak. "Sudah tau pencetusnya?"


Mahendra menggeleng dan Alex ikut menautkan alis. Mereka menjawab serentak. "Belum."


Lalu aku ceritakan semua dari awal masalahnya. Di mulai dari Farhan dan Farina yang berkomplot dengan Ningsih, pembantuku yang kurang ajar itu. Kejahatan Farhan yang menjadi dalang membuat istriku lumpuh dan terakhir pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Farina, si wanita gila.


Dan aku sedikit kaget, karena mereka berdua hanya mendengus biasa. Seolah tidak tersentak dengan aksi Farhan padaku.


Why?


"Apa kalian sudah tau? Apa kalian sudah menebak kalau pelakunya adalah dia? Si Keparatt itu? Aku doakan Farhan biar langsung mati, dan di susul oleh istri dan anaknya!" tanyaku pada mereka berdua. Tanganku mengepal kuat-kuat. Seakan lelaki jahanamm itu menatapku saat ini.


"Kami sudah berfikir ke arah sana. Tapi hanya bisa menerka saja, karena tidak mempunyai bukti. Semua ini bisa terjadi bukan hanya andilnya, tapi juga ada andil darimu." ucap Alex.


Aku menyerengitkan dahi, memicing mata dengan tatapan aneh. "Andilku?" aku mengulangi.


Lelaki itu menghela napas lalu menyandarkan diri di kursi sambil melipat kedua tangan di dada. Menatap ku dengan tawa penuh ejekan. Aku tahu dia sedang mentertawakan kebodohanku.


"Aku sudah pernah mengingatkanmu untuk menjauhi Farhan, tapi tetap saja nasihatku hanya kamu anggap sebagai bualan."


Aku semakin terjebak dalam kebodohan. Aku jadi mengenang masa-masa berdua dengan Farhan, aku fikir dia adalah teman yang baik. Nyatanya dia hanya seonggok daging parasit yang menumpang hidup dengan jerih payahku.


Tak aku pungkiri, Farhan yang memang membantu di saat aku terpuruk. Aku sayang padanya. Menumpahkan rasa percaya, dan kepolosanku dibuat menjadi kekuatan besarnya.


"Astaghfirullah ... Farhan." seruku. Aku mengusap wajah berkali-kali untuk menghilangkan dia sejenak dari kepalaku.


Alex tertawa, ia mengelus bahuku lagi. Seraya sedang mengusap ketombe. Lembut sekali.


"Biarkan rasa sakit hatimu dibayarkan oleh Allah." aku menatap wajah Alex yang rusak. Dia sudah cacat karena Farhan, tapi masih bisa bersikap bijak kepada lelaki itu.


"Melihatnya mati pun aku tidak akan merasa bersalah." tantangku.


"Nyatanya keinginanmu tidak terpenuhi. Menurut orang-orangku, Farhan sudah melewati masa kritisnya. Anaknya pun terpaksa lahir, karena Farina mengalami kontraksi. Wanita itu syok, melihat Farhan hampir meninggal di meja operasi."


Aku tersenyum kecut. "Allah masih ingin dirinya bertaubat."


"Mungkin saja ia akan membalasmu, Ammar. Jangan lupakan Frady. Seorang ayah akan membalaskan rasa dendamnya kepada siapapun yang menyakiti anaknya." sambung Alex.


Aku lupa akan hal itu. Menyinggung nama Frady, membuatku resah dan terusik. Pasalnya dia adalah Mafia terkaya di negara kami. Mempunyai antek-antek dimana-mana. Rasa takut semakin menggumpal di jiwaku.


"Cepat selamatkan diri kalian. Orang-orang mereka pasti akan mendapatkanmu, jika kamu dan Gana masih berkeliaran di Jakarta." ucap Mahendra.


Aku menghela napas berat. Rasanya dadaku mulai sesak. Kepergian ku dan Gana untuk menghilang dari keluarga sudah amat dekat.


"Rumah yang kamu minta sudah anak buahku siapkan. Kalian tinggal menempatinya." tutur Mahendra.


"Baju-bajumu, baju-baju Gana, apapun kebutuhan kalian sudah tertata rapih. Sesuai keinginanmu. Jadi, saat Gana tiba. Dia merasa rumah itu bukanlah rumah baru. Melainkan sudah ditempati seperti biasa." sambung Alex.


Mataku berbinar-binar, padahal belum dua puluh empat jam aku mengutarakan keinginan untuk pergi, dan meminta pendapat. Tapi mereka berdua langsung bergerak cepat untuk menyembunyikan aku dan Gana.


"Terima kasih banyak, Ndra, Lex. Aku berhutang pada kalian. Berapa yang harus aku bayar? Sebutkan saja." ucapku pada mereka.


Mahendra tersenyum. "Bayar saja dengan memberikan kami seorang keponakan yang banyak. Biar kita ada penerus, agar bisa kompak seperti Bapak-bapaknya."


"Iya, Ammar. Lupakan bayar-berbayar. Kita sekarang sudah jadi keluarga." Alex merangkulku. Kebaikan mereka sungguh membuatku terpana.


"Sesuai jadwal. Besok malam, kamu dan Gana akan berangkat ke Makassar. Aku dan Alex akan mengantarmu sampai kesana. Serta, aku akan mengerahkan semua orang-orangku untuk mengamankan kita selama dalam perjalanan. Mereka akan aku sihir menjadi pengguna kapal sepertimu, agar Gana tidak curiga."

__ADS_1


Aku mengangguk mantap. Senyum dari bibirku mengembang sempurna. Aku beranjak bangkit untuk merangkul mereka berdua. Memasukan tubuh mereka ke dalam ketiakku. Untung masih wangi.


Aku terharu, disaat aku kehilangan Farhan dengan baiknya Allah menggantikan lelaki itu dengan Mahendra dan Alex. Begitu juga saat aku kehilangan keluargaku sementara, ada Gana yang bisa bersamaku untuk selama-lamanya.


🌺🌺🌺


Rencananya malam ini aku akan mengajak semua keluarga Artanegara untuk berkumpul di restoran kesukaan kami. Aku ingin melepas rindu terutama kepada Mama, Papa dan Kakak.


Karena mulai besok sampai waktu yang tidak tahu kapan aku akan kembali lagi ke hadapan mereka. Aku akan menghilang tanpa jejak. Tidak akan ada barang yang aku bawa dari rumah. Semua akan aku tinggalkan, layaknya aku sudah mati.


Dan mungkin kepergianku ini hanya akan aku ceritakan kepada Mama. Juga tentang Gana yang sudah kembali kedalam dekapanku. Karena aku baru tau Mama yang selalu kuat ternyata lebih ringkih dari Papa. Jantungnya lebih memprihatinkan dari Papa. Mama pasti bisa menguatkan Papa, jika aku pergi.


Aku ingin sekali memberitahukan kepada Papa tentang rahasia ini. Tapi aku tau sekali, ia tidak pernah bisa menutupi masalah yang sedang terjadi kepada Kakak perempuan ku. Aku takut Papa keceplosan bahwa Gana sudah ketemu, dan Kakak pasti akan bercerita kepada suaminya.


Sampai sekarang saja, Kak Gifa belum bertegur sapa denganku. Dari kilat matanya, ia masih kecewa. Dan aku mewajari nya. Aku tidak mau berpisah dengan Gana. Dengan perceraian yang mereka paksakan, atau karena pembalasan dendam dari Farhan, Farina dan Frady.


"Abang mau kemana?" tanya istriku. Si cantik yang baru muncul dari luar sehabis membantu Mulan masak di dapur bersama para art. Ia duduk di bibir ranjang dengan piyama tidur bunga-bunga. Lagi-lagi milik Mulan.


Dia menatapku yang sedang berdiri didepan cermin. Sudah berpakaian rapih dengan kemeja milik Mahendra.


"Abang mau pergi?" tanya nya lagi.


Aku mengangguk. Lalu aku hempaskan bokongku untuk duduk disebelahnya. Aku cium pipinya berkali-kali.


"Abang ada urusan sebentar--"


"Adek ikut ya, Bang." selak nya dengan senyuman, kelopak mata nya dikedip-kedipkan seperti memaksa agar aku membawanya.


"Adek di sini aja ya. Makan malam bareng bersama Bapak dan Ibu."


"Adek sungkan, Bang. Kalau cuman sendirian." istriku merengek seperti bayi. Bayi tua. Haha.


"Mereka baik. Adek nya harus pintar membuka diri."


Gana menggeleng. Dan sifat keras kepalanya yang tidak pernah aku suka kembali muncul.


"Tuh 'kan enggak nurut!" aku tajam kan bola mataku padanya. Ia sedikit menunduk dan berhenti merengek.


"Maaf, Bang."


Baru ingin ku kecup bibirnya. Buru-buru ia mendongak dan menatapku lagi.


"Sebenarnya Abang mau kemana sih? Kok Adek enggak boleh ikut? Adek ikut ajalah, Bang. Biar bisa hidup udara segar."


Garis senyumku yang sudah mulai meninggi kini mendadak turun. Tuh 'kan dia mulai lagi. Aku fikir sudah mengerti. Ternyata tidak. Euhh jadi gemes. Pengin bikin dedek lagi.


"Abang mau kumpul sama temen-temen kampus. Kebetulan 'kan besok kita pulang. Lepas kangen, Dek. Dan kita sepakat enggak bawa istri. Dari pada Adek bakal kayak kambing congek dilalerin. Mending dirumah aja. Nonton tv, rebahan, atau nyari-nyari kutu sama Dava." kekeh ku.


Ganaku terdiam. Seraya sedang berfikir bahwa ucapanku ada benarnya.


"Apalagi mereka semua merokok. Enggak bagus buat Adek, nanti asma Adek kambuh." aku semakin menekan kemauan Gana untuk tidak mau ikut.


"Tapi Abang jangan ikut merokok atau minum-minum ya! Janji?" tanyanya dengan ancaman.


Nah kalau tatapannya seperti ini, ia mirip sekali dengan Ganaku yang dulu. Tetapi, ia malah mengangkat jari kelingkingnya di udara, seraya memintaku melingkarkan kelingkingku balik. Biasanya jika Gana sedang mengancam, ia akan melayangkan jari telunjuk dan menunjuk bola mataku.


Ganaku yang dulu memang seperti preman, jika sedang marah.


"Janji sayang. Buat Adek." aku jawil pangkal hidungnya. Ia tersenyum senang menatapku. Aku mengecup wajahnya di semua sisi.


"Udah ah, Bang. Basah." ia mengusap pipinya yang sudah aku kecup bertubi-tubi.


Aku tertawa menatapnya. "Ya udah anterin Abang ke depan ya." pintaku sambil menggandeng tangannya. Ia menurut dan mengikuti langkahku.


"Kalau udah ngantuk jangan nungguin Abang ya. Tidur aja duluan." ucapku padanya. Saat langkah kami sudah ada di ambang pintu, ku lihat Mulan dan Mahendra sudah bersiap makan malam di meja makan. Mereka melirik kami dan aku hanya menggerakkan bola mata sebagai kode. Mulan dan Mahendra sudah tahu kalau malam ini, terakhir kalinya aku bertemu orang tuaku.


"Iya, Bang. Abang juga hati-hati ya. Bawa mobilnya yang bener. Gak enak kalau kenapa-napa di jalan, mobilnya mahal soalnya--"


Gana ... Gana. Ck! Aku tertawa. Aku fikir ia sedang mencemaskan nyawaku, nyatanya hanya mengkhawatirkan keadaan mobil yang akan aku bawa.


Gana terkekeh saat aku cemberut. "Abangnya juga. Kalau kenapa-napa dijalan, nasib aku nanti gimana? Makanya hati-hati ya, Bang." ucapnya membuat jiwaku menari-nari. Ia sampai berjinjit dan mengecup bibirku.


Wah, rasanya ... mantap!


Mulan dan Mahendra seakan ingin memasukan panci sop kedalam mulut mereka, karena sudah tidak tahan melihat ke-uwu-an pengantin baru seperti kami, yang lebih tepatnya di sapa dengan pengantin basi.


Ganaku terus melambaikan tangan sampai mobilku keluar dari gerbang rumah Mahendra. Senyumnya yang selama dua minggu hilang, kini kembali ku rasakan lagi.


Ya Allah, Alhamdulillah. Terima kasih. Aku terus berucap syukur sambil mengemudi.


Malam ini aku kembali berdusta padanya. Mengukir kebohongan yang fatal hanya untuk menjaganya. Memisahkan dirinya dari keluarga.


Tetapi, jika mengingat masa-masa terpahit kita ketika sedang dipaksa bercerai. Ia tetap memilih aku dan kembali datang ke dalam pelukanku. Memaksaku untuk melakukan rujuk. Jadi aku yakin, keputusan yang aku ambil ini. Tidak sepenuhnya akan membuat hatinya merana dan kecewa nantinya.


Karena aku berjanji. Kita berdua pasti akan kembali. Kembali lagi kepada keluarga besar kami.


Sekali lagi kami pergi untuk kembali.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Like dan komennya ya guys.


__ADS_2