Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Eks Part Eight


__ADS_3

Gana duduk bersisihan dengan Ammar di atas sofa. Keduanya menunduk dengan raut bersalah. Suara Adela yang masih tertawa nyaring di lantai dua rumah Gelfa, bersama Ratu dan para ketiga Kakaknya, belum bisa menjadi bumbu pemanis dalam ketegangan yang saat ini pasutri itu rasakan.


Karena sikap Adela yang selalu menjauh, dan tidak mau mengangkat telepon orang tuanya. Membuat Ammar dan Gana serta para ke empat anaknya lain datang ke rumah Gelfa untuk menjemput Adel, sehabis triple A selesai ujian sekolah. Demi anaknya, Ammar beralasan sakit sehingga klien bisa mentolerir kalau meeting di tunda.


Dan ilalah nya. Mama Difa dan Papa Galih juga bertandang ke rumah Gelfa siang ini. Pasutri lansia itu ingin menginap. Melihat Adela yang awalnya tidak mau mendekat kepada Gana, Ammar dan ke empat saudara nya yang lain membuat Mama dan Papa menyerengitkan dahi.


Ada apa dengan Adela? Maka saat itu pula, Gana dan Ammar menjelaskan duduk perkaranya.


Papa pun marah.


"Bukan begini solusinya, Gana, Ammar!" seru Papa.


"Iya, Pah. Kami memang salah. Ammar pikir ini adalah jalan terbaik, agar Adel tidak merasa di jauhi."


"Justru jika di titipi seperti ini, dia merasa di asing kan. Merasa kehadirannya tidak diperlukan di rumah. Jadi jangan salahkan Adel, kalau dirinya menjauh." Papa menjawab.


"Iya, Pah." jawab Ammar menerima. Lain hal dengan Gana yang mulai memberikan pembelaan dari sudut pandangnya dan Ammar.


"Karena Kakak-kakaknya sedang ujian sekolah, butuh belajar yang ekstra dan suasana yang tenang. Rora, Taya dan Aidan tidak bisa konsen kalau Adela terus merengek ingin main, menangis atau berteriak-teriak di rumah. Maka kami menitipkan Adel di sini, Pah. Maksud Gana dan Bang Ammar hanya sementara, sampai Kakak-kakaknya beres ujian sekolah."


"Masalah apapun yang di rasa menjadi pemicu, masih bisa untuk di cari solusi terbaiknya. Itu kan dari sudut pemikiran kalian saja. Apa kalian sudah memberikan pengertian kalau Kakak-kakaknya butuh suasana yang tenang kepada Adel?" kini, Mama Difa yang bertanya. Ia duduk bersebalahan dengan Gelfa sambil memangku Alda.


"Belum, Mah." jawab Ammar dan Gana pasrah. Salah satu kesalahan Gana dan Ammar adalah kurangnya berkomunikasi kepada Adel. Mereka menganggap Adel pasti tidak akan mengerti.


"Nah, itu salahnya."


Gana kembali tertunduk sedih. Ia terbayang saat pertama kali Adel bertemu dengannya, Ammar dan four A. Anak itu berlari menjauh dan berteriak tidak mau pulang. Dan beberapa lama kemudian, karena Ammar menggendongnya paksa dan memeluk anak itu lama. Akhirnya Adel mau di dekati oleh Gana dan saudara-saudaranya. Dan kini, Taya, Rora dan Aidan mau menemani Adiknya bermain, walau di rasa sudah telat.


"Kamu bisa membayar guru les untuk membantu Taya, Rora dan Aidan pada saat belajar. Di saat itu pula kamu bisa bermain dengan Adel. Jika pagi dan sore kamu sibuk mengurus Alda, kamu bisa kasih pengertian kepadanya, kalau jatah mainnya dengan kamu waktu nya hanya malam.


Sedangkan Ammar setelah pulang kerja bisa bergantian mengurus Alda sambil bermain bersama Adela. Dan kalian juga harus bisa memberikan pengertian kepada ketiga Kakaknya untuk mau memahami dan mengalah kepada Adik-adik nya yang masih kecil dan masih membutuhkan perhatian ekstra dari kalian.


Adela masih batita. Yang ada di dalam fikiran nya hanya lah main dan main saja. Jiwa anak seumuran dia sangat perasa dan sensitif. Ia masih belum mengerti arti mengalah, yang ia tahu, Alda adalah saingan terberatnya. Karena perhatian kalian begitu besar kepada anak bungsumu." Papa menunjuk Alda yang duduk manis di pangkuan istrinya. Alda tertawa-tawa melihat Kakeknya yang sedari tadi bercuap-cuap.


Mendengar nasihat Papa, membuat dada Gana bergetar. Ada sesak, karena ia merasa di lucuti dengan kesalahan yang baru terkuak sekarang. Seakan ia menganggap bahwa dirinya belum mampu dikatakan menjadi Mama yang hebat.


Ammar dan Gana tidak mampu membantah setiap wejangan yang diberikan Papa Galih dan Mama Difa. Karena ia tahu, kedua orang tua itu sudah lebih dulu memakan asam garam kehidupan. Notabenenya Mama Difa juga mengurus empat anak sekaligus selama ini.


"Lihat Mama mu, belajar lah darinya. Mamamu itu wanita luar biasa, ia bisa menghandle semuanya. Tanpa bantuan Papa."


Gana semakin terpojok, dan bukan mau Papa seperti itu. Hanya saja Papa ingin memberikan contoh. Dan Mama lah orangnya. Gana tidak bisa mengelak. Dirinya mengiyakan, karena selama ia hidup bersama Adik-adiknya, perhatian yang Mama berikan selalu sama rata.


"Iya, Pah." jawab Gana. Air matanya menetes. Jatuh membasahi tangan yang saat ini ia letakan di atas pahanya.


Ammar menggenggam tangan Gana untuk menguatkan. "Kami memang masih butuh bimbingan dan nasihat dari Mama dan Papa." sambung Ammar.


Papa dan Mama mengangguk setuju.


"Tolong ucapan Papa ini jangan di masukan ke hati dan membuat kalian dongkol dan tersinggung, karena jalan pikir Papa dan Mama dengan kalian tidak sepaham. Papa hanya ingin menularkan apa yang pernah kami rasakan dalam mengurus empat anak sekaligus dengan jarak usia yang dekat, sama seperti anak-anak kalian."

__ADS_1


Gana mendongak dari tunduk nya. Ia pun beringsut, menumpukan kedua lututnya di lantai dan memeluk perut Papa.


"Makasih banyak, Pah, Mah. Atas segala nasihatnya. Tapi, bukan mau Gana kayak gini, Pah. Sebisa mungkin Gana selalu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka semua tanpa membeda-bedakan. Hanya saja, Gana juga mempunyai rasa lelah. Tidak semua keperluan anak-anak bisa Gana handle sendiri."


Ammar memandang nanar istrinya. Dari ucapan Gana, ia tahu wanita itu juga letih dengan aktivitasnya menjadi seorang istri dan Mama. Ia juga butuh Ammar yang bisa peka untuk membantunya. Tanpa Ammar sadari, selama ia kembali menjadi Presdir. Dirinya memang mengalami banyak perubahan. Di kepalanya hanya mencari uang dan uang untuk kehidupan keluarga dan masa depan putra dan putrinya.


Berbeda saat dirinya sedang merantau di Makassar, seakan hidup tidak mempunyai beban. Ammar sangat memperhatikan bagaimana perkembangan Rora dan Aidan. Uang memang racun yang paling nyata untuk mengubah sudut pandang dan gaya hidup seseorang. Ammar mengaku bersalah.


Papa Galih mendesahkan napas berat. Ia usap-usap punggung Gana yang masih menangis. Papa menatap Ammar dalam-dalam.


"Lebih baik, Gana di steril saja. Lima anak sepertinya sudah lebih dari cukup. Selama ini pakai KB juga selalu kebobolan 'kan?"


Ammar hening. Ia tertunduk lagi. Inginnya ia menjawab 'tidak' untuk menolak. Egoisnya, ia memang ingin mempunyai anak sepuluh. Tapi baru mempunyai lima anak saja, dirinya dan istri sudah kewalahan. Gana pun selalu berdoa agar tidak memiliki anak lagi, walau doa itu paling tidak di sukai Ammar.


"Bagaimana, Ammar? Kamu kepala keluarga di sini, harus bisa memutuskan." Papa mengulangi.


Berat sekali. Berat untuk mengatakan iya. Tapi, melihat Gana yang seakan sudah letih. Ammar akhirnya mengangguk.


"Iya, Pah. Ammar setuju."


...🌾🌾🌾...


Karena Adela masih tidak mau pulang, terpaksa keluarga Ammar menginap malam ini di rumah Gelfani. Para cucu tidur bersama Nenek dan Kakeknya di ruang televisi dengan kasur lipat membentang, kalau di kamar pasti sempit sekali. Dan tradisi seperti ini sudah sering terjadi, kalau tiga belas cucunya sudah berkumpul semua di rumah untuk menginap.


"Sini, Dek." Papa menepuk sisi sebelahnya yang kosong.


"Nanih, Tek." Adela duduk di belakang kepala Papa Galih yang sudah berbaring menatap televisi. Pun dengan Mama Difa, triple A dan two R, masih asik menonton film Harry Potter.


"Iyahhhh, nanih duyu, Tek. Inih belum celecaii ... duh, cucah banet cih!" gerutu Adel. Saat ini, anak berkulit putih, montok dengan rambut keriting lebat selengan. Masih, menguncir-nguncir rambut Kakeknya dengan jepitan. Di sisir-sisir, sampai membentuk suatu ikatan.


Mama tersenyum dan mendongak. "Adek mau jadi Mbak-mbak salon, ya?" ledek nya.


"Hahaha ...." Adela tertawa geli. Ia mengangguk-angguk.


"Kalau udah ngantuk, bobo aja, Kak." ucap Papa kepada Rora.


Anak berusia sembilan tahun itu memang sedang tidur memeluk Kakeknya. Kelopak mata Rora memang sudah kriyep-kriyep, ia sudah ngantuk tapi dirinya juga masih ingin nonton film. Berbeda dengan Aidan dan Raja yang tengah duduk paling depan di ujung kaki Nenek dan Kakeknya. Kedua anak lelaki itu masih sibuk berseru manakala Harry terbang dengan sapu nya. Sedangkan Attaya dan Ratu memeluk Mama Difa.


"Dah 'tuh jadi, Tek!" seru Adel senang. Ia bangga dengan hasil mahakarya yang ia ciptakan di rambut Papa Galih.


Papa Galih mengulurkan tangannya ke atas kepala untuk menyentuh hasil kunciran Adela.


"Duh kecil banget. Kaya toge tumbuh." goda Papa. Adela tertawa, Mama pun sama.


"Nenek dong yang di kuncir, pasti mirip kaya terong tumbuh." timpal Papa. Dan Mama melototkan mata ke arah suaminya.


"Jangan macam-macam, kalau terong sendiri masih mau aman!" ancam Mama.


Papa meringis, tersenyum polos. "Iya, sayangku. Nanti kalau udah di rumah kita main terong sama toge, ya." bisik Papa. Dan Mama kembali mendelikkan matanya.

__ADS_1


"Kek ...." panggil Rora kepada Kakeknya.


"Hemm?" Papa mengelus-elus lengan Rora.


"Steril itu apa sih? Aku tadi enggak sengaja dengar kalau Kakek bilang Mama harus di steril."


"Steril itu ... eum----" Papa mencari-cari kata yang tidak tabu untuk bisa di jelaskan kepada Rora.


"Itu lho, Kak. Persamaannya tuh, Mamamu enggak bisa punya anak lagi." sambung Mama.


"Nah itu maksud Kakek, Nak."


"Oh, gitu? Jadi, anak Mama dan Papa cuman kita berlima aja, ya, Nek?" Taya memastikan.


Mama mengangguk.


"Sebenarnya anak Mama dan Papa itu kalau di hitung sudah ada enam. Sebelum Rora, Mama pernah hamil dan keguguran."


Aidan sampai menoleh. "Masa, Nek? Kok Mama enggak pernah cerita, ya." pun sama dengan Rora, Taya dan Adel. Mereka bertiga melongo.


"Belum aja kali ngomong sama kalian. Nanti kalian jadi sedih." Papa yang menjawab.


"Maka dari itu, karena Mama udah sering mengandung. Lebih baik di steril," ujar Mama.


"Iya deh enggak apa-apa. Aku juga enggak mau punya Adek lagi," tukas Aidan.


"Iya, Kakak juga." imbuh Rora.


Taya dan Adela mengangguk setuju.


Sementara di kamar, sedari tadi Ammar terus menekan dan memijat pelan tengkuk istrinya yang masih berusaha melegakan perut untuk mengeluarkan cairan yang ia muntah kan ke dalam wastafel.


Howe ... Howe


Cairan bening kembali keluar dari mulut Gana.


"Kamu nih masuk angin. Abang kerokin, ya, Dek."


Gana mengangguk. "Iya, Bang." setelah mengelap bibir Gana dengan tissue. Ammar menggandeng istrinya keluar dari kamar mandi, dan merangkak naik ke pusaran kasur. Di sana ada Alda yang sudah tertidur pulas.


"Besok kita ke Dokter aja, ya. Kalau kamu masih muntah-muntah begini," Ammar mulai mengolesi kulit punggung Gana dengan minyak kayu putih dan menggosoknya dengan uang logam.


Gana mengangguk dan mulai bersendawa. "Sekalian ke Dokter Kandungan, ya, Bang. Kita konsultasi perihal steril itu." Gana sudah mantap mengikuti ucapan Papanya tadi siang.


Tangan Ammar yang sedang mengerik punggung Gana terhenti. Lelaki itu hening, seraya ingin melakukan negosiasi kepada istrinya. Entah mengapa perasaannya amat berat untuk menyetujui.


"Apa enggak sebaiknya----" ucapan Ammar mengatung begitu saja. Manakala, Gana bergegas turun lagi dari ranjang, berlari menuju kamar mandi. Wanita itu kembali muntah.


Howe ... Howe.

__ADS_1


...🌾🌾🌾...


__ADS_2