Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Bau Surga.


__ADS_3

Tenggorokan yang terasa kering, perut yang sudah bergejolak minta diisi dan daksa yang seakan lemas tidak berdaya membuat Aidan seraya ingin menyerah dalam puasa hari ini.


Di usianya yang kedelapan tahun, ia dititah untuk berpuasa full. Karena tahun kemarin dirinya masih ditolerir oleh Mama dan Papanya untuk puasa sampai bedug Dzuhur. Apalagi Attaya, yang berada di bawah umurnya mau menjalankan puasa sampai Maghrib. Gengsi lah, masa anak laki-laki kalah sama perempuan. Itu yang Ammar nasihati kepadanya sebelum bulan suci ini tiba.


Aidan memasang wajah lemah, menatap Adela yang masih menyantap mie dari suapan Bisma. Adela duduk di pertengahan mereka.


Srrt srrt


Seruputan mie yang bercampur dengan decapan lidah dari Adel, membuat Aidan semakin tersiksa. Aromanya apa lagi, sangat menggoda. Ingin ia usir Adiknya agar menjauh, tapi di sini ada Bisma. Bisa-bisa ia yang di usir. Haha.


"Kakah baco na, dong," ucap Adela menunjuk ke mangkuk yang dipegang Bisma. Sedari tadi lelaki itu hanya menyodorkan mie tanpa memasukan bakso yang bercampur di sana.


Bisma memotong bakso tersebut menjadi beberapa bagian lalu dimasukan ke dalam mulut mungil Adela. "Uh, enak banet ...," pujinya.


Aidan hanya mencebikkan bibir sambil mengusap-usap perutnya.


Tak lama Bisma menyerahkan mangkuk mie itu kepada Aidan. "Suapi, Adekmu," ucap Bisma. Terdengar ponsel Bisma berdering di saku celana karena ada telepon masuk.


Padahal baru saja ia ingin bangkit dari sofa untuk berpindah kemana saja yang penting tidak mencium aroma mie dan air dingin di botol yang sedang Adela genggam.


"A ... Kak." Adela sudah bersiap membuka mulutnya. "Kamu kan udah gede masa enggak bisa makan sendiri?" Aidan masih saja malas menyuapi Adiknya.


Adela menggeleng. "Aku macih kecil. Butinah akuh ndak diculuh puaca cama Mama, cama Papa, cama Kakek, cama Nenek, cama---"


Blup.


Bibir cerewet Adela yang sedang mengabsen semua orang, langsung dibungkam oleh sodoran mie dari sendok yang Aidan genggam.


"Udah makan!" Aidan berdecak malas. Karena posisi duduk mereka berhadapan, jarak begitu dekat. Lubang hidung si keriting seketika berkedut-kedut, bukan karena aroma dari mie yang mantap dan sedap tengah menusuk hidungnya.


Tapi.


Aroma lain yang tidak mengenakan, melesat masuk ke dalam lubang hidungnya dari bibir Aidan, membuat anak itu melototkan mata.


"Kok bau cih mulut Kakak!" seru anak itu. Aidan melototkan mata tidak suka. "Namanya juga lagi puasa. Enggak minum sama makan, ya, bau dong! Kalau kata Nenek, bau mulut orang berpuasa itu baunya surga,"


"Apa ituh culga?"


"Tanya aja sama Mama. Aku lemas, malas ngomong banyak-banyak," balas Aidan.

__ADS_1


"Bau culga kayak gituhh? Kok kayak bau campah," balas si keriting.


Ia masih saja membekap hidungnya dengan ujung jarinya yang bantet dan putih. Walau Bisma sedang menerima telepon, ia tetap bisa mendengarkan percakapan kedua sepupunya itu, dan dirinya pun tertawa. Tawanya menggema dengan aroma napas yang sama seperti Aidan.


"Kakah tuga bau 'ih, ya awoh!" serunya. Ia mengikuti Gana kalau sedang berucap kata Ya Allah, jika sedang kaget.


Aidan tertawa ketika Adiknya berhasil meledek calon TNI tersebut. Bisma melototkan mata, membuat Adela beringsut dari hadapan mereka. Mie nya belum habis, bodo amat pikirnya. Yang penting dirinya keluar dari aroma aseton.


"Ante ... Ante!" seru Adel. Ia menarik-narik kain gamis Maura, wanita itu tengah berdiri di depan meja makan, mencicipi kolak buatannya. Ternyata siang tadi, dirinya menstruasi, jadi tidak melanjutkan puasa.


"Iya, Nak? Adek mau?" tawar Maura.


"Kok Ante ndak puaca?" si pintar berbalik tanya.


"Ante lagi halangan, Nak," dan Maura terdiam, saat Adela menyerengitkan dahi. Mana tahu anak itu apa arti halangan. Percuma dijelaskan, Adela tidak akan paham. Untuk mengalihkan ucapan yang tadi, Maura menyodorkan kue kismis ke mulut Adel. "Enak nggak, Nak?"


Adela mengangguk-angguk dengan wajah senang. "Agih dong ante," anak ini memang masih lapar karena mie nya tadi belum habis, berkat aroma mulut Aidan dan Bisma yang amat memabukkan indera penciumannya, membuat ia hilang selera hidup, eh, selera makan maksudnya.


Maura memberikan lagi sepotong kue kismis ke tangan Adela. "Ante, boleh ndak Kakak ndak ucah puaca?"


"Kakak? Maksudnya, gimana?" Maura menanyakan Kakak yang mana, yang keponakannya ini maksud.


"Kenapa gitu, Nak?" tanya Maura penuh selidik.


"Mulutna bau, telus lemas. Kasian," si keriting menunjuk ke arah Aidan yang kembali menyandar lemah disandaran sofa. Anak lelaki itu terus saja melirik arah jarum jam, setia menunggu adzan Maghrib.


Aidan tidak tahu saja kalau Adiknya ini sangat perhatian padanya. "Wajar kalau bau, namanya juga lagi puasa. Perutnya kosong, Nak ...," Maura mulai menjelaskan kepada Adela perihal bau mulut orang berpuasa dengan kata-kata yang bisa diserap oleh anak-anak. Panjang kali lebar ia jelaskan, dan pada akhirnya.


"Haha. Aku ndak ngelti, Ante," balas Adela dengan wajah tanpa dosa.


Maura hanya menghela napas dengan gelengan kepala samar, untuk membahas masalah haid mungkin Adela tidak akan paham, ia pikir membahas tentang perkara bau mulut, Adela akan bisa mencerna. Ternyata sama saja, untung saja hari ini ia tidak berpuasa. Kalau ia, dirinya juga pasti dijauhi Adela. Haha.


Rasulullah pun bersabda kepada para sahabatnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih-nya:


وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى


مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ


Artinya, “Demi Zat yang berkuasa

__ADS_1


atas nyawaku, sungguh bau mulut orang puasa itu lebih wangi menurut Allah dari pada bau minyak misik.”


...🌾🌾🌾...


Menunggu bedug, terlihat Papa Bilmar tengah bermain dengan Alda di pelataran karpet depan televisi. Di sana juga sudah berkumpul para cucu yang masing-masing tengah sibuk dengan ponsel. Mama Alika sedang mengaji di atas sofa. Sedangkan Gana, Maura dan para art masih menyiapkan takjil untuk keluarga besar ini. Ammar dan Gifali sedang ada di belakang, memperhatikan burung-burung Papa yang mana kata lelaki tua itu, kandang burungnya sudah harus diganti.


"Ayo dong jalan, masa ngerayap melulu. Kamu tuh udah setahun, Nak," titah Papa. Ia memaksa Alda untuk berdiri. Anak itu tertawa-tawa dengan astor digenggaman tangan mungilnya. Mulut Alda sudah belepotan cokelat.


"Amm ... amm!" anak itu mencoba memasukan astor ke dalam mulut Kakeknya. Menitahnya untuk memakan. Papa tanpa sadar, akhirnya menurut. Ia membuka mulutnya dan melahap astor dari tangan Alda. Lelaki tua itu senyam-senyum sambil memakan wafer cokelat gulung tersebut.


"Ennyak?" suara cadel yang kurang jelas mencuat dari bibir Alda. Papa Bilmar semakin menikmati kunyahan nya. Enak sekali lidahnya yang sejak subuh kering kerontang, kini tersiram cokelat yang lezat.


Melihat Kakeknya berhenti mengunyah, Alda memasukan lagi astor ke dalam mulut Kakeknya. "Kok Kakek terus yang mamam, Adek juga dong, Nak," ia masukan astor dari bungkus dan disodorkan ke dalam mulut cucunya. Ia usap-usap kepala Alda, sekilas ia kecup berulang.


"Mam ...," titah Alda. Tangannya terulur ke dalam bibir Papa. Lagi-lagi Papa melahapnya, sampai di mana keromantisan itu buyar, karena seruan Geisha yang melengking.


"Astaghfirullah, Kakek!" serunya tidak percaya kalau Kakeknya tengah mengunyah makanan. Dan semua menatap ke arah Kakek baik yang sedang berada di sofa, karpet, meja makan atau Gifali dan Ammar yang tengah melangkah dari belakang menuju meja makan, karena lima menit lagi waktunya buka puasa. Semua melongo hebat, tidak percaya.


"PAPA KOK MAKAN!!" seru Mama kesal. Wanita tua itu melepas kaca matanya dan melotot ke arah sang suami. "Makan makanannya Alda lagi, kamu pikir, kamu itu bayi!" imbuh Mama.


"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah ...," Papa istighfar. Lelaki itu menggelengkan kepala ke arah cintanya. "Ini karena Alda, ajak Papa makan, Sayang. Papa enggak sadar, beneran," jelas Papa memelas sambil terus mengunyah.


"Ya udah, lepehin, masih aja dimakan!" sentak Mama.


"Sayang kalau dilepehin, enak soalnya, eh----" buru-buru Papa melipat bibirnya dalam-dalam saat melihat istrinya mengerang napas kasar seperti harimau yang akan mencakar-cakar rusa.


Dan semua hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. Namanya juga sudah tua dan sedang tidak sadar, Papa hanya bisa dimaklumi.


"Mam ...." dan Alda mencoba memasukan lagi astor ke dalam mulut Papa.


Papa menatap Alda gemas. Jika saja bukan cucunya, sudah ia telan anak itu bulat-bulat. Haha.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Hari ini aku buka pre oder buku yang waktu itu sudah aku iklankan, ya, guys. Mangga bagi kalian yang berminat sama bukunya. Boleh pesan satuan dan pesan paket untuk dua buku sekaligus. Buku ini tebal, sekitar 380-450 halaman plus ekstra part. Enggak ada yang aku pangkas. Jadi, kalo berminat. Kalian bisa hubungi nomor Admin, ya, yang tertera di banner. Kalau masih kurang paham tinggal DM IG ku ya @megadischa. Sehat selalu sayang-sayang. Ada tiga banner di bawah 👇👇👇



__ADS_1



__ADS_2